Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 19


__ADS_3

“saat itu, polisi yang melihat keadaan kami


berdua sangat prihatin dengan kondisi kami berdua. Aku meminta polisi memeriksa


keadaan mantan suamiku, aku tidak ingin memperkarakan masalah ini. Aku hanya


ingin meminta bantuan polisi itu untuk membiarkan kami kabur jauh. Dengan


bantuan polisi itu, kami bisa kedesa ini dengan identitas baru. Aku mempunyai


nama baru begitu juga dengan putraku. Aku sangat bersyukur dengan kebaikan


mereka.” Air mata sang nenek mengalir di pipinya. Sarah menghapis air mata di


pipi sang nenek.


“nenek seorang ibu yang hebat. Aku sangat bangga


dengan nenek.” Puji Sarah


“suami nenek bagaimana??” tanya Sarah lagi


“dia baik – baik saja. Sejak kami kemari aku


tidak tahu lagi kabarnya dan tidak mau tahu dengan keadaannya.” Jawab sang


nenek dengan wajah kesal


“kamu masih memiliki orang tau nak??” tanya sang


nenek.


Sarah belum menjawab kedua cucu nenek itu datang


menemui Sarah. Cucu perempuannya membawakan teh untuk Sarah.


“silahkan diminum kakak...” kata anak perempuan


itu dengan ramah.


“terima kasih... kamu cantik sekali....” puji


Sarah melihat cucu perempuan nenek yang mempunyai rambut panjang dengan rambut


di kepang dua.


Dengan malu-malu anak perempuan itu berkata


“terima kasih tante...” Anak perempuan itu langsung pergi masuk kekamar begitu


menyerahkan secangkir teh kepada Sarah


Ini adalah pertama kalinya Sarah bersikap ramah


pada orang lain, biasanya ia tidak pernah seramah ini pada siapa pun. Termasuk


pada karyawannya sendiri. Ternyata tidak ada buruknya beramah  - tamah


dengan orang lain pikir Sarah.


“aku mempunyai kedua oang tua yang masih sehat.


Papa ku sangat menyayangiku, tapi mamaku sering sekali memarahiku. Hampir


setiap hari dia selalu marah dan kesal kepadaku. Aku tidak tahu salah apa yang


aku lakukan padanya. Ia selalu menganggap yang aku lakukan salah” Kata Sarah


sambil menarik nafas panjang


“seorang ibu tidak mungkin marah kepada anaknya


jika tidak ada kesalahan yang dilakukan sang anak.” Kata nenek itu


“tidak ada kesalahan yang aku buat.” Kata Sarah


mengingat semuanya. Dan menjawab peryataan sang nenek dengan penuh percaya


diri.


“pasti ada kesalahan yang kamu lakukan...


misalnya ketika ibu menyuruh kamu untuk makan, kamu tidak langsung melakukannya.


Kamu malah bersantai-santai dahulu. Itu hal sepele, tapi bagi kamu kaum ibu itu


sama dengan membuang – buang waktu kami. Harusnya kami sudah bisa melakukan hal


lain yang berguna dibandingkan dengan menunggumu melakukan hal yang tidak


berguna.”


“hanya karena hal itu saja bisa membuat marah??”

__ADS_1


tanya Sarah  tidak percaya.


Ia memang sering terlambat ketika diminta mamanya


sarapan. Ia sibuk dengan kegiatan santainya diatas pohon. Atau ketika mamanya


memintanya melakukan suatu hal, dengan malas ia melakukan perintah mamanya.


Karena dikerjakan tidak dengan sepenuh hati, hasil yang dilakukan Sarah juga


tidak sebagus yang diinginkan mamanya. Selama ini Sarah merasa jika sudah


melakukannya maka sudah selesai kewajiban yang harus dilakukannya.


“tentu saja, apa lagi jika mama kamu mengatakan


jangan keluar rumah. Kamu tetap melakukannya dan mengabaikan dirinya. Walau


kamu sudah dewasa, tapi dimatanya kamu adalah anak kecilnya. Ia akan merasa


sedih, dari kecil dia membesarkan kamu. Ketika sudah dewasa, kamu merasa sudah


bisa mengambi keputusan sendiri dan merasa mandiri, kamu tidak lagi mau


mendengarkan pendapatnya. Ia akan merasa diabaikan karena keangkuhan diri


kamu.”


Sarah Li terdiam, memang itu hal yang sering


dilakukannya dan membuat mamanya  marah.


“apa kakak sering membuat mama kakak marah??”


tanya cucu laki – laki sang nenek yang mendadak muncul diantara mereka. Entah


sejak kapan sang cucu ikut bergabung bersama mereka.


Dengan perlahan Sarah mengangguk.


“makanya kakak jangan nakal.” Kata anak laki –


laki itu sambil menepuk pundak Sarah. Seolah - olah ia memiliki umur yang lebih


tua dibandingkan dengan Sarah.


