
“Anda serius nona ketiga Li??” tanya wanita itu
memastikan kembali
“ya,,, tentu saja. Kami makan siang dahulu ya….”
Sarah berkata bergitu ramah. Ini pertama kalinya mereka melihat nona ketiga Li
bersifat sangat hangat.
“apa anda ingin makan sup ayam??” tanya wanita
itu
“apakah menu hari ini sup ayam?” tanya Sarah
“iya….” jawab wanita itu.
“aku suka sekali dengan sup ayam.” mata Sarah
berkilat mendengar menu makan siang hari ini. Ia pun berdiri dan bersiap
mengantri sama seperti anggota karyawan lain.
“tidak perlu, biar saya ambilkan saja.” wanita
paruh baya itu memegang tangan Sarah . Sarah menatap tangan wanita itu
ditubuhnya tanpa senyum diwajahnya.
Wanita itu takut Sarah tidak suka disentuh
olehnya “maaf nona ketiga Li…”
Sarah memegang tangan wanita itu, dalam hati
Sarah berpikir… ia tidak ingin wanita ini berpikir ia adalah seorang yang tidak
suka disentuh” oleh orang seperti dirinya.
“terima kasih, atas bantuannya.” kata Sarah
sambil menganggukkan kepalanya sekali.
“jangan begitu sungkan… “ kata wanita itu sambil
menepuk punggung tangan Sarah.
Wanita itu berjalan kearah dapur dengan wajah
penuh suka cita. Sarah mulai membuka menu makan siang yang disiapkan oleh Nana.
“sandwich?? “ tanya Sarah
“aku kira kamu tidak sempat untuk makan siang
lagi. Jadi aku hanya mempersiapkan ini saja.” Nana senyum penuh harap kepada
Sarah agar ia tidak memarahinya.
Tanpa bicara apapun, Sarah melahap makanan dihadapannya.
Nana tercengang dengan pemandangan dihadapannya,
nona ketiga Li benar – benar tidak marah kepadanya. Ini adalah suatu mukjizat.
“Sarah Li, sejak kepulangan mu dari desa Sulam…
tingkat toleransimu benar – benar patut diacungi jempol.” puji Nana.
“aku rasa tidak ada yang salah. Sama saja.” Sarah
bicara sambil menaikkan bahunya sedikit keatas dan melahap makan siangnya
dengan santai.
Tiba – tiba semua pegawai kantin datang
mendatangi meja Sarah.
“terima kasih nona ketiga Li untuk angpaunya…”
mereka bicara bersamaan dengan wajah penuh senyum diwajahnya.
Sarah berdiri dan tersenyum melihat kearah mereka
semua. “sama – sama. terima kasih sudah menjadi bagian dari perusahaan Li.”
jawab Sarah dengan bijak.
“silahkan kembali lagi bekerja, jam istirahat karyawan
__ADS_1
akan segera dimulai, kalian pasti sangat sibuk.”
Mereka meninggalkan meja Sarah dengan senyum
gembira.
“berapa isi angpau merah yang kamu berikan?”
tanya Nana penasaran
“tidak besar, hanya separuh dari gaji kamu.”
jawab Sarah santai
“apa….. itu besar sekali. Kenapa aku tidak
mendapatkan angpau merah juga?” protes Nana.
“Gaji kamu sudah sangat besar, tidak perlu lagi
angpau.” Sarah melambaikan tangannya
Wanita paruh baya tadi datang dan membawa makan
siang untuk Sarah “nona ketiga Li, silahkan dimakan.”
“terima kasih… “ Sarah menganggukkan kepalanya
sekali sambil tersenyum.
“sama –sama. Selamat menikmati makan siangnya.”
wanita paruh baya tadi berlalu dari hadapan Sarah dengan wajah senyum yang
terukir jelas diwajahnya.
Sarah makan siang dengan sangat lahap. Dari pagi
ia sudah disuguhkan dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, briefing mendadak
dengan Direktur Utama. Belum lagi dua rapat penting yang sudah menunggunnya.
“nona ketiga Li. Setelah ini reputasi anda
sebagai wanita baik akan naik lagi sama seperi dihotel. Nama anda menjadi
tranding center karena membagikan ponsel dan bonus yang besar untuk karyawan
tangan sambil menatap Sarah dengan penuh kebanggaan.
