Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 161


__ADS_3

Sarah dan Huanran berbicara banyak hal pagi itu.


“sepertinya mama harus membantu mama kamu didapur, sebentar lagi pasti kedua pria Long itu sampai disini.”


“baiklah ma… aku juga sangat lelah sekarang dan mau tidur sebentar.” kata Sarah sambil merebahkan dirinya ditempat tidur.


Huanran meninggalkan Sarah yang sudah tertidur dengan pulsa dikamarnya dan kemudian berjalan menuju dapur. Sesuai perkiraan Huanran, David dan Daniel tiba dirumah keluarga Li bersama dengan Hans tidak lama setelah ia meninggalkan kamar Sarah Li.


Jackie dan Sisca menyusul setelahnya dan kemudian Chandra dan Serena terakhir sampai dirumah keluarganya. Mereka berkumpul diruang keluarga yang terbuka dan saling bercerita tentang banyak hal. Bertepatan dengan libur nasional jadi mereka bisa berkumpul bersama pada hari ini. Sarah masih tidur didalam kamarnya dan sama sekali tidak terganggu dengan suara bising dari bawah kamarnya.


Daniel permisi melihat Sarah Li dikamar dan tidak menemukannya. Daniel menuju pohon diluar kamar Sarah dan menemukannya sedang duduk didahan pohon Gingko biloba.


“sayang….apa yang kamu lakukan. Tangan kamu masih terluka. Tulang punggung kamu juga cidera. Jangan melakukan hal yang berbahaya.” Daniel bicara dari dalam kamar dan terdengar diruangan keluarga yang ada tepat dibawah ruangan kamar Sarah.


Mereka keluar dan melihat Sarah dengan santainya menggoyang – goyangkan kakinya dan memakai head set berwarna ungu kesukaannya. Ia tidak mendengar Daniel yang sedang berbicara kepadanya. Daniel perlahan


menaiki dahan, dan ketika dahan tempatnya duduk bergoyang… Sarah melihat kearah jendela kamar dan mendapati Daniel sudah merangkak kearahnya.


“kenapa??” tanya Sarah tanpa merasa bersalah.


“adik kedua… turunlah… kamu sedang terluka jangan membahayakan dirimu.” teriak Sisca dari bawah pohon.


Sarah melihat kebawah dan melihat kedua kakak kandung dan kakak iparnya sudah ada dibawah sana bersama papanya dan papa mertuanya.


“kenapa kalian melihatku seperti itu…. “ Sarah Li tidak merasa dirinya sedang sakit sekarang. Ia hanya merasa merindukan suasana sekarang. Duduk didahan pohon menikmati udara segar yang berhembus kearahnya merasakan kebebasan dan ketenangan sesaat.


Sarah yang memalingkan wajah melihat Hans ada dibawah membuatnya hampir hilang keseimbangan. Peristiwa tadi pagi belum hilang dari ingatannya. Daniel dengan cepat menangkap Sarah dan membuatnya mendarat dengan sempurna tanpa merasakan sakit dipunggungnya. Gerakan yang sangat cepatdan terlihat seperti seorang yang sudah ahli.


Sarah yang masih mengalungkan lengan kirinya dileher Daniel merasa enggan melepaskan pelukannya ketika melihat Hans dan melihat David Long. Wajah David yang terlihat sangat kejam ketika menghadapi musuh mereka masih ada dipelupuk mata Sarah. Ia tidak bisa melupakan semuanya begitu saja. Hanya melihat wajah saja membuat Sarah takut.

__ADS_1


“tenanglah… dia adalah Hans yang asli.” bisik Daniel.


Sarah mengamatinya dengan sangat serius, semua orang yang terlihat asli bisa saja menjadi orang palsu yang menyamar demi kepentingan klan mereka. Sarah tidak mau turun dari gendongan Daniel. Dua pria dihadapannya terlihat sangat mengerikan baginya sekarang.


Daniel pun tidak melepaskan Sarah, ia paham wanitanya sedang merasa terancam dan kewajibannya untuk melindunginya. Sarah duduk dipangkuan Daniel seolah tidak ada lagi sofa tersisa diruangan itu. Mata Sarah melihat kearah sekitarnya dengan teliti. “


Lihatnya cincin yang kamu kenakan, dia tidak memancarkan cahaya, berarti kamu dalam keadaan aman.” bisik Daniel yang berusaha menenangkan Sarah Li.


Serena duduk dilantai yang dialasi karpet tebal “kemari….” katanya sambil menepuk – nepuk karpet dihadapannya.


