
"Udah jangan di pikir omongan Mama tadi" ucap Dwi.
"Maafin gue, gue belum siap untuk itu" ucap Jihan lirih.
"Iya gak apa apa, lagian aku juga gak akan minta sebelum kamu siap" ucap Dwi sembari menggenggam tangan Jihan.
"Maaf" ucap Jihan melepaskan genggaman tangan Dwi.
"Kenapa, apa segitu besarnya kamu membenciku sebesar itukah hatimu tidak menerima ku" ucap Dwi menatap Jihan.
"Bukan bukan itu, tapi karena gue gak pernah gini sebelumnya please beri aku waktu untuk itu" ucap Jihan menatap manik Dwi lekat.
Dwi membalas tatapan Jihan sama lekatnya sembari senyum mengembang di bibirnya. Jihan mulai nyaman dengan tatapan yang Dwi berikan namun seketika Jihan mengakhiri tatapan di antara mereka langsung menatap ke arah jendela karena malu.
"Gila apa yang gue lakukan, tapi gak salah juga si dia kan suami gue eh suami geli gue" ujar Jihan dalam hati.
"Udah kalau mau senyum senyum aja jangan di tahan lagian sah sah aja kali kamu senyum ke gue" ucap Dwi di telinga Jihan.
"Bisa gak si kadar narsis nya di kurangi" ucap Jihan cepat sembari menghadap ke arah Dwi namun tak sengaja wajahnya tepat menempel di wajah Dwi karena Dwi belum sempat mundur. Jihan tersentak lalu memalingkan wajahnya begitupun dengan Dwi.
"Kenapa jantung gue berdetak kenceng banget, ya Ji lo jangan gitu lagi gak baik buat jantung gue terutama" ujar Dwi memegang dadanya.
"Pak kits turun di sini aja" ucap Jihan saat sampai di warung jauh dari rumah.
"Kenapa, kamu mau beli sesuatu" tanya Dwi.
"Gak, pengin jalan aja ke rumah" ucap Jihan.
"Oh, kamu yakin kaki kamu kan masih sakit" ucap Dwi.
"Iya yakin, tenang aja" ucap Jihan.
"Oke, pak berhenti di sini aja bapak boleh pulang tapi jangan lupa sama permintaan saya" ucap Dwi sebelum turun.
"Siap Tuan muda" ucap Supir tersebut.
Dwi turun dari mobil kemudian membuka pintu untuk Jihan dan membantu Jihan turun, Jihan berjalan tertatih dan lambat membuat Dwi iba dengan berat Dwi mengulurkan tangannya namun tanpa di duga Jihan menerima uluran tangan Dwi kemudian melanjutkan jalannya membuat Dwi tersenyum.
"Udah jangan senyum senyum mulu, di kira gila nanti" ujar Jihan tanpa melihat.
"Iya iya" ucap Dwi.
Jihan dan Dwi berjalan bersama selama perjalanan Jihan tidak melepaskan tangan Dwi bukan tidak mau tapi memang Jihan butuh karena kakinya yang terasa sangat sakit namun enggan mengeluh.
"Sakit banget ya, kita naik ojek aja ya" tawar Dwi.
"Gak usah, gak begitu sakit kok" ucap Jihan.
"Yakin, ya udah tapi kalau nanti udah gak kuat bilang ya " ucap Dwi lembut.
"Iya lagian bentar lagi juga sampai kok" ucap Jihan.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di halaman rumah dengan tangan masih menggenggam satu sama lain membuat semua orang memandang Jihan dan Dwi sembari tersenyum terutama ke dua orang tua Jihan.
"Kalian sudah kembali" tanya Mama Anggun.
"Udah mah" ucap Jihan mencium tangan mama diikuti Dwi.
"Kenapa kalian jalan kaki" tanya Mama.
"Iya Jihan yang minta soalnya males denger mulut lemes" ucap Jihan.
"Pengin lama lama berduaan kali" ledek Jovan.
"Siapa bilang" ucap Jihan santai.
"Ngaku aja kamu" ucap Jovan membuat Jihan mengejar Jovan walau susah payah.
"Jangan lari lo Bang" teriak Jihan.
"Sini kalau bisa tangkap Abang" ucap Jovan sembri lari ke dalam rumah.
Jihan berlari mengejar Jovan ke dalam rumah namun saat melihat ternyata banyak teman teman Abang ada di dalam Jihn menghentikan langkahnya kemudian membungkukkan badannya dan pergi, di saat yang bersamaan Dwi masuk.
