Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 42


__ADS_3

Selama diperjalanan pulang, Sarah dan Daniel


tidak banyak bicara. Daniel lebih banyak diam dan tidak berbicara apapun.


Sepanjang jalan Sarah merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Mulut


Sarah sangat ingin menanyakan kebenaran berita yang didengarnya dari kedua


iparnya. Tapi melihat Daniel yang sangat dingin dan terlihat sangat arogan


membuat nyalinya mengecil. Melihat caranya bersikap, sepertinya memang benar


dia seorang pembunuh berdarah dingin.


Sarah merinding dengan setiap kali pria ini


menatapnya. Untungnya, selama dalam perjalanan energi Sarah sudah kembali


pulih. Ia sudah bisa berjalan, walau harus dengan bantuan orang lain


menuntunnya. Sarah memaksakan diri berjalan keluar dari dalam pesawat begitu


mendarat. Kebetulan Daniel sedang mengambil jaket yang diletak dibagasi atas


pesawat. Sarah melihat kedua saudara dan para orang tua sudah berjalan


didepannya. Sarah perlahan – lahan bangkit dari tempat duduknya dengan memegang


kuat sandaran tempat duduk kursi yang ada didepannya. Ia berhasil berdiri dan


mulai menggerakkan kakinya untuk bergerak. Satu langkah berhasil, Sarah


melangkah lagi. Berat pada awalnya, tapi ia berhasil berjalan walau dengan


sangat perlahan.


Sarah terlalu memaksakan tubuhnya yang belum


pulih untuk terus bergerak. Kakinya mendadak menjadi berat dan sulit


digerakkan, Ia hampir terjatuh. Seorang pria berkebangsaan Eropa, menahan


tubuhnya.


“thank you.” kata Sarah sambil menyingkirkan


rambut diwajahnya.


“tidak masalah.” jawab pria itu. Sarah menatapnya


kagum, ternyata pria ini bisa berbicara dengan fasih dengan bahasanya.


“Terima kasih bantuannya, tapi jangan sentuh


wanita ku. Singkirkan tangan anda dari tubuhnya” Suara dingin dari belakang


Sarah membuat suasana menjadi canggung.


Daniel menatap tidak senang, pria itu memegang


tubuh dan tangan Sarah.


“maaf, aku hanya ingin memastikan istri anda


tidak terjatuh.” jawab pria itu yang melihat jari manis Daniel dan Sarah


mengenakan cincin bermata zambrut yang sama.


“dia bukan…. “


“terima kasih.”  Daniel memotong pembicaraan


Sarah dan menarik dengan cepat tangan Sarah yang dipegang pria asing itu.


Pria itu merasa canggung dan langsung berjalan


meninggalkan Sarah.


“apa sulitnya menunggu sebentar?” Daniel bicara


sambil memakaikan Sarah jaket coklat panjang Daniel. Setelah mengancingnya,


Daniel kemudian menggendong Sarah keluar dari dalam pesawat. Sarah hanya diam


dan melihat Daniel megancing jacketnya dan kemudian mengangkat tubuhnya.


Daniel mengantar Sarah sampai kerumah bersama


seluruh anggota keluarga Li. Sedangkan keluarga Long langsung pulang kerumah,


mereka tidak ikut berkunjung ke rumah keluarga Li. Daniel dengan sabar

__ADS_1


menggendong Sarah kekamarnya. Matanya berkeliling melihat suasana kamar Sarah


berwarna cream. Wallpaper dengan motif bunga bergilter. Suasana kamar berkilau


dan terlihat sangat feminim.


Daniel melihat Sarah sesaat kemudian melihat suasana


kamarnya lagi. Jika dilihat dari kepribadian dan suasana kamar benar – benar


berbeda jauh. Dimeja belajar Sarah ada headphone berwarna ungu. Didepannya ada


jendela besar berbuka lebar.


Dahan pohon Ginklo Biloba tumbuh dengan sempurna.


Salah satu dahannya berbelok diarah kamar Sarah, seolah ia tumbuh sesuai dengan


inginan Sarah. Daniel sudah beberapa kali sebenarnya mengetahui kalau Sarah


sangat suka duduk dan bersantai di dahan pohon ini. Daniel berdiri menghadap


pohon itu dengan kedua tangan bertumpu pada meja belajar. Pemandangan diluar


sana sangat bagus, pantas saja Sarah betah berlama – lama ketika sudah berada


didahan pohon ini.


