
"Semuanya Alex pergi dulu"
"Pergilah sayang"
"Tunggu"
"Ada apa Pa?"
"Alex Papa ikut kau untuk menjemput Melisa ke bandara"
Semua mata menatap Edward ketika Edward mengatakan demikian,termasuk juga Alexander yang tidak pernah melihat Papanya mengatakan hal itu.
"Papa yakin mau ikut denganku?"
"Yakin,ayo"
Edward langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Alexander untuk menuju ke parkiran mobil,sedangkan Jian Lee dan Richard yang melihat pemandangan itu hanya bisa saling menatap dan saling melemparkan senyuman.
"Ada sesuatu kah yang tidak aku ketahui dari kalian berdua?"
Clarissa yang melihat kecurigaan antara Jian Lee dan Richard segera menanyakan hal tersebut.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan ,ini hanya obrolan para lelaki saja,sayang hari ini kita akan melihat rumah yang akan kita tempati di sini,karena mulai dari sekarang kita akan menetap selamanya di Negara ini"
Richard yang melihat tatapan tajam Clarissa mencoba untuk mengalihkan pembicaraan tersebut.
"Kalian akan tinggal dimana?"
"Di dekat rumah putih Kim"
"Ah seperti itu"
"Ya,Mama Tiara dan Papa Adrian memberikan pilihan kepada kita untuk rumah yang akan kita tempati dan kita sudah mantap untuk memilih tinggal di sana,terima kasih Pa,Ma"
Clarissa mengatakan hal tersebut kepada tuan Adrian dan juga nyonya Tiara.
"Sama - sama sayang,Mama dan Papa senang jika anak dan cucu kami bisa tetap rukun dan selalu bersama - sama"
Semua yang hadir di meja makan tersebut tersenyum dengan perkataan dari nyonya Tiara.
"Jian Lee bagaimana dengan kau dan Fanny apakah kau akan tetap menemani Albert di Negara ini,jika iya kami akan menyediakan rumah untuk tempat tinggal kalian berdua"
Tuan Adrian mulai mengatakan hal yang sama untuk Jian Lee dan kini suami istri tersebut mulai saling pandang.
__ADS_1
"Terima kasih tuan Adrian,namun sepertinya esok hari kami akan kembali ke Negara H,banyak sekali urusan yang harus kami selesaikan di sana,lagipula kini Albert sudah besar lebih tepatnya sudah menjadi laki -laki dewasa,jadi kami percaya sepenuhnya kepada Albert"
"Baiklah jika keputusan mu seperti itu, bagaimana Albert"
Albert yang sejak tadi sedang melahap roti panggang sambil memandangi Michelle mendengar suara tuan Adrian pada akhirnya membuat Albert begitu kaget hingga tersedak.
"Sayang,apa yang sedang kau pikirkan sampai seperti itu"
Fanny langsung memberikan Albert minum.
"Ah tidak apa -apa Ma,aku hanya sedang memandangi ciptaan Tuhan saja"
"Ciptaan Tuhan?"
Fanny bertanya kepada Albert dan hanya di jawab dengan senyuman Albert,hanya para laki -laki yang berada di sana yang mulai mengerti arah pembicaraan Albert.
"Kakek Adrian,Albert sudah dewasa jadi tak masalah jika Albert berada disini seorang diri"
"Baiklah jika seperti itu, rencana kau akan tinggal dimana,apa kau mau tinggal di rumah utama,atau tinggal bersama Paman Edward atau Paman Richard,kau tinggal memilih nya saja"
Albert mulai berpikir dan pada akhirnya membuat suatu keputusan.
"Kakek,aku akan tinggal di apartemen didekat Rumah Sakit,aku melakukan hal itu agar jika ada pasien yang gawat aku bisa segera memberikan pertolongan"
"Terima kasih kakek Adrian"
Dan pada akhirnya pembicaraan demi pembicaraan yang berlangsung di waktu sarapan pagi ini selesai,semua orang melakukan aktivitas nya masing -masing.
