Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 131


__ADS_3

Daniel terkejut ketika melihat mata Sarah yang terbuka dan menatap dirinya tanpa ekspresi sama sekali.


“sayang…. kamu mengejutkan ku.” Daniel mengusap dadanya dan diam sejenak menyadari jangan – jangan istrinya sudah mendengar semuanya.


Daniel memperhatikan Sarah Li dengan hati – hati dan Sarah menatap Daniel tanpa berkedip. Mereka diam selama beberapa saat. Sarah berharap Daniel bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya sedangkan Daniel menunggu reaksi Sarah. Apakah istrinya ingin menanyakan mengenai hal ini atau tidak.


Sarah kembali memejamkan matanya, dan sudut matanya meneteskan air mata. Daniel terkejut melihat istrinya yang menangis karena perkataannya. Daniel menyelipkan lengan kanannya dileher Sarah Li.


“jangan menangis…. aku minta maaf untuk semuanya.”


“aku merasa  tidak sanggup menjalani semua ini.” Sarah menangis dan menyembunyikan wajahnya didada Daniel


“aku tidak bisa tidur dengan lelap. Setiap kali aku tertidur semua bayangan kejadian itu selalu melintas


dipikiranku. Aku berusaha keras melupakannya, tapi kenapa kamu mengingatkannya lagi…” Sarah berbicara sambil menangis.


“aku tidak ingin membuatmu terluka. Aku berjanji akan memberitahukan kepadamu jika ada informasi terbaru


yang aku dapatkan. Aku tidak menceritakan semuanya dari awal karena takut kamu akan marah dan terluka.”


“aku sudah terluka jadi untuk apa lagi menutupinya.” Sarah mengangkat wajahnya dan menatap Daniel.


Hati Daniel menjadi sedih melihat Sarah berbicara terbata – bata sambil menangis menatapnya.


“abu yang dikuburkan waktu itu, apa??” tanya Sarah sambil menyeka air matanya.


“Rumah tempat mereka tinggal terakhir kali. Aku membakar rumah itu sampai menjadi debu begitu polisi selesai


melakukan pemeriksaan ditempat perkara.” Daniel menjawab dengan juju.


“bukan kah itu rumah mewah??” tanya Sarah. Ia memang tidak melihat keseluruhan rumah. Hanya saja ketika Sarah sampai kelokasi Sarah memberhatikan dari lantai, dinding dan langit – langit. Rumah bergaya eropa dan mediterania biasanya adalah kesukaan dari Daniel dan keluarganya. Sarah sudah bisa menebak dari awal kalau rumah itu adalah milik Daniel.


“tidak mewah… biasa saja..” jawab Daniel dengan sungkan.


“bagaimana aku bisa mengenang sahabatku jika rumah itu kamu bakar?” tanya Sarah dengan kesal.


“kamu mengingatnya didalam hati. Rumah itu akan memberikan kesan mengerikan kepadamu. Bukan hanya dirimu, bagiku, kedua orang tua kita bahkan juga Sisca Li dan Jackie. Bagi kita semua, sosok Nana dan James adalah orang baik dan sangat menyenangkan. Setelah mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan itu apakah kamu tidak memiliki kesan yang lain??”

__ADS_1


Sarah menggeleng “tidak memikirkan apapun”


Daniel tahu kalau Sarah saat ini sedang berbohong kepadanya. Ia jelas – jelas tidak menyukai Nana yang berubah menjadi manusia kanibal yang memakan orang yang dicintainya dengan perasaan tidak bersalah sama sekali.


“baguslah jika kamu begitu. Karena bagiku, aku sangat kesal dengan Nana yang tega membunuh…..”


Kata ‘membunuh’ yang diucapkan Daniel membuat Sarah naik darah. “tuan muda Long, tolong perhatikan kata – kata anda.”


Cara Sarah berbicara juga membuat Daniel kesal, bagaimana mungkin Sarah bisa membela seseorang yang sudah meninggal seperti itu. Padahal ia sudah melihat dengan kepalanya sendiri kalau Nana yang membunuh sahabatnya. Daniel berusaha tetap berkepala dingin menghadapi istrinya yang sedang emosi setelah mendengar perkataannya.


Bagaimana pun mereka sama – sama kehilangan sahabat dekat.  Daniel berusaha tetap berpikiran terbuka dalam menghadapi Sarah yang masih terlalu sensitive  jika membahas mengenai kematian sahabatnya.


“apakah ada suatu hal yang ingin kamu ketahui??” tanya Daniel sambil menatap Sarah dengan lurus


Sarah terdiam sesaat, sepertinya ia sudah bisa mengambil garis lurus dari perkataan Daniel yang dikatakannya.


