Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 36


__ADS_3

Ditengah kebingungan Sarah harus bereaksi seperti


apa,David berkata “bagaimana jika Siang ini kita snorkeling saja sekitar pulau,


malam hari kita lakukan grilled fish bersama.”


Sarah merasa lega karena Daniel mampu memecahkan


kebekuan suasana diantara mereka.


Semua menyetujui ide David, tapi didalam hati


Sarah masih bingung bagaimana harusnya ia menyambut berita pertunangan dirinya.


Serena menyenggol kaki Sarah dan memberi kode mata, agar Sarah berhenti melamun


seperti itu.


Selesai sarapan, semua bersiap masuk kedalam


kamar masing – masing. Dan mereka berganti pakaian dengan pakaian diving.


Pakaian diving panjang Sarah masih di cuci dan hanya tersisa pakaian renang


diving celana pendek, berwarna hitam. Sisca dan Serena mendatangi kamar Sarah,


dan sudah mengenakan pakaian diving panjang.


Mereka berdua merasa tidak lengkap kalau tidak


saling bercerita satu dengan yang lain. Kedua saudara itu masuk kedalam kamar


Sarah, ketika Sarah baru selesai berganti pakaian.


“kenapa tadi malam tidak keluar? kami sudah


menghubungi ponsel mu adik kecil. Tapi tidak aktif” kata Serena.


“aku tidur lebih awal.” Sarah terlihat cemberut


menyesali nasibnya.


“benar.. Daniel tidur dikamar ini malam tadi


malam? .” tanya Serena lagi. Ia benar – benar ingin meyakinkan. Bagaimana


mungkin kedua orang tuanya memberikan ijin anaknya tidur satu kamar dengan


seorang pria yang bukan suaminya...


Sarah mengangguk lemah sambil melihat ujung


kakinya yang digoyang – goyangkannya.


“sudahlah… kamu jalani saja dahulu hubungan ini.


Mungkin Daniel adalah pria yang memang diciptakan Tuhan untuk mu.”


nasehat  bijak Sisca untuk Sarah sambil menepuk pundak adik keduanya


“kakak pertama mudah bagi kamu mengatakannya,


kamu menikah karena saling mencinta. Begitu juga dengan kakak kedua? kalau


aku?? Karena keinginan orang tua? Bukan kah itu sangat berbeda??” protes Sarah


“belajar adalah jawabannya, bagaimana mungkin


kita bisa langsung pandai membaca jika tidak belajar mengenal huruf pada


awalnya. Sama dengan perasaanmu kepada Daniel. Kenali dia terlebih dahulu, baru


putuskan apakah memang bisa atau tidak melanjutkan hubungan kalian.” Sisca


memberikan nasehat lagi kepada adik keduanya.


“kakak pertama,,,, tidak semudah itu aku bahkan


tidak menyukainnya” Protes Sarah


“lantas kamu mau apa?” tanya Serena


Sarah menaikkan pundaknya sambil melihat kedua


saudara perempuannya.


“maaf menganggu, aku mau mengambil ponsel.” kata Daniel


sambil mengetuk pintu


Mereka bertiga tercengang melihat Daniel yang


sudah berdiri didepan pintu, apakah pria ini mendengarkan pembicaraan mereka??


Wajah Sarah pucat melihat Daniel yang menatap mereka tanpa ekspresi apapun.


Dibelakangnya berdiri Jackie sambil menggeleng – gelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


Sisca dan Serena membentuk huruf O. Benar – benar


sangat sial, baru membicarakan orang nya sudah mendengar perkataan mereka


bertiga. Daniel mengambil ponselnya dan berjalan dengan cepat keluar dari kamar


Sarah tanpa berbicara satu patah kata pun.


Mata Sarah berkaca – kaca melihat kedua saudara


perempuannya “bagaimana ini,,,,, “ Sudah terlambat menyesali apa yang sudah


dikatakannya.


Kebetulan David dan Huanran melintas di depan


kamar Sarah. Mereka bertiga masih terdiam memikirkan nasib apa yang akan


menimpah mereka bertiga terutama Sarah.


“mama, papa... kebetulan kalian lewat ada hal


penting yang harus aku bicarakan pada kalian.”


Suara Daniel yang menyapa kedua orang tuanya


membuat ketiga putri dari keluarga Li membesarkan matanya.


“ya...kenapa nak...” jawab David.


“kita bicara diruang tamu saja.”


Mereka bertiga bisa mendengarkan pembicaraan


keluarga Long itu.


“adik kedua, kamu harus bergerak sekarang. Jika


dia mengatakan akan membatalkan pertunangan kalian. Bukan hanya hubungan baik


keluarga kita yang pertaruhkan. Tapi juga hubungan kerja sama keluarga Long dan


keluarga Li yang sedang terjalin juga terancam. Sebaiknya kamu cepat


memutuskan.” perinta Sisca


Keringat Sarah mengalir didahinya walau udara


terasa sejuk, tangannya dingin dan jantungnya berdetak dengan cepat. Sarah


tentu saja tidak mau membuat kedua orang tuanya marah karena kecerobohan


tidak tertutup.


