
"Ji besok jadi pergi" tanya Jovan.
"Jadi Bang, harusnya tadi sore tapi drama" ucap Jihan.
"Sayang apa gak bisa suruh Kevin aja" tanya Dwi.
"Gak bisa mas, udah sepakat ya lagian kalau semua urusan di desa beres semua berjalan lancar Jihan gak kesana lagi" ucap Jihan.
"Promise" ucap Dwi.
"Iya, Jihan pengin istirahat dulu" ujar Jihan.
"Em hamil aja istirahat total ya gak mah" ucap Dani.
"Bener hamil aja" ujar Mama Sri.
"Mah hamil gak semudah itu, udah pengin jadi orang tua tapi Tuhan lebih baik" ucap Jihan.
"Iya gak harus cepet cepet, lagian kalian belum bulan madu" ujar Mama Anggun.
"Gak pake bulan madu mah" ucap Dwi.
"Apa itu alasan Jihan pulang nangis terus jalannya kayak bebek" selidik mam Anggun.
"Beneran Jeng" ucap mama Sri.
"Hm gitu kata maid" ucap mama Anggun
"Kasih istirahat dong Wi, main alus" ucap papa Seno.
"Mas udah dong gak malu pa" ujar Jihan menyeandarkan kepalanya di pundak Dwi.
Dwi menggenggam tangan Jihan dengan mesra. Jihan tersenyum dan menatap Dwi membuat Dwi menyentil hidungnya Jihan langsung menempatkan diri dengan sangat nyaman lalu mulai menutup matanya.
Jihan terlelap dalam pundak Dwi membuat Dwi mengatur tubuh Jihan agar tidur di pangkuannya.
"Cepet juga tidurnya" ujar Dwi.
"Capek hati capek pikiran ya cepet" ucap Dani.
"Bawa ke kamar Wi kasian" ucap Mama Sri.
"Ya mah" ujar Dwi menggendong Jihan ke arah kamar di bantu seorang maid yang membukakan pintu kamar mereka.
Dwi membaringkan Jihan dengan sangat pelan lalu menyelimutinya. Setelah itu Dwi pergi untul mengambil ponselnya yang berada di lantai bawah tepatmya di depan semua orang.
"Kenapa Wi" tanya Mama Anggun.
"Ambil ini mah" ucap Dwi sopan.
"Wi tolong jaga Jihan ya" ujar Mama Anggun membuat Dwi menatapnya dan duduk.
"Iya mah pasti" ujar Dwi.
"Tadi setingan bukan si Wi" tanya Dani membuat semua orang menatap Dwi termasuk Fero dan Putri yang berada di sana.
"Gak tau kalau di hati Jihan kak, tapi setelah kejadian di ruangan tadi kalian semua taulah pas Dwi bawa ke luar tadi Dwi tanya dia jawab dia marah dia sedih dia kecewa dan dia merasa sangat bersalah" ujar Dwi lembut.
"Terus" tanya Jovan semangat.
"Dia minta maaf sama Dwi sambil nangis, Dwi bingung setelah Dwi flashback karena itu Dwi coba buat menenangkannya" ujar Dwi.
"Gimana caranya sampai anak saya lengket gitu" tanya Papa Prasaja membuat Dwi malu.
"Pah liat tuh pipinya merah malu pasti sesuatu yang rahasia" ujar Dani membuat semua tertawa kecuali Fero.
"He gini pah dia bilang buang bekasnya na Dwi bingung Dwi cium aja sambil bilang jangan ingat apapun sebelum ini gitu dia sambil nangis terus ngangguk sepertinya itu duh gimana si" ujar Dwi bingung sendiri.
"Apa anak saya barusan mengakui kalau telah menyentuh Jihan dan mendapat izinnya" ledek papa Seno.
"Papa" ujar Dwi merengek.
"Iz papa jangan di god dong itu lampu hijau kalau kita jadi kakek nenek" ujar mama Sri.
"Terserah kalian tapi sepertinya dia trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi apa di masa lalu dia pernah mengalaminya" tanya Dwi.
"Maaf Wi kita gak bisa kasih tau apapun kamu tau kita gak sedekat orang tua dan anaknya" ujar papa Prasaja.
