
Mereka bertiga saling berpandangan. Sarah memulai
membuka suara “ini mama.... energi penyembuh.”
“jujur, aku sangat penasaran dengan apa yang
terjadi didalam sana.” Serena memijat dagunya sambil menadang kedua saudaranya.
“seperti yang aku katakan.. Mereka tidak mungkin
melakukan hal buruk kepada Daniel. Buktinya adalah ketika mama sedang marah
kepada adik kedua, tidak pernah sekalipun mama membuatmu terluka. Hal paling
esktream yang kalian lakukan adalah saling bertarung energi. Yang berakibat
hancur rumah kita. Dia tidak membuat kamu terluka.” jelas Sisca.
Serena dan Sisca menatap Sisca sambil berpikir.
Memang benar mama mereka memiliki watak yang keras, tapi memang tidak pernah
melukai mereka. Hati Sarah lebih tenang setelah merasakan energi mamanya dan
mendengarka perkataan kakak pertamanya.
“aku kasihan dengan Daniel.,,, “ kata Serena
dengan tatapan mata menerawang jauh kearah luar jendela
Sisca membesarkan matanya melihat Serena
membuatnya tersadar sudah berkali -k alimembuat gelisah adik kecil mereka.
“bagaimana Chandra?” tanya Sisca mengalihkan pembicaraan
“ooh.... dia, aku sudah membuatnya tidur.
Sekarang aku sedang menghapus ingatannya dikapal dan menggantinya dengan
ingatan yang lain.”jelas Serena.
“apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Sarah
“hal yang mengerikan.” jawab Serena.
Sisca menyikut Serena.
“Aku hanya bercanda, sebenarnya mereka tidak
sengaja masuk ke tempat pertarungan antara 2 klan yang sedang memperbutkan
wilayah mereka. Mereka menganggap rombongan kita sebagai pengganggu yang ingin
ikut menguasai wilayah itu. Jadi mereka berdua menyerang mereka habis –
habisan. “ jelas Sisca
Sarah mengepalkan tangannya “jahat sekali, kenapa
tidak berusaha mencari tahu terlebih dahulu sebelum menyerang?” ia sangat kesal
orang yang bertindak tanpa menggunakan akal pikiran mereka.
“menurutmu, jika sedang bertarung kemudian datang
orang tiba – tiba datang orang lain, apakah menurut mu tidak membuat mereka
tambah kesal? atau malah membuat mereka berpikir kalau yang datang hanya
memanfaatkan keadaan?” kata Sisca.
“bisa jadi itu yang ada dipikiran mereka.” kata
Serena sambil mengangguk.
“kemudian apa yang terjadi?” tanya Sarah lagi
“ya.... mereka dengan kompak menyerang mereka
semua. Padahal pada saat itu papa dan om David sedang berusaha berbicara kepada
mereka agar tidak berselisih. Karena kesal, mereka menyerah papa dan om David.
Papa kita terpental karena kuatnya energi mereka.”
“bagaimana dengan om David kakak pertama??”
“klan naga menerima energi sekuat apa pun pasti
tidak akan berpengaruh kepada mereka. Paling, mereka hanya terdorong 1 cm.
Melihat itu, calon suami kamu sangat marah. Bagaimana tidak marah, calon
mertuanya diperlakukan seperti itu. “ Serena dengan semangat menyambung
pembicaraan Sisca.
"maka dari itu segera terima lamaran
Daniel."
Sarah menaikkan ujung bibirnya sambil menatap
kesal ke Serena. “kakak kedua....”
__ADS_1
Serena tertawa lepas melihat wajah Sarah yang
lucu. Serena paham, kalau adik pertamanya tidak suka dengan sindiran halus
darinya.
“sudah....sudah... kamu masih sempat bercanda dalam
keadaan seperti ini.” kata Sisca melerai keduanya.
“lebih baik aku mendengar dari kakak pertama
saja. aku hanya tahu sampai bagian itu saja” Sarah mengalihkan pandangannya
kepada Sisca setelah mendengar kakak keduanya bicara.
“kakak pertama, ceritakan kepada ku...”
“Ya.. seperti itu, Daniel yang marah menjadi
tidak terkendali energinya. Dalam waktu singkat mengalahkan mereka semua. Saat
itu, mereka mengira kalau semua sudah tidak ada yang melakukan penyerangan
lagi. Ternyata mereka salah, ada seorang manusia diantara mereka. Karena ia
melindungi Chandra,,,,,,” Sisca menghentikan pembicaraannya sambil menatap
Seren yang sudah tertunduk lesu.
“lanjutkan...” kata Sarah sambil menggoyang –
goyangkan lengan Sisca.
“Ia terkena panah beracun dan itu yang menyebabkan
tubuhnya lebam seperti yang kamu lihat.”
“kenapa ia tidak menggunakan kekuatannya?” kata
Sarah kesal.
“wajah Daniel bagimu memang sangat dingin dan
menyebalkan. Tapi ia tidak mungkin menyerang seorang manusia biasa. Manusia
biasa yang menerima serangan darinya, tidak akan bisa bertahan hidup adik ku.
Orang yang melepaskan panah beracun itu adalah manusia asli.” jelas Serena
“jadi, sekarang disamping mendapatkan hukuman
atau apalah yang sedang dilakukan para orang tua..... ia juga sedang menahan
rasa sakit karena racun ditubuhnya” Sisca menarik nafas panjang.
sendiri dia tadi berjalan dengan gagah keluar dari kapal yacth seolah tidak ada
masalah sama sekali.”
