
Begitu Sarah Li selesai makan, Daniel langsung membawanya ketengah rumah. Sarah bingung melihatnya, mau latihan dikolam renang dengan kondisi tangan yang masih terluka dan tidak boleh terkena air?? Sarah melihat kolam dan Daniel bergantian. Tidak lama kemudian Daniel menggeser lukisan yang ada didinding.
Mulut Sarah membentuk huruf O ketika ia melihatlantai disebelah kolam renang bergeser dan melihat tangga menuju kebawah tanah.Keluarga Long sepertinya memang memiliki hobi membangun ruang rahasia dibawah
tanah.
“ikuti aku..” kata Daniel sambil menggerakkankepalanya kearah ruang rahasia.
Detak jantung Sarah menjadi lebih cepat daribiasanya, apakah melatih dirinya diperlukan ruangan khusus seperti ini… Apayang mau dilatih sampai harus seperti ini…. Batin Sarah semakin khawatir dengan semua hal yang akan terjadi pada dirinya. Dengan ragu, Sarah Li berjalanmengikuti Daniel dibelakang. Begitu mereka berjalan, lampu diruangan itu hidup dengan otomatis dan juga pintu ruangan langsung tertutup.
Sarah semakin takut, pikirannya semakin kacau dan tidak terkendali. Dengan susah payah Sarah Li menelan ludahnya, pria ini membuat dirinya gugup sampai tidak tahu bagaimana harus melakukan hal yang mudah.
“apa… yang… akan dilakukan…” tanya Sarah dengan intonasi nada gantung. Ia sebenarnya ragu bertanya kepada Daniel untuk masalah ini.
“sebentar lagi kamu akan tahu….” kata Daniel dengan singkat. Mereka sampai dianak tangga terakhir dan ruangan bawah tanah ini sangat hening, sirkulasi udaranya sangat bagus. Walau ada didalam sini, Sarah bisa merasakan udara pantai. Mata Sarah menjelajah keseluruh ruangan, ruangan terbuka lebar. Bagian sisi kanan dan didepannya ada buku bacaan yang terlihat sudah sangat tua dan usang.
“kamu menyuruh aku membaca buku???” tanya Sarah lagi dengan hati – hati.
“mungkin ya…. Tapi tidak sekarang. Untuk hari inikamu akan belajar hal yang mudah dahulu.”
Sarah membuka sendalnya dan menginjak karpet tebal berwarna hijau tosca dan juga kuning cerah. Sarah bisa merasakan karpet yang digunakan diruangan ini pasti memiliki harga yang fantastis dan dilengapi dengan sertifikat keaslian produknya.
“duduk….” suara Daniel yang menyuruhnya duduk membuat Sarah terkejut, karena suasana ruangan sangat hening dan tidak terdengar suara apa pun dari luar. Suara Daniel membuat ruangan tiba – tiba menjadi penuh.
__ADS_1
Daniel sudah menyiapkan kursi santai untuk Sarah tepat ditengah – tengah ruangan. “jika kamu lelah, kamu bisa berbaring dengan menekan tombol ini. Jika ingin duduk tekan yang ini. “ Daniel mengarahkan Sarah dengan tombol yang ada pada pegangan kursi. Kursi yang empuk dan nyaman untuk diduduki dengan santai.
Kemudian Daniel menggeser meja kecil didepan Sarah..Jaraknya sekitar 1 meter darinya dan kemudian mengambil lilin besar danmeletakkannya ditengah – tengah meja. Sarah semakin bingung dengan apa yang maudilakukan Daniel. Apa pria ini ingin dia melakukan uji nyali diruangan gelapdan hanya disinari oleh cahaya lilin??
Sarah memperhatikan Daniel dengan waspada. Pria inikadang melakukan hal yang tidak terduga tanpa memberikan aba – aba sebelumnya.Ia harus waspada dengan semua hal yang mungkin terjadi dengan dirinya.
“kamar mandi ada disebelah sana…” Daniel menunjuk pintu yang ada dibawah tangga.
Sarah mengangguk perlahan, sepertinya memang sudahmirip dengan agedan uji nyali pikir Sarah Li.
“makanan akan dihidangkan pelayan dari dalam lemari itu. Apa saja yang kamu mau makan bisa kamu tuliskan pada kertas dan masukkan saja didalam lemari. Mereka pasti akan baca.” Daniel menunjukkan lemari kayu warna coklat tua, lemari yang sangat antik. Sepertinya usianya sudah puluhan tahun ada diruangan ini.
