
“Mereka kembali…..” teriak Huanran sambil berlari
kearah pintu. Dengan semangat membukanya untuk menyambut kepulangan mereka.
Sisca, Serena, Huanran dan istri Alex ikut berlari kearah mereka. Wajah penuh
lebam.
Sudah jelas sekali pasti terjadi sesuatu pada
mereka semalam. Sarah baru terjaga dengan malasnya ia membuka mata dan melihat
semua orang disambut para pasangannya. Sarah tidak melihat ada Daniel keluar
dari dalam kapal. Dengan cepat ia berlari keluar dan mencari keberadaan Daniel.
Semua orang terlihat sudah berjalan kedalam rumah, hanya wajah Daniel yang
tidak terlihat.
Sarah mendekati David “om… Apakah Daniel baik –
baik saja? kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Sarah dengan panik.
“mungkin sedang istirahat dikamar.” jawab David
yang terlihat lebam pada bagian keningnya.
“oh… terimakasih” jawab Sarah dan langsung
berlari kearah kamar Daniel.
“sama….sa…” David belum menjawab perkataan Sarah
tapi anak itu sudah berlari dari hadapannya.
Senyum bahagia tidak bisa ditutupi keluarga itu
melihat Sarah yang mengkhawtirkan Daniel.
Sarah mengetuk pintu kamar Daniel dan memanggil
namanya berkali – kali. Tapi tidak ada jawaban. Tiba – tiba terdengar suara membuka
kunci dan pintu terbuka perlahan. Sarah menoleh kearah dalam secara perlahan.
Tidak ada orang yang membuka kan pintu. Tadi jelas – jelas ia mendengar ada
orang yang membuka kunci pintu. Memang benar – benar hebat kekuatan seorang
naga.
“kamu didalam??” tanya Sarah dengan ragu.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, dengan ragu
Sarah mendorong daun pintu perlahan dan berjalan dengan ragu memasuki kamar
Daniel. Kemudian menutup pintu dengan perlahan.
Baju berserakan dilantai. Ini baru pertama kali
Sarah masuk kedalam kamar Daniel dan ternyata isi dalam kamarnya mirip dengan
kamar Sarah. Bahkan furniture, tempat tidur bahkan warna tirai yang digunakan
juga sama. Mata Sarah berkeliling melihat kearah seluruh kamar.
Sarah mengambil pakaian Daniel yang berserakan
dilantai dan memasukkannya pada keranjang pakaian.
“tidak perlu membereskan kamarku. Ada pelayan
yang akan melakukannya.” kata Daniel yang terlihat sudah terbaring ditempat
tidur. Selimut menutupi separuh tubuhnya, Sarah bisa melihat Daniel mengenakan
kaos dalam tanpa lengan berwarna putih. Matanya terpejam, ujung bibirnya
terlihat ada luka. Lengannya lebam ada beberapa luka kecil di tangannya.
Hati Sarah iba melihatnya. Matanya berkaca – kaca
melihat Daniel.
“kamu sudah makan?” tanya Sarah.
“tidak perlu kasihan melihat aku.” jawab Daniel
dengan mata tertutup.
Sarah mengusap air matanya yang mengalir di
__ADS_1
pipinya secara tidak terduga.
“kamu bukan seperti orang yang harus dikasihani.”
kata Sarah sambil berjalan keluar kamar Daniel.
Daniel perlahan membuka matanya, sudah tidak ada
lagi Sarah dihadapannya. Kemudian membuang nafas dengan sangat kasar.
Sarah berjalan kearah ruang makan, terlihat semua
orang sedang makan dimeja makan. Sarah meminta nampan kepada pelayan dan
meletakkan makanan didalam piring.
“maaf aku tidak bisa bergabung dengan kalian.”
kata Sarah sambil sibuk menyiapkan makanan dinampan
“apa Daniel baik – baik saja?” tanya Sisca.
“pria keras kepala seperti dia, dipukul berkali –
kali tidak akan membuatnya mati.” jawab Sarah dengan kesal.
“tolong kotak obat.” kata Sarah kepada pelayan.
pelayan tersebut mengangguk dan mengambil kotak
obat
“apa yang dilakukannya pada mu adik kecil?” tanya
Serena
“seenak nya saja ia mengakatan kepadaku ‘kamu
tidak perlu kasihan kepadaku’. Memangnya dia siapa? Wajah setampan itu tidak
cocok sama sekali menjadi orang perlu dikasihani. Benar – benar menyebalkan.”
kata Sarah sambil meletakkan bertolak pinggang dan mencontohkan cara Daniel
bicara kepadanya.