"Setelah penculikan itu dia berubah yang ceria menjadi pendiam gue bahkan harus berjuang menjadi laki laki yang bisa dia percaaya, bukan kejahatan seksual yang dia alami tadi pemaksaan seseorang dengan sangat kasar karena itu dia takut saat laki laki menyentuhnya bahkan Fero aja gak bisa sembarangan menyentuh apalagi kalau dia agak kasar ancur dia" ujar Dani.
"Segitunya Kak" tanya Dwi dan Jovan.
"Hm, dan gue bilamg buat dia percaya sama gue sama lo karena kita Abang makanya orang yang paling percaya gue sama lo tapi lo makanya dia dengan senang hati pergi ke desa itu karena merasa di khianati sama lo" ujar Dani.
__ADS_1
"Gue gak tau" ucap Jovan.
"Kepercayaan yang dia berikan sangat besar sama lo, makanya saat lo sedikit saja mematahkan kepercayaannya ya itu konsekuensinya". ujar Dani.
"Wi mama mohon jangan pernah tinggalkan Jihan, mama lihat kamu mampu membuat Jihan percaya padamu" ujar Mama Anggun.
"Kita juga tau kalian tinggal menunggu beberapa bulan lagi dan pernikahan kalian akan ada di ujung tanduk tapi bisakah kalian mempertahankannya kita tau perjanjian pernikahan kalian" ujar mama Sri membuat Dwi membulatkan matanya.
Dwi terdiam bahkab tidak sanggup untuk menatap orang di depannya. Namun tiba tiba Jihan datang dan duduk di sampingnya.
"Kok bangun" tanya Dwi lembut.
"Haus" ujar Jihan menunjuk gelas yang dia bawa.
"Oh ya udah tidur lagi" ucap Dwi.
"Iya, tapi kenapa Jihan datang terus diem semua" tanya Jihan.
"Ya iya lah kamu datang tiba tiba buat kita terkejut" ujar Jovan.
"Hehe maaf" ucap Jihan cengengesan.
Saat Jihan berjalan ke arah kamarnya lagi dia ponselnya berdering membuat Jihan menatap ponselnya lalu menatap suaminya.
"Jawab aja" ujar Dwi membuat Jihan cepat cepat mengambil ponselny karena tertera nama ATM.
"Hallo" ujar Jihan.
"....."
"Bentar gue liat dulu" ujar Jihan langsung menarik sebuah laptop yang berada di laci meja ruangan itu.
"Gila lo gue gak mau berurusan sama mereka" ujar Jihan sembari membulatkan matanya melihat siapa yang di perintahkan.
"...."
"Gak mau gue, lo mau bunuh gue dia mafia kelas kakap" ucap Jihan
"..."
"Biasanya kan kelas teri, lagian biasanya gue sama Julio sama Kevin" ucap Jihan.
"....."
"Lo tanya sama Kevin aja gue gak mau, lagian ada mata elang di sini" ujar Jihan
"....."
"......"
"Oke" ujar Jihan mematikan ponselnya.
"Siapa, kok ATM" tanya Dwi.
"Masih girl" tanya Mama Seno.
"Kan lumayan pah, lagian kali ini gak di ambil pah" ucap Jihan.
"Siapa kok ATM" tanya Dwi lagi.
"Mesin ATM jihan" ucap Jihan.
"Apa uang mas gak cukup buat kamu" tanya Dwi.
"Ye ceburu bilang aja, lagian dia tuh Leon sepupu kamu" ujar Jihan meledek Dwi.
"Leon" ujar Dwi mengerutkan dahinya.
"Iya Wi, kenapa kamu gak ambil pekerjaan itu" tanya Papa Seno
"Gak pah, ak berani mafia besar kali ini pemilik klub malam terbesar" ujar Jihan.
"Sayang kamu tau kan siapa Leon" tanya Dwi.
"Tau dong" ucap Jihan.
"Kamu tau kamu bisa terancam kalau terlibat terlalu jauh" ucap Dwi.
"Tau papa juga tau, dan papa juga tau kalau Jihan yang penting uang" ucap Jihan.
"Jadi kamu" ujar Dwi.
