
Ditengah kebingungan Sarah harus bereaksi seperti
apa,David berkata “bagaimana jika Siang ini kita snorkeling saja sekitar pulau,
malam hari kita lakukan grilled fish bersama.”
Sarah merasa lega karena Daniel mampu memecahkan
kebekuan suasana diantara mereka.
Semua menyetujui ide David, tapi didalam hati
Sarah masih bingung bagaimana harusnya ia menyambut berita pertunangan dirinya.
Serena menyenggol kaki Sarah dan memberi kode mata, agar Sarah berhenti melamun
seperti itu.
Selesai sarapan, semua bersiap masuk kedalam
kamar masing – masing. Dan mereka berganti pakaian dengan pakaian diving.
Pakaian diving panjang Sarah masih di cuci dan hanya tersisa pakaian renang
diving celana pendek, berwarna hitam. Sisca dan Serena mendatangi kamar Sarah,
dan sudah mengenakan pakaian diving panjang.
Mereka berdua merasa tidak lengkap kalau tidak
saling bercerita satu dengan yang lain. Kedua saudara itu masuk kedalam kamar
Sarah, ketika Sarah baru selesai berganti pakaian.
“kenapa tadi malam tidak keluar? kami sudah
menghubungi ponsel mu adik kecil. Tapi tidak aktif” kata Serena.
“aku tidur lebih awal.” Sarah terlihat cemberut
menyesali nasibnya.
“benar.. Daniel tidur dikamar ini malam tadi
malam? .” tanya Serena lagi. Ia benar – benar ingin meyakinkan. Bagaimana
mungkin kedua orang tuanya memberikan ijin anaknya tidur satu kamar dengan
seorang pria yang bukan suaminya...
Sarah mengangguk lemah sambil melihat ujung
kakinya yang digoyang – goyangkannya.
“sudahlah… kamu jalani saja dahulu hubungan ini.
Mungkin Daniel adalah pria yang memang diciptakan Tuhan untuk mu.”
nasehat bijak Sisca untuk Sarah sambil menepuk pundak adik keduanya
“kakak pertama mudah bagi kamu mengatakannya,
kamu menikah karena saling mencinta. Begitu juga dengan kakak kedua? kalau
aku?? Karena keinginan orang tua? Bukan kah itu sangat berbeda??” protes Sarah
“belajar adalah jawabannya, bagaimana mungkin
kita bisa langsung pandai membaca jika tidak belajar mengenal huruf pada
awalnya. Sama dengan perasaanmu kepada Daniel. Kenali dia terlebih dahulu, baru
putuskan apakah memang bisa atau tidak melanjutkan hubungan kalian.” Sisca
memberikan nasehat lagi kepada adik keduanya.
“kakak pertama,,,, tidak semudah itu aku bahkan
tidak menyukainnya” Protes Sarah
“lantas kamu mau apa?” tanya Serena
Sarah menaikkan pundaknya sambil melihat kedua
saudara perempuannya.
“maaf menganggu, aku mau mengambil ponsel.” kata Daniel
sambil mengetuk pintu
Mereka bertiga tercengang melihat Daniel yang
sudah berdiri didepan pintu, apakah pria ini mendengarkan pembicaraan mereka??
Wajah Sarah pucat melihat Daniel yang menatap mereka tanpa ekspresi apapun.
Dibelakangnya berdiri Jackie sambil menggeleng – gelengkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
Sisca dan Serena membentuk huruf O. Benar – benar
sangat sial, baru membicarakan orang nya sudah mendengar perkataan mereka
bertiga. Daniel mengambil ponselnya dan berjalan dengan cepat keluar dari kamar
Sarah tanpa berbicara satu patah kata pun.
Mata Sarah berkaca – kaca melihat kedua saudara
perempuannya “bagaimana ini,,,,, “ Sudah terlambat menyesali apa yang sudah
dikatakannya.
Kebetulan David dan Huanran melintas di depan
kamar Sarah. Mereka bertiga masih terdiam memikirkan nasib apa yang akan
menimpah mereka bertiga terutama Sarah.
“mama, papa... kebetulan kalian lewat ada hal
penting yang harus aku bicarakan pada kalian.”
Suara Daniel yang menyapa kedua orang tuanya
membuat ketiga putri dari keluarga Li membesarkan matanya.
“ya...kenapa nak...” jawab David.
“kita bicara diruang tamu saja.”
Mereka bertiga bisa mendengarkan pembicaraan
keluarga Long itu.
“adik kedua, kamu harus bergerak sekarang. Jika
dia mengatakan akan membatalkan pertunangan kalian. Bukan hanya hubungan baik
keluarga kita yang pertaruhkan. Tapi juga hubungan kerja sama keluarga Long dan
keluarga Li yang sedang terjalin juga terancam. Sebaiknya kamu cepat
memutuskan.” perinta Sisca
Keringat Sarah mengalir didahinya walau udara
terasa sejuk, tangannya dingin dan jantungnya berdetak dengan cepat. Sarah
tentu saja tidak mau membuat kedua orang tuanya marah karena kecerobohan
tidak tertutup.
