
Sekitar 30 menit dimanjakan oleh pelayan salon membuat Sarah menjadi lebih segar. Ia membuka matanya dan melihat penampilan barunya, tampilan rambut bergelombang… Ternyata dirinya sangat cantik dengan rambut seperti ini. Sarah melihat dari sisi kanan dan kiri rambutnya. Tidak ada yang mengecewakan.
“pekerjaan kalian sangat sempurna…” puji Sarah.
Tampilan model rambut yang sama. Serena menunjukkan gaun yang dikirim mama mereka tadi.
“adik kecil, kamu mau yang mana??” tanya Serena
Sarah Li memili gaun yang lebih pendek. Dan setelah digunakan ternyata panjangnya dibawah lutut. Semua Sarah mengira panjangnya akan diatas lutut dan menyulitkan dirinya dalam bergerak. Ternyata tidak. Gaun terlihat sangat sopan dengan lengan panjang dan sulaman emas digaun yang dikenakan. Benar – benar cocok dengan kesukaan Sarah.
“dari mana gaun ini??” tanya Sarah sambil melihat kedua saudaranya
“karyawan mama yang mengantarkannya tadi kepada kita.”
Sarah melihat kearah Sisca dan kemudian masuk keruangan ganti pakaian. Baju yang sempurna dengan dandanan yang sempurna. Sarah menyukai penampilannya yang sekarang ini. Ia memutar mutar ujung rambutnya sambil tersenyum melihat dirinya didepan cermin.
Sisca dan Serena juga sudah selesai dengan penampilannya. Sarah menyempatkan diri mengeluarkan ponsel dan berfoto bersama kedua saudaranya kemudian mengirimkan foto itu di grup keluarga mereka yang hanya terdiri atas 5 orang saja. Sarah tersenyum puas melihat foto mereka yang cantik.
Sarah pun mengirimkan pesan : ‘mama.. kalau mau cari model pakaian. Kami bertiga bersedia menjadi model untuk brand mama…’
Sisca dan Serena melihat pesan yang diketik Sarah kemudian kakak pertamanya berkata : “mari kita pergi, waktu kita tanya tinggal 20 menit lagi. Kita tidak boleh terlambat karena acara makan siang bersama ini diadakan oleh perusahaan kita.” Sisca Li melihat jamnya dan bergegas ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Makan siang kali ini diadakan disebuah hotel berbintang yang banyak dikunjungi oleh orang kelas atas karena
letaknya dilantai paling atas hotel dan para pengunjung bisa menikmati keindahan bangunan kota dari lantai 30. Makanan yang disajikan juga tidak murah.
Mereka sampai dihotel tempat diadakan acara makan siang dan untungnya mereka sampai 5 menit sebelum acara dimulai. Papa mereka sangat tidak menyukai kata ‘terlambat’. Mereka bertiga bergegas masuk kedalam gedung dan naik kedalam lift. Mereka bertiga jalan dengan tergesa – gesa dan tidak memperhatikan kalau mereka bertiga menjadi pusat perhatian karena kecantikan mereka bertiga.
__ADS_1
Sarah berjalan dibelakang kedua kakaknya dan begitu pintu lift terbuka, mereka langsung masuk kedalam lift dan menekan angka 30 sebagai tujuan mereka. Tidak perlu waktu lama mereka bertiga sampai dilantai paling atas. Serena dan Sisca berjalan didepan sedangkan Sarah dibelakang kedua kakak perempuannya. Sudah banyak tamu yang datang.
Begitu mereka bertiga sampai diruangan perjamuan. Andy Li yang menyambut tamu terpukau dengan penampilan ketiga putrinya yang jarang sekali mau memakai pakaian seragam seperti sekarang ini. Matanya naik dan turun memperhatikan pakaian ketiga putrinya.
“seperti biasa, putriku selalu cantik dan selalu menjadi kebanggaan papa..” Andy Li mengembangkan kedua tangannya menyambut ketiga putrinya dan memeluk mereka bersamaan.
“papa juga selalu menjadi pria terbaik dihidup kami dan cinta pertama kami…” jawab ketiga putrinya bersamaan.
Andy Li tersenyum puas. Sebagai seorang ayah, bisa membesarkan ketiga putri hebat seperti ini adalah bonus luar biasa yang diterimanya. Walau beberapa orang selalu mengatakan tanpa anak laki – laki tidak ada penerus keluarga. Bagi Andy Li ketiga putrinya ada penerus terhebat dirinya. Walau ia sangat keras dalam mendidik ketiga putrinya tapi melihat mereka yang seperti sekarang ini rasa bangga luar biasa dalam hatinya.
