
Sarah menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya pada sandaran kursi kerjany sambil memejamkan matanya. Hari yang berat, hari yang penuh dengan pertanyaan yang tidak terjawab dan hari yang menguras emosi hatinya. Sarah membuka matanya dan melihat Daniel masih berbicara dengan Jun.
Kepada Sarah menjadi pusing karena semua emosi yang memuncak mejadi satu tanpa ada solusi yang
didapatkannya. Sarah kembali memejamkan matanya. Semua hal yang terjadi pada hari ini terlintas dengan sempurna dimatanya.
Sarah melihat sudah waktunya makan siang, hari ini adalah jadwal makan siang antara perusahaan Long dan
perusahaan Li. Sarah duduk kembali dan memeriksa jadwalnya hari ini. Ada pertemuan dengan pejabat Negara dan beberapa pengusaha kecil menengah. Sarah mengangguk pikirannya sudah bisa mengambil garis besar dari jadwalnya hari ini.
Sarah mengambil ponselnya dan menghubungi Serena.
“kakak dimana??”
“dibelakang suaminya yang sedang berbicara dengan sekertaris pribadimu.”
“ow…” jawab Sarah sambil memutar kursinya.
“apa kakak kedua ada waktu??” tanya Sarah berhati – hati
“kenapa??”
“kepala ku pusing?? Aku perlu kesalon. Apakah kalian bisa menemaniku… waktu kita sisa 1 jam lagi sebelum
acara makan siang bersama klien.” Sarah melihat jam tangannya kemudian melihat jendela ruangannya yang masih ada Daniel dan Jun.
“boleh, aku tidak sibuk hari ini. Sebentar aku tanya kakak pertama apakah mau ikut atau tidak.” Serena menanyakan kepada Sisca Li mau ikut dengan mereka berdua atau tidak. Sisca Li mengiyakan tanpa berpikir sama sekali.
“kakak pertama ikut.”jawab Serena
Sarah langsung berdiri dan mengambil dompetnya langsung berjalan keluar kantor. Dan tidak memperdulikan Daniel dan Jun yang terlihat sibuk dengan perdebatannya.
“papa… kami akan langsung kelokasi pertemuan. Aku butuh waktu istirahat sejenak. “ Sarah berbicara dengan
wajah yang terlihat sangat lelah.
__ADS_1
“baiklah…. begitu saja. Kita bertemu dilokasi saja.” jawab Andy Li.
Sarah pamit kepada kedua papa dan masuk kedalam lift tanpa disadari oleh Daniel Long. Jackie melambaikan tangan kearah mereka bertiga dan langsung permisi dengan para petinggi perusahaan Li dan Long untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Ketiga putri keluarga Li memilih salon yang ada didekat kantor. Posisi kantor yang strategis dekat dengan pusat perbelanjaan membuat mereka dengan mudah mendatangi salon dan berbelanja disaat waktu istirahat kerja.
Penjaga salon langsung mengenali ketiga keluarga Li. Sarah yang selalu duduk menunggu kedua saudaranya. Kali ini dia sendiri yang langsung duduk dan memberi perintah.
“tolong cuci rambut dan rapikan rambutku. Buat sedikit bergelombang. Dan tolong sekalian make up yang natural. Tolong pijat pundakku kemudian lakukan perawatan kuku tangan dan kakiku sekalian karena sebentar lagi akan ada acara kantor yang harus aku datangi.”
Sisca, Serena dan pelayan Salon mendengarkan Sarah dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Luar biasa seorang Sarah Li meminta langsung seseorang untuk melayananinya dan yang paling penting adalah ia sudah memberikan instruksi apa yang harus dilakukan.
“lakukan apa yang dikatakannya…” kata Sisca Li.
Serena mengedipkan mata dan kemudian mengajak Sisca Li keluar dari dalam salon. Sisca Li mengikuti Serena
dan langsung menanyakan “ada apa adik pertama??”
“kakak… sungguh sangat disayangkan jika keinginan adik kecil kita berdandan untuk rambut, wajah dan tubuhnya… tapi kita tidak mendandaninya dengan pakaian yang bagus. Bagaimana menurut kakak pertama??” Serena menaikkan alisnya berkali – kali. Berharap agar kakak pertamanya sependapat dengan dirinya.
tersenyum memberikan jawaban kepada Serena dan dengan segera mengeluarkan ponselnya dan berbicara dengan mamanya.
