
Kilat mulai menyambar dan suara gemuruh petir
bersahut – sahutan. Jelas ini bukan badai yang biasa. Baru kali ini Sarah
merasa khawatir menunggu kepulangan mereka semua. Tidak ada selera makan sama
sekali. Semua orang menatap kearah jendela. Dalam hati tidak putus berdoa agar
mereka semua kembali dalam keadaan baik.
“kakak…apakah kalian yakin mereka akan selamat??”
tanya Sarah kepada Sisca.
“aku yakin mereka akan baik – baik saja. Seperti
yang dikatakan tante Huanran. Mereka semua memiliki kekuatan yang luar biasa.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ada 2 orang naga bersama mereka, semua
pasti akan selamat.”
“yang seharusnya khwatir adalah aku. Suami ku
dari manusia asli. Entah bagaimana keadaannya sekarang.” jawab Serena dengan
mata berkaca – kaca.
Mereka bertiga saling berpelukan… “tenanglah.
Mereka akan saling menjaga, tidak akan mungkin membiarkan Chandra terluka.”
Jawab Sarah berusaha menguatkan. Walau ia sendiri tidak yakin dengan apa yang
baru saja dikatakannya.
“kakak pertama… kenapa tempat ini di segel dari
semua kekuatan luar??
“kamu lagi – lagi lupa. Dahulu ini adalah pulau
tempat kita tinggal. Pulau ini dulu sangat luas, mungkin karena abrasi air
laut, jadi pulau ini menjadi hanya tinggal 1 hektar saja. Gua tempat kita
tinggal dahulu pun sudah tidak ada lagi. Sepertinya ada dibagian belakang
pulau. Jika cuaca sudah lebih baik, bagaimana jika melihatnya besok??” kata
Sisca.
Sarah tidak ingat dengan tempatnya, ia hanya
ingat mereka tinggal digua ditengah - tengah hutan.
Sisca mengerutkan keningnya, kenapa begitu banyak
hal yang dilupakannya. Sepertinya ia memang perlu kembali mengingat kembali
semuanya.
“wajar saja jika adik tidak mengingat semuanya.
Saat itu ia masih sangat kecil.” kata Serena yang tidak melepaskan pandangannya
dari kaca jendela ruang tamu. Mereka bertiga duduk menghadap kearah laut.
Menopangkan dagunya pada sanaran sofa.
“aku ingin menayakan lagi,,, bukan kah dahulu
kita tinggal dirumah keluarga om David Long?” tanya Sarah.
“kamu benar sekali.” jawab Serena.
“apakah dipulau ini?”
“tidak…. kakak lupa dimana mereka tinggal, tapi
sepertinya pada saat itu mereka tidak sengaja berhenti dipulau ini.” jelas
Sisca.
“mereka sangat baik, padahal jika saat itu mereka
bisa saja menghisap energi kita sampai habis dan menjadikan mereka tambah
__ADS_1
kuat.” sambung Serena
“kakak kedua, berhentilah membuat ku takut.
Mendengar perkataan mu membuat ku merinding.” protes Sarah.
“apa kamu tidak pernah berpikir, mereka adalah
klan paling kuat dan paling berpengaruh dalam kehidupan kita. Bukan hal sulit
bagi mereka jika mau melakukan hal seperti itu.”
“adik pertama, klan naga tidak mendapatkan
kekuatannya dengan cara seperti itu. Mereka terkena makhluk paling langkah dan
terhormat didunia ini. Keberadaan mereka sangat jarang. Maka dari itu mereka
harus mendapatkan keturunan yang banyak untuk menghindari kepunahan.”
“tante Huanran seorang naga??” tanya Sarah lagi.
“sepertinya dari yang pernah aku dengan tante
Huanran itu memiliki orang tua pria dari klan naga dan istrinya dari klan ular.
Seorang pria dari klan naga, selama mereka menikah dengan seseorang dari klan
ular maka akan menghasilkan anak naga.” jelas Sisca
“sepertinya kakak pertama banyak mengetahui hal
seperti ini.”
“tentu saja, aku hidup jauh lebih lama dari pada
kamu adik kedua.” Sisca menyentil kening Sarah yang menoleh kearahnya dengan
wajah malasnya.
