
Daniel dan Andy Li terlihat berdiskusi berdua
sedangkan kedua saudara perempuannya tidak terlihat ada dimeja makan.
“mana kakak pertama dan kakak kedua ma??” tanya
Sarah yang masih terlihat bingung dengan semua hal terjadi pagi ini.
“ooh… mereka pergi lebih dahulu. Ada rapat dengan
Andrew pagi ini.”
“kalau begitu sebaiknya aku segera pergi kekantor
karena mereka pasti memerlukan aku disana.” Sarah ingin menggunakan peluang ini
untuk melarikan diri dari keadaan yang rumit dari malam hingga pagi ini.
“tidak perlu, papa sudah memberikan kamu cuti
beberapa hari ini. Kamu harus istrirahat lebih banyak, agar lebih fokus dalam
bekerja.” Andy Li bicara sambil melihat kearah Sarah yang mendatangi mereka
berdua.
“proyek kali ini nilainya sangat besar pa, tidak
mungkin aku bermalas – malasan dirumah saja.” keluh Sarah
“nanti kita akan keperusahaan setelah selasai
mendatangi catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita.”
Mendengar kata menikah Sarah merinding, ternyata
mereka serius dengan ucapannya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa perkataan kedua
orang tuanya tadi malam.
“kemarilah… “ kata Andy Li.
Sarah dengan ragu berjalan mendekati meja makan
dan duduk disamping papanya. Dihadapannya ada Daniel Long yang sudah duduk
dimeja makan dan ikut memperhatikan Sarah yang sedang berjalan kearahnya.
“kamu tidak apa – apa??” tanya Daniel sambil
mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah Sarah yang kaku tidak seperti biasa.
“hadiah pernikahannya terlalu mahal. Aku merasa
tidak pantas menerimanya.” Sarah yang terlalu berterus terang membuat wajah
kedua orang tuanya melihat kearah Daniel dengan cemas.
“kamu adalah duniaku, tentu saja semua hal
terindah harus aku berikan kepada duniaku satu - satunya. Semua hal berharga
wajar kamu terima sayang.” kata romantis itu keluar dengan lancar dari mulut
Daniel membuat kagum kedua orang tua Sarah. Mereka awalnya takut Daniel
tersinggung karena perkataan Sarah untungnya ia bisa menjawab dengan sangat
baik.
Wajah Sarah memerah mendengar pujian dari Daniel.
“kamu jangan terlalu memujiku, aku tidak sebaik
yang kamu kira.” Sarah menunduk dan mulai makan tanpa aba – aba sebelumnya.
Andy Li melihat Sarah Li sudah mulai makan merasa
canggung… “ah… mari makan… ayo makan…. “
Andy Li menatap istrinya, kejadian tadi malam
__ADS_1
tidak mungkin berlalu begitu saja dari pikiran mereka berdua. Sebagai orang tua
mereka paham Sarah belum seratus persen setuju dengan ide pernikahannya. Mereka
juga paham, Sarah tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Sebagai orang
tua ada rasa senang, tapi rasa khawatir juga mewarnai hati mereka. Bagaimana
jika tiba – tiba Sarah berubah pikiran lagi. Mereka tidak akan berani menghadapi
keluarga Long lagi selama – lamanya.
“jam berapa kita akan pergi ke catatan sipil??”
tanya Sarah memberanikan diri membuka pembicaraan kepada Daniel.
Daniel melihat jam tangannya dan kemudian berkata
“jam 10 pagi sudah sampai lokasi. Lebih cepat bukankah lebih bagus?”
Sarah mengangguk pelan dan melanjutkan
sarapannya. Daniel mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi bermotif
garis – garis warna hitam dan hijau tua. Sarah memperhatikan dasi yang dipakai
Daniel dengan vest outfit hijau yang dikenakannya. Warna yang sama, bagaimana
mungkin mereka bisa memilih pakaian dengan warna yang sama? Mungkin ini yang
namanya kebetulan,, pikir Sarah berusaha menghibur dirinya.
Sarah selesai lebih cepat makan, lebih tepatnya
ia tidak ada selera untuk makan pagi ini. Sarah melihat jam didinding sudah
hampir jam 9 pagi. Kemudian ia melihat kearah Daniel dan papanya yang masih
membahas mengenai kerja sama pertambangan yang akan mereka kerjakan.
Suasana makan kekeluargaan serasa makan dengan
tanpa menyela.
