Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 150


__ADS_3

Daniel segera memanggil dokter ketika Sarah menjerit kesakitan. Dokter dan perawat segera datang keruangan dan memeriksa Sarah Li.


“anda sudah sadar nona Long??” sapa dokter berwajah tampan tersebut.


“sudah.. kira – kira setengah jam yang lalu. Maaf aku lupa memberitahukanmu.” kata Daniel.


“kakak sepupu memang seperti itu. Begitu melihat istrinya sadar mata dan dunianya langsung berubah menjadi warna merah muda. Padahal kita harus memeriksa keadaan kakak ipar, apakah dalam kondisi baik atau tidak.” Dokter muda itu menaikkan kaca matanya dan ketika mereka berdua berdiri berdampingan ketiga putri Andy Li baru melihat persamaan mereka berdua. Warna kulit sama, cara memandang orang, bentuk mata, tinggi badan nyaris semua sama. Hanya model rambut saja yang berbeda.


Dokter muda itu memeriksa tangan Sarah Li. “tidak ada masalah, kakak ipar mungkin akan sedikit lama menggunakan gips dibandingkan dengan om Li karena luka yang kakak alami lebih parah dibandingkan dengan om. Jadi harap kakak lebih berhati – hati.”


Sarah hanya mengangguk.


“Dokter Hans sepupu kamu adik ipar??” tanya Sisca


“iya.... dia sebenarnya dokter spesialis dijerman. Aku lebih percaya dia yang mengobati Sarah Li.”


“lebih tepatnya, aku diculik dari Jerman kenegera ini..” Hans memasukkan kedua tangannya pada jubah dokternya.


“apa....” ketika saudara perempuan itu berbicara serentak sambil melihat kearah Daniel.


Daniel terdiam dan merasa bersalah ketika rahasianya dibuka oleh saudaranya sendiri. “sebenarnya tidak seperti yang kalian bayangkan.” Daniel tersenyum dengan merasa bersalah.


“baiklah kakak ipar, besok pagi kakak sudah boleh pulang. Harap berhati – hati dalam bergerak karena aku melihat tulang belakang kakak ada sedikit retak. Tidak parah, karena kakak masih muda maka pasti akan lebih cepat sembuh.”


Daniel membesarkan matanya “kenapa kamu tidak mengatakannya padaku??”


“bukankah sudah aku katakan??”


“apanya yang sudah kamu katakan, kamu baru mengatakannya. Tolong dibedakan Hans Long.”


“kakak dari dulu selalu begitu. Selalu membesar – besarkan masalah kalau berhubungan dengan kakak ipar.”


“dia istriku, wajar jika aku khawatir padanya.”


“dia juga kakak iparku, aku juga berkewajiban merawat dirinya sebagai dokter dan sebagai anggota keluarga,”


“kenapa kamu tidak melakukan apa – apa untuk cidera tulang belakangnya??”


“lukanya tidak parah, hanya retakan kecil kakak ku, bukan patah atau retak sehingga hancur tulang belakangnya. Tolong dipahami...”


“bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dia??”


“tidak akan terjadi apapun dengan dirinya. “

__ADS_1


Hans dan Daniel berdebat dengan sangat sengit membuat semua orang melihat mereka berdua secara bergantian.


“sudah... sudah....” kata Sarah Li berusaha melerai keduanya yang terdengar sangat menganggu telinga mereka berempat.


“DIAM...” kata mereka berdua bersamaan dengan suara kuat


Sarah terkejut dengan cara mereka bicara kepada Sarah.


“KALIAN YANG DIAM. KELUAR SANA.....” teriak Sarah yang kesal karena berani sekali mereka menyuruh Sarah keluar dari ruangan inapnya sendiri.


Begitu selesai berteriak tulang punggung Sarah terasa sakit.


“Aduh....” keluh Sarah sambil berusaha menegakkan punggungnya kembali.


“sudah aku katakan, jangan membuat kakak ipar marah.”


“kamu yang membuatnya marah sampai kesakitan.”


“aku berjanji akan membunuh kalian jika aku sudah sembuh” kata Sarah dengan merapatkan giginya melihat kedua keluarga Long itu.


Hans segera memeriksa punggung Sarah. “tidak apa – apa kakak ipar. Tenanglah, kalau dia minta jatah sebagai seorang suami. Tolak saja langsung, karena luka kakak bisa bertambah parah.”


“APA...” kali ini Daniel dan Sarah yang berbicara bersamaan.


“urus saja urusan kamu sendiri jangan campuri urusan kami berdua,,” protes Daniel.