“apakah kamu tidak menyadari maksud dari
perkataan kakak pertama?” tanya Serena
Sarah menggeleng dengan malas tanpa menjawab apa
Serena menjelaskan “jadi, mereka sekarang sedang
mencari calon istri untuk putra mereka untuk melanjutkan garis keturunan naga
mereka. Dan dari hasil pertimbangan yang cukup panjang, hanya kamu yang
memenuhi persyaratan sebagai calon istri Daniel Long.”
Sarah menegakkan posisi duduknya sambil menatap
Serena yang masih menopangkan dagunya di sandaran sofa.
“jelas saja, 50% dari energi tubuh kamu adalah
berasal dari energi Daniel. 50 % sisanya adalah perpaduan dari energi om David
dan papa. Jika klan lain berpapasan jalan dengan kamu, mereka tidak akan mudah
menebak kamu dari klan apa. Maka dari itu ada saat – saat tertentu, kami harus
melindungi kamu dengan sekuat tenaga. Apa kamu tau kenapa??” tanya Serena
Sarah menggeleng dengan cepat
“karena akan sangat bagus jika bisa mendapatkan
energi kamu. Mereka akan mendapatkan energi berkali – kali lipat banyaknya. Dan
tubuhmu akan dibuang dipinggir jalan begitu saja oleh mereka.” jelas Sisca.
Sarah merinding mendengar perkataan kedua
saudaranya.
“apakah kalian sedang menakut – nakuti ku?” tanya
nya
“untuk apa kami menakuti mu. Kamu adalah anak
gadis yang susah diatur dan paling suka melawan perkataan mama. Menakuti kamu
__ADS_1
hanya membuat mulut kami lelah berbicara.” jawab Serena acuh tak acuh.
“kamu lihat mama….” kata Sisca, Sarah dengan
cepat melihat kearah Mayleen yang terlihat sedang berbicara dengan Huanran.
Wajah khawatir tidak bisa disembunyikan keduanya.
“mama sangat menyayangimu. Tahukah kamu, mama
selama ini sangat keras kepadamu karena hal ini. Ia tidak suka kamu keluar dari
rumah tanpa alasan yang penting. Jika kamu pergi maka alex akan mengikuti kamu
kemana pun kamu pergi. Mengikuti kamu secara diam – diam. Bukan karena dia yang
over protected seperi selama ini pikiran kamu. Tapi ia takut ada klan lain yang
mendekatimu dengan tujuan yang tidak baik.” lanjut Sarah.
Sarah makin merasa bersalah, selama ini ia hidup
seperti apa… kenapa sering sekali berdebat karena hal itu kepada mamanya.
Ternyata ada maksud baik didalamnya.
“energi yang kamu miliki sangat manis dan lezat
untuk dinikmati. Ketika klan lain yang berada disebelahmu akan merasakan bau
wangi.” kata Serena sambil mengendus kearah Sarah
“iis… kakak kedua. Kamu ini benar – benar
menyebalkan.” kata Sarah sambil mengusap kedua lengannya dengan telapak
tangannya.
“berbeda halnya jika disaat yang sama kamu berada
didekat papa, Daniel dan om David. Energimu tidak ada aroma sama sekali.” jelas
Sisca.
“apakah kalian juga menciumnya?” tanya Sarah
penasaran
“ketika tidak ada papa, tentu saja kami bisa
merasakan wanginya energimu. Tapi kita saudara tidak mungkin memakan sesama
saudara sendiri.” Serena berkata sambil menaikkan bahunya.
“sejauh ini, tidak pernah ada masalah yang
terjadi pada diriku.” kata Sarah dengan penuh percaya diri.
“bukan tidak pernah. Hanya….” mata Sisca langsung
membesar kearah Serena yang sedang berbicara.
Melihat kemarahan pada wajah Sisca, membuat
Serena langsung terdiam.
“hanya apa…..” tanya Sarah sambil berubah arah
menatap Sisca yang sudah tersenyum seperti tidak terjadi apapun diantara Sisca
dan Serena.
“hanya saja…kebetulan ada Alex yang selalu ada
disampingmu. Mereka tentu saja tidak ada yang berani mendekat.” sambung Sisca.
“oowwhhh “ jawab Sarah
Mereka bertiga pun terdiam dan kembali menatap
keluar jendela. Semalaman mereka menunggu, petir bersahut – sahutan sepanjang
siang sampai malam. Tidak ada tanda – tanda akan berhenti. Semalaman mereka
terjaga berharap ada mereka muncul didepan mereka dengan selamat. Tidak ada
dari mereka yang selera makan.
__ADS_1