
Dengan terpaksa Sarah memasukkan tangannya
kelengan kemeja yang dipakai dalam posisi terbalik depan – belakang. Serena dan
Sisca menahan senyum melihat wajah adiknya yang tertekan karena perbuatan Daniel.
Tidak ada pilihan bagi Sarah selain mengikuti permainan yang lemparkan Daniel
kepada dirinya.
Selesai sarapan, para pria bersiap – siap dengan
alat pancingnya. Dan para pelayan sibuk memasukkan bekal makan siang, minuman
dan snack kedalam kapal yacth yang bersandar didermaga pulau.
“kalian yakin tidak ingin ikut dengan kami??”
tanya Chandra, Serena dan Sisca yang berdiri berjajar melihat pelayan menaikkan
perlengkapan.
“tidak perlu kakak ipar, kami cukup dengan diving
didekat pulau saja. Terlalu membosankan kalau kami ikut memancing.” kata Sarah
dengan jujur.
“bukankah didalam ada kamar tidur? Jika kalian
merasa bosan, bisa tidur atau mengobol didalam kamar tidur.”
Dengan cepat Serena menggelengkan kepalanya
“suami...cukup kamu bawakan ikan yang banyak untuk nanti malam ya...” Serena
berjinjit mencium pipi Chandra.
“baiklah sayang, kami akan segera kembali...
Tolong jaga istriku dengan baik ya kakak ipar dan adik ipar” Chandra tersenyum
kepada mereka bertiga sambil melambaikan tangan dan berjalan kearah yacth.
Daniel berjalan keluar dari dalam rumah dan masih
mengenakan kaos dalam pria berwarna hitam tanpa lengan. Melihat langsung Daniel
dengan pakaian seperti ini membuat Sarah menjadi malu. Otot kekarnya terlalu
terekspose, dengan cepat Sarah membuka kemeja Daniel yang masih melekat
ditubuhnya. Kemudian berjalan mendekati Daniel dan berkata “terima kasih, tapi
kedepannya jangan melakukan hal seperti itu. Kamu membuat aku seolah – olah
tidak bisa berpakaian dengan baik.” protes Sarah
Daniel maju dua langkah mendekati kearah Sarah
kemudian berbisik ditelinganya. “aku hanya berpikir, tubuh istriku bukan untuk
ditunjukkan untuk kesemua pria. Hanya milik ku. Mengerti.”
Kuping Sarah memerah, udara yang keluar dari
mulut Daniel terasa hangat ditelinga Sarah membuatnya merasa malu. Sarah
mendorong tubuh Daniel kebelakang dan berkata “jangan terlalu percaya diri tuan
Daniel. Masih terlalu pagi untuk terlalu banyak berkhayal.”
Daniel mengambil kemeja dari tangan Sarah dan
kemudian pergi kearah kapal yacth menyusul yang lain. Sarah, Serena dan Sisca
melambaikan tangan kepada semua orang yang ada didalam kapal.
“hati – hati dijalan”teriak Sisca dan Serena
bersamaan.
Daniel sama sekali tidak melihat kebelakang,
padahal dalam hati Sarah sangat berharap Daniel melihatnya sebelum pergi.
Sambil terus tersenyum Sisca bertanya kepada
Sarah yang sudah berdiri disampingnya “apa yang kalian bicarakan?”
__ADS_1
“aku hanya meminta agar dia tidak perlu melakukan
hal seperti tadi kedepannya.”
“kemudian apa katanya??”tanya Serena penasaran
“katanya tubuh ku hanya bisa dilihat olehnya
karena dia adalah calon suamiku. Bukan kah itu percaya diri??” Sarah melipatkan
kedua tangannya didadanya sambil melihat kapal mulai bergerak dari dermaga.
“waahh...romantis sekali.....” kedua saudaranya
secara bersamaan memegang kedua pipinya sambil menatap kearah adik nya yang
pipinya mulai kemerahan karena menahan malu.
Sarah dengan cepat pergi kedalam kamar untuk
mengenakan pakaian Diving dan berjalan kearah pantai.
Kemudian tiba – tiba diam dan berbalik menatap
kedua saudaranya “berhenti mengangguku.” kata Sarah dengan wajah kesal.
Dari mulai kepergian kapal yatch sampai Sarah selesa berpakaian, mereka
tidak berhenti menggoda Sarah.
"baiklah, tidak ganggu lagi. Mari kita
bersenang - senang." bujuk Sisca sambil mengalungkan tangannya dileher
adiknya yang terlihat cemberut.
“kamu tidak memakai peralatan bernafas adik
kecil??” tanya Serena menunjuk tabung udara masih berdiri dihapannya.
“tidak.. aku mau snorkeling dahulu. Aku hanya
perlu ini....” jawab Sarah sambil menunjuk pelampung, snorkel dan masker
ditangannya.
