
Sarah paham sekarang bagaimana menggunakan kekuatannya. Ia hanya perlu fokus dengan objek dihadapannya dan kemudian menggunakan kekuatan pikirannya untuk menggerakkan benda yang ada dihadapannya. Mirip dengan cara ia menggunakan kekuatan untuk menyembuhkan Daniel.
Sarah kira urusan dengan lilin membuat dirinya selesai dengan latiha hari ini. Ternyata tidak. Daniel meletakkan kapas diatas meja tempat ia meletakkan lilin tadi. Kali ini ia diminta menggerakkan kapas itu dan menjatuhkannya kelantai. Sarah dengan mudah bisa melaukan hal itu.
Ketika Sarah akan beristirahat, Daniel memegang tangannya.. “tunggu satu kali lagi….”
Sarah menari nafas dengan dalam “bukankah semua sudah aku lakukan?? kamu minta aku matikan lilin, kemudian menggerakkan kapas, kemudian pensil. Kali ini apa lagi?? kamu mau suruh aku gerakkan meja itu??” Kata Sarah dengan kesal sambil melihat kearah meja dengan kesal.
“benar sekali…. Mungkin inilah yang sering dikataan orang nona ketiga Li mempunyai insting yang luar biasa terhadap lawan biacaranya.
“kamu…..” Sarah membesarkan matanya melihat Daniel, rasanya menyesal membiarkan garpu itu lepas dari dadanya. Apabila tahu dirinya akan disiksa dengan cara seperti ini.
“lakukan…” perintah Daniel.
“itu lebih berat…. apa kamu tidak punya perasaan??”
“berat jika diangkat menggunakan otot tangan. Tapi akan terasa ringan jika menggunakan kekuatanmu sayang….”
“aku ragu dengan hal itu..” jawab Sarah. Ia bekerja keras menggerakkan pensil. Bagaimana mau menggerakkan meja yang jelas – jelas berkali – kali lipat dibandingkan dengan pensil?? Pria ini memang tidak memiliki hati nurani.
“kenapa kau jahat sekali??” Kata Sarah sambil mendekat kearah Daniel.
“jahat?? aku??” Daniel menunjuk dirinya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“lantas?? apakah ada orang lain lagi diruangan ini yang suka menyiksa orang lain??” Sarah melihat sekeliling ruangan untuk menyindir Daniel Long.
"lihatlah jam sekarang, sudah malam…. kamu mau menyiksaku sampai pagi??” sambung Sarah dengan kesal.
“bisa jadi…. waktu adalah uang nona ketiga Li.. untuk kesempatan kita sekarang,, waktu adalah peluang. Waktu sangat berharga. Satu menit yang kita gunakan untuk bersantai bisa berakibat fatal. Satu menit berharga bisa kita gunakan untuk menjadikan kita menjadi lebih hebat dan lebih kuat untuk mengalahkan mereka. Maka dari itu jangan sia – siakan waktu berharga kita.” Wajah Daniel yang dingin membuat Sarah terdiam. Memang benar semua orang sudah berkorban banyak untuknya. Mengeluh juga tidak ada gunanya.
__ADS_1
Sarah kembali duduk dan mencoba untuk menggerakkan kursi dihadapannya. Kali ini memang tidak mudah. Sarah Li sampai melewatkan waktu makan malam hanya untuk mencoba menggerakkan kursi. Daniel terus memberikan arahan kepada Sarah agar ia bisa dengan mudah melakukannya.
Merasa tidak tenang, Sarah Li melepas gantungan tangan kanannya dan mencoba menggerakkan dengan kedua tangannya. Sarah menggunakan tenaganya untuk menggerakkannya. Suaranya pun keluar seolah ia sedang mengangkat beban yang sangat berat.
Daniel khawatir melihat Sarah yang seperti ini. Cara yang dilakukan sudah salah, ditambah lagi dia memaksakan dirinya seperti ini. Cidera tangan dan tulang punggungnya bisa bertambah parah.
“jangan seperti ini…. “ protes Daniel
“kamu diam saja, aku sedang berusaha.”
“kamu bisa melukai dirimu sendiri.” Daniel menggengam lengan Sarah dan menatapnya dengan dalam.