“apa yang mau kamu lakukan?? “ tanya Sarah dengan sangat waspada.
Daniel membantu Sarah duduk dikursi dan kemudian menjauh dari Sarah. Daniel duduk disofa berwarna coklat tua dipinggir ruangan. Tepat disebelah lemari yang tadi ditunjuk Daniel tempat Sarah bisa mendapatkan makanan.
Sarah bengong mendengar perkataan Daniel. Ini yangdikatakannya belajar?? Apa yang harus dipelajari dari semua ini?? Mematikancahaya lilin bisa dengan menghembusnya. Bukankah hal itu sangat mudah. Kenapaharus menggunakan tenaga dalam hanya untuk mematikan lilin?
“kamu membuat aku seperti orang bodoh ???” Sarahkesal membesarkan matanya melihat Daniel yang duduk dengan santai sambilmembuka tab dan laptopnya.
“kerjakan saja yang aku katakan. Kondisi kamu tidakmemungkinkan untuk melatih fisikmu agar lebih kuat.” Daniel melihat Sarah kemudian beralih menatap laptopnya.
“kamu benar – benar menyebalkan….”
__ADS_1
“terserah kamu berkata apa, lakukan saja yang aku perintahkan.” Daniel berbicara dengan santai seolah yang dilakukan Sarah Li adalah hal mudah dan tidak perlu diperdebatkan.
“apa gunanya bagiku??”
“kamu harus menjadi lebih kuat, agar kamu bisamenghadapi mereka semua. Agar kamu bisa melewati semua hal tidak menyenangkandihidupmu. Mau sampai kapan kami harus melindungi dirimu. Kami tidak bisaselamanya ada disampingmu dan menjaga dirimu. Pahamilah, kami juga manusiabiasa.”
Tidak ada pilihan bagi Sarah Li selain melakukanperintan Daniel. Apa yang dikatakannya memang benar, selama ini sudah cukup iamenjadi beban bagi keluarganya dan keluarga Daniel. Mereka sudah melakukanbanyak hal untuk dirinya. Tidak mungkin selamanya mereka akan seperti ini.Sungguh sangat memalukan, menjadi beban hidup orang lain. Sarah kembali dudukdan tidak melanjutkan perdebatannya dengan Daniel.
Hanya mematikan api kecil, apa susahnya. Batin Sarah berkata pada dirinya sendiri. Ia melihat api itu dengan penuh konsentrasi kemudian berusaha mematikan lilinnya. Sia – sia, lilin tidak bergerak sama sekali. Apinya tetap tegak, bahkan angin saja tidak bisa dihasilkan Sarah. Tidak mau menyerah Sarah mengulanginya berkali – kali.
Daniel memperhatikan Sarah yang berusaha tanpa menyerah dari mulai lilin yang besar dan panjang sekarang hanya tinggal separuh saja. Daniel tidak begitu memperhatikan jam sampai alarm ponselnya berbunyi, waktunya Sarah minum obat.
"kita istirahat dulu,,” kata Daniel sambil berdiri berjalan kearah Sarah
“belum, aku masih belum selesai.” jawab Sarah. Daniel baru melihat Sarah dari dekat. Tubuhnya basah karena keringat. Sepertinya ia berusaha dengan sangat keras untuk ini.
“kita akan sambung nanti setelah makan” bujuk Daniel
“tidak…. aku belum selesai…” Sarah bahkan tidak melihat kearah Daniel dan tetap fokus dengan lilin yang ada dihadapannya.
“sayang, kondisi kamu belum pulih. Kamu harus tetap menjaga kesehatan.” Daniel yang memaksanya untuk berlatih keras, sekarang malah bersikap lunak. Ia merasa khawatir Sarah terlalu memaksakan dirinya untuk
berlatih tanpa memikirkan kondisi fisiknya yang belum sembuh.
__ADS_1
“letak saja makanan dilemari itu, jika aku lapar aku akan makan. kamu makan saja dahulu, lemari itu tempat makannya.” Sarah menunjuk lemari yang tadi ditunjuk Daniel sebagai lemari makanan.
Daniel mengerutkan keningnya, kenapa keadaan berbalik dengan begitu cepat?? Bukankah itu kata – kata darinya….. kenapa sekarang malah dirinya yang diajari oleh Sarah… Daniel menggelengkan kepalanya sambil memijat dahinya.