
"Tante masak apa ya" ujar Jihan saat selesai membersihkan diri.
Jihan berjalan ke arah dapur dan melihat berbagai makanan masih tersaji di sana. Jihan tidak menemukan siapapun termasuk bibi yang membantunya saat siang.
"Wah ayam kecap buatan tante pasti enak" ucap Jihan langsung memboyong sepiring ayam kecap ke ruang keluarga.
Jihan pergi untuk menonton televisi dengan menyantap ayam kecap yang dia bawa tadi namun di tengah kegiatannya Jihan mendengan ponselnya berdering. Jihan menatap ponselnya lalu meletakkannya di depan meja yang menampilkan sebuah vidio dari Dwi.
"Kenapa nih orang kirim Vidio" ujar Jihan.
Jihan membuka Vidio tersebut yang ternyata Vidio saat Dwi sedang berada di helli kopter Jihan mengerutkan dahinya lalu tersenyum lebar saat kata kata terakhir Dwi terucap.
"Saat kamu selesai melihat Vidio ini dan mematikan ponsel kamu mungkin mas udah ada di belakang kamu" ucapan yang membuat Jihan tersenyum.
"Mana mungkin baru sepuluh menit yang lalu ya kali sampai aneh nih orang" ujar Jihan.
Saat Jihan meletakkan kembali ponselnya tiba tiba sebuah ciuman sukses mendarat di pipinya. Jihan tersentak dan spontan menonjok orang tersebut. Saat sadar siapa yang ada di belakangnya Jihan menatap aneh.
"Kenapa si, jangan pakai nonjok ngapa" ucapnya.
..."Ini beneran kamu mas, keluar dari ponsel ya" ucap Jihan tak percaya saat sadar yang ada di depannya adalah Dwi Jihan mengitari Dwi tak percaya kalau Dwi benar benar ada di depannya....
"Mas pakai helli kopter ke sini tau" ucap Dwi.
"Kenapa" tanya Jihan singkat.
"Karena rindu candumu" ucap Dwi.
"Dasar" ujar Jihan.
"Kenapa gak sekalian aja pakai super sonik" lanjut Jihan.
"Kamu ya bukannya di sambut kek kasih minum kasih makan malah kena tonjok di ceramahin lagi" ucap Dwi memegang ujung bibirnya yang pecah bekas hantaman Jihan.
"Lagian siapa suruh ngagetin main sosor aja lagi" ucap Jihan.
"Bukan ngagetin surprise" ucap Dwi kesal.
"Hehe ngambek, ya udah tunggu situ" ucap Jihan pergi ke arah dapur.
Jihan kembali dengan nampan yang penuh dengan minuman cemilan dan kotak P3K. Dwi menatap Jihan dengan intens membuat Jihan salah tingkah.
"Kenapa gitu" ucap Dwi sok polos.
"Gak, nih minum" ucap Jihan memberikan minuman kepada Dwi.
"Terima kasih, au perih" ucap Dwi.
"Obatin dulu baru makan" ucap Jihan.
Jihan duduk di hadapan Dwi lalu mengambil antiseptik dan mengoleskannya kepada Dwi setelah itu dia mengobati Dwi dengan sangat hati hati. Saat dia selesai dan hendak mengembalikan kotak obat Dwi menahannya membuat Jihan menatapnya dan terjadilah saling pandang.
"Ehen ehem" ujar Jihan memutuskan pandangannya membuat Dwi kikuk.
"Udah mendingan bisa makan" tanya Jihan.
"Udah kok". ucap Dwi.
Jihan mengganti chanel TV dan menonton kartun kesayangannya. Jihan tertawa cekikikan membuat Dwi ikut tersenyum. Karena sedari tadi Jihan hanya serius dengan TV dan makanannya Dwi mematikan TV saat dia bosan di campakkan.
"Kenapa di matiin si" ucap Jihan.
__ADS_1
"Lagian suami di campakkan" ucap Dwi.
