
Lamunan Daniel melayang ketika ia bertemu
dengan Sarah. Waktu itu Daniel melihat Sarah yang mengenakan gaun merah dengan
ruangan ganti yang terbuka tiba - tiba dihadapannya. Dia sangat terpukau dengan
kecantikan Sarah. Kecantikannya luar biasa, warna kulitnya terpantul dengan
sempurna karena pakaian berwarna merah yang dikenakannya.
Takut dirinya lepas kendali dengan cepat Daniel
meninggalkan gedung mamaya dan kembali kehotel. Ia baru menyadari kalau hotel
tempatnya menginap ternyata adalah milik Sarah Li. Ia baru mengetahui hal itu
dari Jackie dihari yang sama ketika mereka bertemu. Seringnya Daniel berada
diluar negeri membuat dirinya kurang mengikuti perkembangan usaha keluarga Li.
“Daniel,,,,” Jackie lagi – lagi menyadarikan
Daniel dari lamunannya. Daniel kembali sadar dan menaikkan alisnya menatap
Jackie yang ada dihadapannya.
“kamu tidak seperti biasanya. Siang ini kamu
lebih banyak melamun.” Protes Jackie.
“mungkin karena tidur diruang tamu,,” celetuk
Chandra
Serena tertawa lepas sambil berkata
“baiklah...malam ini aku akan pindah diruangan Sarah. Kamu dan Daniel silahkan
tidur bersama.”
“tidak boleh...” kata Mayleen.
Semua orang melihat Mayleen . “kenapa ma??” tanya
Sisca.
“kalian kira mama dan papa tidak tahu? Serena dan
Chandra sudah menikah tiga hari yang lalu. Bukan begitu Chandra dan Serena
Li??” Mayleen memutar posisinya menatap kearah Serena dan Charlie secara
bergantian.
“mama.... mamaa....bagaimana bisa tahu??” tanya
Serena dengan gugup.
“kamu lupa bagaimana keluarga Li didepan semua
orang, perusahaan dan lembaga?” kata Mayleen yang sudah beberapa hari menahan
diri untuk tidak bicara hal ini kepada mereka berdua.
“sayang..sudah lah, menikah adalah hal yang baik.
Jangan marah lagi....” bujuk Andy Li sambil memegang telapak tangan Mayleen
“mama senang anak kedua kita menikah dan memang
mereka akan segera menikah. Tapi tidak melibatkan kami, ketika mempercepat
pernikahan tentu saja membuat mama marah.” protes Mayleen.
“ini adalah salah saya tante...” Chandra
mengambil alih tanggung jawab. Padahal ia mengetahui dengan jelas saat itu
Serena yang menginginkan agar mereka menikah lebih awal.
Sisca dan Jackie terkejut bukan main, mereka juga
tidak mengira hal ini akan terjadi. Mereka saling bertatapan dan kemudian
melihat Serena dan Chandra bergantian.
“mama tahu bukan kamu yang meminta mempercepat
hari pernikahan kalian.” Tatapan tajam Mayleen yang sedang menghakimi kedua
__ADS_1
orang ini, membuat mereka berdua merasa takut dan merasa bersalah. Tidak ada
yang berani menatap Mayleen yang sedah marah. Mirip seperti seekor ular yang
sedang memangsa makanannya dan bersiap menelannya hidup – hidup .
“maaf ma...” kata Serena sambil menunduk
menyesali kesalahannya
“tidak masalah. Mama juga bukannya tidak merestui
kalian. Lagi pula cara pernikahan kalian juga sudah hampir selesai
persiapannya. Lebih baik mempercepat acara saja. Bagaimana pun kami berusaha memahami
keinginkan kalian ..lakukan saja jika menurut kalian baik. Mama akan mendukung
kalian.”
“terima kasih mama dan papa...” Serena berlari
kearah mama dan papanya , memeluknya dari belakang kemudian memberikan hadiah
ciuman di pipinya.
"terima kasih om dan tante." kata
Chadra dengan canggung sambil berdiri membungkukkan tubuhnya kepada orang
tua Serena Li.
"mulai sekarang, kamu panggil mama dan
papa." kata Mayleen dengan ketusnya.
"maaf... ma... pa.." jawab Chadra
terbata - bata.
Serena kembali ketempat duduknya dengan senyum
gembira sambil menggenggam tangan Chandra. Senyum penuh cinta karena pernikahan
mereka mendapat restu kedua orang tuannya.
Sisca membesarkan pandangannya kepada Serena
Dengan senyum merasa bersalah Serena menggaruk
rambutnya yang tidak terasa gatal. Tidak ada rahasia diantara tiga saudara
perempuan ini. Mengetahui adik perempuannya menikah lebih awal dan merahasiakan
darinya membuat Sisca merasa terabaikan.
