Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 18


__ADS_3

“Menurut kamu seperti itu??” tanya sang nenek


Sarah mengangguk dengan tidak yakin tapi masih


menjawab dengan singkat “mmmh”


“ Aku membesarkan anak ku dengan penuh cinta,


suamiku sangat suka main pukul. Aku awalnya selalu berpikir akan sangat baik


jika membesarkan anak dalam kondisi rumah tangga yang utuh. Ternyata aku salah


nak. Dengan susah payah kami melarikan diri kedesa ini  untuk melanjutkan


hidup. Nenek menjadi seorang pesulam untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang


diri nenek membesarkan anak satu - satunya . Dan sekarang sudah menikah dan


memiliki dua orang anak. Jadi sekarang nenek sudah punya dua  orang cucu.


Satu cucu laki – laki dan satu cucu perempuan. Mereka masih tidur kalau jam


segini. “ Kata sang nenek yang sepertinya mengenang tingkah lucu kedua cucunya.


Tersenyum sambil bercerita ketika menyebutkan kata cucu.


“wahh,,, nenek sangat beruntung sudah memiliki 2


orang cucu. Umur berapa mereka?” tanya Sarah


“ Yang perempuan usia 7 tahun dan yang laki –


laki baru berusia 5 tahun saja. Mereka sangat lucu, sayang mereka sedang belum


bangun. Kebiasaan mereka jika hari libur sekolah akan bangun sampai matahari


tinggi.” Sang nenek tertawa menceritakan cucunya.


“Nenek pasti sangat menyayagi cucu nenek...” kata


Sarah


“iya... mereka sangat menyayangiku. Merekalah


penunjuk jalan bagiku selama kondisi mataku buta.” Jelas sang nenek.


“tapi.....” katanya penuh ragu apakah melanjutkan


pembicaraannya atau tidak.


Sarah sudah terlanjur penasaran dengan perkataan


sang nenek. “tapi kenapa nek??” tanya Sarah.


Dengan ragu sang nenek mulai bicara “walau


terlihat bahagia, tapi sebenarnya aku sangat sedih. "


Sang nenek terdiam sesaat kemudian melanjutkan


perkataannya


"putraku dahulu adalah seorang anak yang


penurut. Dia selalu menengarkan perkataanku dan tidak pernah melawan walau satu


kata pun. Aku sangat senang, walau lelah bekerja di luar rumah dan didalam


rumah semuanya seperti terbalas ketika melihatnya tumbuh menjadi seorang anak


yang penurut. Semua itu mendadak berubah ketika putra ku menikah. Aku paham ia


sudah menemukan cinta sejatinya. Tapi sejak ia menemukan cintanya, ia jadi


melupakan cinta pertamanya yaitu aku. Selama ini aku bertahan  dan pura –


pura tidak mendengar apapun dari mulut mereka.” Mata sang nenek mulai berkaca –


kaca ketika bercerita.


Sarah diam sesaat, pikirannya mengingat mamanya.


Ia adalah anak yang tidak penurut. Selalu berbeda pikiran dengannya. Mamanya


juga memiliki pekerjaan diluar sana. Pasti semua energinya habis merawat anak


seperti dirinya.

__ADS_1


Sarah kembali kembali fokus kepada sang nenek.


“apakah nenek sedih karena mereka memiliki


rencana akan meninggalkan nenek sendiri? Karena mereka lelah menjaga nenek??”


tanya Sarah langsung. Sarah memang seorang yang tidak suka basa basi. Ia akan


selalu berbicara langsung ke inti permasalahan.


“dari mana kamu tahu nak??” nenek itu langsung


duduk tegak dari kursi malasnya dan kepalanya menghadap kearah suara Sarah.


“aku tidak tahu banyak, hanya kebetulan


menebaknya saja.” Jawab Sarah dengan wajah senyum yang merasa bersalah kalau


mulutnya terlalu jujur bicara.


“neneeeek...” teriak cucu laki – laki yang


terlihat baru bangun tidur. Dengan manja ia duduk dipangkuan sang nenek sambil


menggaruk kepalanya kemudian menguap karena masih mengantuk


“nenek sudah lama disini? Kenapa tidak


membangunkan adik? Bagaimana kalau ada orang asing yang membawa nenek pergi?”


kata cucu laki – laki nenek itu sambil melihat Sarah.


“mana ada orang yang mau membawa nenek tua


seperti nenek. Akan merepotkan bagi mereka tentunya.” Jawab Sang nenek sambil


menepuk pundak sang cucu dengan pelan.


“nenek tidak merepotkan, nenek itu masih cantik.


Ingat, nenek tidak boleh berbicara dengan orang asing.” Kata bocah kecil itu


sambil melirik tajam kearah Sarah.


