Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 51


__ADS_3

Sarah menaikkan sudut bibinya mentap Daniel yang


menyuruhnya membuatkan makanan seolah tidak ada terjadi apapun diatara mereka


sepangan siang sampai sore hari ini. Sarah ingin masuk kedalam kamarnya, tapi


perutnya mengeluarkan suara yang cukup keras dan membuat  Daniel berhenti


menuruni anak tangga. Bibirnya tersenyum tipis dan kemudian menuruni anak


tangga lagi tanpa melihat kearah belakang.


Sarah sudah bisa menebak, pria ini pasti sudah


mendengar suara perutnya. Benar – benar memalukan. Sarah menutup mukanya dengan


kedua telapak tangannya, kemudian mengintip Daniel dari celah jari tangannya.


Untungnya Daniel tidak bereaksi sama sekali.


Sarah melangkah perlahan, kemudian dengan cepat


berjalan menuruni tangga melewati Daniel yang berjalan dengan perlahan. Sarah


berjalan kearah dapur dan mulai berpikir mau masak apa. Sejenak ia melihat isi


kulkas dan berdiri sejenak didepan kulkas.  Sarah memilih memasak nasi


goreng seafood yang mudah dibuat.


Setelah menyiapkan semua bahan, Sarah mulai


memakai celemek dan mulai menghidupkan kompor. Tangan terampilnya mulai memasak


bahan makanan yang tersedia. Daniel duduk dipantry dapur sambil menatap


punggung Sarah yang terlihat sibuk memasak dan merajang bahan masakan.


“perlu bantuan…. “tanya Daniel sambil menopang


dagu dengan satu tangannya.


“tidak perlu, duduk diam dan tidak usah bicara


yang menyakitkan sudah cukup bagiku.” Sarah bicara tanpa melihat Daniel, ia


ingin bicara sambil menyindir pria yang sudah berani menyakiti hatinya sore


ini.


“kamu masih marah??” tanya Daniel dengan ragu.


Sarah yang selesai merajang daun bawang,


menancapkan ujung pisau di tempat pemotong sayuran yang terbuat dari kayu.


Posisi pisau menancap dengan sempurna. Daniel sedikit terkejut dengan perbuatan


Sarah itu.


“menurut kamu??” Jawab Sarah sambil terus


memasak.


“kalau aku tahu jawabannya, aku tidak bertanya


kepadamu  masalah ini.” Daniel Long menjawab dengan santai


Sarah mematikan kompornya dan berjalan berbalik.


Kesabarannya sudah sampai batasnya.


“masak sendiri.” perintah Sarah sambil meletakkan


semua peralatan masaknya. Kesabarannya sudah habis melihat pria arogan seperti Daniel.


Daniel dengan cepat berdiri dan menghalangi Sarah


keluar dari dapur.


“kamu belum siap memasak.” Daniel melihat kearah


penggorengan.


Sarah menunjuk dada Daniel, “kalau kamu merasa


hebat, kerjakan saja sendiri. Tidak perlu menyuruh orang melakukan semua hal


yang kamu katakan. Kamu kira kamu siapa??” Sarah menunjuk Daniel dan terus


berjalan perlahan membuat Daniel mundur kebelakang  dan terjebak dipintu


kulkas.


“apa yang aku lakukan…” Daniel terlihat bingung,

__ADS_1


apa yang membuat Sarah begitu kesal kepadanya.


“masih berani kamu menyangkal apa kesalahan yang


sudah kamu perbuat. Berani juga kamu ya….” Sarah bicara sambil mentap tajam


Daniel.


Lidah Daniel rasa kaku untuk mengakui


kesalahannya. “kamu mau apa… “


Sarah menaikkan ujung bibirnya dan berkata “cukup


pergi saja dari hadapanku. Minggir.” Sarah menatap Daniel dengan kesal. Ia


sudah cukup lelah menghadapi orang ini hampir seharian.


“aku lapar, tidak bisa kah kamu berbaik hati


memasak untuk ku?” Daniel meletakkan kepalanya dipundak Sarah dengan manja.


Sarah menaikkan pundaknya agar Daniel


menyingkirkan kepalanya dari tubuhnya.


“pergi sana…”


“tidak mau.”


“PERGI.” Sarah yang kesal mendorong tubuh Daniel


dengan paksa.


“maaf….” suara Lirihnya terdengar ditelingan


Sarah dengan lembut.


Sarah terdiam sejenak. Jika dari awal pria ini


mengatakan maaf, sebenarnya masalah tidak akan menjadi sebesar ini.


“minggir.” kata Sarah mulaimelunak


Daniel mengangkat kepalanya dan menatap


Sarah. “tidak mudah bagiku, untuk mengatakan maaf.”


