
Selama diperjalanan pulang, Sarah dan Daniel
tidak banyak bicara. Daniel lebih banyak diam dan tidak berbicara apapun.
Sepanjang jalan Sarah merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Mulut
Sarah sangat ingin menanyakan kebenaran berita yang didengarnya dari kedua
iparnya. Tapi melihat Daniel yang sangat dingin dan terlihat sangat arogan
membuat nyalinya mengecil. Melihat caranya bersikap, sepertinya memang benar
dia seorang pembunuh berdarah dingin.
Sarah merinding dengan setiap kali pria ini
menatapnya. Untungnya, selama dalam perjalanan energi Sarah sudah kembali
pulih. Ia sudah bisa berjalan, walau harus dengan bantuan orang lain
menuntunnya. Sarah memaksakan diri berjalan keluar dari dalam pesawat begitu
mendarat. Kebetulan Daniel sedang mengambil jaket yang diletak dibagasi atas
pesawat. Sarah melihat kedua saudara dan para orang tua sudah berjalan
didepannya. Sarah perlahan – lahan bangkit dari tempat duduknya dengan memegang
kuat sandaran tempat duduk kursi yang ada didepannya. Ia berhasil berdiri dan
mulai menggerakkan kakinya untuk bergerak. Satu langkah berhasil, Sarah
melangkah lagi. Berat pada awalnya, tapi ia berhasil berjalan walau dengan
sangat perlahan.
Sarah terlalu memaksakan tubuhnya yang belum
pulih untuk terus bergerak. Kakinya mendadak menjadi berat dan sulit
digerakkan, Ia hampir terjatuh. Seorang pria berkebangsaan Eropa, menahan
tubuhnya.
“thank you.” kata Sarah sambil menyingkirkan
rambut diwajahnya.
“tidak masalah.” jawab pria itu. Sarah menatapnya
kagum, ternyata pria ini bisa berbicara dengan fasih dengan bahasanya.
“Terima kasih bantuannya, tapi jangan sentuh
wanita ku. Singkirkan tangan anda dari tubuhnya” Suara dingin dari belakang
Sarah membuat suasana menjadi canggung.
Daniel menatap tidak senang, pria itu memegang
tubuh dan tangan Sarah.
“maaf, aku hanya ingin memastikan istri anda
tidak terjatuh.” jawab pria itu yang melihat jari manis Daniel dan Sarah
mengenakan cincin bermata zambrut yang sama.
“dia bukan…. “
“terima kasih.” Daniel memotong pembicaraan
Sarah dan menarik dengan cepat tangan Sarah yang dipegang pria asing itu.
Pria itu merasa canggung dan langsung berjalan
meninggalkan Sarah.
“apa sulitnya menunggu sebentar?” Daniel bicara
sambil memakaikan Sarah jaket coklat panjang Daniel. Setelah mengancingnya,
Daniel kemudian menggendong Sarah keluar dari dalam pesawat. Sarah hanya diam
dan melihat Daniel megancing jacketnya dan kemudian mengangkat tubuhnya.
Daniel mengantar Sarah sampai kerumah bersama
seluruh anggota keluarga Li. Sedangkan keluarga Long langsung pulang kerumah,
mereka tidak ikut berkunjung ke rumah keluarga Li. Daniel dengan sabar
__ADS_1
menggendong Sarah kekamarnya. Matanya berkeliling melihat suasana kamar Sarah
berwarna cream. Wallpaper dengan motif bunga bergilter. Suasana kamar berkilau
dan terlihat sangat feminim.
Daniel melihat Sarah sesaat kemudian melihat suasana
kamarnya lagi. Jika dilihat dari kepribadian dan suasana kamar benar – benar
berbeda jauh. Dimeja belajar Sarah ada headphone berwarna ungu. Didepannya ada
jendela besar berbuka lebar.
Dahan pohon Ginklo Biloba tumbuh dengan sempurna.
Salah satu dahannya berbelok diarah kamar Sarah, seolah ia tumbuh sesuai dengan
inginan Sarah. Daniel sudah beberapa kali sebenarnya mengetahui kalau Sarah
sangat suka duduk dan bersantai di dahan pohon ini. Daniel berdiri menghadap
pohon itu dengan kedua tangan bertumpu pada meja belajar. Pemandangan diluar
sana sangat bagus, pantas saja Sarah betah berlama – lama ketika sudah berada
didahan pohon ini.
