
Sisa 2 hari liburan dipulau pribadi milik
keluarga Long dihabiskan Sarah dengan tidur. Ia bisa mendengarkan semua orang
yang berbicara kepadanya, merespon pembicaraan mereka. Tapi tidak bisa membuka
matanya. Seluruh anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan bebas.
Setiap makan ia akan disuapi oleh saudara
perempuannya, terkadang dengan mama dan Huanran, dan sesekali oleh Daniel. Hari
ini adalah jadwal kembali kerumah. Sisca membantu Sarah merapikan koper
pakaiannya sambil berkata.
“liburan kali ini benar – benar menyenangkan.
Tidak ada buruknya untuk berlibur bersama lagi seperti ini ketika sedang
berbulan madu. Untung kami membatalkan perjalanan kami dan ikut bersama kalian.
Om David memberikan pilihan tempat berikutnya. Calon mertua mu sangat kaya adik
kecil. Pegunungan adalah tempat berlibur berikutnya. Bagaimana menurutmu?
Katanya itu akan menjadi tempat bulan madu kalian berdua. Dan kami juga akan
ikut bersama kalian.”
Sarah membuka matanya tapi masih belum bisa
menggerakkan anggota tubuhnya. Sarah mengedip – ngedipkan matanya.
“kakak pertama, bukan kah hari ini kita akan
pulang...”
“ya... kamu benar sekali. Kakak sedang
membereskan pakaianmu.”
“bagaimana dengan ku?” tanya Sarah
“ya tentu saja ikut dengan kami. Tidak mungkin
kami meninggalkanmu sendirian disini bersama dengan pelayan.” jawab Sisca
dengan santai sambil melipat pakaian Sarah.
“aku bahkan belum bisa menggerakkan anggota
tubuhku.”
“bukan kah kamu berkata ada aku yang akan
menggendong mu kemana pun kamu pergi?” jawab Daniel dengan santai ketika masuk
kedalam kamar sambil melihat Sarah yang sudah membuka matanya dan melihat
kearahnya.
“kapan aku mengatakannya?” Sarah memutar
bola matanya dan menjatuhkan pandangannya ke arah jendela kamar
“kakak ipar, biar aku saja yang menyiapkannya.”
kata Daniel.
“sudah selesai biar Jackie yang membawakan untuk
kalian, kamu hanya perlu memastikan adik kecil kami baik – baik saja.” Sisca
berbicara sambil memiringkan wajahnya menatap Daniel yang berdiri dihadapannya.
“adik ipar, cincin pertunangan kalian sangat
bagus.”
Sarah mengerutkan keningnya menatap Jackie yang
sedang berbicara kepadannya.
“cincin? “ tanya Sarah
Serena duduk ditempat tidur disebelah
adiknya, kemudian mengangkat tangannya “ini....”
Sarah terkejut melihat cincin bermata berwarna
__ADS_1
hijau zambrut sudah ada ditangannya. Kapan cincin ini dipakaikan dijarinya?
kenapa ia tidak mengetahuinya.
“apa aku melewatkan sesuatu?” tanya Sarah melihat
kearah Daniel dan Sisca secara bergantian.
“dua hari yang lalu, ketika secara resmi keluarga
Long berbicara dengan kedua orang tua kita. Cincin ini langsung dikenakan
dijari manismu.”
“tapi....” Sarah ingin berbicara tapi Daniel
terlihat mengawasinya. Ia takut salah bicara lagi, kemudian Daniel mengadukan
kepada kedua orang tuanya. Sarah menarik nafas panjang dan tidak jadi
melanjutkan perkataannya.
“kenapa?” tanya Daniel yang penasaran dengan
kelanjutan perkataan Sarah.
Sarah menarik nafas panjang. “aku... aku...”
“kalau kamu menyesal aku akan berbicara dengan
kedua orang tuaku.” kata Daniel sambil membuka lemari pakaian Sarah dan
mengambil jaket coklat panjang yang ada didalam lemarinya.
Sisca mencubit lengan Sarah. Ia tidak berharap
adiknya membuat kesalahan lagi.
Sarah membesarkan matanya memandang Sisca yang
mencubit lengannya.
“kenapa kamu begitu cepat mengambil kesimpulan?”
“kamu terlihat tidak senang, tentu saja semua
orang yang melihat sudah mengetahui arti sikapmu.”
Kenapa kamu tidak menanyakan dulu kepadaku sebelum membelikan cincin bermata
hijau ??” kata Sarah kesal sambil membesarkan matanya melihat Daniel.