“sepertinya ide yang bagus,,, tunggu kakak juga
yang tersusun dimeja.
Dengan segera Serena juga mengikuti kedua saudaranya
itu. Pemandangan bawah laut dangkal benar – benar tersaji dengan indah. Terumbu
karang dan ikan hias berwarna warni berenang dengan bebas. Warna yang cerah
dari ikan dan terumbu karang merupakan perpaduan yang sempurna dan memanjakan
mata yang melhatnya.
Mereka bertiga tidak berhenti memuji keindahan
alam bawah laut dari permukaan yang dangkal ini. Puas melakukan snorkeling
selama lebih dari satu jam, mereka kembali kedaratan dan memakai perlengkapan
menyelam. Semakin dalam menyelam, semakin tidak berhenti rasa kagum dengan
kesempurnaan pemandangan yang mereka lihat. Dua jam lebih mereka menelusuri
kedalaman laut.
Tiba – tiba ombak laut terasa sangat kencang,
dengan memberikan kode menunjuk keatas, Sisca mengajak kedua saudaranya untuk
segera menyudahi penyelaman kali ini. Ia merasakan ada rasa bahaya yang
mengancam mereka. Jari Sisca dan Serena membentuk huruf O yang berarti
menyetujui isyarat Sisca. Sisca meminta tangan kedua saudaranya, dengan
berpegangan tangan mereka naik kepermukaan laut bersama melawan kuatnya obat
laut yang tiba - tiba berubah.
Langit sudah mulai gelap padahal seharunya
sekarang masih siang. Ombak laut semakin tinggi dan angin bertiup semakin
__ADS_1
kencang. Mereka berenang bersama ke pinggiran pantai dengan susah payah karena
ombak yang sangat kencang dan tinggi. Para pelayan yang menunggu mereka ditepi
pantai langsung membatu mereka bertiga naik kepermukaan dan melepaskan tabung
oksigen yang ada dipundak mereka.
Dengan nafas yang masih terengah – engah Serena
berkata “bukankah seharusnya cuaca hari ini cerah? Kenapa tiba – tiba seperti
akan terjadi badai??”
Sisca menaikkan pundaknya, sedangkan Sarah
menatap kearah laut. Nafas mereka naik turun, masih menyesuaikan dengan tenaga
yang baru dikeluarkan tadi.
“bagaimana.....dengan... mereka...” kata Sarah
dengan terbata – bata sambil mengatur nafas.
Sisca dan Serena sama – sama terdiam dan melihat
kearah laut lepas. Hati mereka tiba - tiba dipenuhi rasa khawatir yang
sama. Apakah mereka baik – baik saja disana.. Awan comulonimbus terlihat
dilangit. Mayleen dan Huanran yang melihat Sarah, Serena dan Sisca sudah naik
kepermukaan segera menyuruh mereka segera masuk kedalam rumah.
Dengan cepat semua orang masuk kedalam rumah dan
masing – masing mereka mengganti pakaian didalam kamar. Semua wanita yang ada
didalam rumah tidak tenang, pikiran mereka tertuju kepada para pria yang sedang
berada dilaut lepas dengan kondisi cuaca buruk seperti ini, bagaimana dengan
mereka. Apakah mereka semua baik – baik saja.
Selesai mandi, mereka bertiga dengan cepat kembali
berkumpul lagi diruang tamu. Satu keunikan rumah pulau milik David , ternyata
bagian taman dalam ketika cuaca buruk bisa tertutup dan memiliki atap. Ketiga
saudara perempuan itu merasa kagum dengan kecanggihan rumah ini.
“atapnya bisa tertutup sendiri. Aku tidak pernah
tahu ada yang seperti ini.” kata Serena sambil menatap kearah atas.
“tentu saja bukan hal aneh, om David sangat kaya.
Buka hal sulit dilakukan oleh keluarganya hanya untuk atap seperti ini.” kata
Sisca sambil mengajak kedua saudaranya berjalan kearah ruang tamu.
Setelah sampai diruang tamu, terlihat Mayleen
berusaha menghubungi suaminya dengan ponsel. Tapi tidak bisa terhubung sama
sekali. Mayleen dan Huanran terlihat saling merangkulan. Sarah mendekati mereka
berdua.
Sarah mendatangi Huanran dan Mayleen sambil
berkata
“tenang lah mereka akan baik – baik saja.” kata
Sarah berusaha menghibur kedua ibu tersebut.
“tidak kah kamu merasa ada yang aneh dengan badai
kali ini….” tanya Mayleen.
Huanran mengangguk tapi tidak mengatakan apapun.
Sarah melihat kearah luar jendela, siang hari
tapi serasa malam hari. Bukan tidak merasakan sesuatu, hanya tidak ingin
mengungkapkan ketakutan dalam hatinya. Ada energi yang sangat kuat diluar
__ADS_1
sana.