“sudah … sudah… kalian berdua ini serasa
dikantor. Sudah hampir jam 9 pagi, waktunya Daniel dan Sarah pergi. “ Mayleen
akhirnya memotong pembicaraan mereka berdua setelah melihat Sarah menatap
mereka dengan tatapan tidak senang.
“maaf ma…. Daniel lupa. Kedepannya akan
diperbaiki tidak akan seperti ini lagi.”
“tidak… bukan salah kamu. Papa kamu memang
seperti itu. Sudah hampir jam 9 sebaiknya kalian cepat pergi.” Mayleen bicara
sambil berdiri. Sarah Li ikut berdiri disamping mamanya dan mereka berjalan
kearah pintu keluar.
Ditaman depan rumah, Alex dan James terlihat
bersama dan sedang berbicara. Sedan berwarna coklat tua sudah terparkir tidak
jauh dari pintu utama rumah. Batin Sarah mengatakan sepertinya mereka akan
menggunakan mobil ini untuk pergi.
Sarah masih berdiam diri, ia tidak tahu mobil
mana yang akan digunakan. Daniel memegang punggung Sarah, mengarahkannya kepada
mobil sedan coklat miliknya. Daniel membuka pintu penumpang untuk Sarah. Sarah
berpamitan dengan kedua orang tuanya dengan penuh haru. Bagaimana pun ini
adalah terakhir kali ia berpamitan dengan status sebagai status anak gadis.
__ADS_1
“doakan putrimu ini semoga semuanya bisa berjalan
dengan lancar.” bisik Sarah kepada kedua orang tuanya sambil merangkul mereka
berdua secara bersamaan. Andy Li dan Mayleen mengusap kepala Sarah dengan
lembut dan mencium pipinya.
“kami akan selalu mendoakan kebahagian untuk
kalian berdua. Semoga kalian sehat selalu, dikaruniai banyak anak, rezeki melimpah
dan selalu bahagia.” Andy Li bicara sambil melebarkan satu tangannya lagi untuk
merangkul Daniel. Mereka saling berpelukan, dalam hati Sarah sangat sedih.
Seolah – olah ia merasa ini adalah terakhir kali ia akan bersama dengan kedua
orang tuanya.
“jagalah putri kami baik – baik. “ Andy Li bicara
sambil menyerahkan telapak tangan Sarah ketangan Daniel.
Air mata Sarah dan Mayleen tidak bisa dibendung
lagi. Sarah menangis kemudian memeluk lagi kedua orang tuanya dan dengan cepat
masuk kedalam mobil. Ia tidak mau tenggelam dalam kesedihan, seolah ini sedang
mengalami kemalangan. Sarah melihat kedua orang tuanya dari dalam jendela
mobil. Dengan cepat Sarah mengusap air mata di pipinya dan tersenyum kearah
mereka setelah ia menurunkan jendela kaca mobil.
Senyum yang terpaksa itu yang tergambar di wajah
Sarah. Daniel berpamitan dengan kedua orang tua Sarah dan masuk kedalam mobil.
Daniel melambaikan tangan kepada kedua orang tua Sarah bersamaan dengan
jalannya mobil dari hadapan mereka. Satu tangan Daniel yang lain
memberikan Sarah Li tisu untuk menghapus air matanya.
Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti
menangis, ia mendadak lupa bagaimana cara berhenti menangis. Rasa sesak didalam
dadanya tidak bisa dilampiaskan dirinya dengan mudah. Sementara Daniel hanya
bisa terdiam dan memandang Sarah. Daniel memberanikan diri untuk memeluk Sarah,
ia awalnya ragu untuk melakukan hal itu. Karena takut Sarah akan menolak
dirinya, tapi ternyata Daniel Salah. Begitu Daniel membuka tangannya Sarah
dengan cepat masuk kedalam pelukannya dan melampiaskan semua rasa sedih didada
pria yang akan dinikahinya itu.
Daniel mengusap perlahan pundak Sarah dan mencium
keningnya.
“aku berjanji akan selalu membahagiakan mu. Jika
mau mau, kita akan tetap tinggal bersama kedua orang tuamu. Kita menikah untuk
bersama, tidak ada maksud hatiku untuk membuatmu terpisah dari kedua orang
tuamu. “
Sarah perlahan mengusap air matanya “apa kamu
bisa menepati perkataanmu?” Tanya Sarah dengan suara sendu
“tentu saja, kau adalah duniaku, semua akan aku
lakukan demi kebahagian dirimu.
__ADS_1