
Hasil rapat yang kurang memuaskan dihati Sarah. Daniel mengikuti Sarah berjalan dibelakang sambil membahas pekerjaan dengan James.
“kamu sangat beruntung memiliki mertua yang sangat perhatian dengan dirimu.” Serena mengedipkan matanya ketika bicara kepada Sarah.
Mereka berjalan menuju kantin kantor untuk makan siang. Jackie, Andy Li dan David Long berjalan didepan sambil berbicara dengan serius. Sarah Li digandeng oleh kedua saudara perempuannya disisi kanan dan kiri.
Begitu mendengar perkataan Serena Li sarah Li memamerkan senyum terpaksa kepada Serena.
“seketarisku menghubungi ku, katanya Nana akan menikah dengan James ya…” tanya Sisca Li yang berusaha
mengalihkan perhatian kedua adiknya.
Sarah Li terkejut karena Nana tidak ada memberitahukan kepadanya berita penting seperti ini.
“kenapa… dia…..” Sarah Li tidak bisa berkata – kata. Lidahnya rasa keluh. Sahabat dan sektarisnya sendiri bisa membuatnya menjadi orang terakhir yang tahu.
Mereka semua duduk satu meja. Dan menjadi perhatian semua karyawan yang sedang istirahat makan. Memang bukan hal yang aneh jika melihat direksi perusahaan Li makan dikantin kantor. Keluarga Li memang membiasakan diri makan dikantin, memakan makanan yang sama dengan yang diberikan kepada karyawan lainnya.
James duduk sebaris dengan Andy Li, David Long dan Jackie.
“kamu serius akan menikahi Nana??” tanya Sarah yang sudah dari tadi menahan rasa penasarannya.
“ya…. kami akan menikah minggu depan sekaligus dengan resepsinya.”
“bukan kah minggu dengan juga resepsi pernikahan kalian???” Tanya Serena
“entah la,,,,” jawab Sarah acuh tak acuh.
Suasana menjadi hening dan Sarah menjadi tidak enak hati menerima tatapan mata seperti ini dari semua orang.
“maksudnya, aku belum ada menanyakan kepada mama untuk persiapan pernikahan kami. Bukan kah beberapa hari lagi resepsi pernikahan kakak kedua??” Sarah mencoba mengalihkan pembicaraannya kepada Serena.
“ya…. hari sabtu dan minggu harap kosongkan jadwal dengan acara resepsi pernikahan kami.” Serena terlihat senang dengan acara pernikahannya.
“terima kasih yang sangat besar kepada adik ipar yang sudah menyiapkan semuanya untuk acara akhir pekan ini.”
__ADS_1
Sisca menatap Daniel yang duduk diujung tepat disebelah Sarah Li. Daniel bersandar pada kursi sambil memegang kepalanya dan memejamkan matanya. Pose yang sama ketika rapat tadi.
“kamu tidak apa –apa adik ipar ? Sepertinya kamu tidak bersemangat hari ini.”
Daniel membuka matanya dan melihat kearah Sisca Li dan tersenyum tipis. Sarah melihat Daniel disebelahnya,
kemudian memegang keningnya.
“kamu demam??”
“aku tidak apa – apa.”
“sudah sepanas ini masih bilang tidak apa – apa. Cepat bangkit, kita pulang sekarang.”
“tidak. Didepan kita masih ada dua petinggi perusahaan Li dan Long. Tidak boleh, tidak begitu sopan kepada mereka.” Daniel bicara dengan suara pelan dan tidak bertenaga sambil menatap Andy Li dan David Long bergantian.
Sarah Li membesarkan mata, hari ini sepertinya semua hal tidak ada yang bisa memuaskan suasana hati Sarah. Mulai dari pekerjaan, pertemanan bahkan penikahan.
Sarah Li berdiri dan berjalan kearah pantry dan tidak lama kembali dengan membawa bungkusan makanan.
“ayo kita pergi.” Sarah Li berdiri disambil Daniel Long sambil menatapnya tanpa ekspresi.
“papa David, apakah diperusahaan Long tidak memberikan waktu libur untuk karyawan yang sakit??”
David menatap lurus kearah Sarah “tentu saja sayang, setiap karyawan yang sakit boleh tidak masuk kerja.”