Sudah pasti Nana adalah tersangka pembunuhan James. Jika mendengarkan secara langsung hati Sarah sudah pasti tidak ingin menerima semuanya.


“kalau kamu tidak mau bertanya, tidak masalah. Kamu bisa menanyakan kepadaku kapanpun hatimu siap mendengar semuanya. Aku tidak ingin kamu berpikiran aku menutupi semuanya atau memihak kepada seseorang” Daniel mengusap pipi Sarah Li.


Hati Sarah masih ragu, mulutnya ingin mengucapkan semua pertanyaan dalam hatinya. Tapi pikirannya seolah tidak memberi ijin agar mulutnya berbicara.


“tidak…” jawab Sarah dengan cepat.


“baiklah….kamu ingin bicara tentang apa??” tanya Daniel.


Sarah duduk dan memilih bersandar ditempat tidur sambil memeluk bantal. Dia diam sejenak… Sarah masih ragu apakah ia harus bertanya dan bagaimana jika tidak sesuai dengan keinginan hatinya untuk jawaban yang akan diterima dari mulut Daniel.


“berjanjilah padaku, aku akan menjawab semuanya asalkan kamu tidak ikut menyalahkan ku dan marah dengan


perkataan yang akan aku sampaikan. Tapi jika menurutmu, aku tidak bisa mengatakan dengan benar. Tidak masalah, kita bisa mengatur jadwal agar kita pergi keluar negeri untuk menanyakan hasil penyelidikan dari pihak


polisi.”  Daniel menjadi sangat diplomatis terhadap Sarah


Ia tidak ingin bertengkar dengan Sarah hanya karena masalah ini.


“Aku tidak bisa cuti. Selama 3 minggu aku tidak bekerja, dan begitu bekerja ada insiden ledakan diperusahaan.

__ADS_1


Semua hal itu saja sudah menyita waktu dan tenaga ku. Aku tidak bisa lagi beristirahat dengan semua yang terjadi.”


“baiklah,,,, jika demikian besok pagi aku akan menghubungi pihak kepolisiannya dan menjelaskan secara langsung hasil penyelidikan mereka.”


Sarah menggenggam kuat tangannya yang sedang memegang bantal. Daniel paham dengan ketakutan Sarah mendapatkan hasil yang bertolak belakang dari pemikirannya. Dia pun menggenggam tangan Sarah dan menciumnya.


“kamu terlihat jelek ketika sedang seperti ini…” goda Daniel


“tidak masalah, setidaknya aku wanita bersuami. Aku tidak perlu berdandan pun orang lain sudah mengetahui


kalau aku adalah wanita cantik dan sudah memiliki suami.” jawab Sarah dengan penuh percaya diri.


Daniel tersenyum.. “ya, kamu benar kamu sangat cantik. Maka dari itu cantik… jalani semuanya dengan lapang


dada. Seperti yang kamu katakan, kita bukan Tuhan yang bisa melakukan segalanya.”


Sarah melihat wall paper dinding kamar yang berwarna cream dengan corak bunga Lili tepat dihadapannya.


“tidurlah, besok pagi banyak pekerjaan dikantor. Aku masih harus melihat proyek kerja sama perusahaan Li dan


Long.” kata Daniel yang menutup mulutnya karena menguap


“aku mau bertanya, kenapa kamu meminta kepada papa untuk menyiapkan ruangan untuk dirimu diperusahaan kami??”  Sarah memiringkan tubuhnya menatap Daniel dengan penasaran.


“karena bagaimana pun waktu ku akan lebih efisien jika misalnya berada diperusahaan Li tapi juga mengerjakan


pekerjaan perusahaan Long. “ Daniel menaikkan pundaknya seolah hal itu adalah hal biasa yang tidak perlu dipertanyakan.


“masalahnya luas ruangan kamu lebih luas ruangan papaku. Sedangkan luas ruangan ku hanya sepertiga ruangan kalian. Apakah itu adil buat orang yang hanya menumpang tempat kerja??” Sarah melirik Daniel dengan tajam.


“ruangan itu bukan hanya untuk ku. Ada asisten pribadiku, kemudian ada Jackie dan asisten pribadinya. Kami


semua disana sebagai perwakilan dari perusahaan Long.”


“kenapa kalian tidak ditempat kalian saja…”


“untuk menghemat biaya operasional tentunya.” jawab Daniel dengan bijak

__ADS_1


“ya… sekarang aku paham kenapa keluarga Long sangat kaya.” Sarah memegang dagunya sambil mengangguk melirik kearah Daniel.


“Sudah lah…. besok kita bahas lagi mari kita tidur” kata Daniel sambil memperbaiki posisi bantal Sarah kemudian menghidupkan lampu tidur.


__ADS_2