Pangeran Naga Dan Putri Ular

Pangeran Naga Dan Putri Ular
BAB 25


__ADS_3

Dengan terpaksa Sarah memasukkan tangannya


kelengan kemeja yang dipakai dalam posisi terbalik depan – belakang. Serena dan


Sisca menahan senyum melihat wajah adiknya yang tertekan karena perbuatan Daniel.


Tidak ada pilihan bagi Sarah selain mengikuti permainan yang lemparkan Daniel


kepada dirinya.


Selesai sarapan, para pria bersiap – siap dengan


alat pancingnya. Dan para pelayan sibuk memasukkan bekal makan siang, minuman


dan snack kedalam kapal yacth yang bersandar didermaga pulau.


“kalian yakin tidak ingin ikut dengan kami??”


tanya Chandra, Serena dan Sisca yang berdiri berjajar melihat pelayan menaikkan


perlengkapan.


“tidak perlu kakak ipar, kami cukup dengan diving


didekat pulau saja. Terlalu membosankan kalau kami ikut memancing.” kata Sarah


dengan jujur.


“bukankah didalam ada kamar tidur? Jika kalian


merasa bosan, bisa tidur atau mengobol didalam kamar tidur.”


Dengan cepat Serena menggelengkan kepalanya


“suami...cukup kamu bawakan ikan yang banyak untuk nanti malam ya...” Serena


berjinjit mencium pipi Chandra.


“baiklah sayang, kami akan segera kembali...


Tolong jaga istriku dengan baik ya kakak ipar dan adik ipar” Chandra tersenyum


kepada mereka bertiga sambil melambaikan tangan dan berjalan kearah yacth.


Daniel berjalan keluar dari dalam rumah dan masih


mengenakan kaos dalam pria berwarna hitam tanpa lengan. Melihat langsung Daniel


dengan pakaian seperti ini membuat Sarah menjadi malu. Otot kekarnya terlalu


terekspose, dengan cepat Sarah membuka kemeja Daniel yang masih melekat


ditubuhnya. Kemudian berjalan mendekati Daniel dan berkata “terima kasih, tapi


kedepannya jangan melakukan hal seperti itu. Kamu membuat aku seolah – olah


tidak bisa berpakaian dengan baik.” protes Sarah


Daniel maju dua langkah mendekati kearah Sarah


kemudian berbisik ditelinganya. “aku hanya berpikir, tubuh istriku bukan untuk


ditunjukkan untuk kesemua pria. Hanya milik ku. Mengerti.”


Kuping Sarah memerah, udara yang keluar dari


mulut Daniel terasa hangat ditelinga Sarah membuatnya merasa malu. Sarah


mendorong tubuh Daniel kebelakang dan berkata “jangan terlalu percaya diri tuan


Daniel. Masih terlalu pagi untuk terlalu banyak berkhayal.”


Daniel mengambil kemeja dari tangan Sarah dan


kemudian pergi kearah kapal yacth menyusul yang lain. Sarah, Serena dan Sisca


melambaikan tangan kepada semua orang yang ada didalam kapal.


“hati – hati dijalan”teriak Sisca dan Serena


bersamaan.


Daniel sama sekali tidak melihat kebelakang,


padahal dalam hati Sarah sangat berharap Daniel melihatnya sebelum pergi.


Sambil terus tersenyum Sisca bertanya kepada


Sarah yang sudah berdiri disampingnya “apa yang kalian bicarakan?”

__ADS_1


“aku hanya meminta agar dia tidak perlu melakukan


hal seperti tadi kedepannya.”


“kemudian apa katanya??”tanya Serena penasaran


“katanya tubuh ku hanya bisa dilihat olehnya


karena dia adalah calon suamiku. Bukan kah itu percaya diri??” Sarah melipatkan


kedua tangannya didadanya sambil melihat kapal mulai bergerak dari dermaga.


“waahh...romantis sekali.....” kedua saudaranya


secara bersamaan memegang kedua pipinya sambil menatap kearah adik nya yang


pipinya mulai kemerahan karena menahan malu.


Sarah dengan cepat pergi kedalam kamar untuk


mengenakan pakaian Diving dan berjalan kearah pantai.


Kemudian tiba – tiba diam dan berbalik menatap


kedua saudaranya “berhenti mengangguku.”  kata Sarah dengan wajah kesal.


Dari mulai kepergian kapal yatch sampai Sarah selesa berpakaian, mereka


tidak  berhenti menggoda Sarah.


"baiklah, tidak ganggu lagi. Mari kita


bersenang - senang." bujuk Sisca sambil mengalungkan tangannya dileher


adiknya yang terlihat cemberut.


“kamu tidak memakai peralatan bernafas adik


kecil??” tanya Serena menunjuk tabung udara masih berdiri dihapannya.


“tidak.. aku mau snorkeling dahulu. Aku hanya


perlu ini....” jawab Sarah sambil menunjuk pelampung, snorkel dan masker


ditangannya.


