
Sarah berusaha menenangkan dirinya yang saat ini terombang – ambing dalam emosi hatinya. Ia tidak mau sahabatnya meninggalkan nama buruk atas kepergiannya dari dunia ini. Sudah jelas sekali, apa yang dilakukan Nana pada saat itu. Sarah tidak mungkin lupa dengan sikap Nana pada saat itu. Cara dia mengedipkan mata dan menggerakkan bola matanya. Sarah sudah hapal benar dengan sikapnya.
Sudah beberapa tahun bersama, ketika Sarah menyampaikan materi Nana akan memberika kode matanya kepadanya Sarah bahwa ada yang harus dikoreksi pada materi yang diberikannya. Atau ketika sedang bersama dengan klien dan Sarah lupa nama orang yang ditemuinya, Nana akan memberikan kode agar Sarah ingat kembali nama klien yang ditemuinya.
Nana paling paham apa kelemahan Sarah. Sarah tidak akan pernah salah dalam menyebutkan nominal angka dalam kontrak kerja maupun dari hasil penjualan. Tapi ia mempunyai kelemahan dalam mengingat nama orang. Nana paling sering membeli notes dilaporan kerja Sarah ketika mempelajari dokumen kerja sama. Biasanya Nana akan menyelipkan foto dan nama orang yang akan ditemuinya. Sejauh ini, hanya Nana yang melakukan hal itu setelah hidup selama beratus tahun lamanya.
Cara dia memberikan informasi sehingga Sarah bisa paham apa maksud yang ingin disampaikan Nana. Sungguh tidak mungkin Nana berniat mencelakainya. Untuk apa dia memberikan banyak informasi tersirat apabila ia memang berniat menyakiti Sarah?
Tapi jika memang dia tersangka dalam hal ini, apa alasannya dan kenapa ia bekerja sama dengan James yang jelas – jelas sudah berteman baik dengan Daniel selama beratus tahun lamanya…. Jelas bukan hal yang bisa diterima juga oleh Daniel Long. Tapi kenapa ia sangat santai menerima keputusan awal penyelidikan?? Sarah melihat Jackie dan juga Sisca Li. Mereka terlihat bisa mengendalikan emosinya dengan hasil ini.
Kenapa ia tidak bisa seperti mereka yang dengan mudahnya menerima semua keputusan dari penyelidik?? Sarah masih tidak habis pikir. Tapi jika dipikir ulang, Daniel yang sedih ketika mengetahui sahabatnya meninggal dunia waktu itu, sepertinya bukan dirinya sendiri yang merasa kehilangan. Tapi mengapa mereka terlihat bisa mengendalikan emosi dibandingkan dirinya….
“kita akan melanjutkan melakukan video konfrensi untuk hasil forensic dari Negara A yang sudah bekerja sama
dengan pihak penyelidik dari Negara kita.” kata Daniel sambil menatap semua orang yang ada diruangan dengan penuh percaya diri.
Jantung Sarah berdetak semakin kencang, ia sangat takut mendengar hal yang tidak ingin didengarnya. Semakin kemari, semakin tidak ingin mendengarnya. Padahal semalam Sarah sangat yakin ingin mendengar semuanya secara langsung setelah mendengarkan Daniel berbicara tentang dia sudah menceritakan ia sudah menguburkan jenasah James dan Nana beberapa hari yang lalu. Tapi rasanya setelah mendengar penjelasan pembukan, Sarah tidak ingin menajutkan ke priode yang sekarang.
“bisa kah aku tidak ikut??” tanya Sarah dengan senyum terpaksa melihat Daniel
Daniel mengangguk “tidak masalah jika kamu tidak ingin mendengarkan semuanya.” Kata Daniel tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sarah berdiri dan dengan cepat keluar dari ruangan rapat. Dia bersandar pada dinding setelah menutup pintu
ruangan tersebut. Rasanya ia ingin mendengar semuanya, tapi rasa hati tidak mau mendengarkan sesuatu yang tidak ingin didengarkannya. Salah satu tangan Sarah masing memegang pintu. Tangannya mengepal. Sarah jongkok sambil menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya.
Sarah tidak menyadari kalau Daniel sudah berada didepannya dan mengusap kepalanya.
