
Sarah menaikkan sudut bibinya mentap Daniel yang
menyuruhnya membuatkan makanan seolah tidak ada terjadi apapun diatara mereka
sepangan siang sampai sore hari ini. Sarah ingin masuk kedalam kamarnya, tapi
perutnya mengeluarkan suara yang cukup keras dan membuat Daniel berhenti
menuruni anak tangga. Bibirnya tersenyum tipis dan kemudian menuruni anak
tangga lagi tanpa melihat kearah belakang.
Sarah sudah bisa menebak, pria ini pasti sudah
mendengar suara perutnya. Benar – benar memalukan. Sarah menutup mukanya dengan
kedua telapak tangannya, kemudian mengintip Daniel dari celah jari tangannya.
Untungnya Daniel tidak bereaksi sama sekali.
Sarah melangkah perlahan, kemudian dengan cepat
berjalan menuruni tangga melewati Daniel yang berjalan dengan perlahan. Sarah
berjalan kearah dapur dan mulai berpikir mau masak apa. Sejenak ia melihat isi
kulkas dan berdiri sejenak didepan kulkas. Sarah memilih memasak nasi
goreng seafood yang mudah dibuat.
Setelah menyiapkan semua bahan, Sarah mulai
memakai celemek dan mulai menghidupkan kompor. Tangan terampilnya mulai memasak
bahan makanan yang tersedia. Daniel duduk dipantry dapur sambil menatap
punggung Sarah yang terlihat sibuk memasak dan merajang bahan masakan.
“perlu bantuan…. “tanya Daniel sambil menopang
dagu dengan satu tangannya.
“tidak perlu, duduk diam dan tidak usah bicara
yang menyakitkan sudah cukup bagiku.” Sarah bicara tanpa melihat Daniel, ia
ingin bicara sambil menyindir pria yang sudah berani menyakiti hatinya sore
ini.
“kamu masih marah??” tanya Daniel dengan ragu.
Sarah yang selesai merajang daun bawang,
menancapkan ujung pisau di tempat pemotong sayuran yang terbuat dari kayu.
Posisi pisau menancap dengan sempurna. Daniel sedikit terkejut dengan perbuatan
Sarah itu.
“menurut kamu??” Jawab Sarah sambil terus
memasak.
“kalau aku tahu jawabannya, aku tidak bertanya
kepadamu masalah ini.” Daniel Long menjawab dengan santai
Sarah mematikan kompornya dan berjalan berbalik.
Kesabarannya sudah sampai batasnya.
“masak sendiri.” perintah Sarah sambil meletakkan
semua peralatan masaknya. Kesabarannya sudah habis melihat pria arogan seperti Daniel.
Daniel dengan cepat berdiri dan menghalangi Sarah
keluar dari dapur.
“kamu belum siap memasak.” Daniel melihat kearah
penggorengan.
Sarah menunjuk dada Daniel, “kalau kamu merasa
hebat, kerjakan saja sendiri. Tidak perlu menyuruh orang melakukan semua hal
yang kamu katakan. Kamu kira kamu siapa??” Sarah menunjuk Daniel dan terus
berjalan perlahan membuat Daniel mundur kebelakang dan terjebak dipintu
kulkas.
“apa yang aku lakukan…” Daniel terlihat bingung,
__ADS_1
apa yang membuat Sarah begitu kesal kepadanya.
“masih berani kamu menyangkal apa kesalahan yang
sudah kamu perbuat. Berani juga kamu ya….” Sarah bicara sambil mentap tajam
Daniel.
Lidah Daniel rasa kaku untuk mengakui
kesalahannya. “kamu mau apa… “
Sarah menaikkan ujung bibirnya dan berkata “cukup
pergi saja dari hadapanku. Minggir.” Sarah menatap Daniel dengan kesal. Ia
sudah cukup lelah menghadapi orang ini hampir seharian.
“aku lapar, tidak bisa kah kamu berbaik hati
memasak untuk ku?” Daniel meletakkan kepalanya dipundak Sarah dengan manja.
Sarah menaikkan pundaknya agar Daniel
menyingkirkan kepalanya dari tubuhnya.
“pergi sana…”
“tidak mau.”
“PERGI.” Sarah yang kesal mendorong tubuh Daniel
dengan paksa.
“maaf….” suara Lirihnya terdengar ditelingan
Sarah dengan lembut.
Sarah terdiam sejenak. Jika dari awal pria ini
mengatakan maaf, sebenarnya masalah tidak akan menjadi sebesar ini.
“minggir.” kata Sarah mulaimelunak
Daniel mengangkat kepalanya dan menatap
Sarah. “tidak mudah bagiku, untuk mengatakan maaf.”
