
Sarah melihat kearah Daniel, sosok pria yang mirip seorang pria angkatan bersenjata dengan badan tegapnya
berdiri dihadapan Sarah
“belum waktunya kamu melihat semua ini sayang...” kata Daniel tanpa ekspresi.
Sarah kesulitan mengartikan arti tatapan mata Daniel. Sarah merasa ada kesal, marah, sedih, kecewa menjadi satu. Sarah hanya terdiam menatap Daniel.
Hari ini terlalu banyak hal yang diterima Sarah. Mulai dari masalah Nana, sikap Daniel yang tidak bersahabat
ketika mereka sedang dalam lingkungan pekerjaan. Hati Sarah sangat ingin mencari tahu kebenaran yang ada dalam semua foto itu. Tapi otaknya melarang Sarah mencari tahu lebih lanjut.
Ia takut mendengar sesuatu yang membuat beban dalam otaknya. Dari semua pertanyaan yang muncul dalam hatinya hanya satu kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
“kenapa...” Sarah melihat Daniel tanpa ekspresi sama sekali.
“karena semua terlalu tiba – tiba. “
“kenapa??? “ Sarah tidak puas dengan jawaban Daniel
“kamu belum siap menerima semuanya.”
“kapan?”
Daniel mengalihkan pandangannya kearah lain. Jari tangannya memijat dahinya, bibitnya mengulum dengan kuat. Ia sendiri juga tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menceritakan semua masalah ini kepada Sarah.
“lihat aku,,,” kata Sarah perlahan.
Daniel menarik nafas panjang dan matanya masih menatap kearah langit mendung yang membentang dihadapannya. Apa yang harus dikatakannya. Bibirnya terlalu takut mengatakannya. Bukan tidak prnah Daniel memaksa Sarah mengingat semuanya, ketika hal itu dilakukannya hanya memperburuk keadaan. Sarah akan jatuh pingsan dan kembali bermimpi buruk. Mana mungkin ia tega membuat orang yang disayanginya menderita seperti itu.
Daniel mulai frustasi, ia tidak bisa menatap Sarah. Kesepuluh jari tangannya menyisir dengan kuat rambut
hitamnya. Ia terlihat sangat depresi sekarang.
“percaya lah kepada ku....” hanya itu yang bisa dikatakan Daniel sekarang.
“kamu tadi mengatakan akan mengatakan semua hal yang terjadi dengan kita dan ketika aku sudah menemukan
bukti. Dan kemudian aku menanyakan kepadamu, kamu tidak bisa menjawabnya?? Apakah kamu Daniel Long yang aku kenal??? Atau jangan – jangan kamu manusia mutan sama dengan yang dijelaskan dalamr ruangan tadi??”
Semua kata – kata Sarah yang hampir sama pernah didengarkan Daniel. Ia selalu mengalami hal ini ketika Sarah Li mulai bertanya tentang hubungan masa lalu mereka.
__ADS_1
Sarah menutup paksa laptop Daniel dan kemudian berdiri dihadapannya. Mereka hanya dipisahkan oleh meja bundar diantara mereka. “diamlah selamanya jika kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya.” Sarah meninggalkan Daniel, dan berjalan kearah lift tanpa mengenakan alas kakinya.
‘sangat sial....sepatu pun lupa aku pakai..’ Sarah berbicara pada diri sendiri.
Sarah berusaha tetap bersikap ramah kepada semua karyawan yang menyapanya. Bagaimana pun masalah pribadinya bukan merupakan konsumsi publik. Begitu juga dengan masalah Nana. Semua karyawan hanya mengetahui kalau Nana meninggal karena penyaki yang dideritanya. Berbekal foto Nana yang sedang dirawat dirumah sakit ketika mereka mengunjungi kantor cabang yang terbakar. Nana baginya adalah orang baik dan harus diberikan sesuatu yang baik pula.
Sarah masuk kedalam ruangan kerjanya tanpa sepatu dan Jun memperhatikan Sarah yang bertelanjang kaki.
Dengan cepat ia berlari keruangannya dan memberikan sendalnya
“nona Sarah Li pakailah ini. “ Jun berjongkok dihadapn Sarah dan memberikan sepasang sendal berwarna merah muda dengan ukuran besar.
“ini sendal milik mu?” tanya Sarah sambil melihat sendal dan Jun bergantian
“iya... ini milik saya.. Saya sangat menyukai warna pink seperti ini.”