Senyum tipis dibibirnya ditambah sinar matahari


senja yang menyinari wajah Daniel membuat pria ini terlihat tampan  dan


berkilau diantara warna keemasan cahaya matahari. Sarah duduk sambil bersandar


ditempat tidur. Sarah bisa melihat jelas wajah Daniel dari sini, dari samping


saja pria ini sudah memiliki kesempurnaan seperti ini. Hati Sarah mulai


mengagumi ketampanan pria ini lagi.


Sarah menyadari kesalahan hati dan pikirannya,


dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.


Ponsel Daniel berdering, ia dengan cepat


mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


“bos, bagaimana dengan jadwal kunjungan anda


keluar negeri. Apakah sudah bisa aku pesankan tiketnya?” jawab James dari ujung


telepon sana.


“pesankan pesawat terakhir malam ini. Aku baru


sampai. Bantu hubungi rumah untuk menyiapkan pakaian, paspor, visa dan antar ke


rumah keluarga Li. Begitu saja”


Daniel menutup teleponnya dan kemudian melihat


kearah luar jendela lagi.


Sarah mendengar pembicaraan Daniel. Apa pria ini


tidak memiliki rasa lelah Tubuhnya baru sembuh dari racun mematikan. Ia masih


sebuk bekerja, benar – benar pria bertubuh baja. Pikir Sarah.


Pintu kamar Sarah diketuk dan Mayleen masuk


kedalam kamar.


“kamu pasti lelah, istirahat saja dahulu.


Bagaimana jika kamu menginap”


Daniel melihat jam tangannya kemudian berkata


“sebenar lagi aku harus pergi tante, mungkin lain kali aku akan menginap.”


“kemana? kenapa buru – buru sekali?”


“Aku harus kembali keluar negeri, ada urusan


pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi. Aku minta maaf tidak bisa memenuhi


keinginan tante.”


“jika begitu, kamu makan dulu. Ayo kemari…. “

__ADS_1


  Mayleen memeluk pinggang Daniel dan membawanya keluar dari kamar


Sarah.


Sarah melihat peristiwa itu membuat hatinya


menjadi panas. Kenapa mereka berani sekali pergi tanpa dirinya, apakah mereka


sudah tidak menganggap ku ada? Kenapa mama manis sekali bersikap kepadanya,


seolah dialah anak kandung dari keluarga Li. Mata Sarah mengecil menatap pintu


yang sudah tertutup.


Pintu kamar Sarah terbuka kembali, dan Daniel


masuk kembali.


“maaf…. aku melupakanmu.” kata Daniel sambil


berjalan kearah Sarah.


Daniel berjongkok dibawah tempat tidur.


“naiklah..”


“tidak usah.. Aku disini saja.” kata Sarah acuh


tak acuh


“ayo cepat, waktu kita bersama sangat terbatas”


Daniel menoleh kearah kirinya tanpa melihat wajah Sarah.


Sarah membuka selimut dan naik dipundak Daniel.


Diatas pundaknya, pikiran Sarah mulai mempertanyakan kenapa dirinya sendiri, ia


bisa menjadi sangat penurut ketika bersama Daniel. Jangan – jangan ini yang


mananya takut atau merasa terintimidasi.


Daniel membawa turun Sarah dan ikut makan bersama


dengan Mayleen dan Andy Li. Kedua saudara Sarah masih sibuk didalam kamar.


Mayleen mempercepat jadwal makan malam karena Daniel akan segera berangkat


keluar negeri.


“tante, selesai makan aku pinjam kamar mandi


untuk mandi ya…”


“kamu terlalu sungkan, pakai saja kamar mandi


dikamar Sarah. Nanti tante minta pelayan rumah untuk bawakan peralatan mandi


untuk kamu ya…”


Alex datang membawa koper Daniel. Tas ransel


berisi Baju ganti yang akan digunakannya berserta visa dan paspor Daniel.


“letakan saja diruang tamu ya pak… Nanti akan


saya bawa sendiri.”


“tidak masalah tuan muda Long, saya akan membawa


baju ganti anda kekamar nona ketiga Li. Sekalian menyiapkan peralatan mandi


untuk anda.”


Alex undur diri dari ruangan makan dan membawa


pakaian dan peralatan mandi kekamar Sarah.


Suasana makan sangat hangat, Daniel lagi – lagi


menunjukkan sikap yang berbeda. Ia menjadi seorang yang ramah dan hangat ketika


bicara. Senyum manis dengan memamerkan lesung pipi diwajahnya membuat pria ini


begitu sempurna dimata Sarah.


Darah Sarah berdesir hebat ketika Daniel pamit


akan pergi kebandara. Sarah melihat kepergian Daniel dari jendela kamarnya.


Kemudian ia pergi sambil melambaikan tangan, senyum diwajah tampannya begitu

__ADS_1


sempurna untuk dilupakan.


__ADS_2