
Sarah melewati Daniel Long seolah memang tiada
orang dihadapannya. Daniel dengan setia mengikuti dibelakang Sarah. Sarah
menekan tombol turun pada lift dan melihat pantulan bayangan Daniel Long dari
pintu lift. Sarah melihat kearah atas, menunjukkan angka 25 panah keatas.
‘Syukurlah, sebentar lagi akan sampai. Tidak
nyaman dengan keadaan seperti ini. Bagaimana jika ia terus mengikutiku.. jangan
– jangan ia sedang membaca pikiran ku lagi. ‘
Daniel terihat memegang ponselnya dan menerima
panggilan.
“ya kami bersama,,,, sudah mau pulang. “
kata Daniel
“hmm.. “ katanya lagi.
Daniel langsung mematikan ponselnya, Sarah tidak
bisa menebak dengan siapa pria ini berbicara. Sarah langsung masuk kedalam
ketika pintu lift terbuka. Sarah menekan tombol 1. Daniel berdiri dibelakang
Sarah, tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Perjalanan dari lantai 1 terasa
sangat lama bagi Sarah. Entah sudah berapa kali ia menghelakan nafas hanya untuk
perjalanan lift dari lantai 30 ke lantai 1 ini saja.
Sampai di lantai 1 petugas keamanan langsung
menyapa Sarah.
“mobil anda sudah dimasukkan ke basement sesuai
permintaan Direktur Utama. Ini kunci anda Pak Direktur Long.” kata petugas
keamanan kantor Sarah sambil memberikan kunci mobil Daniel kepadanya.
Didepan pintu masuk sudah terparkir sebuah mobil
sedan berwarna coklat tua. Sarah sudah bisa menebak, sudah pasti ini adalah
mobil milik Daniel. Pria ini sepertinya sangat menyukai warna coklat.
“baiklah, aku akan memesan taksi.” kata Sarah
sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Daniel dengan cepat merebut ponsel Sarah
“ikut aku.” perintahnya.
Sarah menarik nafas panjang lagi sambil
memasukkan tangannya ke saku coat blasernya. Pria ini benar – benar menyebalkan.
Batin Sarah.
Sarah berjalan dibelakang Daniel. Daniel masuk
lebih dahulu kedalam mobil, tapi Sarah berjalan kearah luar kantor. Ia akan
naik taxi pulang kerumah. Itu rencana dipikirannya. Daniel melihat Sarah
berjalan dengan cepat kearah jalan raya. Dengan langkah seribu ia mengejar
Sarah, Daniel berdiri dihadapan Sarah dengan raut wajah dingin.
“masuk kedalam mobil. Kamu mau kemana?” tanya
Daniel.
“tuan muda Long tidak perlu mengkhawatirkan aku.
“ Sarah melewati Daniel dan baru berjalan satu langkah, Daniel sudah berdiri
dihadapannya lagi.
“tolong menyingkir dari hadapanku.” perintah
Sarah
__ADS_1
“masuk ke dalam mobil.” Kata Daniel sambil
menoleh kearah mobil yang tarparkir didepan pintu kantor Li
“aku rasa telinga kamu masih sangat bagus. Perlu
aku ulangi lagi?? aku tidak mau pulang bersama dengan mu. Paham?” Sarah bicara
sambil menggoyangkan kepalanya kekiri dan kekanan.
Sarah dengan susah payah meredam emosinya ketika
bicara. Tapi yang terlihat justru tidak seperti itu.
“tidak paham.” jawab Daniel Long santai
Sarah menggelengkan kepalanya dan berusaha
melewati Daniel. Pria ini juga sudah kehabisan kesabaran. Selama diperjalanan
ia tidak sempat tidur, karena membaca dokumen kerja sama yang cukup banyak.
Begitu mendarat, ia langsung ke perusahaan Long untuk membahas masalah kerja
sama. Begitu semua selesai, ia juga harus menghadapi emosi calon istrinya yang
sedang tidak stabil. Rasa kantuk dan lelah sudah bercampur dalam dirinya.
Sarah mendorong Daniel, tapi kesempatan itu
dibuat Daniel untuk menggendong Sarah seperti membawa sekarung beras
dipundaknya.
“turunkan aku.. dasar kepala batu.” Sarah
mengumpat kepada Daniel yang terlihat tidak memperdulikan kekesalan Sarah
padanya.
“buka” perintah Daniel kepada petugas keamanan
yang masih berdiri didekat mobil Daniel.
Petugas itu membuka pintu mobil untuk Daniel,
dengan segera Daniel memasukkan Sarah dan memakaikan sabuk pengaman kepadanya.
