Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 34


__ADS_3

Seorang pelayan datang ke dapur dan melihat Sarah


sedang mencuci piring.


“nona... biar kami saja...”


“tidak masalah. Kalian sangat sibuk, aku bisa


mengurus semuanya disini.”


Daniel masih merebahkan kepalanya dimeja makan


menunggu Sarah selesai dengan pekerjaannya didapur. Pelayan tadi melihat kearah


Daniel dengan padangan merasa bersalah.


“Daniel sudah makan, tadi dia sangat lapar. Aku


sudah memasakan makanan untuknya kamu tenang saja.” Hibur Sarah.


Pelayan itu mengangguk tapi masih berdiri


dibelakang Sarah sambil memperhatikan Sarah menupas apel dan meletakkan pada


wadah kedap udara.  Setelah selesai Sarah berjalan kesamping Daniel yang


masih merebahkan kepalanya di meja makan.


“istirahat lah dikamar...” kata Sarah kepada


Daniel


“baiklah...”  jawab Daniel singkat sambil


berjalan kearah kamar. Sarah mengikutinya dari belakang.


Selama Beberapa hari bersama, Sarah sering


memperhatikan Daniel, ini adalah hari pertama Sarah melihatnya berjalan dengan


terhuyung. Jika boleh jujur, Sarah sedih melihat Daniel yang seperti ini.


Biasanya ia terlihat gagah dan berwibawa ketika berjalan.


Daniel membuka pintu kamar Sarah dan langsung


merebahkan diri ditempat tidur. Jarak yang pendek seolah ditempuhnya bermil –


mil jauhnya. Sarah meletakkan buah dan minum di meja sebelah tempat tidur.


Keringat di kening Daniel bisa terlihat jelas olehnya. Sarah membatu Daniel


memperbaiki posisi tubuhnya dan memakaikan selimut sambil menyeka keringat yang


mengalir didahinya.


“aku saja.” kata Daniel sambil mengambil tisu


yang dipegang Sarah.


Sarah hanya terdiam sambil memperhatikan Daniel


menyeka keringatnya dengan sembarang. Dengan cepat, Sarah merebut kembali tisu


itu dari tangan Daniel dan mengambil tisu baru


“aku tahu kamu sangat hebat. Kalau hanya menyeka


keringat aku bisa membantumu.” Sarah memegang kuat tangan Daniel dan menyeka keringatnya.


Mata Sarah menatap dingin Daniel yang juga menatapnya dengan dingin


“egois juga ada batasnya.” Kata Sarah sambil


berdiri meninggalkan tepat tidur dan duduk di sofa kamarnya sambil menatap


keluar jendela.


Sarah juga tidak tahu kapan sofa panjang ini ada


dikamarnya, ketika pergi tadi saja belum ada. Begitu balik kedalam kamar sudah


ada sofa disamping jendela yang menghadap kearah pantai.


Tidak ada yang mereka bicarakan, hanya diam


dengan dunia mereka masing – masing. Wajah Sarah terlihat masih kesal dengan


Daniel, pria ini beberapa waktu yang lalu masih bersikap manis dan berniat


melamarnya. Sekarang sifatnya menjadi sangat dingin dan menyebalkan. Bukankah


semua sudah berlalu. kenapa pria ini sangat pendendam.


Pintu kamar Sarah diketuk, dengan segera Sarah

__ADS_1


berjalan kearah pintu dan seorang pelayan memberikan bantal dan selimut.


“permisi nona ketiga Li, nyonya Huanran meminta


saya menghantarkan bantal dan selimut tambahan untuk anda.”


“oohh….” Sarah Li terdiam sesaat saat menerima


bantal dan selimut  dari tangan pelayan itu. Sepertinya semua hal sudah


disiapkan dengan baik oleh keluarga Long.


“apakah nanti malam nona akan makan malam lagi??”


tanya pelayan itu


Sarah melihat kearah dalam kamar. Otaknya


memikirkan apa yang harus dijawabnya.


“hmm… mh.. Aku rasa tidak. Jika memang Daniel mau


makan, aku akan mempersiapkan untuknya.” jawab Sarah.


“baiklah… saya undur diri dulu.” kata pelayan itu


sambil meninggalkan kamar.


Sarah menutup pintu kamar dan meletakkan bantal


dan selimut di sofa. Sarah melirik kearah tempat tidur, Daniel sudah tertidur


dengan lelap.


Langit sudah gelap. Sarah duduk di sofa sambil


melihat matahari terbenam. Sinar matahari berwarna jingga masuk kedalam kamar.


Suasana kamar sudah mulai gelap. Lampu belum dinyalakan oleh Sarah, ia ingin menikmati


suasana matahari terbenam walau hanya didalam kamar.