“kamu mungkin memiliki kekuatan penyembuh yang sangat hebat. Tapi jika kamu terluka, aku tidak bisa menyembuhkanmu. Paham??” Daniel mencengkram lengan Sarah dengan sangat kuat sesuai dengan tingkat kekesalannya kepada Sarah.
“tidak….” jawab Sarah singkat
“aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang perlu kau tahu,,, aku berusaha keras demi diriku dan demi semua orang yang mendukungku. Cukup lihat saja….”
Daniel membuang pandangannya kearah lain. Pria dihadapan Sarah ini terlalu keras kepala untuk mengerti apa yang diinginkannya sekarang.
“tidak mau??” Tanya Sarah sambil melihat Daniel dengan penuh tanya.
Daniel masih diam ditempatnya sambil bertolak pinggang.
“baik… aku sendiri yang akan melepaskannya.” kata Sarah dengan santai sambil berjalan kearah kamar mandi dan mengambil pisau dari lemari makanan.
Daniel yang melihat Sarah menjadi takut, ia tidak mau terjadi sesuatu kepada Sarah Li dan ia pun menghalanginya.
“duduk….” kata Daniel sambil melihat kearah sofa.
__ADS_1
“tidak perlu merasa bersalah, aku bisa kerjakan sendiri. Kamu tenang saja.” jawab Sarah dengan santai sambil melewati Daniel.
Daniel memegang tangan Sarah “aku akan membantumu….”
Sarah mengerucutkan bibirnya sambil menaikkan alisnya menatap punggung Daniel. Benar – benar pria yang aneh sebentar – sebentar mengatakan tidak mau, sebentar mau. Benar – benar tidak jelas apa maunya.
“berjanjilah kamu akan hati – hati dalam bergerak nanti..”
Daniel sekarang lebih mirip seperti seorang ibu yang mengomel kepada anaknya. Ia memberikan saran dan masukan yang sangat panjang hanya masalah tangan. Sepertinya dahulu kala ia terlahir sebagai seorang perempuan yang memiliki banyak anak. Sehingga sedikit banyak masih banyak sikapnya yang terbawa sampai dikehidupan sekarang. Sarah hanya memperhatikan Daniel bicara sambil menahan tawa. Sambil sesekali melihat Daniel melepaskan gips ditangannya.
Begitu gips terbuka, Sarah merasakan udara menyentuh kulitnya dan rasanya luar biasa sejuk. Seperti baru lepas dari penjara yang dahulu pernah dialaminya ketika membuat mamanya marah. Akhirnya ia bisa menggaruk kulitnya yang selama beberapa hari ini terasa gatal.
“terima kasih….” kata Sarah dengan senyum penuh ketulusan melihat Daniel
“hmmm mmh…” wajah Daniel tiba – tiba memerah setelah melihat Sarah.
“kamu tidak apa – apa??” tanya Sarah sambil memperhatikan wajah dan kuping Daniel yang memerah.
Sarah memegang kening Daniel dan kemudian memegang keningnya “kamu tidak demam.”
“tapi kenapa wajah kamu merah seperti ini…. Ah…. mungkin karena sudah malam. Kamu tidur saja lebih dahulu.
Aku masih ada latihan..” Sarah bangkit dari sofa dan menggerak – gerakkan tangannya dengan sangat senang. Dan kemudian duduk dikursi yang diletak Daniel ditengah ruangan dan melanjutkan latihannya.
Daniel tiba – tiba merasa panas diruangan yang berudara sejuk. Sudah lama ia tidak melihat wajah Sarah yang
menggemaskan seperti itu, walau sudah mencintainya selama bertahun – tahun. Melihat wajahnya yang lucu dan menggemaskan membuat Daniel mencintainya lagi. Kali ini dia tidak membuat Sarah mencintainya, tapi ia yang jatuh cinta lagi kepada Sarah Li.
Wanita ini mampu membuat dirinya mencintainya lagi… setelah sekian lama lupa bagaimana cara jatuh cinta. Padahal hanya melihat senyumnya. Daniel menggelengkan kepalanya dan kembali fokus dengan layar tab dan laptop didepannya. Hasilnya sungguh tidak terduga, bukan laporan yang dilihatnya tapi wajah Sarah Li yang tadi tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Tangan Daniel dengan tidak sengaja membuka foto pernikahan mereka dan Daniel tersenyum sendiri, tenggelam
dalam suka cita yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Seolah diruangan itu hanya ada dirinya senidiri.