
Kening Sarah mengalir keringat
yang cukup banyak. Sarah masuk kedalam mimpi buruknya, Daniel berada
disampingnya dengan setia menunggu sambil menyeka keringat didahi Sarah.
Dokter datang memeriksa Sarah dan
tidak menemukan sesuatu yang salah dari kesehatan Sarah. Detak jantungnya lebih
cepat, sangat terlihat jelas kalau Sarah sedang mengalami mimpi buruk.
David Long dan Andy Li tidak
beranjak dari kamar Sarah Li dan Daniel Long walau dokter sudah pergi
meninggalkan kamar mereka.
“aku akan menjaga Sarah dengan
baik, kalian beristirahat lah.”
David Long terlihat berdiam diri
dan tidak lama ia menghentakkan kakinya kelantai, angin berhembus kencang dan
menyebar keseluruh bangunan. Perisai tidak kasat mata pun terbentuk menutupi
seluruh bangunan hotel.
“papa sudah menyegel tempat ini,
selain kita tidak ada yang bisa menggunakan energi mereka ditempat ini. Selain
itu, prisai ini tidak akan bisa ditembus
oleh klan yang memiliki sifat buruk kepada Sarah.” David Long melipat kedua
tangannya didadanya.
“terima kasih atas bantuanmu
sahabat.” kata Andy Li yang terlihat cemas melihat Sarah.
“Sarah adalah putriku, dari dulu
dia sudah aku anggap seperti putri ku sendiri. Melihatnya seperti ini sudah
melukai hatiku. Aku tidak bisa membiarkan ada orang lain yang berniat
mencelakai diri nya.” David Long penuh kemaran ketika mengucapkan kalimat itu.
Ia merangkul pundak Andy Li
“kita serahkan saja Sarah Li
kepada Daniel, dia akan menjaga Sarah dengan baik. Percayalah padanya.”
Andy Li mengangguk sambil menatap
Daniel. “aku tidak pernah meragukan hal itu. Mari kita kembali kekamar.” kata
Andy Li sambil berlalu meninggalkan kamar Daniel bersama dengan David Long.
Daniel menyeka keringat didahi
Sarah
“bangunlah sayang… aku sangat
merindukanmu. Jangan membuatku khawatir.” bisik Daniel ditelinga Sarah.
“apa pun yang kamu alami
sekarang, ketahuinya itu semua hanya mimpi. Aku ada disini untuk menjagamu dan
menemani dirimu. Jangan takut.” kata Daniel sambil mengusap rambut Sarah yang
panjang dan lembut.
Sarah tidak ada reaksi, tapi
setelah mendengar bisikan Daniel. Sarah jauh lebih tenang, tidak terlihat
keringat yang membasahi keningnya lagi. Sepertinya Sarah sudah lewat dari mimpi
buruknya.
Dengan santai Sarah berbalik arah
dan memeluk Daniel disebelah kanannya. Daniel terdiam sesaat menatap Sarah,
wajah cantik ketika tidur sulit ditolak untuk didekati oleh pria normal seperti
__ADS_1
Daniel.
“sekarang aku baru tahu alasannya
kenapa kedua orang tuamu lebih suka mengurung mu dirumah. Dan tidak boleh
keluar rumah tanpa penjagaan dari keluarga.” Sudut bibir Daniel terangkat keatas
“jika ada pria lain yang bersama
denganmu dan kau melakukan hal yang sama kepada mereka, aku yakin tidak ada
yang bisa menjamin keselamatanmu dari cengkraman pria itu.” Daniel melanjutkan
bicaranya dan menempelkan dahinya didahi Sarah yang terlihat sedang mengunyah
sesuatu.
Bibir Daniel tersenyum puas dan tidak
ada pilihan bagi Daniel selain menemani istrinya tidur.
Sarah terbangun ketika hari sudah
gelap. Tangan masih memeluk tubuh Daniel dengan erat seolah tidak ingin
melepaskannya begitu saja.
Daniel ikut membuka matanya dan
menatap Sarah yang kedapatan sedang memandangi dirinya.
“kenapa aku disini??” tanya Sarah
menatap sekeliling kamar. Kepalanya masih bertumpu pada lengan kekar Daniel.
“tadi kamu pingsan di tepi sungai
tengah hutan. Aku yang membawa kamu kedalam hotel.”
“benarkah?” Sarah terlihat
meragukan perkataan Daniel.
“ya… papa David dan Andy ikut
menemani kita disini tadi. “
terkejut sambil dan langsung duduk di tempat tidur.
