
Seminggu telah berlalu sejak peristiwa itu, Sarah Li sudah mulai kembali dengan aktivitasnya. Selama
seminggu ini pula ia tinggal dirumah keluarga Long. Sarah seperti putri raja dirumah ini. Dia diperlakukan sangat baik bahkan sangat dimanja oleh keluarga mertuanya.
Sarah dan Daniel pun tidak pernah membahas peristiwa yang menimpa dirinya dan Nana sejak menginjakkan kakinya dirumah ini. Daniel memilih diam, sedangkan Sarah lebih memilih pura – pura tidak ingat apapun.
Sarah pergi kekantor dengan diantar oleh David Long langsung. Bukan hanya sampai pintu perusahaan Li, tapi sampai di ruangan Sarah Li. Bukan main perhatian yang diberikan, membuat Sarah Li merasa malu menghadapi anggota keluarga Li yang lain.
“nanti akan papa jemput jam 5 sore nanti.” David Long bicara sambai melambaikan tangan kearah Sarah dan masuk kedalam lift.
Sarah menarik nafas panjang setelah pintu lift tertutup.
“waahh adik kedua, kamu benar – benar dimanja dikeluarga Long. Jam 12 makan siang diantar ibu mertua. Jam 2 siang snack time diantar oleh anggota Daniel Long. Luar biasa, aku iri kepada mu adik.” Serena menepuk pundak Sarah. Dia tidak melihat wajah adiknya yang merasa seperti ada batu diatas kepalanya yang harus ditanggungnya.
“ini karena Daniel Long harus dinas tiba – tiba keluar kota. Mereka jadi menjaga ku seperti ini.” kata Sarah
sambil menarik nafas panjang lagi.
“bukan kah bagus. Dulu itu adalah tanggung jawab kami berdua, sekarang sudah tidak.” Serena bicara sambil tersenyum lega melihat kearah Sarah.
“Kakak kedua sangat senang aku tidak bersama kalian lagi??” Komplain Sarah sambil masuk kedalam ruangan
kerjanya.
“jelaskan kepada kami, sejauh apa perkembangan hubungan kalian??” kata Sisca yang ikut masuk kedalam ruangan Sarah sambil membawa Caramel Latte kesukaan Sarah dan memberikan kepadanya.
Sarah menggigit bibirnya kemudian berkata “biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Daniel sibuk bekerja, kami juga jarang satu kamar.” Sarah menjawab dengan jujur kepada kedua saudaranya.
“serius???” Sisca dan Serena bicara bersamaan.
Sarah hanya mengangguk.
“jika dia tidak ingin melakukan hubungan denganmu lantas kenapa dia begitu ingin menikahimu??” Serena memegang dagunya sambil melihat Sarah
“dia sudah berjanji untuk membiarkan hubungan kami berjalan seperti air, ia tidak akan memaksa ku
melakukan hubungan suami – istri. Aku rasa itu cukup baik, aku bisa lebih mengenal dirinya lebih dahulu.”
Sisca duduk disebelah Sarah dan memegang kaki Sarah yang mengenakan setelan blazer lengan panjang berwarna cream dengan celana panjang berwarna senada.
__ADS_1
“tidak masalah, seperti yang kakak pernah katakan. Pernikahan adalah pelajaran tanpa henti. Kamu akan
belajar mengenal dan beradaptasi dengan dirinya terus menerus. Terkadang kamu akan merasa seperti orang yang paling mengerti dirinya, tapi dilain hari…. kamu akan merasa menjadi orang yang tidak memahami dirinya sama sekali. Nikmatilah semua prosesnya.”
Sarah melihat Sisca, kakak pertamanya selalu menjadi orang yang paling bijak dalam memberikan nasehat dan
keputusan. Sarah menyandarkan kepalanya dibahu Sisca.
“terkadang aku merindukan hidup kembali bertiga bersama kalian.” Mata Sarah berkaca – kaca melihat Serena yang duduk dihadapan mereka.
“tapi kami biasa saja” jawab Serena sambil menaikkan pundaknya.
“kakak pertama, lihat kakak kedua. Dia suka sekali mengintimidasi ku.” Wajah sedih dengan bibir mengerucut Sarah ditujukan kepada Sarah sambil menunjuk Serena yang mentertawakan dirinya.
“sudah lah…. Apakah kalian sudah pernah berciuman??” Sisca menjadi lebih serius menatap Sarah.
