
Sepanjang perjalanan Richard memberikan banyak pengarahan kepada semua anggota yang ikut.
"Ingat meskipun saat ini musuh kita termasuk pasukan kecil,namun kita harus tetap berhati -hati karena di tangan mereka ada nona Keisha"
Richard mengatakan hal tersebut sambil memberikan satu per satu pistol kepada setiap orang yang hadir.
"Tuan ini tempat penyekapan nona Keisha"
Peter menunjukan satu bangunan kuno berbentuk castil,dan mungkin bangunan seperti ini hanya ada satu - satunya di Jepang karena bangunan ini memiliki simbol Naga dan tengkorak.
"Baiklah,semua harap bersiap di tempatnya masing - masing, Edward kau,aku dan Jian Lee masuk ke dalam untuk mencari keberadaan nona Keisha,Peter biarkan beberapa pengawal ikut dengan kami untuk masuk ke dalam"
"Baik tuan Richard"
"Kalian berjagalah di luar, Michelle Papa minta kau persiapan tim medis bersama dengan Albert,Papa sangat yakin kita semua akan membutuhkan hal ini"
"Jadi aku tidak ikut masuk bersama dengan kalian?"
"Tidak untuk saat ini,dan Papa tidak ingin mendapatkan bantahan dari mu Michelle"
"Baik Papa Richard"
Kedekatan Michelle dengan Richard membuat Michelle begitu mengikuti semua hal yang Richard perintahkan kepadanya tanpa perlawanan apapun.
"Ayo Edward,Jian Lee,kita lakukan pertempuran ini"
"Siap Richard,aku sudah lama sekali tidak menggunakan pistol ini"
Jian Lee mengatakan hal tersebut sambil mengarahkan pistolnya ke udara.
Detik itu juga terdengar suara tembakan menggema di udara,kini semua anggota Chandradinata sudah berhasil membuka gerbang castil tersebut dan masuk ke dalamnya.
Begitu gerbang terbuka,banyak sekali pembunuh bayaran yang sudah siap menghadapi mereka.
Terjadi baku tembak di halaman depan antara para pembunuh bayaran dengan ketiga tuan muda,rambut mereka yang mulai memutih tidak membuat ke tiga tuan muda tersebut kalah,gerakannya masih begitu lincah dalam memainkan pistol dan menghidari musuh.
Tak butuh waktu lama ke tiga tuan muda tersebut sudah menguasai halaman dan segera masuk lebih dalam lagi castil tua tersebut.
"Apakah sudah ada tanda - tanda keberadaan nona Keisha Richard?"
Richard yang sejak tadi menggunakan alat pelacak mencoba mencari keberadaan Keisha dengan menunggu alarm merah itu berbunyi.
"Aku mendapatkannya,dia ada di lantai tiga"
__ADS_1
Dan setelah mengatakan demikian ke tiga tuan muda tersebut menatap lantai paling atas dan pada akhirnya mereka bertiga kembali saling pandang.
"Kau yakin kita akan melakukan ini dengan memakai tangga itu?"
Edward mengatakan hal tersebut sambil menunjuk tangga tua yang sudah rapuh.
"Tidak ada cara lain Edward"
Jian Lee mengeluarkan sebuah tali dan tali tersebut yang digunakan mereka untuk menyangga tubuhnya jika sampai tangga tersebut rapuh.
"Kalian siap?"
Jian Lee mengatakan hal tersebut kepada Richard dan juga Edward.
"Ayo"
Ke tiga tuan muda menaiki tangga secara perlahan dan betul saja saat mereka menaiki tangga dengan perlahan tangga tersebut pada akhirnya mulai hancur,kondisi kayu yang sudah lapuk membuat tangga tersebut tidak kuat lagi jika ada yang menaikinya.
"Cepat,cepat,cepat!!"
Ketiga tuan muda tersebut semakin berlari dalam menaiki tangga tersebut dan dengan nafas yang masih tersenggal pada akhirnya ketiga tuan muda tersebut sudah sampai pada lantai tiga.
"Astaga, Edward awas!!"
Dan baku tembak kembali terjadi di lantai tiga.