Daniel mengangguk. Anggukan
Daniel membuat hati Sarah risau, selama ini seingat Sarah ia sudah pernah mengalami
hal seperti ini. Setelah papanya mengetahui hal itu, Sarah akan dikurung dalam
kamar selama sebulan oleh kedua orang tuanya dan tidak boleh keluar rumah.
Penjagaan didepan kamar sampai diluar rumah ekstra ketat. Sarah merinding
mengingat semuanya.
Susah payah Sarah menelan
ludahnya sambil melihat Daniel dengan tatapan penuh harap.
“jangan khawatir, ada aku yang
akan menjaga mu. Papa tidak akan melakukan hal yang sama kepadamu. Karena kita
sudah menikah sekarang.”
Ucapan Daniel Long memberikan angin
sejuk dalam hati Sarah. Wajahnya menjadi ceria kembali.
“baguslah jika begitu.” kata
Sarah sambil mengusap dadanya.
“kamu tidak lapar??” kata Sarah
lagi yang melihat Daniel menopang kepalanya dengan satu tangan.
“kamu mau makan?? di restoran
atau dikamar?” Daniel bicara tanpa merubah posisinya sama sekali hanya matanya
yang menatap Sarah tanpa ekspresi sama sekali.
“restoran, aku rasa sangat lapar.
Aku akan memilih makanan yang banyak malam ini.” Mata Sarah bersinar cerah
__ADS_1
ketika membahas mengenai makanan.
Daniel segera duduk dan berdiri
“ayo kita makan malam.” Daniel tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Sarah melihat wajah Daniel yang
tersenyum, hatinya sangat senang melihat senyum diwajah pria ini. Aura
ketampanannya semakin keluar ketika pria ini tersenyum. Secara tidak sadar
Sarah terbius oleh ketampanan pria ini, matanya tidak ada niat untuk melihat
kearah lain.
Daniel memanggil nama Sarah
berkali – kali tapi wanita ini tidak ada bereaksi sama sekali. Wanita
didepannya menatap dirinya dengan perhatian penuh dan terlihat tidak
tergoyahkan sama sekali. Senyum tipis diwajah Sarah membuat Daniel bingung
dengan istrinya.
“sayang… “ Daniel mengusap lengan
Sarah dan dengan segera kesadaran Sarah kembali lagi.
Seperti tidak ada kejadian apa
pun Sarah menggelengkan kepalanya sambil berkata “kenapa??”
Daniel dengan ragu berkata “tidak
ada apa – apa, aku hanya terpukau oleh kecantikan wajahmu.”
“oh…. “ jawab Sarah dengan santai
sambil berdiri dari tempat tidur. Melihat sekilas wajahnya dikaca yang terlihat
pucat. Ia lantas mengeluarkan lipstip dari tasnya dan memoleskan ke bibirnya.
Dalam waktu singkat bibirnya berwarna pink cerah.
Daniel memperhatikan tingkah
Sarah tanpa melewatkan satu detik pun ekspresi diwajahnya. Pikirannya sedikit
melayang, sepertinya memang sesuatu yang buruk pernah menimpah istrinya dan
semua kejadian itu masih membekas di hati dan pikirannya.
“sudah siap.. ayo kita makan.”
Sarah bicara sambil memiringkan kepalanya kearah kanan seolah memberi isyarat
kepada Daniel untuk bergerak sekarang.
“baiklah.. “ Daniel membiarkan
Sarah jalan lebih dahulu dan mengikutinya dari belakang.
Selama perjalanan kelantai dasar
tempat restoran berada tidak ada yang mereka berdua bicarakan. Keduanya hanya
diam tenggelam dalam dunia mereka masing – masing. Begitu keluar lift dan
berjalan kearah restoran mereka, kedua saudaranya terlihat sedang menikmati
makan malam bersama suami mereka.
“sebelah sini….” Serena Li dengan
semangat melambaikan tangan kearah Sarah yang berjalan kearahnya.
Daniel mengarahkan pelayannya
untuk menggeser meja agar mereka bisa bergabung dan makan malam bersama.
Setelah pelayan selesai Sarah dengan santai duduk disebelah Serena Li dan
membuka menu yang diberikan pelayan restoran.
“kakak…. aku akan sangat sibuk
dengan memilih menu makan malamku. Jangan ganggu aku sejenak ya..” Sarah
menunjukkan barisan depan gigi depannya yang rapi kepada kedua saudaranya yang
mengangguk melihat kearahnya.
__ADS_1