
Sarah dan kedua saudaranya duduk diatas karpet tebal sambil bersandar dikursi sofa, menatap kearah jendela.
Perlahan – lahan sinar keemasan terlihat di awan tepat dihadapan mereka. Sudah sangat lama rasanya mereka tidak melihat matahari terbit seperti ini. Satu hari yang panjang dan banyak hal yang dialami mereka.
Semuanya adalah hal baru yang mereka alami dan mereka belajar banyak pada hari ini. Tidak ada yang berani
menyinggung apa yang terjadi dengan Nana dan James. Ataupun bagaimana dengan keadaan kantor setelah adanya ledakan yang terjadi. Semuanya diam dan seolah tidak pernah terjadi.
Tangan Sarah dan kedua saudaranya saling bertautan dan kedua jemari mereka masing – masing saling menggenggam satu dengan yang lain.
“ini hari apa??” tanya Sarah
“hari minggu” jawab Sisca
“baguslah.”
“kenapa??” tanya Serena
“karena libur.” jawab Sarah singkat
“apa yang mau kita lakukan hari ini??” tanya Sisca
“aku mau tidur..” jawab Sarah sambil memejamkan matanya sejenak dan kembali melihat proses matahari terbit.
“ya,,,, kita memang sudah satu harian ini tidak tidur.” kata Serena yang terkejut, karena tiba – tiba Sarah sudah merebahkan kepalanya dipundak Serena karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.
“lihat lah.. “ kata Serena dengan suara pelan kepada Sisca. Sisca terlihat sudah hampir terlelap dan langsung
menyandarkan kepalanya dilengan Sarah Li.
“hei… para suami… istri kalian sudah mengantuk. Tolong bawakan ketempat tidur.” kata Serena dengan suara perlahan.
Jackie segera membawa Sisca kekamar begitu juga Daniel yang menggendong Sarah masuk kedalam kamarnya.
Daniel membaringkan tubuh Sarah dan menyelimutinya. Sarah tiba – tiba terbangun.. dan membuat Daniel terkejut. “kenapa??” tanya Daniel
“aku mau mandi…” jawab Sarah sambil berjalan kearah kamar mandi dengan langkah lunglai.
Selesai mandi dan masih menggunkan jubah mandi dan handuk dikepalanya, Sarah berjalan kearah tempat
__ADS_1
tidur dan merebahkan tubuhnya secara sembarang dan langsung tidur dengan pulas.
Daniel yang sedang duduk membelakangi jendela kaca memperhatikan Sarah dan kemudian tersenyum tipis
melihat kelakuan istrinya yang lucu. Daniel berdiri dan meletakkan tabnya kemudian mengambil hair dryer dilemari kamar mandi kemudian membuka handuk dikepala Sarah Li dan mengeringkannya.
Suara bising dari hair dryer tidak membuat Sarah Li terbangun karenanya. Daniel membuka lemari dan ia lupa
membawa pakaian. Ia pun melakukan teleportasi pergi kerumah dan mengambil beberapa pakaian dirinya dan Sarah. Kemudian mengantungnya dilemari pakaian.
Semula Daniel berniat untuk mengganti pakaian Sarah. Tapi ia mengurungkan niatnya karena bagaimana pun ia
sebagai pria terhormat tidak mungkin memanfaatkan keadaan istrinya yang seperti ini untuk keinginan pribadinya.
Daniel memperbaiki posisi tidur Sarah. Dan kemudian ia pun mandi dan menenangkan pikirannya. Selesai mandi Daniel melihat ada 5 panggilan tak terjawab.
Daniel yang sudah terlalu lelah tidur disamping Sarah. Setelah 3 minggu kurang istirahat dan sering tidak tidur
karena terlalu memikirkan dan mencari cara agar Sarah bisa keluar dari dunia alam bawah sadarnya.
Daniel dan Sarah tidur bersama dan terbangun ketika siang hari. Daniel bangun lebih dahulu, kemudia melihat ponselnya dan sudah ada panggilan tak terjawab ratusan kali.
nomor tersebut dan ternyata dari pihak kepolisian. Wajah Daniel yang tenang berubah menjadi tegang. Ketika mendengar informasi yang didapatkannya. Daniel duduk di sofa dan pikirannya kacau. Sebagai seorang pria ia tidak ingin menangis, tapi kehilangan sahabat dan orang kepercayaan yang sudah bersama dengannya bukanlah hal yang mudah bagi dirinya.
