
Serena berusaha melihat kearah dalam, tiba – tiba
pintu kamar tertutup dengan keras dan mengagetkan mereka yang sedang berdiri
diluar kamar.
“habislah sudah...” kata Jackie
“om dan tante Long tidak penah menerima
kesalahan. Sangat kasihan Daniel, semalaman ia bertarung dengan banyak orang,
ia masih harus berhadapan dengan kedua orang tuanya.Semoga tidak ada hal buruk
terjadi didalam sana“ Lanjut Jackie sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar perkataan suaminya, mata Sisca membesar
menatap kearah Jackie. Bisa – bisanya ia membuat adik kedua menjadi khawatir
seperti ini. Jacike merasa ada yang salah dengan tatapan mata Sisca. Ia
menundukkan pandangannya dan tidak berani berkata apa pun lagi.
Kata sudah terlanjur terucap dari Jackie membuat
wajah Sarah jadi merasa bersalah mendengar perkataan kakak iparnya itu.
Wajahnya pucat pasi, keringat mulai mengalir didahi dan telapak tangannya.
Dari dalam kamar terdengar suara Daniel berteriak
kesakitan dan minta maaf kepada kedua orang tuanya. Sarah menggengam tangan
Sisca ditangan kanannya ketika mendengar teriakan Daniel. Terdengar teriakan
lagi, kali ini Daniel menyebutkan om dan tante. Dibenak Sarah sudah pasti kali
ini kedua orang tuanya sedang memberikan pelajaran kepada Daniel. Sarah memang
tidak pernah melihat merasakan papanya marah kepadanya. Tapi ia paham sekali
bagaimana rasanya kekuatan dari mamanya.
Sarah menggengam tangan Serena… ditangan kirinya.
“kakak…. bagaimana ini? Aku tidak tahu bagaimana
kalau keluarga Long menghukumnya….tapi aku cukup paham bagaimana kedua orang
tua kita. Kakak….aku sangat takut,” keluh Sarah. Telapak tangannya mulai terasa
dingin. Ia takut, karena dirinya Daniel mendapat hukuman separah ini.
“tenanglah…ia tidak mungkin mati ditangan
mereka.” jawab Serena dengan santai
Sisca menatap tajam kearah Serena yang terlalu
jujur dengan perkataannya
“Suaranya begitu kesakitan, mana mungkin bisa
tenang… Tubuhnya sudah penuh luka. Dia pasti tidak akan sanggup menahan
semuanya kak….” Kali ini Sarah tidak bisa menutupi kegelisahannya. Matanya
berkaca – kaca, hidungnya mulai kemerahan. Air mata Sarah mulai memenuhi
kelopak matanya.
Sarah melihat kearah pintu. Ia melepaskan
tangannya dari kedua saudaranya. Mengetuk pintu dengan sekuatnya.
“mama…papa….om…tante… jangan hukum Daniel. Aku
yang salah. Tolong buka pintunya.” kata Sarah sambil mengetuk pintu tanpa henti
dan membuat kegaduhan diluar kamar.
Tidak ada jwaban dari dalam sana, yang ada hanya
__ADS_1
suara teriakan Daniel yang menahan sakit, perlahan – lahan suaranya semakin
mengecil dan suasana menjadi hening. Sarah, kedua saudara perempuannya dan
Jackie menempelkan telinga mereka di pintu untuk mendengar apa yang terjadi
didalam sana.
Terdengar seperti suara diskusi antara Andy Li
dan David Long. Suara Daniel semakin serak dan mengecil. Terdengar suara kelelahan
dari nya.
“papa, mama, om dan tante... tolong buka pintu.
Hukum aku saja...aku mohon.” Kata Sarah sambil mengetuk pintu dengan
gaduh.Tidak ada jawaban apapun dari dalam sana. Pintu juga terkunci dari dalam.
“tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang, kita
hanya bisa menunggu para orang tua reda emosinya.” Sarah bicara sambil mengusap
pundak Sarah.
“tidak bisa kak, harusnya hukum aku saja.” rengek
Sarah.
“saat ini mreka tidak akan memperdulikan kita
adik ku..” bujuk Serena.
Sarah mendekati pintu lagi dan berkata “aku tidak
akan pergi, aku akan menunggu didepan pintu sampai kalian melepaskan Danie.”
ancam Sarah
Tiba – tiba ada angin besar yang brhembus dari
dalam ruangan yang membuat tubuh Sarah terpental kebelakang. Kedua saudara
perempuannya dengan sigap menangkap tubuh Sarah.
para orang tua sudah memasang perisai diruangan ini. Sebaiknya kamu jangan
ganggu dulu.”
