Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 7


__ADS_3

Matahari belum terbit Sarah dan Nana sudah dalam dalam perjalanan ke desa sulam. Jarak 2 jam perjalanan dihabiskan Sarah untuk  tidur didalam mobil. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan tenang. Mempersiapkan


dekorasi pernikahan ternyata bukan hal yang mudah. Hanya tinggal 4 hari lagi, Sarah Li dihubungi oleh toko bunga kalau mereka tidak bisa menyiapkan 500.000 tangkai bunga mawar putih dengan alasan keterlambatan pengiriman dari luar negeri. Sarah pusing bukan main, jika waktu yang dibutuhkan masih ada 2 minggu mungkin ia masih bisa mengusahakan ditempat lain.


Sarah akhirnya meminta karyawannya yang menangani masalah event dihotel untuk mengatasi masalah ini. Setelah jam 3 pagi baru dapat didapatkan informasi. Walau tidak ada 500.000 tangkai mawar putih, yang tersedia dari toko langganan hanya 200.000 tangkai mawar putih dan 150.000 tangkai mawar merah muda dan 100.000 tangkai mawar merah.


Dekorasi yang sudah direncanakan pun mengalami perubahan karena ada warna mawar yang berbeda. Sarah melalukan breafing dengan team dekorasi sampai jam 4 pagi. Begitu selesai, Nana dan Sarah langsung pergi


dengan mobil kantor.


Mobil MPV Premium berjalan dengan cepat. Belum hilang rasa kantuk yang dirasakan Sarah, mobil yang dikendarai mereka sudah sampai ditempat Rumah Sulam Liu. Rumah sulam ini adalah rumah keluarga yang


ditinggali secara turun temurun. Nyonya Liu ada generasi ke 5 yang melanjutkan  usaha dari keluarganya.


Nana membangunkan Sarah yang masih berat untuk membuka matanya. Setelah meminum Caramel Latte yang dibeli Nana di perjalanan tadi membuat Sarah lebih bersemangat. Dengan menarik nafas panjang, Sarah mengikat rambutnya dengan model ekor kuda. Kemudian dengan penuh percaya diri ia membuka pintu mobil.


“mari kita mulai.” Kata Sarah  kepada Nana dengan penuh semangat


“baik nona ketiga Li..”


Model rumah tradisional china sudah terlihat dari pintu masuk. Dua lampion berwarna merah tergantung di dekat pintu masuk. Tulisan di sebelah kanan pintu masuk ‘Rumah Sulam Liu’ menandakan mereka tidak salah tempat tujuan. Pohon bambu kuning disisi kanan dan kiri bangunan membuat suasana sejuk. Sarah sudah lama hidup dan tiba-tiba ia merasa rindu dengan suasana seperti ini. Ia pernah merasakan hidup dengan suasana seperti ini,


sudah sangat jarang menemukan suasana rumah tradisional. Sekarang rumah sudah lebih modern. Orang lebih suka tinggal diapartemen.


“mari masuk.” Nana membuyarkan lamunan Sarah.


Sarah mengangguk pelan dan mengikuti langkah Nana memasuki rumah tersebut, seorang asisten dari rumah sulam Liu sudah menyambut mereka didepan pintu. Mata Sarah dimanjakan dengan suasana asri rumah model


China kuno. Ditengah rumah ada taman yang ditumbuhi dengan beragam jenis bunga. Pohon bambu kuning juga ada ditaman di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Seluruh ruangan menghadap kearah taman. Ada kolam kecil ditengah-tengah taman dan jembatan kecil untuk menyeberang keruangan depannya.

__ADS_1


Sarah berkhayal memiliki rumah dengan konsep seperti ini. Sebagai klan ular, ia sangat menyukai tumbuhan dan semak belukar. Mungkin hanya dirinya, tidak dengan keluarganya yang lain. Ia juga tidak paham


dengan kebiasaannya yang terkadang masih seperti ular. Ia suka berdesis, berada diatas pohon, memantau orang disekitarnya dari atas yang paling parah adalah menelan makannya tanya mengunyahnya. Terkadang ia tidak ingin makan selama beberapa hari yang membuatnya harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk mendapatkan perawatan karena kadar insulin tubuhnya turun.


“kamu tidak apa-apa??” tanya Nana yang dari tadi memperhatikan Sarah yang tidak fokus dengan jalannya.


Lagi-lagi Sarah hanya mengangguk pelan.


Asisten nyonya Liu mempersilahkan Sarah dan Nana masuk keruangan nyonya Liu


Pakaian chiongsam berwarna putih dengan sulaman berwarna merah. Sangat cantik, Sarah sangat mengagumi pakaian yang dikenakan nyonya Liu. Rambut yang disanggul dengan tusuk rambut berwarna merah cerah.


