Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 28


__ADS_3

“Mereka kembali…..” teriak Huanran sambil berlari


kearah pintu. Dengan semangat membukanya untuk menyambut kepulangan mereka.


Sisca, Serena, Huanran dan istri Alex ikut berlari kearah mereka. Wajah penuh


lebam.


Sudah jelas sekali pasti terjadi sesuatu pada


mereka semalam. Sarah baru terjaga dengan malasnya ia membuka mata dan melihat


semua orang disambut para pasangannya. Sarah tidak melihat ada Daniel keluar


dari dalam kapal. Dengan cepat ia berlari keluar dan mencari keberadaan Daniel.


Semua orang terlihat sudah berjalan kedalam rumah, hanya wajah Daniel yang


tidak terlihat.


Sarah mendekati David “om… Apakah Daniel baik –


baik saja? kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Sarah dengan panik.


“mungkin sedang istirahat dikamar.” jawab David


yang terlihat lebam pada bagian keningnya.


“oh… terimakasih” jawab Sarah dan langsung


berlari kearah kamar Daniel.


“sama….sa…” David belum menjawab perkataan Sarah


tapi anak itu sudah berlari dari hadapannya.


Senyum bahagia tidak bisa ditutupi keluarga itu


melihat Sarah yang mengkhawtirkan Daniel.


Sarah mengetuk pintu kamar Daniel dan memanggil


namanya berkali – kali. Tapi tidak ada jawaban. Tiba – tiba terdengar suara membuka


kunci dan pintu terbuka perlahan. Sarah menoleh kearah dalam secara perlahan.


Tidak ada orang yang membuka kan pintu. Tadi jelas – jelas ia mendengar ada


orang yang membuka kunci pintu. Memang benar – benar hebat kekuatan seorang


naga.


“kamu didalam??” tanya Sarah dengan ragu.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar, dengan ragu


Sarah mendorong daun pintu perlahan dan berjalan dengan ragu memasuki kamar


Daniel. Kemudian menutup pintu dengan perlahan.


Baju berserakan dilantai. Ini baru pertama kali


Sarah masuk kedalam kamar Daniel dan ternyata isi dalam kamarnya mirip dengan


kamar Sarah. Bahkan furniture, tempat tidur bahkan warna tirai yang digunakan


juga sama. Mata Sarah berkeliling melihat kearah seluruh kamar.


Sarah mengambil pakaian Daniel yang berserakan


dilantai dan memasukkannya pada keranjang pakaian.


“tidak perlu membereskan kamarku. Ada pelayan


yang akan melakukannya.” kata Daniel yang terlihat sudah terbaring ditempat


tidur. Selimut menutupi separuh tubuhnya, Sarah bisa melihat Daniel mengenakan


kaos dalam tanpa lengan berwarna putih. Matanya terpejam, ujung bibirnya


terlihat ada luka. Lengannya lebam ada beberapa luka kecil di tangannya.


Hati Sarah iba melihatnya. Matanya berkaca – kaca


melihat Daniel.


“kamu sudah makan?” tanya Sarah.


“tidak perlu kasihan melihat aku.” jawab Daniel


dengan mata tertutup.


Sarah mengusap air matanya yang mengalir di

__ADS_1


pipinya secara tidak terduga.


“kamu bukan seperti orang yang harus dikasihani.”


kata Sarah sambil berjalan keluar kamar Daniel.


Daniel perlahan membuka matanya, sudah tidak ada


lagi Sarah dihadapannya. Kemudian membuang nafas dengan sangat kasar.


Sarah berjalan kearah ruang makan, terlihat semua


orang sedang makan dimeja makan. Sarah meminta nampan kepada pelayan dan


meletakkan makanan didalam piring.


“maaf aku tidak bisa bergabung dengan kalian.”


kata Sarah sambil sibuk menyiapkan makanan dinampan


“apa Daniel baik – baik saja?” tanya Sisca.


“pria keras kepala seperti dia, dipukul berkali –


kali tidak akan membuatnya mati.” jawab Sarah dengan kesal.


“tolong kotak obat.” kata Sarah kepada pelayan.


pelayan tersebut mengangguk dan mengambil kotak


obat


“apa yang dilakukannya pada mu adik kecil?” tanya


Serena


“seenak nya saja ia mengakatan kepadaku ‘kamu


tidak perlu kasihan kepadaku’. Memangnya dia siapa? Wajah setampan itu tidak


cocok sama sekali menjadi orang perlu dikasihani. Benar – benar menyebalkan.”


kata Sarah sambil meletakkan bertolak pinggang dan mencontohkan cara Daniel


bicara kepadanya.