“aku kira kakak adalah perisaiku ternyata kakak adalah pisau yang menusuk hatiku.” Sarah mengerucutkan bibirnya sambil menatap kedua saudaranya.
Kedua kakak Sarah Li mentertawakan dirinya yang lucu.
“kami jarang betemu, aku pulang kerumah dia masih kerja. Aku tidur dia baru pulang. Bahkan aku lebih sering
“waah… itu namanya sudah sampai pada level yang mengerikan. Kalian sudah menikah 2 minggu dan tidak ada perkembangan sama sekali?? Sepertinya ada yang salah dengan kalian berdua.” Sisca memiringkan posisi duduknya dan menatap Sarah ketika sedang berbicara.
“kakak pertama, kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Serena
“karena bagaimana pun pada awal hubungan ini, dia yang paling meninginkan dirinya memiliki dirimu sebagai istrinya. Sepertinya sangat tidak mungkin dia mengabaikan dirimu begitu kalian terikat dalam hubungan pernikahan.”
Sarah dan Serena melihat Sisca dengan serius.
“setidaknya bagaimana pun sebagai seorang pria normal, pasti ia mengharapkan interaksi sebagai suami istri. Walau belajar untuk bersama setidaknya dia menunjukkan sikap romantis kalau dia ingin lebih akrab dengan dirimu.”
Padangan mata Serena dan Sisca beralih kepada Sarah.
“bagaimana??” tanya Serena sambil menaikkan alisnya berulang – ulang.
Sarah Li terdiam. Mencoba mengingat kejadian romantis apa yang sudah mereka berdua alami bersama.
“tentu saja pernah, kami pernah berpegangan tangan, dia juga pernah menciumku. Bukan kah itu hal romantis???”
__ADS_1
“ciuman yang bagaimana??” Serena bertanya dengan penuh semangat.
“ya cium….. bibirnya dan bibirku… sudah.”
Kedua saudara perempuannya langsung mengalihkan pandangan mereka kearah lain ruangan Sarah.
“sudahlah… sulit berbicara dengan anak kecil.” Serena menatap sinis adiknya.
“memang harus seperti apa??” Sarah bertanya dengan wajah polosnya membuat mata Serena berkilat untuk menjelaskannya.
Dengan cepat Serena duduk diantara Sarah dan Sisca dan mengeluarkan ponsel dari saku blazer hitam yang dikenakannya. Ia menyelipkan rambut pendek diwajahnya ke telinga dan kemudian membuka video ciuman. Dengan semangat ia menjelaskan kepada Sarah apa yang namanya ciuman panas.
Sarah menarik kepalanya kebelakang ketika melihat video yang ditunjukkan Serena.
“apakah seperti ini….” tanya Serena
“tentu tidak.” Sarah menggelengkan kepala dan tangannya dengan cepat. Sarah menyingkirkan ponsel
Serena dari pandangannya, ia merasa itu terlalu vulgar untuk disaksikannya.
“sudah aku duga…”Serena menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.
“kakak yakin, kamu memang berasal dari zaman batu..” sambung Serena
“kalau ciuman seperti itu saja aku juga bisa melakukannya dengan dirimu…” Serena menarik wajah Sarah dan mencium bibirnya.
Sarah mendorong Serena Li “kakak kedua, hentikan. Kakak pertama, lihat kelakukan kakak kedua.” Sarah cemberut karena merasa dipermainkan Sarena Li
Sisca hanya tertawa melihat mereka berdua
“sudah lah… sebentar lagi akan ada rapat. Segera bersiap – siap. Oh ya adik kedua, kapan Daniel Long akan kembali??” tanya Sisca
“tidak tahu, ponselnya tidak aktif sejak tadi malam. Aku juga tidak bisa menghubungi James. Sepertinya mereka sangat sibuk hingga kehabisan daya ponsel mereka. Beberapa hari yang lalu katanya Daniel mereka akan kembali besok atau lusa. Semua tergantung dengan hasil investigasi yang sudah didapatkan dari pihak kepolisian dan perusahaan Long.”
Sisca menganggukkan kepalanya. “baiklah, hari ini adalah rapat mengenai hal tersebut. Aku juga berharap akan
ada jawaban dari semua pertanyaan yang masih belum terjawab.
Sisca, Serena dan Sarah Li hening sejenak. Tiba - tiba mereka saling melihat, mengapa mereka seperti ini. Suasana menjadi kaku dan tegang.
__ADS_1