Mayleen mendengar perkataan putri pertamanya dengan sangat senang. Sarah Li sangat jarang bisa memanjakan dirinya dengan perawatan ke salon atau spa. Mendengar putri ketiganya melakukan hal itu tentu saja merupakan berita besar dan harus disyukuri. Dengan semangat ia menghubungi karyawan tokonya untuk mengantarkan 3 set pakaian untuk ketiga putrinya. Baju terbaik yang ada ditokonya.
Serena dan Sisca menunggu didepan salon dan tidak butuh waktu lama. Karyawan toko mamanya membawa tiga gaun dengan panjang yang berbeda. Ada yang panjang, sedang dan pendek. Gaun dengan dominan putih dengan motif bunga berwarna emas. Begitu melihatnya, kesan mewah langsung disuguhkan pandangan mata yang melihat.
Sisca dan Serena sangat kagum dengan kemampuan mamanya dalam memilih perancang busana untuk tokonya. Sepatu high heels berwarna putih gading menambah cantik penggunanya.
“sangat sempurna… Mari kita masuk
kedalam… “ kata Serena sambil menggerakkan kepalanya kearah dalam salon
tersebut. Sisca Li tersenyum dan
mengikuti Serena masuk kedalam.
__ADS_1
Serena yang memiliki rambut dengan panjang sepundak memilih mengingat sebagian rambutnya agar tidak menganggu saat ia makan nanti. Sisca dan dan Sarah yang mendengar ide dari Serena mengikutinya dengan tanpa ragu. Sarah tetap berbicara dengan kedua saudaranya sambil menutup matanya. Rasa nyaman dan tenang yang didapatkan Sarah sangat dinikmatinya. Rasa lelah yang ada dipundaknya melebur perlahan – lahan
membuat dirinya semakin relax.
“aku baru tahu kenapa kalian sangat suka dengan pijat dan salon… ternyata rasanya sangat menyenangkan.” kata Sarah sambil menutup matanya.
“benarkah?? apakah lain kali adik kecil mau ikut kalau kami akan lakukan pijat atau spa??” tanya Serena
“ya…aku mau…” jawab Sarah tersenyum puas.
“hari ini aku sangat lelah. Tidak
hanya sulit bagiku menerima hasil uji forensic dan visum yang mereka lakukan.
Aku juga tadi melihat foto ku dengan Daniel. Tapi aku sendiri tidak ingat kapan
gambar itu diambil. Aku melihat diriku sendiri yang berpotongan rambut pendek
sama dengan kakak kedua. Tersenyum menatap Daniel. Tatapan mata yang sangat
dalam… seperti orang yang sedang jatuh cinta.” jelas Sarah.
“bukan kah dari dahulu kalian
sudah sering bersama…” kata Sisca Li
“aku mau bertanya kepadamu kakak pertama, kalian adalah teman sekolah dan sahabat sudah cukup lama… apakah kamu mengetahui ada sesuatu diantara kami berdua??”
“bukankah dari dahulu kalian memang saling menyukai… bahkan ketika awal pertama kali kita datang di kediaman keluarga Long…”
Sarah terdiam, pikirannya berusaha mengingat apakah memang ia mencintai Daniel Long pada saat itu? Bagaimana jika hanya perasaan antara kakak laki – laki dan adik perempuan… Seingat Sarah ia memang sangat dekat dengan Daniel. Tapi ia sendiri lupa apakah ia mencintainya atau tidak??
“jangan terlalu dipikirkan adik kecil…” sambung Serena Li
“setiap orang pernah mengalami bosan dalam hubungan percintaan. Wajar apabila kamu lupa bagaimana rasa cinta itu karena bisa jadi perasaan cinta itu. Ketika hal itu terjadi sebaiknya kamu memiliki waktu untuk diri mu sendiri. Nikmati hidupmu dan biarkan dia untuk sejenak.” Sisca Li memberikan saran kepada Sarah Li yang dari tadi hanya terdiam mendengar kedua saudaranya berbicara.
__ADS_1