Sarah menghidupkan lampu tidur begitu matahari


terbenam. Sarah membuka laci disebelah tempat tidur, dan mengakifkannya. Ini


adalah pertama kali ia memegang ponsel sejak pernikahan kakak pertamanya.


Ratusan telepon masuk, puluhan pesan dan email memenuhi ponselnya. Semuanya


“kenapa??” tanya Sarah langsung ke inti masalah


tanpa membaca pesan terlebih dahulu.


“kenapa kamu tidak bisa dihubungi?” kata Nana


dengan nada kesal diujung ponsel sana.


“maaf, aku lupa mengaktifkan ponsel ku..terlalu


banyak hal yang terjadi disini. Ada apa??”


“perusahaan Long ingin membatalkan kerja sama


karena kita tidak bisa mendapatkan sulaman Xiang.”


Sarah melihat kearah Daniel yang tertidur, pria


ini benar – benar orang yang sangat tegas. Hubungan keluarga mereka sangat


dekat. Bahkan kedua orang tua berniat menikahkan mereka berdua. Hanya karena


urusan seperti ini ia bahkan tidak ingin mengganti pilihan untuk bisa melanjutkan


kerja samanya benar - benar kelewatan.


“Haloo... Sarah Li… kamu masih disana?” tanya


Nana yang mendapatkan tidak ada respon dari Sarah.


“ooh… ya…” Sarah sadar dari lamunannya dan


melihat keluar jendela.


“mereka tidak ingin mengganti dengan opsi lain??”


sambung Sarah


“tidak. Mereka hanya ingin sulaman Xiang.”


“atur pertemuan dengan perusahaan Long, hari


senin aku sudah kembali kekantor.”


“baiklah, aku akan bicara dengan James lagi.”

__ADS_1


“tegaskan kepada mereka kalau perusahaan Li


adalah tempat yang baik bagi mereka untuk mengembangkan permodalan mereka.


Kerja sama perusahaan Li dan Long dipastikan akan menjadi kerja sama yang


saling menguntungkan.”


“sangat susah untuk membuat janji dengan Daniel


Long. Aku sudah mengatakan kepada James berkali – kali. Tapi ia selalu menolak


dengan alasan, Daniel Long sedang cuti dan tidak bisa dihubungi.”


“mungkin dia memang sedang liburan, sama dengan


ku. Atau bisa saja dia sedag liburan dengan ku.” jawab Sarah sambil mengalihkan


pandangannya lagi kearah Daniel


“sangat bagus apabila kalia memang benar liburan


bersama, tidak akan susah mengatur kerja sama dengan perusahaan Long. Tapi aku


rasa sebaiknya kamu kurangi imajinasimu yang terlalu berlebihan itu. Apalagi


jika kamu sampai mengatakan kamu sudah bertunangan dengan Daniel Long.” sindir


Nana


“ya…sepertinya memang begitu.” jawab Sarah


“aah… nona ketiga Li, kamu terlalu banyak


berlibur. Kamu jadi terlalu banyak menghayal.”


Sarah tersenyum sambil memegang ponselnya


“kenapa sulit sekali mempercayai perkataanku.”


keluh Sarah kepada Nana.


“aku selalu mempercayaimu. Tapi kalau kali ini,


aku pastikan kamu terlalu banyak tidur. Jadi otak kamu terlalu banyak menghayal


yang tidak – tidak. Sudah dulu, aku akan menghubungi James.  Selamat


berlibur sahabatku…"


Nana mematikan ponselnya. Sarah masih


memperhatikan layar ponselnya. Ia mulai melihat pesan masuk dan semuanya dari


Nana. Bahkan saat liburan pun, Nana masih menganggunya dengan hal pekerjaan.


Email masuk  dari kantor. Kerja sama untuk


permodalan pertambangan. Sarah bahkan belum membaca proposal kerja sama dan


perusahaan mana yang akan bekerja sama dengan perusahaan Li. Senin akan


diadakan pertemuan dengan penanam modal.


Sarah menghubungi lagi Nana. Dengan cepat


panggilan tersambung.


“ ya….” jawab Nana dengan singkat


“Nana… batalkan saja untuk mendiskusikan ulang


kerja sama dengan perusahaan Long. Hari senin ada hal yang lebih penting


menunggu kita.”


“apa itu??” tanya Nana


“proyek yang aku kerjakan. Pengembangan usaha ke


pertambangan, proyek yang dikerjakan kakak pertama sepertinya sudah menemui


titik terang. Sudah ada pemodal yang akan bekerja sama dengan kita. Senin akan


ada pertemuan dengan mereka. Aku akan kirim email kerja samanya. Tolong kamu


pelajari, dan berikan resumenya padaku pada senin pagi sebelum rapat pada siang


hari.” jelas Sarah panjang lebar.


“baik bos… akan aku selesaikan.”


Sarah memutus panggilannya, sisa liburan hanya 2


hari saja. Pekerjaan sudah menanti kepulangan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2