"Kenapa" ujar Jihan tertawa membuat Dwi gemas dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan urusan sama Leon lagi" ucap Dwi berbisik
"Iya iya, lagian selama kerja sama dia belum pernah bunuh orang paling gak bisa bangun" ucap Jihan membuat Dwi menggelitikinya.
"Oke oke stop" ucap Jihan tertawa lepas.
"Janji dulu jangan pernah berhubungan dengan Leon apalagi kerja yang mengancam nyawa" ucap Dwi.
"Iya" ucap Jihan.
"Iya apa" tanya Dwi.
"Janji jangan kerja yang mengancam nyawa" ucap Jihan.
"Good" ujar Dwi mencium kepala Jihan.
"Iya lah orang Jihan kerjanya di depan komputer" ucap papa Seno.
"Sebenernya kerjaan kamu apa si" tanya Dwi.
"Sniper Cyber komputer" ucap Jihan.
"Pah" ujar Dwi karena tidak puas dengan jawaban Jihan.
"Semua yang Jihan katakan bener, dia sniper Cyber yang kerja dengan komputer tapi saat dia di minta jadi sniper jarang di ambil padahal bayarannya mahal" ujar Papa.
"Iya semua mobil dan motor sport Jihan gak ada yang beli sendiri kalau gak hadiah dari Abang kakak temen ya dari Leon" ucap Jihan.
"Boleh saya jual semua" ujar Dwi.
"Jual aja tapi kalau hasilnya bisa buat beli perusahaan papa" ucap Jihan.
"Oh jadi selama ini kamu mengincarnya" ujar papa Seno.
"Hehe gak cuma punya papa Seno kalau Abang lengah juga punya papa" ucap Jihan penuh keyakinan.
"Lalu kenapa gak dari dulu" ucap Jovan.
"Gak ada niat, lagian bukan perusahaan yang Jihan dapat malah saham" ucap Jihan.
"Ya saham yang bisa mengalirkan uang seberapa pun yang kamu mau" ucap Dani.
"Betul mesin ATM baru" ucap Jihan.
"Ngomongin saya ternyata" ucap Dwi.
"Udah dari tadi tuan, kenapa anda baru sadar nih ibarat tuan muda berjalan nih udah gak ada jalan masih aja gak berhenti terlalu panjang" ledek Jihan sembari tertawa.
"Dari tadi kamu jadikan saya kambing hitam ya" ucap Dwi.
"Udah udah urusan leon malah jadi panjang, sebenernya nih Leon minta bantuan buat cari tau siapa yang sedang memata matainya pas gue di kasih fotonya ternyata dia anggota mafia terkuat disini, dan dia minta Jihan buat menyelesaikannya Jihan gak mau" ucap Jihan santai.
"Lalu" ucap Dwi.
"Gak ada lalu selesai" ucap Jihan.
"Oh ya udah tidur lagi udah malam" ucap Dwi.
"Hm" ujar Jihan langsung berlari ke arah lamarnya di lantai dua.
Namun saat berada di tengah tengah tangga dia berhenti dan terduduk. Jihan merasa sangat pusing namun dia tersenyum saat Jovan melihatnya. Dia langsung melanjutkan jalannya dengan menahan kepalanya yang sakit. Jihan bahkan menabrak pintu saat akan masuk ke kamar.
"Mana obat gue, gue gak mau tumbang atau besok gak boleh pergi gak kelar kelar" ujar Jihan sembari mencari cari obat yang biasa dia konsumsi saat dia merasa merasakan sakit yang teramat.
"Cari ini" ujar Dwi memperlihatkan sebuah botol obat.
"Mas please" ujar Jihan mulai lemah.
"Mau sampai kapan kamu mengonsumsinya" tanya Dwi.
"Mas" ucap Jihan lesu dengan menahan sakit yang luar biasa di kepalanya.
"Berhenti mengonsumsinya" ucap Dwi memapah Jihan saat Jihan lemas tepat di depannya.
"Tapi sakit" ujar Jihan mulai menangis.
Dwi memeluk Jihan menenangkan. Dia tau apa yang akan terjadi jika Jihan tidak mengonsumsi obat itu saat pemyakitnya kambuh.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya ya....