“oh...”Jawab Sarah singkat dengan ekspresi datar. Sambil memakainya Sarah berpikir, Jun adalah pria yang tampan mirip dengan oppa dalam drama korea yang dilihatnya. Sangat jarang ia mendengar
pria menyukai warna merah muda.
“anda merasa saya aneh karena menyukai warna itu??” Jun berdiri sambil meletakkan tangannya disaku celana
Sarah hanya menggeleng. “tidak ada yang salah. Laporan rapat tadi tolong serahkan kepada saya hari ini ya...”
“lepaskan....” suara Daniel terdengar nyaring dilantai 15 ini. Sarah dengan cepat berbalik badan dan
melihat Daniel ada dibelakang dirinya. Aura dingin Daniel membuat Sarah merinding, pria ini menatap dengan tajam seolah akan membunuh orang dengan tatapan matanya. Sarah yang terpaku dengan tatapan Daniel merasa bingung apa yang harus dilepaskan olehnya.
Daniel melihat kearah kaki Sarah, dan akhirnya Sarah memahami maksudnya adalah melepaskan sendal. Daniel berjalan kearahnya dan meletakkan sepatu flat Sarah dikakinya. Kemudian Sarah melepas sendalnya dan Daniel memasangkan sepatu dikaki Sarah.
“suara kamu begitu keras hanya karena sendal?? tanya Sarah bingung.
“aku tidak marah...” jawab Daniel mengalihkan pandangannya sambil berdiri.
“dasar suami aneh...” kata Sarah dengan kesal.
Jun merasa kaget dengan ucapan Sarah “Pak Daniel Long ternyata memang suami anda?? “
Daniel dan Sarah mengangguk bersamaan melihat Jun dengan tatapan aneh.
“Waah keren sekali. Kedua idola saya ternyata adalah suami istri...” Jun menutup mulutnya, sungguh kebetulan
__ADS_1
yang luar biasa.
“saya kira kedekatan anda karena hubungan baik keluarga anda. Jadi kalian seperti kakak dan adik..... Wah....
hebat sekali...” Jun masih sibuk mengagumi Sarah dan Daniel. Tapi menurut Sarah tidak ada yang spesial dari hubungan mereka.
“aku tidak pernah berniat menjadikan dia kakak angkat.” jawab Sarah dengan Santai sambil membuka ruangan
kerjanya.
“apa kami tidak terlihat seperti pasangan suami istri??” tanya Daniel kepada Jun
“tidak sama sekali tidak. Saya pertama kali melihat anda dikantor semalam dan dari cara bicara anda tidak
terlihat anda pasangan suami istri. Lebih kearah rekan kerja atau atasan kepada bawahan.” Jun menggerakkan jari telunjuknya kearah Daniel dan Sarah Li.
Daniel mengerutkan keningnya batinnya mulai bergejolak dan memikirkan alasan Sarah yang selalu menghindarinya
di kantor, jangan – jangan karena sikap dirinya.
“apa aku seburuk itu??” tanya Daniel sambil mendekat
Jun memegang dagunya dan kemudian menjawab dengan logis “jika anda bicara tentang hubungan kerja sama saya rasa wajar. Tapi jika nona ketiga Li membawa perasaan hubungan suami istri, saya rasa sangat tidak berperasaan.”
Daniel adalah orang yang terbuka dalam menerima saran dari mana pun. Perkataan Jun ada benarnya, Daniel
mengingat waktu pertama kali bertemu Sarah diperusahaan ia menangis dan bersikeras kalau dia tidak mau bekerja sama dengan dirinya. Beberapa kali dikantor ia juga terlihat berwajah masam kepada dirinya. Daniel masih terdiam menganalisa semuanya.
David Long dan Andy Li yang dari tadi melihat mereka bertiga tersenyum menatap Daniel.
“aku sendiri bingung melihat putraku. Ia sudah mencintai orang yang sama dari mulai dia kecil. Tapi untuk hal seperti ini pun dia tidak mengetahui alasannya.”
Andy Li tersenyum “cinta membuat orang harus belajar tanpa henti..”
“aku rasa ada bagusnya menjadikan Jun sebagai asisten pribadi Sarah.” sambung Sisca Li
“ya.... agar pria ini bisa mengetahui saingan dalam percintaan...”jawab Serena sambil tersenyum licik
Mereka berempat mengangguk secara bersamaan sambil melihat Daniel dan Jun yang masih berdiskusi dengan
hubungannya dengan Sarah.
__ADS_1