“terima kasih.” kata Daniel singkat sambil menutup panggilannya. Daniel ingin berdiri tapi kakinya rasa
kaku. Pertama kalinya Daniel merasa gaya gravitasi mempersulit dirinya untuk berdiri. Ia tidak mampu bernafas dengan hidungnya, Daniel membuka mulutnya dan berusaha tetap bernafas dengan teratur. Dadanya sesak tidak tertahankan. Nafas tidak beraturan.
Sarah terbangun dan melihat Daniel duduk disisi tempat tidur dengan memunggunginya. Sarah melihat ponselnya dimeja samping tempat tidur. Sarah tidak ingat membawa ponsel ketika mereka mengunjungi tempat ini. Sarah membuka ponselnya dan terkejut dengan pesan masuk yang diterimanya dari grup pribadi dengan kedua saudaranya.
Mulut Sarah membentuk huruf O. Ia membaca surat resmi dari tim foresik, kalau James sudah meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak utuh lagi dan ditempat yang sama ditemukan tubuh Nana dan Andrew yang sudah tidak bernyawa lagi.
Pikiran Sarah menjadi kacau.
Bukankah tubuh Nana dan Andrew sudah hancur?? kenapa masih ada jasad yang
tersisa?? Semua hal tidak wajar itu masih berputar di pikiran Sarah. Apa yang
terjadi sebenarnya?? Diantara kebingungannya, Sarah memperhatikan Daniel bernafas dengan tidak wajar.
__ADS_1
Ia memang terpukul dengan apa
yang terjadi dengan Nana. Walau masih ada hal yang belum terjawab mengenai
semuanya tapi Sarah sudah bisa menerima kematian sahabat terbaiknya itu. Tapi
bagaimana dengan Daniel?? Sarah mendekati Daniel dan memeluknya dari belakang.
Sarah menyandarkan kepalanya dipunggung Daniel.
“kamu sudah bangun...” tanya Daniel dengan suara bergetar.
“tidak apa – apa jika kamu ingin menangis.” Sarah menepuk pundak Daniel dengan pelan dan perlahan.
“aku tidak apa – apa..”
Semakin Daniel mengatakan tidak apa – apa, Sarah lebIh menyakini ada sesuatu yang terjadi pada Daniel dan hati pria ini tidak tenang sekarang.
“aku tidak melihatmu...” kata Sarah.
Mendengar perkataan Sarah, Daniel sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis tersedu – sedu. Hatinya sangat hancur dan tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Disatu sisi ia merasa kehilangan dan di sisi yang lain ia merasa kematian James adalah kesalah dirinya. kenapa ia membiarkan James pergi bersama Nana ditempat yang tidak ada perisai energi darinya. Jika ia lebih perhatian terhadap hal ini, seharusnya
James masih ada disampingnya saat ini.
Ia tdak ingin dikatakan sebagai seorang pria yang suka menangis. Ia ingin menjadi seorang pria yang selalu
tangguh dihadapan istrinya. Tapi ia gagal mempertahankan semuanya dihadapan wanita yang dicintainya.
“kamu sudah melakukan yang terbaik. Hidup pada adalah menunggu giliran untuk dilahirkan atau menunggu
kematian datang menghampiri. Seperti yang kamu katakan, orang baik akan mendapatkan tempat yang baik dimana pun ia berada.”
Daniel memeluk Sarah. Biasanya Sarah menyadarkan dirinya didada Daniel kali ini sebaliknya. Daniel menangis di dada Sarah. Sarah mengusap kepala Daniel perlahan.
“kamu tidak sendiri, masih ada aku dan keluarga kita yang akan menemanimu. Dan kita bersama akan menemukan orang yang menjadi otak semuanya.”
Daniel tidak menjawab apapun, yang ia rasakan hanya ingin menumpahkan semua rasa sedih didalam hatinya.
Ketika Daniel sudah tenang, ia mejadi lebih pendiam. Ia memeluk lengan Sarah dengan sangat erat seolah Sarah akan meninggalkan dirinya. Sarah bergerak sedikit saja Daniel tidak akan membiarkannya.
__ADS_1