“anak papa ini sangat keras kepala. Aku saja tidak bisa merubah keputusannya. Kalau begitu aku permisi
dahulu.” kata Sarah sambil melirik tajam Daniel
“adik kedua, sebentar lagi makanan datang. Makanlah dahulu baru pergi bekerja.” Sisca Li berusaha membujuk Sarah yang terlihat kesal.
“aku tidak ada kerja pekerjaan lain. Aku akan pergi kerumah sebentar mengambil buku nikah, kemudian mengurus perceraian dengan pria ini.” Sarah Li menata sinis kearah Daniel yang langsung membuka mata dan duduk dengan posisi tegak sambil menengadah menatap Sarah.
“permisi semuanya….” Sarah pamit sambil tersenyum. Suara Sarah yang kuat ketika sedang kesal membuat karyawan yang sedang makan menatap kearahnya.
__ADS_1
“sayang jangan bercanda seperti itu, tidak baik didengar orang. “
“sayangnya aku tidak sedang bercanda. Sampai jumpa dipengadilan untuk keputusannya.” Sarah Li hanya memiringkan kepalanya tanpa melihat kearah Daniel yang masih duduk melihat kearahnya.
Dengan langkah penuh percaya diri dan tanpa ragu, Sarah Li berjalan menuju pintu keluar kantin. Semua keluarga yang menyaksikan mereka berdua masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapan mereka. Jika saat ini menganggap ini hanya mainan, sepertinya tidak mungkin karena dalam hati Sarah penuh dengan keyakinan dengan perkataanya.
Jika ini benar terjadi, kenapa semuanya begitu sangat cepat. Mereka baru saja menikah dalam hitungan minggu sudah memiliki niat berpisah….. sungguh terkesan sangat terburu – buru mengambil keputusan ketika sedang marah.
Daniel Long segera berdiri mengejar Sarah Li. “sayang…. “ Daniel menahan tangan Sarah Li.
Dengan cepat Sarah Li menepis kan tangan Daniel Long, kemudian melihat arah sekitar. Puluhan mata menatap kearah dirinya termasuk para keluarga.
“kalau kamu merasa sangat hebat dengan kondisi sakit tetap bekerja, lakukan saja. Tapi aku merasa kita tidak satu pemikiran. Lakukan saja yang kamu inginkan.” Sarah menaikkan ujung bibirnya sambil berbicara dengan perlahan kepada Daniel.
“aku akan pulang bersama mu.”
“terlambat. Aku rasa kamu sudah merasa pernikahan ini tidak penting. Urus saja pekerjaanmu dan aku juga akan urus kehidupanku.”
Sarah berhasil melepaskan genggaman tangan Daniel dan berjalan dengan cepat keluar ruangan menuju pintu
lift.
“apa mereka benar – benar sedang bertengkar??” Serena masih belum bisa memahami keadaan sekarang.
“aku rasa Sarah Li serius dengan perkataannya.” kata Sisca
“apa kita perlu mengejar adik kecil kita???” Serena bertanya kepada Sisca dengan tatapan bingung.
“tidak… Serahkan kepada Daniel Long. Dia memang harus menerima hukuman dari adik kecil kita. Walau sesibuk apapun seharusnya ia menyempatkan diri untuk menelepon atau mengirim pesan kepada istrinya. Ia juga mengabaikan kondisi fisiknya demi pekerjaan. Sarah Li mungkin bisa tidak mempermasalahkan dia yang tidak menghubungi adik kita selama dinas diluar kota bebarapa hari. Tapi, bagaimana pun ia akan mempermasalahkan Daniel yang mengabaikan kesehatan dirinya demi pekerjaan.” Sisca Li masih melihat Sarah didepan pintu lift dan kemudian masuk kedalam lift bersama Daniel.
“putra ku melakukan hal seperti itu??” tanya David Long
Sisca mengangguk, membenarkan apa yang tadi didengarkan papa mertua Sarah Li ini.
“bocah ini, sibuk meminta untuk melamar Sarah Li. Setelah menikah, bukannya dijaga malah dibuat seperti ini.
__ADS_1
Membuat malu keluarga saja.” David mengepalkan tangannya dengan kuat. Tatapan mata dingin bercampur kesal.
“sudah la… Biar mereka berdua yang menyelesaikan semuanya. Kita sebagai orang tua, hanya bisa memberikan nasehat kepada mereka berdua.” Andy Li bicara sambil menepuk pundak David Long yang wajahnya menjadi merah padam karena menahan kesal kepada putranya.