Perlakuan anak laki – laki memberikan terapi


berharga bagi Sarah. Seorang anak kecil berani mengatakan hal seperti itu


ini.


“kamu tidak boleh seperti itu dengan kakak. Tidak


sopan,,,,,” Cucu perempuan nenek melepaskan tangan adiknya dari pundak Sarah.


“kami masuk dulu ya kakak...” permisi cucu


perempuan nenek.


Anak laki – laki tadi melambaikan tangan kearah


Sarah sambil memainkan alis matanya.


“cara cucuk nenek berbicara mirip dengan orang


tua.” kata Sarah sambil tersenyum menatap punggung kedua cucu sang nenek yang


berjalan masuk kedalam rumah.


“ya....mereka adalah sumber kekuatan ku. Aku


bersyukur selama ini mereka menguatkan diriku. Kenapa kamu ada didesa ini?”


“ada kerjaan. Sebenarnya perusahaan tempat aku


bekerja ingin mendapatkan hak paten dari sulaman Xiang. Aku berencana untuk


mengembangkan usaha sulaman ini didunia internasional. Tapi aku mengalami


kesulitan dengan ijin para anggota keluarga Liu soal ini. Mereka menginginkan


harga yang cukup tinggi ada juga yang mengatakan tidak ingin menjual hak paten


sulama Xiang. Aku berusaha memahami hal ini karena bagaimanapun sulaman xiang


adalah  kerajinan tangan yang sangat bagus dan sulit mencari anak muda


yang mau mengembangkan sulaman ini.”


“begitulah jika orang sudah berpikiran komersil


sedangkan yang satu lagi berpikiran maju kedepan. Ada yang berpikiran uang

__ADS_1


adalah segalanya, ada juga yang berpikiran melesatarikan budaya adalah hal baik


untuk masa depan. Andai nenek bisa membantu mu. Jika mata nenek masih bisa


melihat nenek akan membantu kamu menyulam dan mendidik anak muda agar bisa


mewarisi keahlian ke generasi berikutnya.”


“aku ingin menggunakan sulaman xiang pada pakaian


yang akan di produksi perusahaan kami. Jadi akan ada pembagian keuntungan.


Sepertinya aku masih perlu bernegosiasi lagi. Mungkin aku yang tidak paham


dengan kondisi keluarga Liu. Aku sudah berpikir untuk membatal saja dan tetap


membiarkannya sebagai budaya lokal.” Jelas Sarah.


Sarah melihat kearah matahari yang sudah mulai


tinggi “nenek, matahari sudah tinggi, sebaiknya nenek masuk kedalam rumah.


Nanti kulit nenek terbakar.”


Sarah berdiri sambil memegang tangan nenek


tersebut.


“jika kamu kembali kesini lagi, sepertinya kita


tidak akan bertemu lagi.” Kata sang nenek yang sudah berdiri dengan memegang


lengan Sarah


“kenapa seperti itu??” tanya Sarah sambil


mengerutkan keningnya”


“ anak laki – laki ku sepertinya sudah keberatan


menjaga aku yang sudah tua ini. Aku sudah sangat merepotkan dirinya. Aku belum


bisa pastikan aku akan berada dimana, semoga saja mereka tidak jadi


meninggalkan ku di pinggir jalan seperti yang direncanakan mereka.”


Sarah Li menutup mulutnya yang membenuk


huruf  O “bagaimana nenek bisa tahu...” tanya Sarah


“kita yang baru bertemu saja, kamu bisa tahu.


Konon lagi aku yang tinggal bersama mereka.” nenek itu berusaha tersenyum walau


Sarah tahu hatinya sangat sakit saat ini.


“aku akan membantu nenek, jangan khawatir.” Sarah


menepuk pundak telapak tangan sang nenek.


“tidak masalah anak ku. Itu adalah pilihan putra


ku, jika dulu aku tinggalkan dirinya. Ketika aku sudah tua rentah begini


membuatnya harus meninggalkan ku, aku harus bicara apa. Semoga kamu selalu


bahagia dan jangan membuat kecewa kedua orang tuamu. Bahagiakan mereka ya...”


Mata nenek itu kembali berkaca – kaca berbicara dengan Sarah walau tatapan


matanya menghadap kearah lain.


“kalau nenek bersedia aku akan membawa nenek ke


tempat ku. Aku akan meminta orang menjaga nenek dengan baik. Bagaimana? Apakah


nenek bersedia?” bujuk Sarah


“jangan nak, ada cucu ku yang selalu jadi


penyemangat bagi hidupku. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka” Nenek itu


memegang tangan  sambil tersenyum.


“Nenek juga sehat-sehat ya.. Selamat tinggal”


Sarah berkata sambil melambaikan tangannya.


Sarah tidak habis pikir, bagaimana mungkin masih


bisa bersikap tulus ketika dirimu disakiti orang lain. Apa ini yang namanya


tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan sama sekali? Harus mengalah pada

__ADS_1


nasib? Pertanyaan ini berputar – putar dihati dan pikira Sarah.


__ADS_2