
“kita sudah menikah, aku akan menjagamu dengan
baik. Percayalah padaku.” Daniel mengusap perlahan pipi Sarah.
Sarah mendengarkan setiap kata yang diucapkan
Daniel, setiap kata yang diucapkannya seperti pisau yang menyayat hati.
Kesedihan yang tidak diketahui alasannya tapi terlalu nyata rasa sakitnya.
Sarah masih mematung menatap Daniel, mengikuti perasaan hatinya yang sedang
menikmati rasa rindu. Sarah membiarkan air matanya mengalir di pipi sambil
menatap pria dihadapannya sampai puas.
“aku merindukanmu... sangat merindukanmu hingga
aku mau gila rasanya.” Bibir Sarah mulai mengucapkan kata – kata dibawah alam
sadarnya.
“aku juga sayang, aku juga... percayalah” mata
Daniel berkaca – kaca dan mulai memeluk Sarah.
Sarah menangis seperti anak kecil, salah satu
pikirannya masih menanyakan alasan hatinya menjadi irasional seperti ini disisi
lain ia juga berusaha sadar kembali.
“aku selalu menantikan kita bersama lagi.” Daniel
melepaskan pelukannya da memegang kedua tangan Sarah “ aku harap kali ini kamu
percaya padaku dan jangan melepaskan tangan ku lagi ya..” Sambung Daniel,
tatapan mata yang dalam sangat berbeda dengan Daniel yang biasanya memiliki
tatapan mata dingin dan tegas.
Sarah mengangguk dan kembali memeluk Daniel. Baru
satu hari menikah dan anehnya setelah menikah Sarah merasa sangat nyaman jika
berada disamping suaminya. Orang yang awalnya tidak ingin dimilikinya.
Penolakan dipikirannya tapi dalam hatinya menerima dengan sepenuh hati. Benar –
benar bertolak belakang.
“Aku kenapa??”
“tidak apa – apa, mungkin saat ini kamu sedang
menikmati hubungan baru kita.” hibur Daniel
Sarah menggeleng dengan cepat “bukan seperti itu.
sepertinya bukan seperti itu.”
“kalau begitu mari kita mencari jawabannya
bersama, jangan paksakan dirimu untuk mendapatkan jawabannya sekarang. Kita
masih punya banyak waktu, mari perlahan – lahan mencari jawabannya ya...” bujuk
Daniel.
Pria ini ada benarnya, jika ia juga tidak
mengetahui alasannya kenapa perasaan aneh ini selalu ada dipikiran Sarah
setidaknya mari perlahan mencari jawaban bersama. Masih banyak waktu untuk
menjawab pertanyaan yang belum terjawab. Sarah mengusap air matanya.
“aku masih mau makan” Sarah membuka mulutnya
bersiap menerima suapan sarapan dari Daniel.
Daniel tersenyum melihat istrinya yang sudah
kembali seperti biasa. Ponsel Daniel berbunyi dan panggilan masuk itu dari
James.
“ya... “ jawab Daniel sambil menyupi Sarah yang
kembali menyibukkan diri dengan tab ditangannya.
__ADS_1
“bos, bus akan segera berangkat kalian tidak ikut
bersama kami??”
“tidak, aku sedang menyuapi istriku makan, nanti
saja kami pergi sendiri. Begitu saja ya... “ Daniel menutup panggilannya.
Sarah masih sibuk membaca dan bicara “apa
yang terjadi??”
“kamu lihat email diatas?? hari ini kita akan
jalan – jalan dengan karyawan kita. Ada dibagi beberapa tujuan sesuai dengan
keinginan mereka. Total 5 tempat tujuan untuk mereka, dan James menanyakan
apakah kita akan ikut mereka atau tidak.....”
“kenapa kamu tidak bilang dari tadi??? aku mau
ikut.” protes Sarah
Daniel mengerutkan keningnya. “bus terakhir baru
saja pergi.” kata Daniel tanpa merasa bersalah.
“aku mau ikut, apakah semua pergi??’ keluh Sarah
dengan bibir mengerucut.
“ia,,, keluarga ada bus terakhir.”
“baguslah jika begitu. Kamu gunakan kemampuan
teleportasi kamu untuk kita kesana.”Wajah Sarah menjadi bersemangat.
“kita akan kemana?” tanya Sarah yang sudah
berdiri bersiap untuk mandi
“kegunung....” Daniel memastikan apa yang ada
dipikiran Sarah.