"Gak tau apa kalau gue juga laper" gerutu Dwi namun masih bisa terdengar Jihan.
Jihan tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Dwi mendekati Jihan duduk di lantai tanpa Jihan sadari Dwi sudah memeluknya dari belakang Jihan meronta tapi Dwi semakin mengeratkan pelukannya.
"Sebentar Ji mas rindu" ucap Dwi membuat Jihan seketika berhenti meronta bahkan Jihan juga melepaskan sarung tangannya yang dia gunakan saat makan tadi.
Jihan terdiam begitupun Dwi yang sangat menikmati pelukan tersebut Dwi terus memeluk Jihan dengan membenamkan wajahnya di tengkuk Jihan namun sesuatu yang aneh terjadi Dwi tidak bergerak dan nafasnya sangat lambat. Jihan mengusap usap tangan Dwi namun tidak ada respon Jihan langsung melepaskan tangan Dwi dan tiba tiba.
gubrak.......
Dwi terjatuh, ternyata Dwi jatuh pingsan membuat Jihan kelabakan dan panik Jihan mengangkat Dwi dengan susah payah ke tempat tidur Jihan yang lumayan dekat dekat ruang kemuarga. Jihan membaringkan Dwi lalu melepaskan sepatu dan Dwi Jihan langsung menggosok tangan Xwi berharap Dwi sadar saat Jihan akan oergi untuk menghubungi dokter tangannya di tahan Dwi.
"Udah bangun" ucap Jihan lega.
"Jangan pergi Ji" ucap Dwi
"Gak gue di sini tenang aja" ucap Jihan lembut.
"Ji lo percaya sama gue kan" ucap Dwi.
"Maksud lo apa" tanya Jihan bingung.
"Ji lo suruh gue tinggalin Clarissa kan" ucap Dwi.
"Ya la terus kenapa gak mau tinggalin dia" ucap Jihan.
"Dia hamil Ji" ucap Dwi menunduk seketika Jihan berdiri dan ada air mata yang menetes.
Sedangkan Dwi langsung duduk di ranjang dan memeluk Jihan. Saat itu Jihan hanya diam hanya air mata yang terus saj menetes.
"Ji kamu percaya kan sama mas, mas gak pernah lebih dari sekedar peluk cium Ji" ucap Dwi memeluk Jihan erat.
"Maafin gue Ji" ucap Dwi.
"Berhenti minta maaf kalau lo emang gak ngelakuin itu semua" bentak Jihan membuat Dwi tersentak.
"Kamu bentak mas Ji" ucap Dwi melepaskan pelukannya.
"Apa lagi yang lo harapkan ha lo cerita ini semua di depan gue lo harap gue peluk lo maafin lo gitu gak mas gue gak mau buat kesalahan pisahin anak sama bapaknya kalau itu yang lo harapkan dari gue salah mas" ucap Jihan.
"Tapi Ji gue yakin gue gak pernah lakuin itu" ucap Dwi.
"Apa buktinya" ucap Jihan.
"Gue gak bisa buktiin itu semua tapi lo harus percaya Ji" ucap Dwi melembut.
"Hahaha" ujar Jihan langsung pergi ke tempat kerjanya di sebelah kamarnya.
"Vin bantu gue cari tau tentang kebenaran kehamilan Clarissa minta bantuan Rey dan jangan lupa cari tau juga siapa saja orang yang pernah berkencan dengannya dan siapa ayahnya jangan ada yang kalian semua tutupi kalaupun Mas Dwi adalah ayah dari anak Clarisaa gue mau kalian selesai sebelum pernikhan Putri paham" ujar Jihan keras.
Jihan tak memberikan waktu Kevin untuk menjawab nya Jihan langsung mematikan ponselnya. Hancur sakit itu yang Jihan rasakan saat ini. Walaupun di antara mereka belum saling mencintai tapi dia tetaplah istrinya ada air mata yang terus mengalir membasahi pipi Jihan.