“maaf sayang, cincin yang kamu kenakan adalah
cincin turun temurun dari keluarga Long. Jika kamu tidak menyukainya, tante
akan membelikan yang lain.”
Sarah membeku sesaat, betapa bodohnya dirinya
selalu terjebak dalam masalah yang sama. Berbicara dan selalu terdengar oleh
orang lain. Sepertinya bersama Daniel membuat dirinya menjadi sial.
“bukan begitu ma.... kata Sarah mencoba
mengklarifikasi perkataannya.
Daniel terseyum mengejek melihat Sarah yang
berdiri dibelakang kedua orang tuanya.
“maksudku tante, beberapa waktu yang lalu aku
sudah mengatakan kepada Daniel aku ingin dia melamarku dengan suasana yang
romantis dan cincin bermata ungu.” jawab Sarah sembarangan.
Huanran menyenggol perut putranya. “kenapa kamu
tidak mengatakan hal itu kepada kami?” Huanran membesarkan matanya menatap
putra tunggalnya.
“aku... a...” Daniel bingung harus menjawab apa.
Kali ini Sarah yang memenangkan keadaan sambil menaikkan alisnya menatap Daniel
yang sedang dihakimi mamanya sendiri.
“tidak apa – apa tante. Aku tidak ingin
__ADS_1
menyusahkan Daniel. Semua orang tahu dia adalah pria paling sibuk dengan bisnis
yang besar ditelapak tangannya. Aku tidak berani berharap banyak padanya.”
sambung Sarah.
Sisca menyenggol pelan saudara perempuannya itu.
Ia paham, saat ini adiknya sedang berpura – pura memainkan sandirwara untuk menyudutkan
Daniel dimata kedua orang tuanya.
“tidak sayang, mama paham. Maafkan putra kami ini
yang sangat tidak romantis, kamu benar – benar sangat pengertian. Kami akan
memberikannya pelajaran setelah pulang dari sini nanti.”
“mama.... aku...” Daniel ingin memberikan
penjelasan.
“cukup” kata Huanran dengan kesal menatap Daniel
kemudian berjalan kearah keluar kamar.
“sayang gendong aku... “ kata Sarah dengan manja
sambil melihat kearah Huanran
“jangan harap. Jalan saja sendiri” jawab Daniel
dengan ketus. Daniel lupa mamanya masih belum keluar dari pintu.
Huanran berbalik arah, matanya berkilat berwarna
hijau. “mama akan membuat perhitungan dengan kamu. Gendong Sarah, jangan sampai
menantu mama terluka karena mu.” Huanran menunjuk Daniel dengan jari telunjuknya.
David kebetulan ada didepan pintu dan mendengar
perkataan istrinya, Sarah dan Daniel.
“Sarah sudah sangat baik kepadamu, kenapa kamu
bersikap seperti itu. Papa dan mama tidak pernah mendidik kamu seperti ini.
Perlakukan dia dengan baik. Kalian tidak lama lagi akan menikah. Jangan sampai
papa dan mama mendengar kamu memperlakukan Sarah dengan buruk.” kata David
sambil memasukkan tangannya didalam saku celananya.
Daniel hanya menuduk menyesali semuanya, kenapa
ia bisa terbawa suasana saat bersama Sarah. Sarah menahan senyumnya. Sisca dan
Jackie merasa canggung berada ditengah mereka.
“eeh,,, aku akan meletakkan tas adik ipar
di depan dahulu. Permisi...” Jackie berjalan meninggalkan kamar dan Sisca
mengikutinya “aku juga akan memastikan tidak ada barang kami yang
tertinggal. Daniel, tolong bantuannya menjaga adik kami. Permisi semuanya.”
Sisca mengerutkan keningnya melihat Sarah dan kemudian berjalan keluar kamar
dengan cepat mengejar Jackie yang sudah berdiri didepan pintu menunggu dirinya.
Daniel masih berdiri mematung diposisinya.
“apa yang kamu tunggu, gendong Sarah cepat.”
perintah Huanran
Daniel menatap dingin Sarah dan berjalan
mendekatinya. Sarah merasakan ada bahaya yang menanti dirinya dari kilatan mata
Daniel. Bagaimana pun Sarah harus memanfaatkan keadaan ini dengan baik. Ada dua
senior Long yang sedang menatau Daniel. Pria ini pasti tidak akan berani macam
– macam kepadanya. Jantung Sarah berdetak dengan cepat, walau ada
dukungan dari para senior keluarga Long. Ia harus tetap waspada dengan segala
sesuatu yang akan terjadi.
__ADS_1