Serena dengan cepat mendorong tubuh Sarah keluar
dari dalam kamar. “cepat....” bisik Serena. Tubuh Sarah terdorong kedepan, ia
memandang kebelakang melihat kedua saudaranya. Serena memberi kode tangan
kepada Sarah agar ia cepat bergerak.
Sarah menutup mukanya dengan kedua telapak
tangannya sambil melihat kebelakang kearah kedua saudaranya. Dengan kompak
mereka memberikan kode agar Sarah terus bergerak kearah Daniel. Kedua saudara
Sarah keluar dari kamar dan berjalan perlahan mengikuti Sarah yang terlihat
berlari kearah Daniel.
“tunggu.... “ teriak Sarah ketika melihat ketiga
anggota keluarga Long itu sudah mendekati ruang tamu.
“mama... papa... aku pinjam Daniel dulu boleh?”
tanya Sarah dengan nafas terengah – engah
“kamu bilang apa sayang..” Huanran tidak
menyangka akhirnya Sarah mengakui mereka berdua sebagai kedua orang tuanya.
Mata Sarah melirik keatas sejenak, ia berusaha
mengingat apa yang baru diucapkannya... Sarah terkejut ia bisa mengucapkan hal
tidak sopan seperti itu,.
“maaf jika aku tidak sopan.” Sarah membungkukkan
tubuhnya dengan cepat.
“kami sangat senang dengan panggilan itu... Jika
kamu kamu, kamu boleh memanggil kami dengan sebutan mama dan papa. ” kata David
__ADS_1
sambil tersenyum.
Huanran memeluk Sarah sambil mengusap pundaknya.
Sarah tidak sengaja mengucapkan kata mama dan
papa. Daniel mengerutkan keningnya melihata Sarah sambil melipat kedua
tangannya didadanya.
“ada hal penting yang ingin aku bicara kan dengan
Daniel.” Sarah tersenyum paksa melihat suami istri keluarga Long itu.
“tentu saja, silahkan..” kata Huanran.
“terima kasih om dan tante.” Sarah membungkukkan
tubuhnya dan menarik paksa Daniel yang masih bingung dengan perbuatan Sarah.
Sarah menarik Daniel kedalam kamar dan menutup
pintu dengan kuat kemudian mengunci Daniel dengan satu lengannya. Nafas Sarah
naik turun karena berlari mengejar dan menarik Daniel dengan langkah cepat
masuk kedalam kamarnya.
“kenapa ??” tanya Daniel
“kamu mau mengadu??” tanya Sarah
“mengadu ???” tanya Daniel balik sambil
mengerutkan keningnya
“kamu sudah mendengarkan pembicaraan kami tadi,
dan kemudian mengadu kepada kedua orang tuamu... bukankah itu yang mau kamu
katakan dengan mereka?”
“nona ketiga Li, kamu ini....”
“apa... berani sekali kamu.. mengadu hanya karena
hal seperti ini...” Sarah memotong pembicaraan Daniel sambil menunjuk wajah
Daniel dengan jari telunjuknya.
“kamu sedang mengancamku? perhatikan sikap kamu
nona ketiga Li” Daniel sangat tidak menyukai sikap Sarah yang seperti ini.
“benar – benar tidak menyangka seorang Daniel
Long bisa merasa terancam oleh orang kecil sepertiku.” Kata Sarah sambil Senyum
dengan bibir terangkat.
“aku tidak tahu kalau nona ketiga Li sangat suka
menguping pembicaraan orang lain.” Daniel Long membalikkan keadaan, sambil
Senyum dengan bibir terangkat.
Wajah Sarah berubah kemerahan. Daniel memajukan
wajahnya kearah Sarah. Nafas Daniel bisa dirasakan Sarah diwajahya “apa memang
sebesar itu rasa ingin masuk kedalam keluarga kami?”
“kamu....” Sarah mengepalkan tangannya. Rasanya
ingin memukul wajah pria yang ada dihadapannya.
“aku masih belum begitu sembuh. Jika kamu
menginginkan aku sebesar ini, aku akan memaksakan diri demi memenuhi keinginan
nona ketiga Li.” Satu gerakan cepat dari Daniel Long membuat Sarah terjebak
dalam kedua lengan Daniel yang kokoh.
Tubuh Daniel semakin mendekat. Jarak mereka
sangat dekat, Sarah memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup menatap wajah Daniel
sekarang.
“ternyata hanya sebesar ini keberanian nona
ketiga Li.” bisik Daniel.
Sarah merasa terprovokasi dengan ucapan Daniel,
ketiga putri keluarga Li terkenal dengan sikap pemberani dan tidak mudah
__ADS_1
menyerah. Mendengar perkataan itu seperti merendahkan dirinya