Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 165


__ADS_3

"Hai Ay" ujar Fero dengan senyuman aneh.


"Akal akalan lo ternyata" ucap Jihan mendekati Fero.


"Bukan papa" ucap Fero menunjuk tuan Seno di sana.


"Ngaco lo" ucap Jihan langsung lemas di depan Fero membuat Fero panik dan langsung menggendong Jihan.


"Kena lo" ucap Jihan saat Fero menggendongnya.


"Monyet lo bilang aja mau gendong gak pake drama, sini kalau mau gendong" ucap Fero menurunkan Jihan pelan hanya mendapatkan senyuman manis Jihan.


"Kalau peluk" ucap Jihan.


"Boleh atau mau gue cium sekalian" ujar Fero


"Ngarep bener" ujar Jihan


"Acara apa si" lanjut Jihan.


"Istri gue hamil" ucap Fero.


"Istri lo yang hamil gue yang repot" ucap Jihan.


"Lo kan bakal.jadi budenya" ucap Fero.


"Gak peduli" ucap Jihan.


"Lagian ini juga biar lo tau kalau gue bisa move on dari lo" ucap Fero.


"Emang lo doang gue juga bisa" ucap Jihan berjalan menjauh.


Saat Jihan berjalan ke arah tangga Jihan melihat Dwi di sana membuatnya membalikkan badan tapi Dwi mengejar dan menariknya sampai Jihan jatuh di pelukannya.


"Kangen Ji" ucap Dwi memeluk erat Jihan.


Jihan tidak membalas juga tidak memberontak. Sampai Dwi melonggarkan pelukannya dan menghujani Jihan dengan ciuman tapi Jihan bersikap biasa saja.


"Wi liat istri lo gak seneng banget" ucap Kevin.


"Biarin" ucap Dwi kembali memeluk Jihan.


"Sayang kamu udah sampai" ucap Mama Anggun yang baru datang dan melihat Jihan dalam pelukan Dwi membuatnya tersenyum.


"Hm, minggir mual gue " ucap Jihan mendorong Dwi kuat dan berlari secepat kilat untuk mengeluarkan semua yang ada di perutnya sampai di lemas.


"Ji" ucap Kevin.


"Gak tau kak, lo gak pulang" ucap Jihan.


"Nanti katanya tuan besar mau bicara sepertinya gue harus balik ke perusahaan tuan Besar " ucap Kevin sembari mengulurkan tangannya


"Kenapa harus lo si kak" ucap Jihan bangun dengan bantuan Kevin.


"Gak tau, gue maaf ya kalau selama kerja sama lo gue nyebelin" ucap Kevin.


"Iya harusnya gue yang minta maaf repotin lo terus" ucap Jihan duduk bersandar di ruang tamu.


"Tapi beneran gak papa" tanya Kevin.


"Gak papa, udah lah gue juga mau pulang" ucap Jihan mengambil tasnya dan pergi dari rumah itu


"Lo serius " ucap Kevin.


"Iya, mual gue" ucap Jihan.


"Tadi lo baik baik aja" ucap Kevin yang juga bersiap untuk pergi.


"Wi lo gak mau nahan Jihan" ujar Kevin.


"Gue" ucap Dwi.


"Gue gak peduli" cibir Jihan yang langsung melepaskan sepatunya dan menentengnya.


"Ji jangan pulang dulu saya mau bicara sama kamu sama Kevin" ucap Papa Seno.


Jihan langsung berjalan mengikuti tuan Seno bersama Kevin dan terus saling menyalahkan satu sama lain. Jihan dan Kevin kaget karena benar saham Ayasta anjrot sangat besar membuat Jihan memijat pelipisnya.


Jihan melihat semua data yang di kumpulkan mertuanya itu. Jihan langsung keluar dan menarik Fero yang sedang duduk santai sembari menonton tv.


"Lo gimana si Ta, bisa kerja gak si" ucap Jihan membanting dokumen yang dia bawa


"Maaf Ay" ucap Fero.


"Gila tau masa saya tinggal sehari udah gini dulu lo gak gini loh Ta, apa karena udah menjadi hak milik gue jadi lo gini" ujar Jihan penuh emosi.