"Kenapa" tanya Dwi bingung melihat Jihan yang berbalik dengan cepat.
"Gak" ucap Jihan santai.
"Ji" panggil seseorang.
"Ya " jawab Jihan membalikkan badannya dan mendapati melihat lihat siapa yang memanggilnya.
"Gue yang panggil, masih ingat gak" tanya Raka teman Jovan lebih tepatnya Abang Nisa sahabatnya.
"Inget, ada apa" ucap Jihan dingin.
"Masih aja lo dingin gini" ucap Raka.
"To the poin" ucap Jihan membuat semua teman Abangnya melihat Jihan.
__ADS_1
"Oke, gak berubah nih ada titipan dari Nisa" ucap Raka.
"Makasih" ucap Jihan menerima sebuah kotak yang Raka berikan.
"Nih ada lagi" ucap Raka saat melihat Jihan hendak membuka bingkisan tersebut.
"Surat, oke makasih" ucap Jihan lalu membuka surat tersebut sedangkan Dwi tepat di belakang Jihan.
Jihan tersenyum saat membaca surat tersebut membuat semua teman Jovan terpesona dengan senyuman manis Jihan. Setelah selesai membaca surat singkat dari Nisa Jihan lau menatap Dwi membuat Dwi bingung.
"Nih" ucap Jihan memberikan kotak yang tadi di berikan Raka.
"Kenapa di kasih ke gue" ujar Dwi penasaran.
"Ya karena ini buat kamu, bukan buat gue" ucap Jihan santai sembari terus tersenyum.
"Udah senyumnya bawa aja ke dalam" ucap Dwi dingin.
"Yaya udah, sensi amat" ujar Jihan.
Jihan berjalan pelan ke arah kamarnya sembari membawa kotak yang Raka berikan. Namun belum jalan jauh Jihan kembali di panggil.
"Ji" panggil seseorang.
"Ya" ucap Jihan membalikkan badannya.
"Lo kenapa jalannya gitu" tanya teman Abang.
"Kegilir tadi" ucap Jihan dingin.
"Sini gue urut" ucap teman Abang membuat Dwi membelalakkan matanya.
"Gak usah" ucap Jihan dingin membuat Dwi tersenyum pasalnya yang bertanya dengan Jihan adalah temannya yang terkenal playboy.
Jihan membalikkan badannya dan pergi namun tiba tiba teman Abang yang tadi bertanya langsung menghentikan Jihan dengan menggenggam tangan Jihan, namun Jihan dengan cepat menghempaskan tangan teman Abangnya keras.
"Galak amat, tenang aja gue gak akan apa apain lo tapi gue mau obatin lo" ucap Randi.
Jihan tidak peduli dengan apa yang di omongkan Randi, tapi Randi memksa untuk memegang kaki Jihan membuat Jihan terjatuh. Seketika Randi tersenyum dan langsung menarik kaki Jihan membuat Jihan menjerit.
"Gila lo mau patahin kaki gue lo" teriak Jihan.
"Yakin patahin, coba deh lo berdiri" ucap Randi.
Jihan mencoba berdiri dengan cekatan Dwi mengulurkan tangannya dan di terima Jihan.
"Gimana" tanya Randi.
"Makanya jangan sok kuat deh" ucap Randi.
"Bukan gitu, tapi makasih" ucap Jihan.
"Iya, kenalin gue Randi" ucap Randi.
Jihan hanya membungkukkan badannya tanpa menjawab kemudian melepaskan tangan Dwi yang masih menggenggamnya dengan pelan. Baru saja berbalik tiba tiba pak RT setempat ke rumahnya.
"Sore neng Jihan" ucap pak RT.
"Sore pak, silahkan masuk" ucap Jihan sopan.
"Terima kasih, sebenarnya kedatangan saya ke sini cuma mau memastikan aja Neng Jihan" ucap pak RT.
"Memastikan apa pak, apa berkaitan dengan saya" tanya Jihan.
"Iya saya ke sini, mau minta fotocopy surat nikah kamu buat arsip desa" ucap pak RT.
"Surat nikah" tanya Jihan.
"Iya boleh saya meminta satu" tanya pak RT.
"Tapi" ucap Jihan terhenti.
"Ada pak sebentar saya ambilkan" ucap Dwi pergi mengambil yang di minta pak RT.
"Ji apa itu suami kamu, ternyata masih muda banget ya" ucap pak RT.
"Iya pak" ucap Jihan tersenyum.
