Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 11


__ADS_3

Kedua saudara Sarah berdansa dengan pasangan


masing - masing. Sarah berdiri dialtar pernikahan sambil melihat kedua


saudaranya dengan penuh kegembiraan. Senyum di bibirnya tidak berhenti


diperlihatkan untuk keduanya. Bahagia melihat mereka berdua menemukan


cintanya.


Kaki Sarah merasa lelah karena high heels yang


digunakannya, sudah hampir setengah hari ini ia berjalan dengan sepatunya.


Sarah turun dari altar pernikahan dan mulai mencari tempat duduk khusus


keluarga di sudut ruangan.


Sarah duduk  dan melepas sepatu yang


digunakannya sambil memijat kakinya yang pegal.


Mayleen mendekati Sarah Li sambil merangkul seorang


wanita yang terlihat seumuran dengan mamanya. Wajahnya sangat manis dan


keibuan.


“Sarah, kenalkan ini tante Huanran. Kamu masih


kenal??” tanya Mayleen


“tentu saja, bagaimana mungkin aku bisa lupa


dengan tante Huanran yang sudah sangat berjasa bagi keluarga kami. Apakah anda


sehat tante?” Sarah berdiri dengan cepat sambil memeluk Huanran.


“sehat sayang, kamu cantik sekali.” puji Huanran


sambil melihat Sarah Li dari ujung kaki sampai kepala.


“kakak Huanran, maafkan aku sangat sibuk. Banyak


tamu yang harus disapa. Bisa kah aku meninggalkan kalian berdua??” tanya


Mayleen


“tentu saja, Sarah sudah seperti anak ku sendiri.


Kamu pergi sibuk saja.”


“mama tenang saja, aku akan menjaga tante dengan


baik.” kata Sarah dengan sangat lembut kepada Mayleen.


Mayleen mengangguk sambil meninggalkan


Sarah dan Huanran bersama sambil melambaikan tangan.


“mari duduk disini tante.” kata Sarah sambil


menunjuk kursi dan meja disebelahnya.


Tanpa sungkan Sarah membuka sepatu high heelsnya


kembali dihadapan Huanran.


“kamu lelah?” tanya Huanran


“hanya sepatu ini yang membuat aku lelah,


selebihnya bisa diatasi degan sangat baik,” kata Sarah sambil memajukan


bibinya.


“kata Mayleen, kamu yang membuat dekorasi ini?”


“Aku hanya memberikan konsep dan anggota yang


melakukan semuanya. Apa tante suka?”


“ia,, sangat cantik. Berada disini seperti berada


ditaman bunga. Tidak hanya cantik, aroma bunga juga membuat pikiran dan suasana


menjadi tenang.”


“benarkah?? terima kasih tante.” Sarah sangat


senang dengan pujian atas hasil kerja yang dilakukannya.


Sarah Li dan Huanran berbicara dengan santai


sesekali mereka terlihat tertawa bersama. Sepasang mata memperhatikan keakraban


mereka berdua. Tanpa disadari keduanya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, David datang dan ikut


bergabung dengan pembicaraan keduanya. David adalah suami dari Huanran. Seorang


tinggi besar dengan postur tubuh seperti seorang yang bekerja di militer. Walau


sudah terlihat berumur, postur tubuhnya masih sangat terjaga dengan baik. Dari


otot tubuhnya terlihat pria ini rutin berolahraga.


Sarah melihat David datang kearah mereka berdua,


sambil tersenyum Sarah berkata


“om terlihat seperti anak muda, sepertinya tante


harus waspada karena om masih terlihat sangat menarik walau sudah tua. Tapi aku


rasa om juga harus waspada, tante memiliki kulit wajah yang masih ketat seperti


anak muda. Tubuh tante sangat bagus tidak ada terlihat gemuk seperi perutku


sekarang.” Sarah berkata sambil melihat kearah perutnya.


Huanran dan David tertawa bersama-sama "mana


mungkin... perut kamu sangat rata dan bagus seperti ini, tidak bisa dikatakan


gemuk." bela Huanran


"aku sangat senang berbicara dengan kalian


berdua, seperti bicara dengan seumuran." kata Sarah sambil menyuruh David


duduk.


David duduk disebelah Sarah, posisi Sarah tepat


ditengah - tengah suami istri ini.


“kamu ini memang bermulut manis” puji David


“aku tidak memuji, aku bicara sebenarnya. Sungguh


sangat menyenangkan bersama kalian berdua.”


“benarkah?? tapi kami orang tua yang sangat


membosankan.” jawab Huanran


“tidak sama sekali. Aku merasa senang berbicara dengan


“tapi.... sangat menyenangkan apabila kami


memiliki putri seperi kamu.” kata David


“aku sebenarnya tidak sebaik yang kalian


pikirkan. Selama ini aku sangat sering berdebat dengan mamaku." Sarah


terdiam dan murung sambil melihat Mayleen menyapa tamu undagan.