__ADS_1


"Ay gue" ujar Fero


Jihan tidak mendengar penjelasan apapun dari Fero dia langsung berjalan pergi ke ruang kerjanya dan membanting pintunya keras membuat semua orang di sana tersentak.


Jihan berjibaku dengan komputer canggihnya di sana bahkan dia melewatkan makan malam keluarga yang dihadiri semua anggota keluarga baik Bramasta Seseno dan Prasaja.


"Makan Kakak ipar" ucap Putri saat Jihan keluar dari ruangan itu.


Jihan tidak menjawab wajahnya masih sangat serius. Jihan keluar hanya untuk mengambil sebotol bir.


"Kamu mabuk" ucap Jovan.


"Gak, nih masih sehat" ucap Jihan.


"Biar kakak bantu" ucap Dani.


"Dari tadi kek" ucap Jihan langsung pergi ke ruangannya lagi di ikuti Dani.


"Abang boleh bantu" tanya Jovan.


"Bantuin doa biar Jihan keluar masih utuh" ucap Jihan.


Setelah Jihan menutup pintunya Fero menatap mertuanya itu yang memiliki ide gila itu.


"Pah di luar dugaan" ucap Fero.


"Iya dan ini pertama kalinya Jihan marahin kamu" ucap Papa Seno tertawa.


"Iya dan pertama kalinya juga Jihan natap Fero semenakutkan itu" ucap Fero.


"Makanya gak bisa jawab" ucap Putri.


"Marahnya Jihan itu lebih menyeramkan dari pada marahnya ibu negara" ucap Fero.


"Ya udah bantuin sana" ucap pap Seno.


"Ya kali Fero ke sana bisa abis" ucap Fero.


"Ta tanggung jawab lo bantuin Kevin lo Jul balikin semuanya" ucap Jihan serius


"Siap Bos" ucap Kevin dan Fero bersama.


Jihan pergi ke arah kamarmya namum di tengah tangga dia terlihat kesakitan. Jihan melanjutkannya ke kamar namun saat kembali dari kamar sakitnya tidak tertahan membuat Jihan duduk di anak tangga membuat Fero yang melihatnya langsung berlari ke arahnya.


"Ay" ujar Fero saat meihat keringat menetes di wajah Jihan.


"Bisa bangun gak" tanya Fero.


"Gak bisa ngapa ngapain" ucap Jihan.


"Oke lo tunggu sini gue ambilin air anget" ucap Fero di angguki Jihan.


Fero berlari ke dapur lalu mencari botol dan mengisinya dengan air anget. Saat Fero kembali Jihan tersenyum.menahan sakit sedangkan Dwi hanya melihat istrinya di perlakukan istimewa oleh semua orang.


"Wi istri lo" ucap Fero di hentikan Jihan.


"Ta makasih ya, tapi apa alasan lo Julio dan Papa lakuin ini lo tau kan kalau ini semua bukti perjuangan gue yang relain sekolah gue" ucap Jihan.


Dwi datang berjalan perlahan ke arah Jihan membuat Jihan kembali mual. Dwi berusaha sabar karena Jihan kembali menunjukkan hal yang dulu oernah dia tunjukkan saat dia hamil.


"Mas kamu pake parfum apa si" tanya Jihan ketus.


"Masih sama kenapa" tanya Dwi lembut dan duduk di samping Jihan.


"Wanginya gak enak, mual gue" ucap Jihan.


Dwi tersenyum dengan tutur Jihan, bukannya pergi dia justru mengusap perut Jihan dan perlahan sakitnya hilang. Fero melihat itu merasa senang walau ada sedikit rasa cemburu masih di sana.


"Gue gak tau kalau dampaknya sebesar ini Ay" ucap Fero.


"Lo tau beberapa orang menarik investasinya dan gue harus berjuang mempertahankan mereka kalau sampai besok pagi perusahaan gue masih gini aja mereka akan langsung pergi" ucap Jihan lesu.


"Mau mas bantu" tanya Dwi.


"Apa harus seorang suami tanya dulu mau bantu istrinya gitu" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Yaya saya yang gak pengertian" ucap Dwi.


"Dasar" ujar Jihan bangun.


"Kenapa perutnya" tanya Dwi sembari terus mengelus perut Jihan.