"Duduklah neng Jihan" ucap pak RT.
Jihan duduk di tempat duduk Dwi tadi sembari menunggu Dwi Jihan hanya diam. Sedangkan pak RT sedang bersenda gurau dengan Jovan dan teman temannya.
"Ini pak" ucap Dwi.
"Terima kasih, siapa nama mu" tanya Pak RT.
"Saya Dwi pak" ucap Dwi sopan.
"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu" ucap pak RT.
__ADS_1
"Ya pak" ucap Jihan.
"Ji kamu udah nikah" tanya Raka.
"Ya seperti yang sudah kalian tau" ucap Jihan.
"Kenapa Ji, gue udah nunggu lo sampai lulus ternyata lo udah nikah tega kamu Ji" ucap Raka.
"Apa urusan lo" ucap Jihan.
"Ya urusan lah, udah lama gue suka sama lo udah lama juga gue nunggu jawaban lo tapi lo malah nikah" ucap Raka.
"Dan ini jawaban gue, jadi cari wanita yang lebih baik dari gue" ucap Jihan.
"Ji jadi ini alasan li susah buat terima gue lo udah punya pacar" tanya Dwi tinggi.
"Kenapa, bukannya lo juga udah siapain semua konsekuensinya" ucap Jihan tak kalah tinggi.
"Ya tapi gak sama sahabat gue juga kali" ucap Dwi.
"Apa urusan lo ha, seharusnya lo siap kalau gue udah punya pacar saat lo putusin buat nikahi gue" ucap Jihan.
Jihan mulai tersulut emosi membuat Dwi makin penasaran dengan apa yang akan Jihan lakukan untuk selanjutnya.
"Ji hormati suami lo, dia laki laki yang harus lo hormati" ucap Jovan.
"Bang kurang hormat apa di Jihan sama dia, kurang apa Jihan Bang" ucap Jihan tinggi.
"Eh udah udah kenapa jadi gini si duduk dulu deh Ji" ucap Randi.
Jihan menuruti semua omongan Randi, Jihan duduk dengan amarah yang masih menggebu. Jihan menarik nafasnya dan menutup matanya karena ingin menghilangkan amarahnya.
"Wi lo gila ya, gimana lo bisa nikahi Jihan kemana si Putri" ucap Raka.
"Lo gak perlu sebut nama dia ini urusan antara gue sama Jihan" ucap Dwi.
"Tapi lo harus pilih dong, gak bisa li sakiti ke duanya" ucap Raka.
"Itu bukan urusan lo" ucap Dwi.
Jihan jengah dengan keadaan yang membuatnya pusing, tiba tiba ponsel Jihan berdering dengan cepat Jihan mengangkat telfon yang masuk ke dalan ponselnya.
"Ya beb" tanya Jihan santai.
"Gimana Ji, kaka Dwi mau nerima gak" ucap Nisa.
"Mau lah bebs, masa iya gak di terima" ucap Jihan.
"Makasih ya Ji" ucap Nisa.
"Gak perlu makasih lagian lo kenapa gak kesini aja bareng Abang lo, kasih sendiri gitu hampir aja gue buka tadi Abang lo lupa kasih suratnya" ucap Jihan.
"Tadinya mau ikut Abang pas tau semu temen Abang ikut gak jadi malu" ucap Nisa.
"Oh gitu, kenapa harus malu juga si lo juga udah kenal sama mereka beda sama gue" ucap Jihan.
"Hehe, ngomong ngomong rame banget Ji" tanya Nisa.
"Iya lah rame, temen Abang ke sini semua kayaknya banyak juga" ucap Jihan.
"Ada cogannya gak" tanya Nisa.
"Hm banyak, cogan semua malah kesini deh" ucap Jihan santai.
"Tapi kayak ribut gitu si Ji" ucap Nisa.
"Gak lah mereka lagi bercanda ya udah dulu ya gak jelas soalnya ribut banget" ucap Jihan.
"Emang lo dimana" tanya Nisa.
"Gue di rumah lah, udah dulu ya gue pusing" ucap Jihan menutup telfonnya.
Walaupun sudah lama Jihan telfon dengan Nisa namun pertengkaran antara Raka Dwi dan Randi belum juga selesai membuat Jihan habis kesabaran. Jihan kemudian berdiri dan berbalik menatap Dwi Raka dan Randi yang masih bertengkar.
"Kalian bisa diem gak si" teriak Jihan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***penasaran kan yuk ikuti ......
Happy readers***.....