Sarah mengangguk dengan hati – hati. Bersama kedua saudaranya setidaknya ia merasa aman. Sarah melihat kearah karpet. Daniel  awalnya berpikir Sarah akan turun dari pangkuannya dan duduk sendiri didepan kedua kakaknya. Ternyata pikirannya salah. Sarah menginginkan Daniel juga turun kebawah. Seperti anak kecil Sarah


duduk ditengah –tengah kaki Daniel dan menyandarkan punggungnya didada Daniel.


Daniel hanya diam tanpa ekspresi mengikuti semua kemauan Sarah tanpa banyak bicara seperti biasa.


“ada aku kamu tidak perlu takut..” bisik Daniel. Sarah seperti tidak mau mendengarkan Daniel yang ia tahu sekarang dirinya merasa terancam.


“adik kedua… kamu ini masih dalam keadaan terluka kenapa memanjat pohon itu juga??” Serena menunjuk pohon Gingko biloba dengan mulutnya


“oh… tadi aku terbangun dan ingin merasakan udara segar. Jadi aku kepohon itu.” Sarah menjawab tanpa merasa ada yang salah dengan jawabannya.


“kakak ipar, kamu tidak apa – apa??” Hans mencoba menyapa. Tapi tangan kiri Sarah semakin kuat menggengam pakaian Daniel sampai menembus kekulitnya.


“dia tidak apa – apa. Karena kamu banyak bicara, jadi aku yang terkena apa – apanya.” Daniel melihat kearah genggaman tangan Sarah yang sangat kuat mencengkram dirinya kemudian melirik kesal kearah Hans yang dari tadi tidak menyadari hal tersebut.


“itu bukan karena aku, salah kan dirimu sendiri yang jadi suami paling menyebalkan didunia ini..”


“berkaca sebelum bicara... kamu saja belum menikah diusia setua ini?? Artinya apa??? kamu tidak terlalu pantas dipilih kamu hawa diluar sana..”

__ADS_1


“wahh... Daniel Long, wajahmu tampan tapi mulutmu seperti naga hijau yang menyemburkan api kepada orang..”


Mendengar perkataan Hans, Sarah tidak bisa menahan tawa. Selama ini dia selalu mengira hanya dia yang mengatakan seperti itu kepada Daniel. Ternyata dia tidak sendiri.


“kamu lihat.... kakak ipar tertawa. Itu membuktikan betapa menyebalkan dirimu ketika bicara..”


Daniel melihat Sarah yang masih tertawa tanpa diketahui alasannya.. Sarah kemudian diam, karena punggungnya yang tiba – tiba sakit karena terlalu banyak tertawa. Daniel mengusap perlahan pundak Sarah membuat Sarah menjadi lebih tenang.


“kenapa kamu tertawa adik kedua??” Tanya Sisca Li


“tidak ada apa – apa kakak pertama. Aku hanya lucu mendengar .... “ Sarah menghentikan bicaranya karena takut menyinggung perasaan David Long. Bagaimana pun melihat David yang sedang marah benar – benar mengerikan seperti melihat malaikat maut yang sedang mempermainkan manusia jahat yang akan dicabut nyawanya.


“mendengar apa...” tanya Serena.


“mendengar... “ Sarah melirik kearah belakang dan Hans kemudian berhenti bicara.


“tidak apa – apa kakak ipar katakan saja apa yang ingin kamu katakan...” Hans bicara sambil menatap serius kearahnya.


“mendengar kalian seperti anak kecil yang berkelahi mengenai hal yang tidak penting.” Sarah bicara sambil mengangguk menatap keduanya.


“ya... benar sekali... satu seorang dokter terkenal dan yang satu lagi seorang pengusaha ternama. Melihat mereka berdebat seperti ini seperti melihat anak TK yang berkelahi.” Sisca memegang dagunya sambil menganggukkan kepalanya.


Sarah Li menahan tawa, ia tidak mau punggungnya sakit karena tertawa seperti tadi.


Hans menggaruk kepalanya dan tersenyum malu. “sebenarnya aku kemari karena ingin memberitahukan besok kita akan CT Scan melihat perkembangan kesehatan kakak ipar dan om Andy Li.”


“jika hanya mengatakan hal itu seharusnya kamu hanya perlu mengirim pesan. Tidak perlu datang kemari..” jawab Daniel dengan ketus.


Perkelahian antar sepupu harus berakhir ketika Huanran masuk keruangan keluarga dan mengajak semuanya makan siang. Sarah yang masih merasa sakit dibagian pundak memilih makan diruang keluarga dan disuap oleh Daniel.

__ADS_1


__ADS_2