Sarah tersenyum kemudian berkata “tadi kakak


berkeliling, karena baru semalam sampai didesa ini. Untung ada nenek yang


mengacungkan jari jempolnya kepada bocah laki – laki itu.


Anak laki-laki itu melihat Sarah dengan tatapan


tidak percaya. Sarah baru ingat tadi membeli buah apel dan pear di pinggir


jalan ketika berkeliling. Ia juga membeli banyak snack dan coklat untuk camilan


dihotel. Ia melihat bungkusan yang diletak dilantai kemudian memberikan buah


itu kepada cucu nenek tersebut.


“ini... oleh – oleh untuk kakak perempuan dan


kamu. Nenek bilang sangat menyayangi kalian berdua. Kata nenek kalau kakak


kemari harus membawa banyak makanan kesukaan kalian. Bawa masuk ya...” kata


Sarah


Mata anak laki – laki tadi langsung berubah dari


permusuhan menjadi persahabatan. Ia dengan sangat gembira membawa semua kantung


belanjaan Sarah. Sambil berteriak kepada kakaknya yang sedang tidur agar cepat


bangun karena ada banyak makanan yang dibawa  tamu nenek dari kota.


“sangat menyenangkan ya....” kata Sarah melihat


anak laki - laki itu berlari kedalam rumah sambil berteriak memanggil kakak


perempuanna.y


“ya.... terima kasih banyak atas makanan yang


kamu berikan..” kata nenek sambil meraba mencari tangan Sarah.


Sarah melihat tangan sang nenek yang seperti

__ADS_1


mencari sesuatu langsung memegangnya. Sang nenek menggengam tangan Sarah dengan


wajah gembira.


“bagaimana mungkin aku tidak memberikan mereka


upeti, sang penjaga menatap ku seperti akan membunuhku hidup – hidup. Nenek


bagai berlian dimata mereka. Dan aku seperti seorang penculik nenek – nenek. “


kata Sarah sambil tertawa.


“mereka lah yang membuat aku bertahan selama ini.


Ketika menantuku marah kepadaku karena ketika makan membuat nasi berserakan


dilantai. Dia akan membelaku, dan cucu perempuanku akan cepat – cepat


membereskan semuanya.” Jelas sang nenek


“apakah putra nenek tidak melakukan apapun ketika


nenek diperlakukan seperti itu??” tanya Sarah


“ia sagat mencintai istrinya, tentu saja aku


tidak boleh menghancurkan pernikahan mereka hanya karena manusia yang sudah bau


tanah seperti aku. Cukup aku saja yang pernah gagal dalam berumah tangga, putra


ku jangan sampai mengalami hal yang sama.”


“anda sangat baik... bahkan terlalu baik” puji


Sarah.


Senyum tipis diwajah sang nenek dan kemudian


berkata :


“dari baru lahir sampai usia 8 tahun anak ku


tumbuh seperti keluarga normal pada umumnya. Selama itu suamiku sering memukul


ku, tanpa sepengetahuan putraku. Sebisa mungkin aku menutupi luka lebam karena


pukulan darinya. Mantan suamiku suka mabuk dan main perempuan, aku tahu ia


punya selingkuhan diluar sana. “ suara sang nenek mulai bergetar menahan


kesedihan hatinya membuka kenangan kelam masa lalunya.


“Hal yang membuat aku melarikan diri adalah


ketika ia mulai berani memukul ku didepan putra ku. Malam itu ia pulang dalam


keaadan mabuk, baju kemeja putihnya ada bekas lipstik berwarna merah muda, saat


itu aku menanyaka kepadanya. Mantan suamiku tampak tidak senang dengan


perkataanku, ia mulai melepas tali pinggang dari celananya dan mencambukku


secara berutal. Saat itu putraku yang sudah tidur terbangun, mungkin karena mendengar


suara gaduh dari kamar tidur kami. Karena membelaku, putra ku ikut dipukul


habis – habisan olehnya. Aku ingat peristiwa itu dengan sangat cepat, aku


memukul mantan suamiku sampai tidak sadarkan diri dengan tangan bergetar.


Dengat cepat aku berkemas seadanya dan kabur dari rumah bersama anak ku."


Nenek itu menghela nafas.


"Seorang ibu akan menahan sakit dan beban


yang berat demi anaknya. Tapi ia tidak akan bisa membiarkan anak kandungnya


disakiti orang lain bahkan itu adalah suaminya sendiri.” Lanjut sang nenek.


“kemudian apa yang terjadi??” tanya Sarah


penasaran.


“kami berlari tanpa tahu arah tujuan, jujur dalam


hatiku masih khawatir suamiku meninggal karena pukulan ku tadi. Bagaimana pun

__ADS_1


aku tidak mau menjadi manusia yan tidak bertanggung jawab. Jadi kami berlari ke


kantor polisi dan menjelaskan semuanya.”


__ADS_2