Sementara itu Keisha yang mendengar ada suara tembakan berusaha untuk tetap sadar meskipun sekujur tubuhnya sudah penuh dengan luka - luka akibat bekas cambukan.
Arrrrrh sakit,perutku sakit sekali.
Tiba - tiba saja Keisha merasakan nyeri yang sangat hebat menjalar kebagian perutnya.
Anak ku,tidak jangan Tuhan,jangan ambil anak ku,jangan Tuhan.
Keisha mengatakan hal tersebut di dalam hatinya sambil menangis dengan sekuat tenaganya Keisha mencoba untuk bertahan,namun perlahan-lahan darah segar mulai mengalir dari jalan lahir menjalar ke seluruh kakinya.
Kumohon bertahan lah anak ku sebentar lagi,aku mohon.
Keisha menjerit di dalam hatinya dan terus menangis.
Namun darah segar yang semakin lama semakin deras mengalir dari jalan lahir pada akhirnya membuat Keisha pingsan tak sadarkan diri di dalam ruangan itu.
"Edward,Jian Lee ayo ini kamar nona Keisha"
__ADS_1
Ketiga tuan muda segera mendobrak pintu kamar tersebut dan begitu pintu berhasil dibuka ke tiga tuan muda tersebut mendapatkan pemandangan yang membuat hati mereka sangat sakit.
"Darah,nona Keisha mengalami pendarahan,ayo cepat angkat dia Edward"
Edward langsung saja mengangkat Keisha sedangkan Richard dan Jian Lee memeriksa ke arah balkon dan ternyata balkon tersebut ada lapangan untuk pendaratan helikopter.
"Luar biasa arstitektur rumah ini"
Sambil mengatakan hal tersebut Jian Lee memberikan tanda agar helikopter mendekat ke arah mereka.
"Ayo nona Keisha harus segera di bawa"
Dari dalam helikopter keluar Michelle dan juga Albert,dan mereka langsung melakukan pemeriksaan darurat sebelum terbang.
"Albert,sudah tidak bisa di selamatkan lagi"
Michelle menggelengkan kepalanya begitu memeriksa keadaan Keisha dan Albert yang sudah mengerti apa yang dikatakan oleh Michelle segera memerintahkan tim medis untuk membawa Keisha terlebih dahulu dengan helikopter karena kondisinya yang kritis.
"Michelle apa maksudmu tadi?"
"Papa Ed,kandungan Keisha sudah tidak bisa di selamatkan lagi, jika kita paksakan Maka nyawa Keisha akan ikut melayang"
Michelle menitihkan air mata saat Michelle mengatakan hal tersebut,bagi Michelle Keisha sudah seperti adiknya sendiri, meskipun Michelle jarang berbicara padanya,namun kasih sayang Michelle tidak ada bedanya seperti dengan kepada Alexander.
"Tenanglah"
Albert memberikan pelukan kepada Michelle, sedangkan ke tiga tuan muda hanya bisa terdiam dengan semua hal yang saat ini sudah terjadi.
Sementara itu di luar pintu gerbang entah mengapa hati Alexander saat ini begitu terasa sakit terlebih saat dia melihat ke langit ada helikopter melintas di depan matanya.
Rasa sesak di dalam dada yang tidak dapat diceritakan,rasa sakit tak berdarah yang berada di dalam hati Alexander membuatnya berjanji tidak akan memberikan perlakuan yang buruk lagi terhadap Keisha.
"Tuan Alexander,di sekitar kejadian kami menemukan ini"
Peter menemukan satu jepit rambut kupu - kupu berwarna putih dan pandangan mata Alexander sangat tajam terhadap jepit tersebut.
"Tuan mengenal pemilik jepit ini?"
Peter menanyakan hal tersebut kembali kepada Alexander,namun Alexander hanya diam dengan mata merah menyala karena sebuah kemarahan.
Melisa!! ternyata kau yang melakukan semua ini,jepit rambut ini hanya milikmu aku yang memberikan jepit rambut ini dan hanya dan hanya ada satu di dunia yaitu milik mu.
"Peter,bawa aku segera ke Rumah Sakit tempat istriku di rawat"
__ADS_1
Tanpa banyak berkata - kata Alexander meminta Peter untuk membawanya ke Rumah Sakit.