“kakak ipar sungguh sangat hebat bisa bertahan dengan makhluk keras kepala seperti dia.” kata Hans sambil tersenyum. Lesung pipi kiri dan kanan mirip seperti yang dimiliki Daniel membuat penampilannya semakin tampan saja.


Sarah tidak bereaksi dan tidak bicara sepatah kata pun, rasa denyut dibagian punggung membuat dirinya harus menghemat energi  untuk dirinya.


Andy Li tertawa melihat keduanya “kalian tida berubah dari kecil sampai sekarang. Rumah yang sunyi begitu ada kalian serasa ada selusin orang yang bertambah didalam rumah.”


“maaf om. jika aku menganggu ketenangan om Li..”


Andy Li menggoyangkan tangannya “tidak... tidak... sungguh sangat menyenangkan ada


kalian berdua.”


“kamu dengar,, bersyukurkan keluarga Li tidak menendangmu keluar dari ruangan ini.” Daniel Long masih bersikap sinis kepada sepupunya itu.


“kalian berdua sangat kompak. “ kata Serena


“TIDAK…”

__ADS_1


“kalian memang pantas ditendang keluar dari ruangan ini” Sarah membesarkan matanya menatap kearah Hans dan Daniel.


“kamu sudah menikah dokter Hans??” tanya Sisca dengan ramah


“belum kakak ipar pertama.” Hans masih memeriksa tangan Sarah Li sambil berbicara


“kamu sangat tampan, sepertinya tidak mungkin wanita tidak melirik dirimu..”


“aku juga berpikir seperti itu, tapi sungguh kasihan kakak ipar ketiga ini. Sudah terluka, suaminya sangat cerewet ditambah lagi ia kurang cerdas. Sungguh disayangkan masa depan kakak ipar ku ini. Dan ada satu hal lagi, entah kenapa dia bisa sangat kaya. Aku curiga dengan semua ini.”


“kamu…..” Daniel terlihat kesal dengan sepupunya itu.


“kakak ipar, nanti lukanya jangan terkena air yaa…. Aku akan mendatangi dirimu untuk mengecek kondisi tanganmu.”


“baiklah terima kasih..  kamu sangat baik..” kata Sarah.


“jika kamu berniat bercerai dengannya silahkan hubungi aku.” Hans mengedipkan mata kanannya kearah Sarah


dan kemudian melirik Daniel dengan kesal. Seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.


“memangnya kenapa??” selidik Serena


“ketiga putri om Andy Li terkenal sangat cantik, berperangai baik dan pintar. Sungguh kehormatan bagiku bisa menikah dengan salah satu putri om, apa lagi dengan kakak ipar ini.” Hans tersenyum melihat Sarah dan Sarah hanya terdiam melihat Hans.


“kamu lihat…. dia tidak tertarik dengan dirimu… jadi jangan banyak bicara” Daniel semakin kesal dibuatnya.


“dia bukan tidak tertarik hanya malas mencari masalah dengan dirimu.”


Sisca dan Serena tertawa mendengar perdebatan antar sepupu ini.


“mereka dari dulu setiap kali bertemu selalu seperti ini. Tapi kalau mereka berjauhan mereka akan saling mencari satu sama lain. “ Andy Li bercerita kepada anak perempuannya.


“aku tidak merasa seperti itu om….”


“aku juga….” Jawab Daniel yang tidak mau kalah dengan sepupunya.


“Daniel dulu juga sekolah kedokteran, kalau papa tidak salah kamu spesialis bedah saraf. Ia menjadi dokter terbaik saat itu. Yang satu bedah syaraf dan yang satu spesialis ortopedi. Mereka berdua merupak dokter terkenal saat itu. Sayangnya Daniel memutuskan meninggalkan dunia kedokteran dan masuk kedalam dunia bisnis yang sangat bertolak belakang.” Andy Li menjelaskan kepada ketiga putrinya.


Ini pertama kalinya Serena dan Sarah mendengar tentang hal ini.


“kamu seorang dokter??” tanya Sarah dengan tidak yakin.


“ya…. dulu sekali… aku satu sekolah dengan kakak ipar pertama.” jawab Daniel

__ADS_1


Serena dan Sarah yang masih tidak percaya kalau Daniel adalah dokter lebih terkejut ketika mengetahui kakak pertama mereka juga pernah kuliah dijurusan yang sama. Mereka menatap Sisca dengan tatapan tidak percaya.


“Apa yang kalian lihat…. sudah lah… jangan melihat kakak seperti itu. Kakak jadi malu karenanya.” Sisca tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari kedua saudaranya.


__ADS_2