“kemudian….” tanya Sisca lagi


“tidak perlu pakai kata kemudian, aku pergi


kalau orang seperti dia mati kelaparan.” Sarah tidak berhenti mengomel sambil


sibuk meletakkan makanannya.


Pelayan memberikan kotak obat kepada Sarah.


“apa dia terluka?” tanya Sisca lagi


“iya… tapi sok kuat.” jawab Sarah kesal.


Ia terdiam sejenak sambil memejamkan matanya. Ia


memijat dahinya perlahan, menyesali kebodohannya yang dilakukannya. Bagaimana


mungkin ia berkata seperti itu padahal ada kedua orang tua Daniel dihadapannya.


Sarah membungkuk “maaf semuanya….aku terlalu


emosi. Om dan tante aku harap kalian tidak memasukkan perkataanku kedalam


hati.”


Semua orang menahan tawa melihat Sarah yang


wajahnya kemerahan.


“tidak apa – apa anakku. Dia memang keras kepala.


Semoga kamu berhasil…”  kata Huanran sambil mengepalkan tangan kanannya


kearah Sarah dan berkata “semangat”


“jika dia bertindak sesukanya, kamu bilang saja


pada om. Om akan memberikannya pelajaran.” kata David sambil tersenyum melihat


Sarah.


Sarah mengangguk dengan cepat dan membawa nampan


berisi makanan dan kotak obat.


“dasar Sarah… kenapa kamu begitu bodoh.” kata

__ADS_1


Sarah kepada dirinya sendiri sambil berjalan kearah kamar Daniel.


Tanpa mengetuk pintu, Sarah membuka pintu Daniel


yang sudah tidak terkunci. Karena sebelum meninggalkan kamar ini, Sarah


mencabut kuncinya dan memasukkannya kedalam saku celananya.


“apa kamu terbiasa mengambil kunci kamar orang


lain?” tanya Daniel dengan tatapan mata tajam melihat Sarah


Sarah tidak menjawab sama sekali. Dengan


seenaknya Sarah duduk ditempat tidur, membuat Daniel bergeser kearah kanan.


Sarah sibuk mempersiapkan nasi dan lauk pada


sendok yang akan disuapkan kepada Daniel. Daniel masih berbaring dengan tangan


yang keluar dari dalam selimut.


“buka mulut” perintah Sarah.


“aku bisa sendiri.” kata Daniel dengan wajah


dingin dan berusaha duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Sarah menatap Daniel dengan tajam, ditangannya


masih memegang sendok tanpa bergerak sama sekali.


“jangan buat aku marah.” ancam Sarah


Walau Daniel orang yang berwajah dingin, tapi ia


masih kalah jika harus berhadapan dengan tatap mata Sarah yang tajam. Ia tidak


pernah bisa menatap wajah Sarah dalam waktu yang lama. Tubuhnya rasanya remuk,


hampir semalaman tidak tidur dan mengeluarkan banyak tenaga. Tidak hanya


membuat fisiknya terluka, tapi rasa kantuk tidak tertahankan dirasakannya saat


ini.


Daniel membuka mulutnya perlahan. Sarah sangat


ingin memasukkan sendok kemulutnya dengan paksa. Melihat luka diujung bibirnya


membuat dirinya  merasa tidak tega. Sarah perlahan – lahan menyuapkan


makanan kedalam mulut Daniel.


Selesai makan Sarah, memberikannya minum. Mata


Sarah tidak berhenti menatap Daniel dan terkesan menjengkelkan. Sarah


meletakkan piring makan dimeja samping tempat tidur.


Kemudian membuka kotak obat yang tadi dibawanya


dari ruang makan. Dengan sabar Sarah menyeka mulut Daniel.


Daniel menyingkirkan wajahnya dari tangan Sarah.


Ia mengambil sendiri tisu dari tangan Sarah dan menyeka mulutnya sendiri.


“kamu jangan membuat aku seperti orang yang tidak


bisa melakukan apa pun.”


Dengan kesal Sarah memukul lengan Daniel yang


terlihat lebam.


“aduh,,,sakit” keluh Daniel sambil mengerutkan


keningnya melihat Sarah


“masih tahu rasa sakit. Itu bertingkah sok kuat.”


protes Sarah.


Sarah mengeluarkan obat lebam dan obat luka luar.


Ketika akan menyekanya lukanya, dengan cepat Daniel mengambil obat itu dari


tangan Sarah.


“biar aku kerjakan sendiri.” kata Daniel


Sarah melipat kedua tanganya didada sambil

__ADS_1


melihat keegoisan seorang Daniel yang berusaha mengobati bagian belakang


tubuhnya sendiri.


__ADS_2