“sudah la, cepat makan. Waktu kita tidak banyak
lagi.” protes Sarah yang tetap konsentrasi makan sambil menatap kearah luar
jendela.
“selesai makan, nanti bantu buatkan proposal
kerja sama baru dengan perusahaan Long. Tadi Direktur Utama sudah menegur ku
karena dianggap aku tidak serius menanggapi proyek kerja sama dengan perusahaan
Long.”
“benar kah?? “
Sarah mengangguk “siapkan sesuai dengan opsi yang
aku katakan tadi pagi. Hubungi orang yang bisa dijadikan rekomendasi. Dan
sebaiknya mereka adalah orang yang tidak memiliki masalah dengan latar belakang
keluarga”.
Nana mengangguk.
“pastikan juga desainer dan penjahit
yang dipilih perusahaan adalah mereka yang mempunyai latar belakang budaya yang
tinggi. Aku mau hasil desain mereka semua memiliki ciri khas dengan budaya
lokal bisa terlihat dalam karya kita. Karena perusahaan Long menginginkan
sentuhan budaya ada pada usaha fashion yang akan dikerjakan nantinya.”
“baik nona ketiga Li, saya sudah siapkan jauh –
jauh hari untuk profil data para designer yang anda minta. Selesai makan saya
akan menyerahkan berkasnya dimeja anda.”
__ADS_1
“terima kasih atas bantuan sekertaris Nana.” kata
Sarah sambil tersenyum
“tidak masalah nona ketiga Li. Asalkan saya juga
mendapat angpau merah sama seperti mereka, saya akan lebih loyal kepada anda.”
Nana membalas senyum Sarah dengan nakal.
“kadang aku bingung, kamu ini musuh atau teman.”
Sarah memijat keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
Nana tertawa lepas melihat Sarah. Mereka
melanjutkan makan siang dengan gembira.
Waktu makan siang hanya 30 menit, kemudian Sarah
dan Nana kembali naik kelantai 15. Begitu sampai diruangan, tidak sempat
beristrahat lagi. Sarah langsung diberikan berkas yang dimintanya tadi. Ada
sekitar 20 rekomendasi yang diberikan oleh Nana. Sarah dengan sabar membaca
satu persatu biodata yang ada ditangan Sarah.
Hanya dibutuhkan waktu 15 menit, Sarah
menentukan kandidat yang menurutnya paling cocok.
“nanti lampirkan semua berkas para designer ini
dipaling bawah. Aku ingin pastikan apakah pilihan yang aku buat sama dengan pilihan
dari perusahaan Long. “ kata Sarah sambil menutup berkas ditangannya dan
memberikannya kembali kepada Nana.
Pintu ruangan Sarah diketuk kedua saudaranya.
“adik, waktunya rapat” kata Serena sambil
memasukkan kepalanya saja kedalam ruangan Sarah.
“baik.” jawab Sarah.
“ayo kita rapat.” kata Sarah sambil membawa
laptop dan buku catatan pekerjaan Sarah berwarna ungu.
Nana membawa laptop Sarah dan Sarah berjalan
sambil memegang buku catatan dan pena kesayangannya. Jangan ditanya warna yang
digunakannya, sudah pasti semua berwarna ungu.
Ketiga putri keluarga Li sudah hadir didalam
ruangan rapat.. Belum ada yang datang didalam ruangan rapat. Baru ketiga
saudara Li bersama masing – masing sekertaris mereka yang ada didalam
diruangan. Ketiga putri Andy Li memang sangat mengutamakan ketepatan waktu.
Mereka selalu hadir lebih dahulu sebelum para tamu rapat lain hadir.
Sisca memberikan caramel latte dingin kepada
Sarah.
“seperti biasa, sedikit kopi dan perbanyak susu.”
jelas Sisca sebelum Sarah menanyakan kombinasi caramel latte yang dibeli Sisca.
Sarah tersenyum puas sambil mengulum bibir. “
terima kasih kakak pertama.” kata Sarah
“nona ketiga Li, apakah anda sudah membaca materi
rapat kali ini?” Saya lihat di laptop, anda belum membacanya sama sekali.” Nana
berwajah serius ketika memberikan laptop Sarah dan melihat email yang
dikirimnya belum dibuka sama sekali.
Sarah Li membesarkan matanya, bagaimana bisa ia
lupa untuk hal sepenting ini.“maaf,,, aku akan membacanya sekarang.”
__ADS_1