
“sejak kapan…. “ tanya Sarah bingung melihat semua
orang dihadapannya.
“sejak kalian turun tangga, kemudian melihat
pasangan muda berjalan menuruni tangga, kemudian ada perkelahian kecil antar
pasangan, kembali bermesraan. Aku benar – benar iri melihatnya, Sayang sekali
Chandra harus keluar kota hari ini dan baru kembali 3 hari kedepan.” Serena
bicara sambil berakting sedih.
Sarah melihat kedua telapak tangannya. Kenapa ia
tidak merasakan energi apapun, biasanya jika hal ini terjadi ia akan mengalami
perubahan bentuk menjadi manusia setengah ular. Wajah Sarah menjadi pucat.
“tenanglah adik kedua, tidak ada hal yang aneh
terjadi padamu.” Sisca berusaha menenangkan adik bungsunya dengan merangkulnya.
“energi kamu belum stabil setelah mengobati
Daniel waktu itu, kamu tidak perlu khawatir. Nanti akan pulih kembali dengan
sendirinya.” jelas Mayleen kepada putrinya.
“benarkah tidak apa – apa?” Sarah ingin
meyakinkan kembali perkataan semua orang disekitarnya dan menatap mereka satu
per satu.
Walau kehilangan kemampuannya, perasaan Sarah
mengatakan ada yang salah dengan dirinya. Tapi apa dan kenapa, ia juga tidak
mengetahui asalan pastinya. Sarah menatap Daniel yang ada disebelahnya, pria
ini hanya menunduk ketika Sarah menatap dirinya. Pria yang terkenal berani
seperti seorang Daniel mendadak terlihat menghindari tatapan matanya, benar –
benar tidak aneh.
“aku kembali kedalam kamar dulu. Permisi.” kata
Daniel menganggukkan kepalanya sekali kepada semua orang kemudian menaiki anak
tangga.
“lihat lah dia… bertindak seolah – olah dia sudah
menjadi penghuni rumah ini.” kata David sambil menggaruk dahinya melihat
kelakuan anaknya.
“tidak masalah, dia akan segera menjadi anggota
keluarga kami, tentu saja harus membiasakan diri.” Andy Li membela Daniel dan
kemudian keluarga Long mengundurkan diri dari rumah keluarga Li. Mereka semua
berdiri didepan pintu mengantar kepergian keluarga Long.
Sarah melihat mobil kedua orang tua Daniel pergi
dari kediaman mereka.
“sudah malam, mari kita beristirahat.” Andy Li
pergi ke kamarnya dilantai 1 dan Sarah bersama kedua saudaranya naik ketangga
menuju lantai 2 secara bersamaan.
“apa yang kalian bahas??” tanya Sarah yang
penasaran kenapa mereka berkumpul tanpa kehadiran dirinya
“pernikahan kalian tentunya, apa lagi?”
Sarah menoleh kearah Serena sambil tetap berjalan
menaiki anak tangga.
__ADS_1
“hadiah pernikahan kalian luar biasa. Investasi
di perusahaan Li tanpa harus mengembalikan kepada perusahaan Long.
Nilainya sangat fantastis, miliyaran dollar. Kamu sangat beruntung adik kecil.”
Serena merangkul pinggang adiknya.
“tidak lah begitu besar mengingat kekayaan
keluarga Long yang cukup banyak.” kata Sisca.
“kamu sudah siap menikah?” tanya Sisca lagi.
Sarah menaikkan kedua pundaknya. “cara bicaranya
selalu membuatku kesal. Kadang dia begitu lembut dan kadang dia sangat tegas
seperti hari ini. Kadang aku sendiri juga bingung. Sebentar bilang suka, tapi
sikapnya dingin seperti gunung es. Aku sulit menebak arah pikirannya.” keluh
Sarah sambil menggaruk alis matanya.
“kamu menyukainya??” tanya Serena
“bagaimana aku bisa mengetahui perasaan ku
padanya kalau dia sendiri tidak jelas bersikap kepadaku. Sebentar bilang cinta,
besoknya dia sangat dingin dan menyebalkan.” Sarah membuang nafas dengan sangat
kuat, ia melampiaskan kegundahan hatinya kepada kedua saudaranya.
Jackie dengan setia mengikuti ketiga dari
belakang. Menjadi pendengar setia para wanita yang sedang bercerita satu sama
lain.
“menurutku sebagai seorang pria sikap Daniel
sangat mudah dipahami.” Kata Jackie yang ikut menyambung pembicaraan ketiga
putri keluarga Li.
