
Seorang pelayan datang ke dapur dan melihat Sarah
sedang mencuci piring.
“nona... biar kami saja...”
“tidak masalah. Kalian sangat sibuk, aku bisa
mengurus semuanya disini.”
Daniel masih merebahkan kepalanya dimeja makan
menunggu Sarah selesai dengan pekerjaannya didapur. Pelayan tadi melihat kearah
Daniel dengan padangan merasa bersalah.
“Daniel sudah makan, tadi dia sangat lapar. Aku
sudah memasakan makanan untuknya kamu tenang saja.” Hibur Sarah.
Pelayan itu mengangguk tapi masih berdiri
dibelakang Sarah sambil memperhatikan Sarah menupas apel dan meletakkan pada
wadah kedap udara. Setelah selesai Sarah berjalan kesamping Daniel yang
masih merebahkan kepalanya di meja makan.
“istirahat lah dikamar...” kata Sarah kepada
Daniel
“baiklah...” jawab Daniel singkat sambil
berjalan kearah kamar. Sarah mengikutinya dari belakang.
Selama Beberapa hari bersama, Sarah sering
memperhatikan Daniel, ini adalah hari pertama Sarah melihatnya berjalan dengan
terhuyung. Jika boleh jujur, Sarah sedih melihat Daniel yang seperti ini.
Biasanya ia terlihat gagah dan berwibawa ketika berjalan.
Daniel membuka pintu kamar Sarah dan langsung
merebahkan diri ditempat tidur. Jarak yang pendek seolah ditempuhnya bermil –
mil jauhnya. Sarah meletakkan buah dan minum di meja sebelah tempat tidur.
Keringat di kening Daniel bisa terlihat jelas olehnya. Sarah membatu Daniel
memperbaiki posisi tubuhnya dan memakaikan selimut sambil menyeka keringat yang
mengalir didahinya.
“aku saja.” kata Daniel sambil mengambil tisu
yang dipegang Sarah.
Sarah hanya terdiam sambil memperhatikan Daniel
menyeka keringatnya dengan sembarang. Dengan cepat, Sarah merebut kembali tisu
itu dari tangan Daniel dan mengambil tisu baru
“aku tahu kamu sangat hebat. Kalau hanya menyeka
keringat aku bisa membantumu.” Sarah memegang kuat tangan Daniel dan menyeka keringatnya.
Mata Sarah menatap dingin Daniel yang juga menatapnya dengan dingin
“egois juga ada batasnya.” Kata Sarah sambil
berdiri meninggalkan tepat tidur dan duduk di sofa kamarnya sambil menatap
keluar jendela.
Sarah juga tidak tahu kapan sofa panjang ini ada
dikamarnya, ketika pergi tadi saja belum ada. Begitu balik kedalam kamar sudah
ada sofa disamping jendela yang menghadap kearah pantai.
Tidak ada yang mereka bicarakan, hanya diam
dengan dunia mereka masing – masing. Wajah Sarah terlihat masih kesal dengan
Daniel, pria ini beberapa waktu yang lalu masih bersikap manis dan berniat
melamarnya. Sekarang sifatnya menjadi sangat dingin dan menyebalkan. Bukankah
semua sudah berlalu. kenapa pria ini sangat pendendam.
Pintu kamar Sarah diketuk, dengan segera Sarah
__ADS_1
berjalan kearah pintu dan seorang pelayan memberikan bantal dan selimut.
“permisi nona ketiga Li, nyonya Huanran meminta
saya menghantarkan bantal dan selimut tambahan untuk anda.”
“oohh….” Sarah Li terdiam sesaat saat menerima
bantal dan selimut dari tangan pelayan itu. Sepertinya semua hal sudah
disiapkan dengan baik oleh keluarga Long.
“apakah nanti malam nona akan makan malam lagi??”
tanya pelayan itu
Sarah melihat kearah dalam kamar. Otaknya
memikirkan apa yang harus dijawabnya.
“hmm… mh.. Aku rasa tidak. Jika memang Daniel mau
makan, aku akan mempersiapkan untuknya.” jawab Sarah.
“baiklah… saya undur diri dulu.” kata pelayan itu
sambil meninggalkan kamar.
Sarah menutup pintu kamar dan meletakkan bantal
dan selimut di sofa. Sarah melirik kearah tempat tidur, Daniel sudah tertidur
dengan lelap.
Langit sudah gelap. Sarah duduk di sofa sambil
melihat matahari terbenam. Sinar matahari berwarna jingga masuk kedalam kamar.
Suasana kamar sudah mulai gelap. Lampu belum dinyalakan oleh Sarah, ia ingin menikmati
suasana matahari terbenam walau hanya didalam kamar.
Sarah menghidupkan lampu tidur begitu matahari
terbenam. Sarah membuka laci disebelah tempat tidur, dan mengakifkannya. Ini
adalah pertama kali ia memegang ponsel sejak pernikahan kakak pertamanya.