Senyum tipis dibibirnya ditambah sinar matahari
senja yang menyinari wajah Daniel membuat pria ini terlihat tampan dan
berkilau diantara warna keemasan cahaya matahari. Sarah duduk sambil bersandar
ditempat tidur. Sarah bisa melihat jelas wajah Daniel dari sini, dari samping
saja pria ini sudah memiliki kesempurnaan seperti ini. Hati Sarah mulai
mengagumi ketampanan pria ini lagi.
Sarah menyadari kesalahan hati dan pikirannya,
dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
Ponsel Daniel berdering, ia dengan cepat
mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
“bos, bagaimana dengan jadwal kunjungan anda
keluar negeri. Apakah sudah bisa aku pesankan tiketnya?” jawab James dari ujung
telepon sana.
“pesankan pesawat terakhir malam ini. Aku baru
sampai. Bantu hubungi rumah untuk menyiapkan pakaian, paspor, visa dan antar ke
rumah keluarga Li. Begitu saja”
Daniel menutup teleponnya dan kemudian melihat
kearah luar jendela lagi.
Sarah mendengar pembicaraan Daniel. Apa pria ini
tidak memiliki rasa lelah Tubuhnya baru sembuh dari racun mematikan. Ia masih
sebuk bekerja, benar – benar pria bertubuh baja. Pikir Sarah.
Pintu kamar Sarah diketuk dan Mayleen masuk
kedalam kamar.
“kamu pasti lelah, istirahat saja dahulu.
Bagaimana jika kamu menginap”
Daniel melihat jam tangannya kemudian berkata
“sebenar lagi aku harus pergi tante, mungkin lain kali aku akan menginap.”
“kemana? kenapa buru – buru sekali?”
“Aku harus kembali keluar negeri, ada urusan
pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi. Aku minta maaf tidak bisa memenuhi
keinginan tante.”
“jika begitu, kamu makan dulu. Ayo kemari…. “
__ADS_1
Mayleen memeluk pinggang Daniel dan membawanya keluar dari kamar
Sarah.
Sarah melihat peristiwa itu membuat hatinya
menjadi panas. Kenapa mereka berani sekali pergi tanpa dirinya, apakah mereka
sudah tidak menganggap ku ada? Kenapa mama manis sekali bersikap kepadanya,
seolah dialah anak kandung dari keluarga Li. Mata Sarah mengecil menatap pintu
yang sudah tertutup.
Pintu kamar Sarah terbuka kembali, dan Daniel
masuk kembali.
“maaf…. aku melupakanmu.” kata Daniel sambil
berjalan kearah Sarah.
Daniel berjongkok dibawah tempat tidur.
“naiklah..”
“tidak usah.. Aku disini saja.” kata Sarah acuh
tak acuh
“ayo cepat, waktu kita bersama sangat terbatas”
Daniel menoleh kearah kirinya tanpa melihat wajah Sarah.
Sarah membuka selimut dan naik dipundak Daniel.
Diatas pundaknya, pikiran Sarah mulai mempertanyakan kenapa dirinya sendiri, ia
bisa menjadi sangat penurut ketika bersama Daniel. Jangan – jangan ini yang
mananya takut atau merasa terintimidasi.
Daniel membawa turun Sarah dan ikut makan bersama
dengan Mayleen dan Andy Li. Kedua saudara Sarah masih sibuk didalam kamar.
Mayleen mempercepat jadwal makan malam karena Daniel akan segera berangkat
keluar negeri.
“tante, selesai makan aku pinjam kamar mandi
untuk mandi ya…”
“kamu terlalu sungkan, pakai saja kamar mandi
dikamar Sarah. Nanti tante minta pelayan rumah untuk bawakan peralatan mandi
untuk kamu ya…”
Alex datang membawa koper Daniel. Tas ransel
berisi Baju ganti yang akan digunakannya berserta visa dan paspor Daniel.
“letakan saja diruang tamu ya pak… Nanti akan
saya bawa sendiri.”
“tidak masalah tuan muda Long, saya akan membawa
baju ganti anda kekamar nona ketiga Li. Sekalian menyiapkan peralatan mandi
untuk anda.”
Alex undur diri dari ruangan makan dan membawa
pakaian dan peralatan mandi kekamar Sarah.
Suasana makan sangat hangat, Daniel lagi – lagi
menunjukkan sikap yang berbeda. Ia menjadi seorang yang ramah dan hangat ketika
bicara. Senyum manis dengan memamerkan lesung pipi diwajahnya membuat pria ini
begitu sempurna dimata Sarah.
Darah Sarah berdesir hebat ketika Daniel pamit
akan pergi kebandara. Sarah melihat kepergian Daniel dari jendela kamarnya.
Kemudian ia pergi sambil melambaikan tangan, senyum diwajah tampannya begitu
__ADS_1
sempurna untuk dilupakan.