“lantas, aku harus memujimu?” tanya Sarah sambil


Sarah berjinjit dan mengelus kepala Daniel dengan


lebut “anak pintar, terima kasih kamu sudah bekerja keras.”


Daniel menahan tawa melihat Sarah yang


memperlakukannya seperti anak kecil.


“karena kamu sudah berbuat baik. Aku akan memasak


makanan untukmu. Duduk yang baik.” Kata Sarah sambil melihat kearah bangku di


pantry dapur sambil menggerakkan kepalanya.


Daniel duduk kembali dan menatap Sarah yang


kembali melakukan aktivitas memasak didapur. Satu tangannya menopang kepala


dengan senyum tipis diwajahnya.


Sarah memasak nasi goreng seafood dengan cepat.


Dan menyajikannya ke meja pantry dapur. Daniel dengan cepat makan dan


menghabiskannya dengan segera. Sarah memperhatikan Daniel, ia lebih mirip


seperti orang yang tidak makan selama 3 hari.


“apa masih bisa tambah?” kata Daniel melihat


kearah penggorengan.


Sarah mengikuti arah mata Daniel kebelakangnya.


Dengan segera mengambil piring Daniel kemudian ia berdiri dan menambahkan nasi


goreng ke piring Daniel.


“ini yang terakhir.” kata Sarah sambil meletakkan


piring dimeja pantry dapur.


“terima kasih.. “ selesai bicara, tanpa basa –


basi Daniel dengan cepat menghabiskan makannya.

__ADS_1


“sudah berapa lamu kamu tidak makan?” Sarah


bicara sambil melihat kearah wajah Daniel yang menunduk karena sedang makan.


“begitu selesai rapat di jerman, aku segera


menuju kebandara. Tidak sempat makan, diatas pesawat aku memeriksa laporan


kerja sama. Karena bagaimana pun kerja sama dengan dengan luar negeri kita


harus paham hukum perdagangan internasional.”


“jadi kamu belum ada istirahat dan makan sama


sekali?” tanya Sarah dengan tidak yakin


“hmm..”


“bagus, lanjutkan. Jika kamu mati muda, istrimu


yang cantik bisa dengan mudah menikah dengan pria yang lebih kaya dan tampan” Sarah


melanjutkan makannya dan bersikap acuh tak acuh kepada Daniel


“kamu berani berpikiran seperti itu?”


Daniel menaikkan wajahnya dan menatap Sarah dengan kesal.


“menurut kamu? Apa wajar istri mu memikirkan


suaminya yang sudah meninggal seumur hidupnya? Kehidupan akan terus berjalan


tuan muda Long. Bagaimana mungkin seorang pria bisa menjaga istrinya dengan


baik? menjaga diri sendiri saja tidak bisa.” Sarah berkata sambil meneguk air


putih dan menatap Daniel dari atas kebawah.


“sebaiknya kamu pikirkan lagi rencana kita


menikah.” lanjut Sarah


“jika aku sakit ada kamu yang merawatku, jika aku


lapar ada kamu yang memasak untukku, jika aku butuh sandaran aku akan


menyandarkan kepalaku dipundakmu, dan jika aku lelah maka aku akan berbaring


disampingmu sambil memeluk tubuhmu. Bukankah itu mudah…” kata Daniel


“mudah bagi kamu, kamu saja menjalani hidupmu


dengan tidak teratur, jadi kelak  jangan berharap hidup rumah tanggamu


juga akan teratur.” bantah Sarah sambil menyuapkan nasi goreng kedalam


mulutnya.


“sepertinya nona ketiga Li sangat berpengalaman…”


sindir Daniel


“tentu saja… “ Sarah tersenyum mengejek melihat


Daniel.


“tidak, jika aku menikah denganmu. Kau akan


membuatku menjadi lebih baik lagi. Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku.


Bagaimana jika kita percepat rencana pernikahan kita  untuk


membuktikan  semuanya…. “ Daniel berkata penuh percaya diri


“haduuh, tuan muda long, aku rasa kamu masih


jetleg dengan perbedaan waktu. Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat agar


pikiran lebih segar dan berpikir dengan baik.” Sarah Li menggelengkan kepalanya


sambil makan.


“aku yakin mereka tidak akan setuju.” kata Daniel


sambil melihat kearah belakang.


Diruang tamu yang gelap ternyata berdiri seluruh


anggota keluarga Li dan keluarga Long. Sarah terkejut setelah memperatikan di


gelepan ruang tamu rumahnya ada berdiri seluruh anggota keluarganya. Sarah


merinding dan terdiam. Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan indera perasa dalam


mendeteksi energi seseorang

__ADS_1


__ADS_2