Ratusan telepon masuk, puluhan pesan dan email memenuhi ponselnya. Semuanya
“kenapa??” tanya Sarah langsung ke inti masalah
tanpa membaca pesan terlebih dahulu.
“kenapa kamu tidak bisa dihubungi?” kata Nana
dengan nada kesal diujung ponsel sana.
“maaf, aku lupa mengaktifkan ponsel ku..terlalu
banyak hal yang terjadi disini. Ada apa??”
“perusahaan Long ingin membatalkan kerja sama
karena kita tidak bisa mendapatkan sulaman Xiang.”
Sarah melihat kearah Daniel yang tertidur, pria
ini benar – benar orang yang sangat tegas. Hubungan keluarga mereka sangat
dekat. Bahkan kedua orang tua berniat menikahkan mereka berdua. Hanya karena
urusan seperti ini ia bahkan tidak ingin mengganti pilihan untuk bisa melanjutkan
kerja samanya benar - benar kelewatan.
“Haloo... Sarah Li… kamu masih disana?” tanya
Nana yang mendapatkan tidak ada respon dari Sarah.
“ooh… ya…” Sarah sadar dari lamunannya dan
melihat keluar jendela.
“mereka tidak ingin mengganti dengan opsi lain??”
sambung Sarah
“tidak. Mereka hanya ingin sulaman Xiang.”
“atur pertemuan dengan perusahaan Long, hari
senin aku sudah kembali kekantor.”
“baiklah, aku akan bicara dengan James lagi.”
__ADS_1
“tegaskan kepada mereka kalau perusahaan Li
adalah tempat yang baik bagi mereka untuk mengembangkan permodalan mereka.
Kerja sama perusahaan Li dan Long dipastikan akan menjadi kerja sama yang
saling menguntungkan.”
“sangat susah untuk membuat janji dengan Daniel
Long. Aku sudah mengatakan kepada James berkali – kali. Tapi ia selalu menolak
dengan alasan, Daniel Long sedang cuti dan tidak bisa dihubungi.”
“mungkin dia memang sedang liburan, sama dengan
ku. Atau bisa saja dia sedag liburan dengan ku.” jawab Sarah sambil mengalihkan
pandangannya lagi kearah Daniel
“sangat bagus apabila kalia memang benar liburan
bersama, tidak akan susah mengatur kerja sama dengan perusahaan Long. Tapi aku
rasa sebaiknya kamu kurangi imajinasimu yang terlalu berlebihan itu. Apalagi
jika kamu sampai mengatakan kamu sudah bertunangan dengan Daniel Long.” sindir
Nana
“ya…sepertinya memang begitu.” jawab Sarah
“aah… nona ketiga Li, kamu terlalu banyak
berlibur. Kamu jadi terlalu banyak menghayal.”
Sarah tersenyum sambil memegang ponselnya
“kenapa sulit sekali mempercayai perkataanku.”
keluh Sarah kepada Nana.
“aku selalu mempercayaimu. Tapi kalau kali ini,
aku pastikan kamu terlalu banyak tidur. Jadi otak kamu terlalu banyak menghayal
yang tidak – tidak. Sudah dulu, aku akan menghubungi James. Selamat
berlibur sahabatku…"
Nana mematikan ponselnya. Sarah masih
memperhatikan layar ponselnya. Ia mulai melihat pesan masuk dan semuanya dari
Nana. Bahkan saat liburan pun, Nana masih menganggunya dengan hal pekerjaan.
Email masuk dari kantor. Kerja sama untuk
permodalan pertambangan. Sarah bahkan belum membaca proposal kerja sama dan
perusahaan mana yang akan bekerja sama dengan perusahaan Li. Senin akan
diadakan pertemuan dengan penanam modal.
Sarah menghubungi lagi Nana. Dengan cepat
panggilan tersambung.
“ ya….” jawab Nana dengan singkat
“Nana… batalkan saja untuk mendiskusikan ulang
kerja sama dengan perusahaan Long. Hari senin ada hal yang lebih penting
menunggu kita.”
“apa itu??” tanya Nana
“proyek yang aku kerjakan. Pengembangan usaha ke
pertambangan, proyek yang dikerjakan kakak pertama sepertinya sudah menemui
titik terang. Sudah ada pemodal yang akan bekerja sama dengan kita. Senin akan
ada pertemuan dengan mereka. Aku akan kirim email kerja samanya. Tolong kamu
pelajari, dan berikan resumenya padaku pada senin pagi sebelum rapat pada siang
hari.” jelas Sarah panjang lebar.
“baik bos… akan aku selesaikan.”
Sarah memutus panggilannya, sisa liburan hanya 2
hari saja. Pekerjaan sudah menanti kepulangan mereka semua.
__ADS_1