Sarah tidak mengingat Daniel berjalan tadi, memang
hanya terlihat luka pada ujung bibirnya dan lebam pada lengannya.
"aku tida melihat dia keluar kapal
tadi..." protes Sarah.
"tadi dia berjalan keluar kapal kemudian
melakukan teleportasi menuju kamarnya. mungkin ia sudah terlalu lelah."
jawab Serena
“apakah racunnya mematikan??” tanya Sarah
“sepertinya begitu... kalau tidak... mana mungkin
mama mengeluarkan energi sekuat ini.”jawab Sisca sambil melihat dinding
pembatas kamar Sarah dan Daniel.
“ini energi papa....” sahut Serena.
“kalau papa sudah turun tangan, sepertinya mama
kehabisan banyak energi.” sambung Serena.
“kakak harap Daniel akan baik – baik saja. Dia
sangat baik kepadamu dan kepada keluarga kita.”
Serena mengangguk sambil memajukan bibirnya “baru
bertemu setelah bertahun – tahun lamanya, ia dengan sabar menggendongmu sudah 2
kali ketempat tidur.”
Sarah menunjukkan wajah tidak percaya dengan apa
yang didengarnya dari Serena “benarkah??”
“tentu saja. Kamu tidak tahu, didalam mini bus
kamu tertidur dengan sangat pulas. Tidak ada satu orang pun yang berhasil
__ADS_1
membangunkan mu. Dengan suka rela Daniel menggendongmu. Padahal kita harus naik
pesawat selama 2 jam. Kemudian melalui 1 jam lebih sampai kedermaga dan sampai
kepulau ini selama kurang dari 1 jam. Kemudian semalam, ia juga mnggendong kamu
dari sofa pinggir kolam renang ke tempat tidur” Serena menjelaskan sambil
menggeleng – gelengkan kepalanya.
“benarkah itu kakak kedua??” kuping Sarah memerah
karena malu.
Sisca tersenyum mengingat semuanya. Ia masih
ingat ketika didalam mobil menuju dermaga dan sampai didalam yacth Daniel tidak
melepas Sarah sama sekali dari pangkuannya. Ia sampai tertidur sambil memangku
Sarah seperti seorang papa yang menjaga putrinya.
Bahkan semalam, ketika mereka sedang mengadakan
acara karoke di pinggir kolam renang. Lagi – lagi Sarah tertidur, musik yang
begitu kuat sudah tidak terdengar lagi ditelinganya. Hanya Daniel satu –
satunya orang yang menggendongnya ke dalam kamar.
Sarah tidak mengingat kejadian itu. Medengarkan
kejadian itu, Sarah sangat malu. Bagaimana mungkin ia bisa berbicara dengan
begitu kejam kepadanya jika memang dia sudah begitu baik kepadanya.
Jackie teriak dari luar kamar “pintu
terbuka,,,,,”
Mereka bertiga langsung lompat dari tempat tidur
dan berlari keluar kamar. Pintu kamar Daniel memang sudah terbuka. Mereka
saling meleparkan pandangan, tidak ada yang berani memasuki kamar itu. Pada
orang tua belum ada keluar dari dalam kamar.
“Sarah Li masuk...” akhirnya ada suara dari Andy
Li dari dalam kamar.
Serena dan Sisca memandang Sarah dan memberikan
kode dengan menggerakan kepalanya kearah kamar Daniel.
“cepatlah masuk. Jangan buat mereka menunggu
lama.” Sisca mendorong Sarah ke dalam kamar.
Serena memberikan kode dengan menggerakkan jari
tangannya agar Sarah terus masuk kedalam kamar. “kami akan menunggu kamu
disini. Tenanglah, masuklah..” bisik Sisca.
Dengan ragu Sarah masuk kedalam kamar dan membuka
lebar pintu kamar Daniel, susana gelap karena dilangit yang masih mendung,
tirai jendela Daniel yang masih tertutup ditambah lagi lampu kamar tidak
dihidupkan. Sarah berjalan tanpa alas kaki. Mendekati tempat tidur, Sarah
merasa kakinya menginjak sesuatu yang lengket. Pantulan dari cahaya yang masuk
dari pintu yang terbuka lebar membuat Sarah terkejut.
“aahh...” Sarah teriak dan mundur satu langkah
dari posisinya sekarang. Tubuhnya bergetar, ada aroma darah tercium dengan
kuat. Posisi ke empat orang tua masih berdiri di posisi yang sama. Tatapan mata
mereka lebih tajam dan mengerikan dari sebelumnya. Jatung Sarah bertedak lebih
kencang, darahnya berdesir tidak karuan. Pikirannya kosong. Tepatnya ia tidak
berani memikirkan apapun. Kilat mata merah dari keempat orang tua menandakan
mereka dalam kondisi marah atau baru mengeluarkan tenaga yang kuat.
“mendekatlah..” suara David Long yang berat
membuat hati Sarah gelisah dan jantungnya berdetak semakin kencang.
Sarah ingin bergerak kearah mereka, hanya saja
ketakutan nya melihat kilatan mata merah dari ke empat orang tua membuat
nyalinya hilang begitu saja. Kaki Sarah kaku benar – benar tidak bisa mengikuti
perintah otaknya.
Kepala Sarah menggeleng dengan cepat dan kakinya
__ADS_1
bukan berjalan maju, tapi malah mundur kebelakang.