"Udah gak papa" ucap Jihan melepaskan tangan Dwi dari perutnya


Jihan berjalan menjauhi Dwi pergi ke ruangan dimana Dani Julio Dan Kevin sedang berjuang memperbaiki data.

__ADS_1


"Hallo em mobil dengan atas nama Julio saya ganti ya jadi Jihan Ayundia saja seperti biasa platnya juga seperti biasa dan di kirim ke alamat yang baru saja saya kirimkan terima kasih" ucap Jihan.


"Ji" ucap Julio.


"Hadiah lo raib" ucap Jihan enteng.


"Yah, baru mau punya mobil baru" ucap Julio.


"Baru hadiah yang gue ambil, kalau lo melakukan penghianatan ke dua kalinya aset yang lo miliki bakal gue buat miskin lo" ucap Jihan penuh tekanan.


"Tuan besar" ujar Julio merengek.


"Maaf" ucap Tuan Suseno.


"Makasih pah" ucap Jihan menarik uang investasinya dari perusahaan Suseno yang berdampak cukup besar pasalnya Jihan adalah pemilik saham terbesar.


"Yah Ji" ucap tuan Seno.


"Lo juga Ta" ucap Jihan


"Jangan Ay, Ay iz Ayangku" ucap Fero menggoda Jihan


"Gak mempan Ta, kita sama mulai dari awal" ucap Jihan yang juga menarik sahamnya dari perusahaan Fero.


"Ay kok lo tega si" ucap Fero.


"Lo lebih tega" ucap Jihan.


Jihan kembali berjibaku dengan komputernya dengan sangat serius bedanya banyak yang membantu pemulihan sahamnya.


Perlahan namun pasti Jihan mulai bisa tersenyum sahamnya mulai naik walau masih jauh dari nilai sebelumnya. Sampai malam sangat larut terlihat semua orang sudah mengantuk namun Jihan masih serius dengan sesekali merenggangkan ototnya.


"Sayang makan dulu ya" ucap Dwi sembari mencium pipi Jihan.


"Males" ucap Jihan.


"Kalian istirahatlah" ucap Jihan membuat semua orang saling tatap.


"Gue serius" ucap Jihan kembali membuat Julio dan Kevin pergi lebih dulu di susul Dani dan Jovan.


"Lo juga Ta" ucap Jihan.


"Oke" ucap Fero langsung menggandeng istrinya dan pergi.


"Kamu juga" ucap Jihan pada Dwi.


"Mau pergi setelah kamu makan" ucap Dwi.


"Berdirilah di sana" ucap Jihan enteng.


Dwi mengikuti ucapan Jihan dengan terus berdiri di belakang Jihan. Sesekali Jihan menghela nafasnya panjang namun seketika berubah saat melihat jejak digital yang membuat perusahaanya di ambang kehancuran.


"Belum selesai Ji" tanya papa Seno mendekat.


"Pah ini apa" tanya Jihan.


"Angka angka papa gak tau" ucapnya.


"Nih" ucap Jihan menggabungkan Angka kode yang menghasilkan tulisan Putra Suseno.


"He, itukan nama Dwi" ucap Papa Seno mengelak.


"Dia gak punya orang khusus yang bisa membuat kode nama begitu saja, dan ini di bawah juga jadi Julio gimana papa jelasin" ucap Jihan.


"Yang jelas apa tujuan papa" tanya Jihan serius.


"Papa cuma mau buat kamu kurang uang dan kamu kembali ke dekapan Dwi papa gak mau kalian pisah" ucap papa Seno


"Hah, dengan ini papa justru merenggangkan jarak lebih panjang" ucap Jihan.


"Susah kalau punya mantu otaknya di atas rata rata" ucap Paapa Seno.


"Karena papa banyak yang menjadi korban" ucap Jihan.


Jihan pergi dari ruangan itu memberi ruang untuk Dwi dan Papanya berbicara karena Jihan tau kalau sedari tadi Dwi terlihat menahan amarahnya.


Jihan mengembalikan apa yang sudah dia lakukan tadi mulai dari hadiah Julio dan beberapa investasinya. Dia bakhan memberikan mobil yang sama pada Kevin hadiah selama dia bekerja dengan Jihan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys.....


__ADS_2