“lantas, aku harus memujimu?” tanya Sarah sambil
Sarah berjinjit dan mengelus kepala Daniel dengan
lebut “anak pintar, terima kasih kamu sudah bekerja keras.”
Daniel menahan tawa melihat Sarah yang
memperlakukannya seperti anak kecil.
“karena kamu sudah berbuat baik. Aku akan memasak
makanan untukmu. Duduk yang baik.” Kata Sarah sambil melihat kearah bangku di
pantry dapur sambil menggerakkan kepalanya.
Daniel duduk kembali dan menatap Sarah yang
kembali melakukan aktivitas memasak didapur. Satu tangannya menopang kepala
dengan senyum tipis diwajahnya.
Sarah memasak nasi goreng seafood dengan cepat.
Dan menyajikannya ke meja pantry dapur. Daniel dengan cepat makan dan
menghabiskannya dengan segera. Sarah memperhatikan Daniel, ia lebih mirip
seperti orang yang tidak makan selama 3 hari.
“apa masih bisa tambah?” kata Daniel melihat
kearah penggorengan.
Sarah mengikuti arah mata Daniel kebelakangnya.
Dengan segera mengambil piring Daniel kemudian ia berdiri dan menambahkan nasi
goreng ke piring Daniel.
“ini yang terakhir.” kata Sarah sambil meletakkan
piring dimeja pantry dapur.
“terima kasih.. “ selesai bicara, tanpa basa –
basi Daniel dengan cepat menghabiskan makannya.
__ADS_1
“sudah berapa lamu kamu tidak makan?” Sarah
bicara sambil melihat kearah wajah Daniel yang menunduk karena sedang makan.
“begitu selesai rapat di jerman, aku segera
menuju kebandara. Tidak sempat makan, diatas pesawat aku memeriksa laporan
kerja sama. Karena bagaimana pun kerja sama dengan dengan luar negeri kita
harus paham hukum perdagangan internasional.”
“jadi kamu belum ada istirahat dan makan sama
sekali?” tanya Sarah dengan tidak yakin
“hmm..”
“bagus, lanjutkan. Jika kamu mati muda, istrimu
yang cantik bisa dengan mudah menikah dengan pria yang lebih kaya dan tampan” Sarah
melanjutkan makannya dan bersikap acuh tak acuh kepada Daniel
“kamu berani berpikiran seperti itu?”
Daniel menaikkan wajahnya dan menatap Sarah dengan kesal.
“menurut kamu? Apa wajar istri mu memikirkan
suaminya yang sudah meninggal seumur hidupnya? Kehidupan akan terus berjalan
tuan muda Long. Bagaimana mungkin seorang pria bisa menjaga istrinya dengan
baik? menjaga diri sendiri saja tidak bisa.” Sarah berkata sambil meneguk air
putih dan menatap Daniel dari atas kebawah.
“sebaiknya kamu pikirkan lagi rencana kita
menikah.” lanjut Sarah
“jika aku sakit ada kamu yang merawatku, jika aku
lapar ada kamu yang memasak untukku, jika aku butuh sandaran aku akan
menyandarkan kepalaku dipundakmu, dan jika aku lelah maka aku akan berbaring
disampingmu sambil memeluk tubuhmu. Bukankah itu mudah…” kata Daniel
“mudah bagi kamu, kamu saja menjalani hidupmu
dengan tidak teratur, jadi kelak jangan berharap hidup rumah tanggamu
juga akan teratur.” bantah Sarah sambil menyuapkan nasi goreng kedalam
mulutnya.
“sepertinya nona ketiga Li sangat berpengalaman…”
sindir Daniel
“tentu saja… “ Sarah tersenyum mengejek melihat
Daniel.
“tidak, jika aku menikah denganmu. Kau akan
membuatku menjadi lebih baik lagi. Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku.
Bagaimana jika kita percepat rencana pernikahan kita untuk
membuktikan semuanya…. “ Daniel berkata penuh percaya diri
“haduuh, tuan muda long, aku rasa kamu masih
jetleg dengan perbedaan waktu. Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat agar
pikiran lebih segar dan berpikir dengan baik.” Sarah Li menggelengkan kepalanya
sambil makan.
“aku yakin mereka tidak akan setuju.” kata Daniel
sambil melihat kearah belakang.
Diruang tamu yang gelap ternyata berdiri seluruh
anggota keluarga Li dan keluarga Long. Sarah terkejut setelah memperatikan di
gelepan ruang tamu rumahnya ada berdiri seluruh anggota keluarganya. Sarah
merinding dan terdiam. Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan indera perasa dalam
mendeteksi energi seseorang
__ADS_1