“kemudian….” tanya Sisca lagi
“tidak perlu pakai kata kemudian, aku pergi
kalau orang seperti dia mati kelaparan.” Sarah tidak berhenti mengomel sambil
sibuk meletakkan makanannya.
Pelayan memberikan kotak obat kepada Sarah.
“apa dia terluka?” tanya Sisca lagi
“iya… tapi sok kuat.” jawab Sarah kesal.
Ia terdiam sejenak sambil memejamkan matanya. Ia
memijat dahinya perlahan, menyesali kebodohannya yang dilakukannya. Bagaimana
mungkin ia berkata seperti itu padahal ada kedua orang tua Daniel dihadapannya.
Sarah membungkuk “maaf semuanya….aku terlalu
emosi. Om dan tante aku harap kalian tidak memasukkan perkataanku kedalam
hati.”
Semua orang menahan tawa melihat Sarah yang
wajahnya kemerahan.
“tidak apa – apa anakku. Dia memang keras kepala.
Semoga kamu berhasil…” kata Huanran sambil mengepalkan tangan kanannya
kearah Sarah dan berkata “semangat”
“jika dia bertindak sesukanya, kamu bilang saja
pada om. Om akan memberikannya pelajaran.” kata David sambil tersenyum melihat
Sarah.
Sarah mengangguk dengan cepat dan membawa nampan
berisi makanan dan kotak obat.
“dasar Sarah… kenapa kamu begitu bodoh.” kata
__ADS_1
Sarah kepada dirinya sendiri sambil berjalan kearah kamar Daniel.
Tanpa mengetuk pintu, Sarah membuka pintu Daniel
yang sudah tidak terkunci. Karena sebelum meninggalkan kamar ini, Sarah
mencabut kuncinya dan memasukkannya kedalam saku celananya.
“apa kamu terbiasa mengambil kunci kamar orang
lain?” tanya Daniel dengan tatapan mata tajam melihat Sarah
Sarah tidak menjawab sama sekali. Dengan
seenaknya Sarah duduk ditempat tidur, membuat Daniel bergeser kearah kanan.
Sarah sibuk mempersiapkan nasi dan lauk pada
sendok yang akan disuapkan kepada Daniel. Daniel masih berbaring dengan tangan
yang keluar dari dalam selimut.
“buka mulut” perintah Sarah.
“aku bisa sendiri.” kata Daniel dengan wajah
dingin dan berusaha duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya.
Sarah menatap Daniel dengan tajam, ditangannya
masih memegang sendok tanpa bergerak sama sekali.
“jangan buat aku marah.” ancam Sarah
Walau Daniel orang yang berwajah dingin, tapi ia
masih kalah jika harus berhadapan dengan tatap mata Sarah yang tajam. Ia tidak
pernah bisa menatap wajah Sarah dalam waktu yang lama. Tubuhnya rasanya remuk,
hampir semalaman tidak tidur dan mengeluarkan banyak tenaga. Tidak hanya
membuat fisiknya terluka, tapi rasa kantuk tidak tertahankan dirasakannya saat
ini.
Daniel membuka mulutnya perlahan. Sarah sangat
ingin memasukkan sendok kemulutnya dengan paksa. Melihat luka diujung bibirnya
membuat dirinya merasa tidak tega. Sarah perlahan – lahan menyuapkan
makanan kedalam mulut Daniel.
Selesai makan Sarah, memberikannya minum. Mata
Sarah tidak berhenti menatap Daniel dan terkesan menjengkelkan. Sarah
meletakkan piring makan dimeja samping tempat tidur.
Kemudian membuka kotak obat yang tadi dibawanya
dari ruang makan. Dengan sabar Sarah menyeka mulut Daniel.
Daniel menyingkirkan wajahnya dari tangan Sarah.
Ia mengambil sendiri tisu dari tangan Sarah dan menyeka mulutnya sendiri.
“kamu jangan membuat aku seperti orang yang tidak
bisa melakukan apa pun.”
Dengan kesal Sarah memukul lengan Daniel yang
terlihat lebam.
“aduh,,,sakit” keluh Daniel sambil mengerutkan
keningnya melihat Sarah
“masih tahu rasa sakit. Itu bertingkah sok kuat.”
protes Sarah.
Sarah mengeluarkan obat lebam dan obat luka luar.
Ketika akan menyekanya lukanya, dengan cepat Daniel mengambil obat itu dari
tangan Sarah.
“biar aku kerjakan sendiri.” kata Daniel
Sarah melipat kedua tanganya didada sambil
__ADS_1
melihat keegoisan seorang Daniel yang berusaha mengobati bagian belakang
tubuhnya sendiri.