Serena dengan cepat mendorong tubuh Sarah keluar


dari dalam kamar. “cepat....” bisik Serena. Tubuh Sarah terdorong kedepan, ia


memandang kebelakang melihat kedua saudaranya. Serena memberi kode tangan


kepada Sarah agar ia cepat bergerak.


Sarah menutup mukanya dengan kedua telapak


tangannya sambil melihat kebelakang kearah kedua saudaranya. Dengan kompak


mereka memberikan kode agar Sarah terus bergerak kearah Daniel. Kedua saudara


Sarah keluar dari kamar dan berjalan perlahan mengikuti Sarah yang terlihat


berlari kearah Daniel.


“tunggu.... “ teriak Sarah ketika melihat ketiga


anggota keluarga Long itu sudah mendekati ruang tamu.


“mama... papa... aku pinjam Daniel dulu boleh?”


tanya Sarah dengan nafas terengah – engah


“kamu bilang apa sayang..” Huanran tidak


menyangka akhirnya Sarah mengakui mereka berdua sebagai kedua orang tuanya.


Mata Sarah melirik keatas sejenak, ia berusaha


mengingat apa yang baru diucapkannya... Sarah terkejut ia bisa mengucapkan hal


tidak sopan seperti itu,.


“maaf jika aku tidak sopan.” Sarah membungkukkan


tubuhnya dengan cepat.


“kami sangat senang dengan panggilan itu... Jika


kamu kamu, kamu boleh memanggil kami dengan sebutan mama dan papa. ” kata David

__ADS_1


sambil tersenyum.


Huanran memeluk Sarah sambil mengusap pundaknya.


Sarah tidak sengaja mengucapkan kata mama dan


papa. Daniel mengerutkan keningnya melihata Sarah sambil melipat kedua


tangannya didadanya.


“ada hal penting yang ingin aku bicara kan dengan


Daniel.” Sarah tersenyum paksa melihat suami istri keluarga Long itu.


“tentu saja, silahkan..” kata Huanran.


“terima kasih om dan tante.” Sarah membungkukkan


tubuhnya dan menarik paksa Daniel yang masih bingung dengan perbuatan Sarah.


Sarah menarik Daniel kedalam kamar dan menutup


pintu dengan kuat kemudian mengunci Daniel dengan satu lengannya. Nafas Sarah


naik turun karena berlari mengejar dan menarik Daniel dengan langkah cepat


masuk kedalam kamarnya.


“kenapa ??” tanya  Daniel


“kamu mau mengadu??” tanya Sarah


“mengadu ???” tanya Daniel balik sambil


mengerutkan keningnya


“kamu sudah mendengarkan pembicaraan kami tadi,


dan kemudian mengadu kepada kedua orang tuamu... bukankah itu yang mau kamu


katakan dengan mereka?”


“nona ketiga Li, kamu ini....”


“apa... berani sekali kamu.. mengadu hanya karena


hal seperti ini...” Sarah memotong pembicaraan Daniel sambil menunjuk wajah


Daniel dengan jari telunjuknya.


“kamu sedang mengancamku? perhatikan sikap kamu


nona ketiga Li” Daniel sangat tidak menyukai sikap Sarah yang seperti ini.


“benar – benar tidak menyangka seorang Daniel


Long bisa merasa terancam oleh orang kecil sepertiku.” Kata Sarah sambil Senyum


dengan bibir terangkat.


“aku tidak tahu kalau nona ketiga Li sangat suka


menguping pembicaraan orang lain.” Daniel Long membalikkan keadaan, sambil


Senyum dengan bibir terangkat.


Wajah Sarah berubah kemerahan. Daniel memajukan


wajahnya kearah Sarah. Nafas Daniel bisa dirasakan Sarah diwajahya “apa memang


sebesar itu rasa ingin masuk kedalam keluarga kami?”


“kamu....” Sarah mengepalkan tangannya. Rasanya


ingin memukul wajah pria yang ada dihadapannya.


“aku masih belum begitu sembuh. Jika kamu


menginginkan aku sebesar ini, aku akan memaksakan diri demi memenuhi keinginan


nona ketiga Li.” Satu gerakan cepat dari Daniel Long membuat Sarah terjebak


dalam kedua lengan Daniel yang kokoh.


Tubuh Daniel semakin mendekat. Jarak mereka


sangat dekat, Sarah memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup menatap wajah Daniel


sekarang.


“ternyata hanya sebesar ini keberanian nona


ketiga Li.” bisik Daniel.


Sarah merasa terprovokasi dengan ucapan Daniel,


ketiga putri keluarga Li terkenal dengan sikap pemberani dan tidak mudah

__ADS_1


menyerah. Mendengar perkataan itu seperti merendahkan dirinya


__ADS_2