“sepertinya ide yang bagus,,, tunggu kakak juga


yang tersusun dimeja.


Dengan segera Serena juga mengikuti kedua saudaranya


itu. Pemandangan bawah laut dangkal benar – benar tersaji dengan indah. Terumbu


karang dan ikan hias berwarna warni berenang dengan bebas. Warna yang cerah


dari ikan dan terumbu karang merupakan perpaduan yang sempurna dan memanjakan


mata yang melhatnya.


Mereka bertiga tidak berhenti memuji keindahan


alam bawah laut dari permukaan yang dangkal ini. Puas melakukan snorkeling


selama lebih dari satu jam, mereka kembali kedaratan dan memakai perlengkapan


menyelam. Semakin dalam menyelam, semakin tidak berhenti rasa kagum dengan


kesempurnaan pemandangan yang mereka lihat. Dua jam lebih mereka menelusuri


kedalaman laut.


Tiba – tiba ombak laut terasa sangat kencang,


dengan memberikan kode menunjuk keatas, Sisca mengajak kedua saudaranya untuk


segera menyudahi penyelaman kali ini. Ia merasakan ada rasa bahaya yang


mengancam mereka. Jari Sisca dan Serena membentuk huruf O yang berarti


menyetujui isyarat Sisca. Sisca meminta tangan kedua saudaranya, dengan


berpegangan tangan mereka naik kepermukaan laut bersama melawan kuatnya obat


laut yang tiba - tiba berubah.


Langit sudah mulai gelap padahal seharunya


sekarang masih siang. Ombak laut semakin tinggi dan angin bertiup semakin

__ADS_1


kencang. Mereka berenang bersama ke pinggiran pantai dengan susah payah karena


ombak yang sangat kencang dan tinggi. Para pelayan yang menunggu mereka ditepi


pantai langsung membatu mereka bertiga naik kepermukaan dan melepaskan tabung


oksigen yang ada dipundak mereka.


Dengan nafas yang masih terengah – engah Serena


berkata “bukankah seharusnya cuaca hari ini cerah? Kenapa tiba – tiba seperti


akan terjadi badai??”


Sisca menaikkan pundaknya, sedangkan Sarah


menatap kearah laut. Nafas mereka naik turun, masih menyesuaikan dengan tenaga


yang baru dikeluarkan tadi.


“bagaimana.....dengan... mereka...” kata Sarah


dengan terbata – bata sambil mengatur nafas.


Sisca dan Serena sama – sama terdiam dan melihat


kearah laut lepas. Hati mereka  tiba - tiba dipenuhi rasa khawatir yang


sama. Apakah mereka baik – baik saja disana.. Awan comulonimbus  terlihat


dilangit. Mayleen dan Huanran yang melihat Sarah, Serena dan Sisca sudah naik


kepermukaan segera menyuruh mereka segera masuk kedalam rumah.


Dengan cepat semua orang masuk kedalam rumah dan


masing – masing mereka mengganti pakaian didalam kamar. Semua wanita yang ada


didalam rumah tidak tenang, pikiran mereka tertuju kepada para pria yang sedang


berada dilaut lepas dengan kondisi cuaca buruk seperti ini, bagaimana dengan


mereka. Apakah mereka semua baik – baik saja.


Selesai mandi, mereka bertiga dengan cepat kembali


berkumpul lagi diruang tamu. Satu keunikan rumah pulau milik David , ternyata


bagian taman dalam ketika cuaca buruk bisa tertutup dan memiliki atap. Ketiga


saudara perempuan itu merasa kagum dengan kecanggihan rumah ini.


“atapnya bisa tertutup sendiri. Aku tidak pernah


tahu ada yang seperti ini.” kata Serena sambil menatap kearah atas.


“tentu saja bukan hal aneh, om David sangat kaya.


Buka hal sulit dilakukan oleh keluarganya hanya untuk atap seperti ini.” kata


Sisca sambil mengajak kedua saudaranya berjalan kearah ruang tamu.


Setelah sampai diruang tamu, terlihat Mayleen


berusaha menghubungi suaminya dengan ponsel. Tapi tidak bisa terhubung sama


sekali. Mayleen dan Huanran terlihat saling merangkulan. Sarah mendekati mereka


berdua.


Sarah mendatangi Huanran dan Mayleen sambil


berkata


“tenang lah mereka akan baik – baik saja.” kata


Sarah berusaha menghibur kedua ibu tersebut.


“tidak kah kamu merasa ada yang aneh dengan badai


kali ini….” tanya Mayleen.


Huanran mengangguk tapi tidak mengatakan apapun.


Sarah melihat kearah luar jendela, siang hari


tapi serasa malam hari. Bukan tidak merasakan sesuatu, hanya tidak ingin


mengungkapkan ketakutan dalam hatinya. Ada  energi yang sangat kuat diluar

__ADS_1


sana.


__ADS_2