
“kirimkan ponsel baru jika aku memberitahukan kalau ponsel ku sudah habis daya. Sisca Li perhatikan layar
monitor dan kabari aku jika ada sesuatu yang ganjil terjadi dengan Sarah. Mereka pasti pergi kebukit kerinduan. Aku akan pergi kesana sekarang…” kata Daniel yang dengan semangat memberikan arahan kepada semua orang yang ada diruangan.
“tunggu…” Daniel yang ingin menggunakan kekuatannya untuk mendatangi lokasi Sarah menghentikan dirinya
sendiri. Dan melihat kearah sekitarnya.. “sarah….” kata Daniel dengan suara tidak yakin.
Sisca berdiri begitu Daniel menyebut nama adik keduanya.
“kamu jangan bergerak sebelum aku perintahkan… jangan mengacaukan rencanaku.” lanjut Sarah
“bagaimana aku bisa membiarkanmu seperti ini….”
“cukup dengarkan aku..” kata Sarah dan kemudian tidak ada jawaban lagi ketika Daniel berulang kali mencoba
melakukan telepati kepada Sarah.
Daniel menarik kursi dan kembali duduk dengan lemas.
“katakan kepada kami, apa yang terjadi??” kata Serena.
“Sarah tidak mengijinkan aku pergi kesana sekarang. Ia minta aku untuk menunggu. Sial….” Daniel bangkit dan
memukul dinding dihadapannya dengan kuat. Bekas pukulan dan rekatan didindin terlihat begitu dirinya melepaskan tangannya.
“tenanglah…. pasti adik kedua punya rencana khusus. Dia menghubungi kamu berarti saat ini kondisinya baik –
baik saja. Setidaknya dalam hatinya tidak ikut dalam pengaruh mereka.”
Daniel menutup wajahnya dengan telepak tanganya sambil memijat dahinya. “aku bisa gila jika seperti ini terus
menerus..” keluh Daniel sambil pergi meninggalkan ruangan control.
Kedua saudara perempuan itu masih terdiam dalam ruangan. Mereka juga bingung dengan apa yang terjadi. Tapi memang sebenarnya tidak ada salahnya jika mereka mengikuti keinginan Sarah. Karena bagaimana pun Sarah yang sedang berada dilokasi saat itu. Hanya dia yang paham kapan waktu yang tepat untuk bertindak. Salah perhitungan dan mengikuti emosi sesaat hanya mengacaukan keadaan saja.
“apa yang harus kita lakukan??” tanya Serena dengan berhati – hati.
“sebaiknya biarkan saja dia sendiri.” kata Jackie.
Mereka adalah sahabat lama, sudah saling memahami satu sama lain.
“adik pertama, kamu kembalilah keperusahaan. Biar disini kami yang akan mengaturnya.” Sisca Li memeluk Serena yang terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
“aku…. aku….” tubuhnya bergetar ketika dipeluk oleh Sisca Li
“kakak paham, apa yang kamu rasakan sekarang. Yang kamu katakan adalah waktu dimana energi besar berkumpul dan jika salah perhitungan….” Sisca menghentikan bicaranya dan sambil menepuk pundak Serena.
“kakak…. aku takut sekali…”
“jangan takut, dari cara Daniel bicara tadi… sepertinya adik kedua baik – baik saja dan pasti ia punya alasan kenapa dia ingin melakukan semuanya sendiri.. percayalah kepadanya. Kita tidak ada pilihan lain.”
Serena menangis dipelukan kakaknya,ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Sarah Li. Hanya
dirinya yang belum mendapatkan kenangan ketika mereka harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tuanya. Tentu saja ia takut, tidak ada gambaran sama sekali, siapa dan bagaimana orang yang akan dihadapi mereka.
Sisca melepaskan pelukannya, “ kamu urus saja perusahaan kita dengan baik. Bantu mama dan tante Hunran dalam mengatasi semua masalah diperusahaan. Urusan disini, serahkan kepada kami. Kami akan mengurus sisanya disini. kamu paham??” tanya Sisca dengan lembut. Sosok keibuan selalu didapatkan kedua adiknya ketika mereka sedang terpuruk dengan keadaan mereka.
Serena menghapus air matanya sambil mengangguk “aku pergi dulu…” kata Serena dan langsung menghilang dari hadapan Sisca Li. Sisca mengalihkan pandangannya kembali kearah monitor dan Jackie sudah dari tadi fokus dengan layar dihadapannya.
“apa ada yang mencurigakan??”