“aku tidak akan menyerah.” mata Sarah berkaca –
kaca. Dengan penuh semangat ia mendekati pintu lagi dan terpental lagi. Serena
membantunya untuk berdiri, tapi Sarah menolaknya.
“aku mohon....jangan begini. Aku akan lakukan
apapun, agar kalian melepaskan hukuman dari Daniel.” Sarah sudah tidak bisa
membendung rasa sedih dalam hatinya. Ia duduk dilantai dan air matanya mulai
mengalir membasahi pipinya.
“sudahlah.. adik ayo pergi kedalam kamar. Sungguh
tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu
dengan Daniel. Dia adalah putra tunggal keluarga Long, harapan satu – satunya
sebagai penerus marga Long. Memaksa masuk sekarang juga tidak ada gunanya, kita
hanya akan menambah kekesalan para orang tua didalam sana.”
Begitu Sisca selesai bicara mereka semua
merasakan energi yang sangat besar keluar dari dalam kamar Daniel.
“apa ini??” Tanya Serena sambil menaikkan kedua
pudaknya yang tiba - tiba meriding hebat.
“energi naga. Ini lah energi asli mereka” jawab
__ADS_1
Jackie
“apa sehebat ini energi mereka? ini pertama kali
aku merasakan kekuatan seperti ini.” kata Serena sambil memegang lengan Sisca
yang berdiri disampingnya.
Bersamaan dengan itu langit kembali menghitam,
sama seperti kejadian selaman. Awan tebal menyelimuti pulau, Atap pada ruangan
taman dalam langsung tertutup. Menutupi kolam renang dan taman dalam rumah.
Lampu secara otomatis menyala menerangi ruangan tengah. Bersamaan dengan itu
suara gemuruh mulai bersahutan. Perlahan dan lama – lama menjadi sangat kuat.
“kakak...” Sarah menatap Sisca dengan penuh
ketakutan.
“masuk kekamar kamu, kita tunggu dikamar kamu
saja.” kata Sisca sambil menarik tangan Sarah.
“suami...kamu tunggu disini. Beritahukan kepada
kami jika ada sesuatu didalam sana” lanjut Sisca. Mulutnya tertutup rapat
ketika berbicara dengan Jackie. Pria ini sangat berani membuat adiknya
ketakutan seperti ini, sungguh membuatnya kesal. Seharusnya ia bisa menggunakan
kata – kata yang lebih baik lagi. ‘white lies’ jauh lebih baik. Jika memang
perlu saat itu harusnya ia tidak usah bicara sama sekali itulah pikiran yang
terlinatas dibenak Sisca untuk Jackie.
Sisca membuka kamar Sarah yag berada tepat
disebelah kamar Daniel dan membiarkan pintu kamar terbuka lebar.
“energi disini jauh lebih kuat.” kata Serena.
“tapi ini bukan energi pertarungan sepertinya,
karena hanya ada satu energi yang terasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan
adik kecil.” lanjut Serena sambil mengusap lengannya sendiri.
Sebeneranya Serena juga tidak yakin dengan apa
yang dikatakannya. Sebagai saudara, mereka harus saling menguatkan dan
mendukung. Mereka bertiga duduk diatas tempat tidur sambil bersilah. Arah
pandangan mereka sama, kearah dinding dibelakang meja rias. Dibelakang dinding
itu adalah kamar Daniel. Tidak bisa sama sekali menggunakan telepati dan
teleport kekamar Daniel. Perisai naga yang dipasang terlalu kuat untuk ditembus
mereka.
"salahku... kenapa aku begitu bodoh bisa
tertidur dikamar Daniel. Seandainya aku tidak tertidur semua hal ini tidak akan
terjadi. " sesal Sarah kepada kedua saudaranya
"sudahlah.... menyesali semua tidak ada
gunanya sekarang. Kita hanya bisa menunggu, aku percaya ia baik - baik saja
didalam sana. Sisca mengusap punggung Sarah.
Kejutan datang lagi, aura panas mulai memenuhi
ruangan kamar Sarah.
“ini.....”Sarah menatap kedua saudaranya.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk, menyetujui perkataan
Sarah yang tidak terucap.