
Saat malam semakin larut, bersamaan dengan meteor yang melintasi bumi energi Sarah Li tiba - tiba bisa dirasakan semua orang. Terutama keluarganya dan keluarga Daniel Long. Secara bersamaan mereka yang sudah tertidur, terbangun dan keluar dari dalam rumah menuju halaman rumah yang tidak memiliki pagar sama sekali. Mereka saling melihat tanpa berkata apapun.
Bersama mereka keluar dari rumah masingĀ - masing dan saling bertukar pandangan. Energi yang sangat kuat, tapi dimana fisiknya?? Energinya seolah menyebar dimana - mana dan tidak terfokus pada satu titik saja. Membuat mereka bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarag ini.
Energi itu hanya bertahan selama beberapa menit dan kemudian hilang tersapu angin. Seolah tidak penah ada sama sekali. Wajah penuh harap berubah menjadi kekecewaan. Tanpa berbicara apapun mereka semua kembali kerumah masing - masing dengan wajah penuh kekecewaan. Daniel yang hendak membalikkan tubuhnya, menghentikan gerakannya sejenak.
Lagi - lagi detak jantungnya berdetak dengan cepat, ia merasa semakin tidak terkendali. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan seorang wanita memakai pakaian chiongsam putih dengan motif emas muncul entah dari mana, berjalan dengan anggun dan tersenyum kepadanya.
"Shuwan.... " bisik Daniel. Kemudian ia menggelengkan kepalanya
"Sarah Li...." katanya dengan tidak yakin.
Semua orang kembali berbalik badan dan melihat wajah tidak asing, rambutnya sudah terurai panjang. Berbeda dengan penampilannya terakhir.
Mayleen berlari kearah Sarah Li terlebih dahulu. Ia sangat merindukan putrinya. Semua keluarga mengelilingi Sarah dan memeluknya dengan hangat. Hanya Daniel yang masih berdiri di posisinya dan menatap dengan tatapan ambigu.
Ia segera berbalik badan dan memutuskan masuk kedalam rumah. Ia menutup pintu dan masuk kedalam kamar dan langsung naik ketempat tidur sambil menarik selimut.
Tidak ada yang menyadari perbuatan Daniel, mereka sibuk berbicara hingga fajar hampir menyingsing. Begitu mereka akan kembali ke rumah masing-masing barulah mereka menyadari tidak ada Daniel diantara mereka semua.
David tampak kesal dengan perbuatan anaknya, tapi Sarah hanya tersenyum mendengar mertuanya mengomel tentang kelakuan putranya. Ia paham, Daniel berubah karena kesedihannya. Ia juga paling paham, bagaimana ia terpuruk setelah kepergian Sarah dari hidupnya.
Sarah berjalan kearah rumah Daniel, sangat tidak mungkin untuk tidur lagi karena matahari sudah terbit dan mereka juga akan pergi pagi ini untuk sembayang leluhur.
Sarah melihat Daniel tidur dengan pulas dan memutuskan untuk mandi dan memasak untuknya. Sarah memutuskan memasak mie instan karena hanya itu yang tersedia dirumah sebesar ini.
__ADS_1
Seperti biasa Daniel bangun tepat waktu dan langsung mandi. Ia mengenakan kemeja hitam dan long jacket warna putih. Begitu ia turun tangga menuju keruang makan, aroma makanan langsung tercium dan ia mengenali masakan yang disajikan adalah masakan Sarah Li.
Lagi - lagi ia melihat Sarah dan berusaha acuh tak acuh kepadanya. Sarah tersenyum kepadanya. "kakak sudah bangun..... " sapa Sarah dengan ramah.
Daniel tidak menjawab dan langsung duduk di kursi makan yang terbuat dari kayu itu. Daniel langsung makan dengan lahap. Ia merindukan masakan istrinya. Air matanya nyaris keluar tapi ditahan sebisa mungkin agar ia terlihat tetap baik-baik saja.
Sarah hanya diam memperhatikan Daniel. Ia sangat mengantuk tapi masih bersikap sangat baik kepadanya.
"Terima kasih sudah membawa semua pakaian ku. Aku kira kakak akan membuang semua pakaianku. " kata Sarah memecahkan kesunyian diantara mereka.
Cara Sarah bicara sangat mirip ketika awal mereka saling mencintai dan nyaris menikah dahulu sebelum ia hilang ingatan. Jantung Daniel berdetak lebih cepat mendengar perkataan Sarah.
Suara mobil sudah terdengar, mereka akan pergi pagi ini karena waktu perjalanan yang hampir 3jam perjalanan.
"apa kabar nona Shuwan... senang melihat anda kembali. " sapa nya dengan ramah.
"saya juga senang bisa kembali dan melihat paman dalam keadaan sehat. Paman sudah sarapan.... "
" sudah nona. Saya permisi memasukkan tas ini kedalam mobil. "
Sarah mengangguk sambil tersenyum. Dan melihat supir Daniel meninggalkan ruangan tamu.
Selesai sarapan Daniel langsung keluar dari dalam rumah dan menuju kedalam mobil sedang hitam miliknya yang sudah terparkir didepan rumahnya. Semua terlihat sedang bersiap untuk perjalanan ini yang sudah dilakukan setiap tahunnya.
Sarah mengerutkan keningnya melihat Daniel. Pria ini sedang berusaha membangun benteng antar mereka. Ia sendiri tidak tahu apa tujuan ia melakukannya.
__ADS_1
Sarah mencuci piring dengan cepat dan langsung naik ke dalam mobil. Ia langsung merebahkan kepangkuan Daniel sambil memeluk guling yang dibawanya dari dalam kamar. Daniel memanggil supirnya dan meminta selimut dari dalam bagasi.
Sarah terlihat tidak peduli dengan penampilan nya yang hanya menggunakan rok pendek dan ketika ia berbaring nyaris memamerkan kaki putihnya. Daniel menyelimuti kaki Sarah dan tidak lama mereka pun semua berangkat bersama.
Sarah tidur dengan lelap dan Daniel memperhatikan wajah yang dirindukannya selama 8 tahun ini. Ia terlalu takut berharap kalau apa yang dilihatnya hari ini hanya mimpi belaka. Ia tidak berani merespon dengan bahagia. Karena semua mimpi yang pernah dialaminya juga seperti nyata. Tapi yang terjadi selalu membuatnya kecewa karena bagitu ia terbangun semua hanya mimpinya saja.
Daniel mengusap rambut Sarah yang panjang. Rasanya sangat nyata. Ia mencubit lengannya berkali-kali. Ia merasakan sakit. Tapi itu nyata atau tidak...
Daniel menaikkan kaca pembatas dengan supirnya. Dan begitu ia melihat Sarah, mata Sarah sudah terbuka menatap dirinya.
"kenapa kamu begitu dingin kepadaku..... " tanya Sarah.
Daniel segera membuang pandangannya keluar jendela.
Sarah menarik kerah baju Daniel kearah dirinya dan mencium dirinya.
"ini benar-benar aku.... aku sudah bisa menemani dirimu lagi dalam dunia nyata bukan lagi dalam mimpi mu. "
" mari kita mulai kehidupan yang baru Hendry.... " Sarah menciumnya nya lagi.
"maaf jika kakak harus menunggu terlalu lama. "
"aku mencintaimu.. "
Daniel menangis mendengar perkataan Sarah. Bibir itu terlalu nyata untuk dikatakan sebagai mimpi.. Kerinduan nya terbayar sudah... Semoga bisa bersama selamanya...
__ADS_1