“bukan seperti itu kakak... kakak sangat sibuk
dengan persiapan pernikahan. Adik kecil juga sibuk dengan pekerjaannya.
Aku tidak sengaja mengambil keputusan untuk menikah.”
Sisca tidak percaya dengan perkataan Serena,
tanganya masih bersilang didadanya. Tatapan matanya semakin tajam. Ia bukan
seperi Sarah yang suka membuat keputusan secara cepat. Serena seorang pemikir,
tidak mungkin mengambil keputusan tergesa – gesa.
“baiklah..aku jujur. Waktu itu secara tidak
sengaja aku melihat Chandra sedang berbicara dengan mantan pacarnya. Aku sangat
marah saat itu, walau ia sudah menjelaskannya tetap saja aku tidak percaya.
Tiba-tiba saja mulutku bicara ‘buktikan keseriusan kamu dan mari menikah
sekarang.’ dan ya..... kami langsung mengambil data – data yang dibutuhkan.
Dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah mendapatkan akta resmi pernikahan
kami.” Jelas Serena dengan lugas.
“kekuatan cinta memang luar biasa.” kata Jackie
sambil menganggukkan kepalanya.
Sisca meliirik Jakcie yang terkesan tidak membela
__ADS_1
dirinya yang diabaikan dalam peristiwa penting dalam hidup adiknya.
“ehem... “ Jackie berdeham kemudian berkata “kamu
sebagai adik ipar harusnya menghargai kakak tertua. Dan kamu sesama saudara
ipar... harus menjaga adik ipar ku dengan baik. Paham ya...” Jackie berusaha
bersikap tegas demi menyenangkan perasaan istri nya.
Sarah mengangguk puas dan menyetujui semua
perkataan Jackie sambil menunjuk Serena dan Charlie secara bergantian.
“tapi ma.... jelas adik kecil kita tidak boleh
satu kamar dengan Daniel karena mereka belum menikah.” kata Serena
“tentu saja ia tidak akan satu kamar dengan
Sarah.” jawab Mayleen
“semalam karena buru – buru dan kita sudah
terlalu larut sampai disini jadi satu kamar belum dibereskan oleh pelayan kami.
Sekarang sudah siap, kamar Daniel ada disebelah kamar Sarah.”
Prediksi berubah, awalnya Huanran dan Mayleen
yang pergi hanya dirinya dengan kedua putrinya saja. Sisca yang berubah pikiran
dan Alex yang ikut bergabung dengan mereka membuat kebutuhan kamar yang hanya 5
berubah menjadi 6. Maka, dengan lapang dada Daniel tidur diruang tamu. Saat
itu, Charlie melihat Daniel yang sedang berbaring disofa dengan satu tangan
mengangga kepalanya dibawah bantal. Ia langsung berpikir, pernikahan
mereka belum diketahui keluarga. Dia tidak boleh satu kamar dengan Serena
untuk menghidari masalah, Charlie pun tidur disofa ruang tamu bersama Daniel.
Angin dari pantai yang sangat dingin sangat menusuk kulit. Selimut tidak cukup
menghangatkan tubuh Charlie. Berbeda dengan Daniel yang tidur tanpa terusik sedikit
pun dengan dinginnya malam.
“sayang, barang-barang kamu sudah dipindahkan
dari kamar Sarah.” kata Huanran
“baik, terima kasih ma...” jawab Daniel sambil
mengangguk.
Kamar yang digunakan Sarah saat ini adalah kamar
Daniel. Setiap kali mereka menginap di pulau ini. Daniel akan menggunakan kamar
itu, tidak hanya karena pemandangannya yang cukup bagus bisa terlihat dari
dalam kamar. Tapi juga kenyamanan tempat tidur dan fasilitas yang lain sudah
disesuaikan dengan standart keinginan Daniel.
“aku kembali dahulu ke kamar..” kata Daniel
sambil bangkit dari kursi makannya dan berjalan meninggalkan semua orang.
Pulau pribadi ini memiliki luas tanah hanya 1
hektar. dengan posisi kamar yang melingkar menghadap kearah pantai. Kamar
Daniel menghadap kearah barat, ia bisa melihat keindahan matahari terbit dari
dalam kamarnya. Ini alasannya ia sangat menyukai kamarnya dan tidak ada niat
mengganti dengan kamar yang lain.
Ditengah – tengah rumah ada kolam renang pribadi
yang cukup luas. Taman bunga didepan masing – masing kamar, membuat
suasana asri. Dua pemandangan berbeda disajikan pada masing-masing bagian
ruangan. Disisi sebelah bisa melihat keindahan pantai dan disisi yang lain bisa
__ADS_1
melihat taman indoor yang cukup menarik.