Kesan oriental terlihat jelas dari awal melihat nyonya Liu. Garis kerutan wajah terlihat wanita dihadapannya berusia 50 tahunan.


“anda sangat cantik” puji Sarah.


Nyonya Liu tersenyum dengan ramah “terima kasih atas pujiannya. Saya rasa anda jauh lebih cantik dibandingkan anda.”


Sarah memperhatikan tangannya dipegang oleh Nana dengan kuat kemudian menaikkan alisnya sambil melihat Nana.


“silahkan duduk.” Nyonya Liu mempersilahkan Sarah dan Nana duduk di kursi tamunya yang terbuat dari anyaman bambu.


“terima kasih” jawab Sarah dengan ramah sambil duduk.


Nana masih berdiri memperhatikan Sarah yang hari ini terlihat berbeda dari biasanya.


“Nana....” Sarah bicara sambil tersenyum tapi penuh penekanan agar lawan bicaranya menjalankan apa yang dikatakannya sambil memandang kearah kursi kosong disebelah Sarah.


Nana tersenyum serba salah, ‘kenapa dihadapan pemilik rumah sulam ini dia malah terlihat tidak fokus. Bukan kah dari masuk kedalam rumah, Sarah yang terlihat tidak fokus dengan keadaan sekitar.’ Batin Nana menjadi berdebat dengan diri sendiri.

__ADS_1


Nyonya Liu ternyata adalah orang yang hangat,ia sangat terbuka dalam memberikan penjelasan mengenai sulaman Xiang. Sarah Li dan Nana diajak berkeliling melihat galeri sulaman. Sarah dan Nana tidak berhenti


mengagumi keindahan sulaman yang dipamerkan digaleri.


“seperti lukisan….” Nana tidak percaya yang dilihatnya adalah sulaman bukan lukisan.


Nana dan Sarah menikmati keindahan yang belum pernah dilihat mereka sebelumnya. Ini adalah mahakarya yang tidak sembarang  orang bisa mengerjakannya.


“sulaman Xiang memang sangat indah, tidak mudah mempelajari seni sulaman ini. Untuk satu sulaman saja dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pengerjaannya. Jika penyulam professional yang melakukan ia akan bisa menyulam tanpa menggambar desain. Tapi jika pemula, seperti nona ini. Ia akan menggambar desain yang ingin dilukirnya terlebih dahulu kemudian menyulamnya.” kata Nyonya Liu sambil menunjukkan ruangan tempat menyulam sambil memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para penyulam ditempatnya.


Sarah memperhatikan rata-rata yang berada di rumah sulam Liu adalah orang yang sudah berumur. Hanya 2 orang yang berusia muda.


“disini lebih banyak generasi tua seperti kami, anak muda  zaman sekarang sangat sedikit yang menyukai pekerjaan seperti ini. “ Nyonya Liu menjelaskan kepada Sarah dan Nana dengan ramah.


Nana mengangguk paham mengapa generasi muda jarang berminta dengan hal seperti ini. Dia sebagai generasi muda saja merasa pekerjaan ini sangat rumit. Ia sudah pasti tidak akan sanggup mengerjakan semua.


“saya rasa pasti ada alasan kenapa anak muda tidak menyukai hal menarik seperti ini.” kata Sarah Li


“pasti karena susah pengerjaannya. Mereka pasti merasa ini pekerjaan yang membuang-buang waktu. Penghasilannya pasti sangat sedikit” Nana mengangguk dengan penuh keyakinan sambil memajukan bibirnya.


Jawaban jujur dari Nana membuat semua orang  sedang menyulam memperhatikan dirinya. Apa yang dikatakan Nana memang sangat tepat, tapi tidak pernah mengungkapkan secara terus terang seperti dirinya.


Nana diam sejenak dan memperhatikan sekitarnya yang memperhatikan dirinya. Dengan senyum malu, Nana melihat kesemua orang sambil berkata “maaf…maaf…”


Sarah hanya bisa menatap dingin sekertaris dan sahabatnya itu.


"akan sangat luar biasa apabila kita bisa memasarkan hasil karya ini di dunia internasional. Bagaimana nyonya Liu?? Apakah anda berminta bekerja sama dengan kami?" Sarah Li memberikan penawaran kerja sama kepada Liu


Nyonya Liu memegang proposal kerja sama itu. Matanya menarawang jauh, terlihat sekali ia sebenarnya berniat untuk memasarkan semua karya ini.

__ADS_1


"aku minta maaf sebelumnya, tidak semudah  itu meminta ijin menggunakan sulaman kami, ada ijin dari keluarga besar yang harus didapatkan terlebih dahulu." wajah murung tidak bisa ditutupi Liu.


"baiklah, kami akan bersedia menunggu keluarga anda berdiskusi mengenai masalah ini." kata Sarah dengan penuh percaya diri


__ADS_2