Dwi yang mendengar dari dalam kamar karena Jihan tak menutup pintunya dengan rapat. Dwi hanya pasrah dengan apa yang sedang terjadi namun tiba tiba Jihan keluar dari ruangan tersebut dan menarik paksa ponsel yang sedang Dwi pegang membuat Dwi terkejut.
Dwi tak berkomentar tentang apa yang Jihan lakukan dia hanya tersenyum.membuat Jihan kembali meneteskan air matanya. Dwi hendak mengusap air mata Jihan namun dengan cepat Jihan kembali ke ruang kerjanya dan menutup pintu dengan keras.
"Apa arti dari air mata mu Ji" ujar Dwi.
Jihan langsung bekerja dan meretas ponsel Dwi. Dwi menunggu Jihan sampai larut malam namun Jihan tak kunjung keluar Dwi membuka sedikit pintu ruangan Jihan dan melihat Jihan sedang meretas ponselnya Dwi tersenyum lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman.
__ADS_1
"Ji mas masuk ya" ucap Dwi lembut namun tak ada respon Jihan masih fokus dengan laptopnya.
Dwi menyodorkan makanan ke depan Jihan tak di sangka Jihan menerima suapan Dwi walau matanya masih fokus ke pekerjaannya. Dwi terus menyuapi Jihan dengan telaten sampai makanan tinggal setengah yang Dwi bawa.
"Udah gue udah kenyang lo aja yang makan" ucap Jihan tanpa ekspresi.
"Iya sayang" Ujar Dwi lembut.
"Jangan makan itu, itu sisa gue" ucap Jihan menahan Dwi saat Dwi akan memakan sisa makanannya.
"Biar akur" ucap Dwi tersenyum.
"Ga boleh, seharusnya gue yang makan sisa lo kenapa terbalik" ucap Jihan.
"Gak apa apa Ji" ucap Dwi memaksa.
"Serah lo deh tapi jangan makan di sini keluar sana" ucap Jihan.
Dwi pergi ke dapur untuk makan Jihan mengikuti tanpa sepengetahuan Dwi Jihan melihat Dwi memakan makanan yang dia makan Jihan tersenyum lalu dia kembali ke pekerjaannya saat Dwi selesai makan dan akan kembali ke kamar.
Dwi duduk di ranjang menatap ruangan Jihan, Dwi membuka sedikit agar dia bisa melihat apa yang Jihan lakukan. Sampai waktu menunjuk jam tiga dini hari Jihan menyelesaikan kerjanya dan kembali dengan ponsel Dwi di tangannya sedangkan Dwi masih dengan posisi duduknya.
"Minggir minggir gue butuh tidur" ujar Jihan berjalan sempoyongan dan menyingkirkan selimut yang sedang Dwi pakai.
"Kenapa kaki lo panjang banget si" ucap Jihan.
"Bukan panjang tapi jenjang" ucap Dwi tersenyum saat Jihan mulai berkomentar.
"Serah gue mau tidur nih ponsel kamu" ucap Jihan sembari tidur dengan kaki masih di bawah sedangkan separuh badannya di atas kasur.
Tidak menunggu lama Jihan sudah lelap dalam tidurnya. Dwi membenarkan posisi Jihan lalu mengecek ponselnya Dwi tersenyum karena walpaper di ponselnya menjadi foto Jihan. Dwi juga mengganti walpaper ponsel Jihan menjadi fotonya.
"I love you Ji" ucap Dwi mencium kening Jihan dan ikut terlelap.
Siang hari Jihan terbangun karena kebisingan di rumahnya. Jihan mengerjapkan beberapa kali matanya karena dia masih kurang tidur. Jihan menatap ke sampingnya yang ternyata Dwi memeluknya Jihan terkejut namun seketika dia malah membenamkan wajahnya ke dada bidang Dwi.
"Nyaman" ujar Jihan dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komentarnya ya......
__ADS_1
Maaf kalau ceritanya berbelit belit biar episode panjang... hehe...
.