"bukankah berdebat dengan orang tua adalah


hal yang biasa?" kata David


"tidak kalau dengan aku, perlaku ku sangat


tidak bisa diterima. Bahkan ketika aku memikirkannya ulang... aku merasa sangat


buruk." Sarah menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut.


"tidak apa - apa, setiap orang tua pasti


akan memaafkan perbuatan anaknya." Huanran merangkul pundak Sarah dan


mendekatkan kursi kearahnya.


"sebenarnya setelah pulang dari desa sulam


semalam, banyak hal yang aku pelajari. Kalian sebagai orang tua mungkin sangat


melindungi anak kalian dengan cara kalian sendiri. Tapi beberapa anak seperi


aku contohnya, malah menganggap kalau yang kalian lakukan sebagai orang tua


adalah suatu pemaksaan kehendak. Aku sangat jahat karena sering melawan


mamaku.” Sarah Li berbicara sambil menunduk meratapi perbuatannya selama ini


kepada mamanya.


Huanran mengusap pundak Sarah perlahan sambil


berkata ”setiap orang tua tidak mungkin membenci anak mereka. Kamu adalah anak


baik. Mama kamu selalu berkata kamu adalah putri yang baik dan penurut”

__ADS_1


Sarah menaikkan pandangannya sambil melihat


Huanran setengah tidak percaya, ia tahu jelas setiap hari membuat mamanya


berteriak memanggil namanya dengan keras.


“apa yang kamu alami selama di desa sulam?” tanya


Mayleen yang sudah berdiri tepat dibelakang Sarah, ia sendiri tidak bisa


memastikan sejak kapan mamanya berdiri dibelakangnya.


"sejak kapan mama disini?" tanya Sarah


dengan wajah serba salah.


Mayleen memeluk Sarah dan dengan manja ia


menyandarkan kepalanya di lengan Mayleen yang berdiri dibelakangnya.


Sarah mulai mengingat kejadian 3 hari yang


dialaminya dan membuat hidupnya bisa berubah secara drastis.


“didesa itu lebih banyak orang tua dibandingkan


anak muda. Ketika aku berkeliling ada orang tua yang sudah sangat tua, ia


mengatakan anak perempuannya tinggal dikota dan tidak bisa menjaga dirinya.


Tetangganya yang datang setiap hari memberikan makan kepadanya. Jika


tetangganya pergi keluar kota, maka ia juga tidak makan sama sekali. Sungguh


sangat menyedihkan"


"Dihari kedua, secara kebetulan aku melihat


anaknya pulang. Ia seperti acuh tak acuh kepada orang tuanya. Ketika melihat


anaknya besikap seperti itu, aku merasa kalau itu adalah diriku. Ia Datang


sebentar meninggalkan uang makan orang tua nya untuk kepada tetangga sebelah


rumahnya kemudian pergi lagi. Ketika orang tuanya meminta ia tinggal, ia


mengatakan dia sibuk bekerja. Perilaku anak gadisnya mengingatkan ku, kalau aku


sejahat itu ketika bicara dengan mamaku.” Mata Sarah Li berkaca-kaca sambil


melihat Mayleen diatas kepalanya.


"aku merasa bersalah kepada mama..."


lanjut Sarah lagi


“mama tidak pernah marah dengan apa yang kamu


lakukan kepada mama, hanya saja kelak jika mama sudah tua jangan perlakukan


mama seperti itu ya…” kata Mayleen juga dengan mata berkaca –kaca


“tentu saja tidak akan.” Sarah menggeleng dengan


cepat


Mayleen mengusap kepala Sarah Li dengan lembut.


“sangat menyenangkan punya anak perempuan seperti


Sarah.” Huanran memiringkan kepalanya kearah pundak suaminya yang sudah pindah


tempat duduk disebelahnya.


“Sarah, istriku sangat ingin kamu menjadi


anaknya. Apakah kamu bersedia? “ tanya David terus terang


“tentu saja boleh, lebih banyak orang tua akan


lebih menyenangkan.”  kata Sarah Li sambil menatap Huanran dan Mayleen


secara bergantian. Senyum dibibirnya membuat suasana menjadi lebih akrab


seperti benar-benar sudah menjalin hubungan keluarga.


“apakah mama tidak keberatan?” tanya Sarah kepada


Mayleen


“tentu saja tidak…” jawab Mayleen.


“baiklah jika begitu, kalian adalah orang tua


kedua bagiku. “ kata Sarah Li sambil tertawa.


Sarah Li mungkin mengira perkataannya hanya

__ADS_1


sekedar pembicaraan tanpa arti.  Tapi bagi kedua orang tua ini berarti


sesuatu yang sangat berbeda artinya.


__ADS_2