Sementara itu kini Edward dan juga Alex hanya terdiam membisu di dalam mobil,selama ini Alex lebih dekat dengan sang Ibu daripada Ayahnya sehingga ketika harus berada di dalam mobil yang sama membuat Alex tidak bisa untuk memulai pembicaraan ringan kepada Edward.
"Alex bagaimana hari pertama mu di perusahaan farmasi?"
Pada akhirnya Edward membuka sebuah kebisuan itu dengan beberapa kata.
"Ah, semuanya baik -baik saja Pa"
"Bagus jika seperti itu"
"Alex ada yang Papa ingin tanyakan kepadamu"
"Ada apa Pa?"
"Papa tau selama ini mungkin Papa kurang untuk memiliki waktu bersama dengan mu,namun bukan berarti Papa tidak memperhatikan mu,Papa ingin bertanya tentang nona Keisha"
__ADS_1
Kini Alex menatap dalam wajah Edward dan kemudian memalingkan lagi wajah nya.
"Untuk apa Papa bertanya tentang Keisha,dia hanya pelayan biasa yang aku ambil dari tuan Lio"
"Tuan Lio?jadi sebelumnya nona Keisha adalah milik dari tuan Lio?"
Edward mulai menyelidiki secara perlahan agar membuat Alex bisa terbuka lebih dalam lagi kepadanya.
"Ya Pa"
"Alex,bagaimana dengan identitas dari nona Keisha?saat ini media sedang memberitakan tentang dirinya,disini Papa tidak ingin ikut campur urusan mu, karena kau sudah dewasa,namun Papa hanya perlu tau identitas wanita yang bersama dengan mu saat ini,Papa tidak akan melarangmu untuk berteman dengannya,namun Papa hanya ingin agar Papa bisa menjawab pertanyaan dari media dan juga melindungi mu nak"
Edward mencoba untuk berbicara selembut mungkin pada Alex dan apa yang dikatakan oleh Edward sukses membuat Alex menatapnya lagi.
"Nona Keisha adalah seorang nona malam akibat perdagangan manusia"
Dan pada akhirnya Alex mencoba jujur kepada Edward tentang identitas Keisha yang sesungguhnya,satu per satu Alex cerita kan semuanya kepada Edward,termasuk bagaimana cara dia mendapatkan Keisha dari tangan tuan Lio dan di akhir dari pembicaraan Edward menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Sekarang Papa bisa mengerti mengapa kau menyembunyikan identitas Keisha dari semua orang,Alex jika benar dia adalah korban perdagangan manusia,maka kita bisa membantunya untuk kembali ke tempat asalnya"
"Ya Pa,Alex juga memiliki pemikiran yang sama,namun menurut Alex rencana itu harus kita tunda,karena pemberitaan media masih ada,aku hanya ingin melindungi privasi dari nona Keisha saja dari kejaran para awak media"
"Ya,ya Papa bisa mengerti,namun kau juga harus menjaga hati dari Melisa,karena pada saat dia kembali ke Negara W,maka otomatis dia akan bertemu dengan nona Keisha"
"Ya Pa,Alex mengerti,Alex tidak memiliki perasaan apapun dengan Keisha,karena Melisa masih ada di dalam hati Alex"
"Bagus nak jadilah laki -laki yang gentleman"
Dan tak beberapa lama pada akhirnya mobil mereka telah sampai ke bandara,Alex dan Edward turun untuk menjemput Melisa"
"Sayang"
Melisa yang pada akhirnya dapat melihat Alex segera menghampiri dan memeluk kekasihnya tersebut.
"Selamat datang Dokter Melisa"
Alexander mencium mesra kening Melisa.
"Paman Edward,apa kabar paman"
Melisa kini menyapa Edward yang sejak tadi berdiri di samping mereka dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.
"Paman baik -baik saja nona"
__ADS_1
"Syukurlah"