Mata mereka membesar dan dengan cepat menarik
semangat.
“lanjutkan…” mata Sisca berkilat menunggu
kelanjutan pembicaraan suaminya.
Ketiga anak perempuan keluarga Li sudah duduk
cantik di tepi tempat tidur Sarah dan melihat kearah Jackie dengan penuh harap.
Jackie menatap mereka satu persatu, sangat mirip dengan anak kucing yang minta
diberikan susu oleh majikannya.
Wajah mereka bertiga sangat lucu, jauh berbeda
dengan sikap mereka diluar sana yang terkenal tegas dan keras kepala. Jackie
menahan tawanya dengan menggeser kursi dari meja rias Sarah dan memindahkannya
didepan mereka bertiga.
“Kalau dari yang aku lihat sebenarnya Daniel
menyukai adik kedua, hanya saja ia tidak berani maju kedepan karena penolakan
demi penolakan yang ditunjukkan oleh adik kedua. Pertanyaan harusnya ke Sarah….
bagaimana menurutmu…”
Kedua saudara perempuanya beralih menatap Sarah
dengan penuh penasaran. Sarah terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa. Tidak
bisa dipungkiri pesona ketampanan seorang Daniel mampu membuat hati Sarah
bergerak untuk menyukainya. Bagaimana jika ini hanya sekedar kagum? dan bukan
cinta?
__ADS_1
Sarah melihat Jackie, ia kesulitan mengeluarkan
isi pikirannya. Semua orang menunggu Sarah untuk bicara, mendadak pintu kamar
Sarah diketuk dari luar membuat semua orang diruangan terkejut dan melihat
kearah pintu. Semua orang dikamar Sarah saling bertukar pandangan satu sama
lain. Dan Sarah adalah salah satu orang yang menjadi orang yang diharapkan
membuka pintu kamarnya.
Sarah menunjukkan wajah kesal bercampur ragu saat
akan membuka pintu kamarnya. Ketika ia membuka pintu, terlihat kilatan mata
berwarna merah menyala berdiri tepat didepannya dan mengejutkan Sarah.
“kamu,,,,, “ kata Sarah sambil mengerutkan
keningnya.
“kenapa jika aku?? “ tanya Daniel balik
“bukan kah kamu bilang mau tidur? kenapa kemari??
“ tanya Sarah.
Serena, Sisca dan Jackie langsung berdiri dengan
cepat begitu mengetahui Daniel yang datang.
“Sudah terlalu malam…. kami permisi tidur ya…”
Serena melambaikan tangannya begitu keluar dari kamar Sarah.
Jackie merangkul Sisca sambil berjalan keluar
dari kamar Sarah “kami permisi dulu ya adik ipar…” kata Jackie sambil ikut
melambaikan tangannya kepada Sarah dan Daniel.
Sarah tersenyum kearah mereka dan kembali bermuka
masam melihat Daniel yang tiba – tiba masuk kedalam kamarnya.
“kamu tidak boleh masuk.” kata Sarah sambil
menarik tubuh Daniel yang ternyata sangat berat. Tubuhnya bahkan tidak bergeser
dan tetap berjalan normal walau Sarah sudah menarik Daniel sekuat tenaganya.
“aku mau tidur.. “ kata Daniel sambil merebahkan
tubuhnya ditempat tidur Sarah dan memakai selimut ditubuhnya dengan santai
seolah – olah ia tidur dikamarnya sendiri.
“kamu ini, seharusnya tahu batas, memang kita
akan segera menikah. Tapi tidur satu kamar sebelum menikah itu tidak pantas.
Kamu paham tidak? Seharusnya kamu tahu karena kamu seorang yang berpendidikan
tinggi.” Kata Sarah yang mulai merendahkan intonasi suaranya.
Sarah bertolak pinggang sambil menatap Daniel
yang perlahan lelap dalam tidurnya. Dari tadi ia bicara panjang lebar, tapi
pria ini tidak memperdulikan dirinya. Benar – benar luar biasa. Batin Sarah
protes melihat keadaannya. Daniel terlihat sudah tidur dengan lelap tanpa
mendengarkan omelan darinya.
Belum redah emosinya, pintu kamar Sarah kembali
diketuk.
Dengan malas ia menuju pintu kamar, sudah pasti
ini dari kedua saudaranya yang ingin mengolok - olok dirinya dan Daniel.
"apa lagi,,,,," kata Sarah dengan kesal
ketika membuka pintu.
__ADS_1
sayangnya didepan pintu berdiri kedua orang
tuanya.