Ketiga putri cantiknya tidak pernah mengeluh lelah dengan didikan keras darinya. Mereka tetaplah putri
kecilnya yang manja dan cantik. Semula ia selalu berpikiran jika ketiga putrinya menikah maka sikap mereka akan berubah. Tapi diluar dugaan, putri pertamanya tetap bersikap biasa kepada dirinya. Setiap hari putri pertamanya selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama keluarga dan pada hari libur terkadang ia menghabiskan waktu dirumah bersama dengan keluarga.
“mari menyapa tamu yang sudah datang…” kata Andy Li sambil melepas pelukannya kepada ketiga putrinya.
Long yang dari tadi memperhatikan keluarga Li merasa iri dengan ketiga anaknya yang sangat menyayangi orang tuanya.
“apakah aku bisa mendapatkan pelukan hangat itu??” tanya David Long sambil mengembangkan kedua tangannya.
Sarah Li tersenyum senang dan memeluk David Long yang baru saja sampai diruangan. “papa juga ada pria
terbaik…” Sisca dan Serena ikut memeluk David Long. Kerena bagi mereka David Long adalah papa kedua mereka. Saat mereka ada masalah dan tidak ada kedua orang tua. Mereka akan menjadi orang tua pengganti mereka berdua.
“sungguh bahagia memiliki anak perempuan seperti kalian.” puji Daniel Long melihat ketiga putri keluarga Li
secara bergantian.
__ADS_1
“kami juga merasa bahagia. Om memperlakukan kami seperti anak sendiri. “ jawab Sisca Li
“bukankah sekarang om sudah memiliki anak perempuan?? Setidaknya terbayarlah sedikit..” Serena sambil
menunjukkan ibu jari dan jari telunjukknya kepada David.
David tertawa mendengar Serena berbicara. Dari dahulu ketiga putri keluarga Li ini memang memiliki karakteristik yang berbeda – beda. Serena suka bercanda, Sisca adalah seorang pendengar yang baik sedangkan Sarah seorang putri yang manja dan menyenangkan. Mereka bertiga adalah komponen yang tepat dan saling melengkapi satu dengan yang lain.
David Long membawa Sarah Li berkeliling berkenalan dengan beberapa pejabat penting yang hadir pada saat
itu. Sarah merasa senang karena ini adalah pertama kalinya ia mengikuti perjamuan bersama keluarga dan mertuanya. Sarah merasa terlindungi dengan sangat baik sekarang ini. Berkenalan dan berbincang – bincang mengenai iklim usaha dan juga peraturan yang berlaku dalam usaha adalah hal yang dibahas mereka pada saat sekarang ini.
Sarah pernah berkuliah di fakultas hukum. Lama hidup dan setiap ada perubahan dalam perkembangan
informasi setiap anggota keluarga Li akan kuliah lagi dan memperdalam ilmunya. David Long merasa Sarah Li yang biasa dikenalnya, sangat berbeda ketika berbicara tentang masalah seperti ini.
Daniel tersenyum menatap Sarah yang berbicara dengan lancar seperti seorang dosen yang berbicara dengan mahasiswanya.
“menantu anda sangat pintar pak David Long. Sungguh sangat menyenangkan berbicara dengan anda.” puji Gubernur kepada Sarah yang tersenyum kearahnya.
“ya… putri ku memang sangat special. Dari kecil hingga sebesar ini aku sudah mengincarnya sebagai menantu
keluarga Long. Untungnya putra ku menikahinya. Aku sungguh beruntung memiliki dirinya.” Puji David sambil memegang punggung Sarah Li.
“jika nona ketiga Li ada waktu kita bisa atur pertemuan kita lagi. Saya rasa ide yang anda sampaikan sangat
bagus untuk mendukung usaha kecil dikota kita.” Gubernur memberikan pujian dan mengangkat gelas berisi jus jeruk dan bersulang kepada David Long dan Sarah Li yang memengang minuman dengan jenis yang sama.
__ADS_1
“papa dan bapak Gubernur terlalu memuji. Banyak hal yang tidak saya pahami dan masih butuh bimbingan dari kalian berdua.” Sarah menundukkan pandangannya. Bagaimanapun ia adalah junior dan lawan bicaranya adalah senior yang patut dicontoh dan dijadikan teladan dalam hidupnya.