“jangan bersedih… kita sebenarnya sama, tidak menginginkan nama orang terdekat kita menjadi buruk karena perbuatan orang lain. Kamu harus kuat dan bijak dalam menghadapi semuanya. Jangan berpihak karena kamu akan semakin terluka. Tetap berpikiran logis, agar kamu tidak terjebak dengan perasaan pribadi dalam kasus ini.” Sarah tidak bisa mengangkat kepalanya karena saat ini ia sedang menangis. Ia tidak ingin terlihat cengeng dimata Daniel.
“kamu mau aku temani kesuatu tempat??” tanya Daniel
Sarah mengusap air mata dipipinya dan kemudian mengangkat kepalanya perlahan. “apa yang harus aku lakukan,,,,,” tanya Sarah
Istrinya terlihat seperti wanita yang sedang frustasi dengan masalahnya. Orang yang sudah buntu dalam berpikir. Padahal kesehariannya ia selalu memiliki ide yang cemerlang dan tidak terpengaruh pada hal apapun. Begitu ada kasus seperti ini, ia menjadi orang yang berbeda. Ia menjadi orang yang ragu dalam bersikap. Menjadi orang yang penakut dan
“hadapi semuanya…. bersama dengan ku…” Daniel bicara dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
Sarah menatap Daniel. Padahal waktu itu ia menangis seperti anak kecil mendengar kematian sahabatnya. Kemudian ia pergi keluar negeri dan
menyibukkan diri dengan pekerjaan dan mencari informasi sendiri tentang semua hal yang dialaminya. Pria ini kenapa bisa begitu tangguh dalam menghadapi semuanya. Ia sangat pandai menyimpan perasaannya, tetap bersikap dingin dan fokus menjalani semuanya walau ada masalah pribadi yang dihadapinya.
Sarah menjadi sangat iri dengan Daniel, Ia juga menjadi rindu dengan dirinya yang dulu. Hidup sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tidak suka menjalani hubungan dengan siapapun apalagi terlibat dengan perasaan pribadi.
__ADS_1
“aku tidak bisa…” kata – kata itu akhirnya keluar dari mulut Sarah. Walau ia ingin kembali menjadi dirinya yang
dingin dan kaku seperti beberapa bulan yang lalu. Tapi kehidupan seperti ini membuat hidupnya lebih berwarna. Kasih sayang dari keluarga dan orang – orang disekitarnya membuat dirinya meyakini kalau hidup seperti ini sangat menyenangkan. Sangat menyenangkan ketika dirinya mengibur orang dan orang tersebut tersenyum dan merasa bahagia atas kehadirannya. Juga sangat menyenangkan memberikan perhatian kepada orang yang disekitarnya. Senyum bahagia mereka tidak bisa dilupakan Sarah begitu saja.
“percayalah padaku. Jauh sebelum semua ini… kamu sudah pernah melewati hal yang lebih buruk dari semuanya.”
Sarah masih menatap mata Daniel dengan lurus nyaris tanpa berkedip. Pria ini berbicara seolah ia adalah orang yang paling memahami dirinya dan sudah bersama dirinya untuk waktu yang cukup lama.
“apakah kita pernah bersama sebelumnya???” suara pelan Sarah dan dalam membuat jantung Daniel berdetak
dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya dan tersenyum kepada Sarah.
“bagaimana kalau kita masuk sekarang??” tanya Daniel
Sarah masih berjongkok sambil menatap Daniel, pandangan matanya sangat dalam. Sudah beberapa kali Sarah seperti ini. Ia sangat menginginkan kejujuran dari Daniel. Tapi pria ini selalu menutupi semuanya terkadang ia mengalihkan perhatian Sarah agar ia lupa.
“kenapa???” tanya Sarah yang melihat Daniel yang sedang berdiri dan menghindari tatapan matanya.
“maksudnya??” tanya Daniel balik.
“kenapa kamu selalu menghindari pertanyaanku tentang kita?? Dari awal aku sudah merasa curiga dengan dirimu. Apa susahnya mengatakan semuanya? Apa kamu benar- benar menyembunyikan sesuatu??” Suara Sarah meninggi ketika mengatakan hal itu kepada Daniel.
__ADS_1
Ia mematung sambil menatap Sarah, hati kecilnya bingung harus berkata apa….