“tidak ada… duduklah….” kata Jackie sambil menggeser kursi untuk istrinya
Sisca memang selalu terlihat tenang dihadapan semua orang. Padahal dari dalam hatinya, ia sangat mengkhawatirkan adik kecilnya. Dipundaknya seolah ada ribuan batu berat yang harus dipikulnya. Tidak boleh melihatkan kelemahannya didepan kedua adiknya. Itulah prinsip Sisca Li yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang.
******
Sementara Daniel yang masih kesal masuk kedalam ruangan fitness tidak jauh dari ruangan control. Tanpa alat
“ganti…” teriak Daniel dengan keras
“baik tuan muda…”
Dengan cepat mereka mengganti
yang baru dan menyingkirkan yang lama… Hal yang sama berulang lagi. Hanya 2
kali pukulan samsak tinju langsung rusak ditangannya. Berkali – kali hal itu
terjadi hingga persedian samsak dirumah keluarga Long sudah habis dirusak
Daniel.
“ganti…” Kata Daniel sambil berteriak. Wajahnya yang sudah berjanggut terlihat lebih menyeramkan ketika ia
sedang marah.
__ADS_1
“sebaiknya aku bertarung saja dengan kalian…”
“DANIEL LONG…” suara David membuat ruangan terasa penuh sesak dengan orang.
Daniel hanya melirik papanya tanpa menyapa dan berkata apapun. Kekesalannya sudah menutupi semua akal sehatnya.
“apa yang kamu lakukan?? Kamu mau membuat semua orang mati ditanganmu?? Apa dengan begitu kamu akan puas??“
Daniel hanya diam, tapi tatapan mata melawan tidak bisa disembunyikannya.
“kamu mau apa?? menantang papa?? Jika itu yang kamu mau. Kita pergi sekarang cari tempat yang pantas untuk berkelahi.”tantang David yang sudah tidak sabar melihat putranya yang menatap dirinya seperti orang paling bersalah didunia.
Daniel berjalan mendekati papanya, tatapan mata menantang seolah bukan dirinya yang selalu patuh dengan
kedua orang tuanya. David dan Daniel saling bertatapan dan wajah kesal dari keduanya membuat pengawai mereka merasa terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan bagi mereka.
“pantas saja menantuku memohon kepadaku agar tidak memberitahukan apapun kepadamu. Karena sikapmu sungguh tidak dewasa.” David membentak putra tunggalnya dengan lantang
“aku yang tidak dewasa, atau kalian yang bertindak tanpa berpikir… Dia sendirian disana, suhu diluar sangat dingin. Kalian hanya melihat saja. Dia kedinginan diluar sana. Dia dalam bahaya. Dalam waktu singkat dan salah perhitungan, mereka bisa mengambil semua energi miliknya dan ia bisa mati ditangan mereka. Apa pembelaan kalian dengan semua ini??” Daniel membalas perkataan papa dengan penuh kekesalan.
2 pria keluarga Long ini saling meluapkan emosinya. Tidak ada yang mau kalah. Mereka sama – sama merasa benar dengan isi pikiran mereka berdua.
“kamu aku didik dengan baik agar kamu bisa memikirkan sesuatu sebelum bertindak..”
“sama…. aku juga berharap papa dan yang lain berpikir dengan bijak sebelum bertindak.” Ini pertama kalinya
Daniel melawan papanya dengan sangat vocal
“kamu…. cepat kembali kedalam kamar atau kamu akan menyesali semuanya….” David membentak Daniel dan suaranya sampai terdengar diruangan control.
Andy Li yang berada diruangan control langsung berlari keluar ruangan melerai perseteruan papa dan anak laki
– lakinya.
“sudah – sudah… jangan diteruskan, Daniel… kamu ikut papa keatas.” bujuk Andy Li.
Daniel awalnya tidak ada niat pergi dari hadapan papanya. Matanya menatap lurus papanya, bahkan nyaris tidak
berkedip.
“ayo lah nak…. hati kami sangat sakit ketika anak kesayangan kami berani melawan kami. Jangan membuat sesuatu yang akan kamu sesali seperti yang pernah dilakukan Sarah Li kepada mamanya…” buju Andy Li
Perkataan Andy Li membuat hati Daniel luluh. Apa yang dilakukannya tidak ubahnya dengan apa yang pernah
__ADS_1
dilakukan Sarah dan membuat dirinya sangat menyesalinya sampai sekarang.
“maaf….” kata Daniel dan langsung meninggalkan papanya. Seperti meminta maaf dengan separuh hati.