“bagus, aku akan segera mandi, katakan kepada
James sisakan kursi untuk kita.”
James “nona muda ingin ikut, siapkan kursi kosong untuk kami berdua.”
“baik pak...” James yang ada diujung telepon sana
merasa aneh. Ini pertama kalinya seorang Daniel berubah pikiran. Tadi kalau
tidak salah ia mengatakan sedang...
“ia, aku sedang mengurus istriku, apakah didalam
bus ada orang lain?”
James menaikkan ujung bibirnya, memang sulit
untuk berbohong kepada bosnya apalagi menyembunyikan isi hatinya.
“ada, beberapa petinggi perusahaan ada dibus yang
sama. Semua keluarga Li dan keluarga Long sudah ada didalam bus pak.”
“baiklah kami akan menyusul bus kalian, siapkan
kendaraan kami ya.. “ Daniel langung mematikan ponsel dan menyiapkan tas
ranselnya dan memasukkan pakaiannya.
Bersamaan dengan itu, Sarah kelur dari dalam
kamar mandi “aku sudah selesai.’
“Baik, kamu tidak bawa pakaian ganti? Masaukkan
saja pakaian kedalam tas ini ya jika kamu mau membawanya..” kata Daniel sambil
berjalan kearah Sarah. Ia meluangkan waktunya mengusap rambut Sarah sebelum
masuk kedalam kamar mandi.
Sarah tidak menjawab dan hanya memperhatikan
Daniel bicara. Dengan cepat Sarah membuka koper tas dan memilih pakaian dan
__ADS_1
membawa dua pakaian ganti kedalam tas Daniel.
Sarah memakai jump suit berwarna gelap dengan
long coat berwarna coklat. Sarah sudah bersiap untuk berangkat sepatu kets
berwarna coklat sudah dipakainya.
Daniel tidak kalah cepat dari dirinya, begitu
Sarah selesai memakai sepatu, Daniel sudah berpakaian lengkap dengan sepatu
sportnya. Dua laptop yang tadi masih berada didepan Sarah sudah tersusun rapi
didalam tas jinjing milik Daniel. Pria ini benar - benar luar biasa
kecepatannya. Jangan - jangan dia memakai kekuatannya. Bantin Sarah protes
dengan kehebatan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Daniel membawa tas ransel yang berisi pakaian
mereka berdua dan juga dengan laptop kerja Daniel. Mereka berjalan keluar hotel
dan diluar sudah menunggu supir Daniel.
“bantu kejar bus yang tadi sudah diinfo oleh
James.” Daniel memberikan instruksi kepada supir sambil naik kedalam mobil.
“baik pak.” supir Daniel mengangguk dan menutup
pintu Sarah dan Daniel.
Supir Daniel akhirnya bisa mengejar bus yang
didalamnya ada keluarga mereka berdua serta beberapa orang manager dari
perusahaan Li.
Sarah menatap Daniel dengan ragu, peristiwa waktu
Sisca menikah menganggu pikirannya.
“ada masalah??” tanya Daniel
“apakah kita akan naik bus itu???” Sarah melihat
Daniel sambil melihat bus secara bergantian.
“kamu tidak mau naik bus??” Daniel bertanya
kepada Sarah dengan wajah tidak yakin
“ya…. aku tidak mau mereka menggoda kita karena
terlambat bangun. Kamu tahu bagaimana kedua saudara perempuanku.”
Daniel tersenyum tipis dibibirnya “baiklah…
apapun kamu inginkan akan terlaksana.”
Daniel menatapa kearah depan “pak… bawa kami
sesuai arah bus tersebut ya… “ perintah Daniel
“baik pak.” jawab supir tadi sambil melihat spion
tengah kearah Daniel. Selesai bicara, Daniel menaikkan kaca tengah antara supir
dan dirinya.
“terima kasih. “ Sarah tersenyum lebar melihat
Daniel.
“tidak masalah, jika kamu merasa
lelah kamu sebaiknya tidur saja”
“ya… “
Sarah melihat kearah luar
jendela. Ia mengira hari ini akan pergi kerperusahaan untuk observasi ternyata
tawaran untuk berlibur lebih menyenangkan.
Keheningan diantara keduanya
terjadi selama perjalanan menuju ketempat tujuan. Tidak ada pembicaraan sama
__ADS_1
sekali selama 5 jam perjalanan. Sarah hanya menatap keluar jendela sedangkan
Daniel sesekali menatap kearah Sarah yang seolah tidak memperdulikan dirinya.