“terima kasih.” Kata Daniel kepada petugas
keamanan tadi. Sambil menepuk pundaknya.
Ia pun segera masuk kedalam kursi pengemudi dan
mengendarai mobil membawa Sarah kembali kerumahnya. Suasana dalam mobil sangat
kaku. Sarah terlalu malas melihat wajah Daniel, ia memilih menikmati
pemandangan malam diperkotaan. Cahaya lampu berwarna warni dari rumah dan toko
yang lewati, terlihat beberapa orang yang berjalan di trotoar jalan.
Sepertinya hidup mereka sangat bahagia, kenapa
beberapa minggu ini hidupnya menjadi tidak bahagia apa lagi sejak bertemu
dengan pria yang ada disampingnya.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai
kerumah keluarga Li dijam tidak sibuk seperti malam ini. Jam 10 malam tepat
mereka sampai dirumah. Sarah dengan cepat membuka sabuk pengamannya dan keluar
dari dalam mobil. Mobil sudah terparkir dihalaman rumah keluarga Li. Terlihat
ada 5 mobil terparkir dihalaman keluarga Li yang luas itu. Daniel menandai
salah satu mobil yang terparkir adalah milik kedua orang tuanya.
Suasana rumah terlihat sunyi, tidak ada tanda –
tanda orang yang sedang berkunjung. Sarah langsung naik kelantai 2
kamarnya. Daniel melihat suasana rumah yang sunyi. Tapi kepekaan inderanya
mengetahui kalau seluruh keluarga sedang berada diruangan karoke keluarga Li
dan membahas masalah pernikahan mereka.
__ADS_1
Mayleen keluar dari ruangan karena menyadari
kehadiran Daniel yang masih berdiri didepan tangga melihat Sarah Li masuk
kedalam kamarnya.
“Sarah ke kamarnya?” tanya Mayleen
“iya ma…”
“kamu kalau mau mandi silahkan pakai kamar
disebelah kamar Sarah, perlengkapan mandi dan pakaian kamu ada diruangan itu.”
kata Mayleen sambil menunjuk kamar disebelah kamar Sarah.
“terima kasih ma…” kata Daniel dengan murung.
Mayleen menangkap Daniel sedang kelelahan.
Sedangkan kenyataannya lelah dan perasaan yang tidak tenang bercampur jadi
satu. Daniel bingung bagaimana harus bersikap dengan Sarah. Sepertinya yang
dilakukannya selalu salah.
“apa kamu mau makan malam nak?”
“belum ma…. Aku sangat lelah. Maaf, masalah
pernikahan akan aku serahkan semuanya kepada kalian. Selesai mandi, mungkin aku
akan langsung tidur saja.”
Daniel bicara seolah dia sudah diberikan ijin
untuk menginap dirumah ini. Ia menyadari kesalahannya.
“maaf ma. Selesai mandi aku akan tidur didalam
mobil saja.”
“kamu ini seperti orang lain saja. Dari dahulu
sampai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Li. Tidak akan terpisahkan
walau terjadi hal apapun. Sudah cepat naik, dan beristirahat.”
Daniel mengangguk dan berjalan menaiki anak
tangga dengan langkah berat. Ia masuk kedalam kamar dan segera mandi, berganti
pakaian dan tidur.
Hal yang sama dilakukan juga oleh Sarah, selesai
mandi ia langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur, perutnya memang lapar
saat ini. Tapi jika ia keluar sekarang pasti Daniel Long masih ada diluar sana
dan berbicara dengan kedua orang tuanya. Lebih baik ia tidur saja.
Ternyata tidak semudah yang dipikirkan Sarah, 30
menit berusaha tidur dengan keadaan lapar ternyata tidak membuahkan hasil. Ia
duduk dengan kesal dan kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Perlahan - lahan
menempelkan telinganya di pintu kamar. Setelah memastikan tidak ada suara,
Sarah membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat suasana ruang tamu yang
hening.
Sarah keluar dari dalam kamar dan begitu juga
Daniel Long yang keluar dari kamar tamu disebelah kamarnya.
“kenapa kamu disini?”tanya Sarah bingung sambil
melihat kearah kiri dan kanan rumahnya yang terlihat sepi tidak seperti
biasanya.
“aku lapar dan tidak bisa tidur, buatkan makan
malam untukku.” Daniel bicara seolah tidak ada masalah dengan mereka berdua, ia
berjalan dihadapan Sarah dan menuruni tangga dengan punggung yang terlihat
__ADS_1
lesu. Tidak seperti biasanya. Ini kedua kalinya Sarah melihat Daniel yang tidak
memiliki semangat sama sekali.