Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Sayang


__ADS_3

"Cie" ucap semua orang.


Jihan langsung terduduk malu dengan kelakuan Dwi, Jihan menyembunyikan wajah merahnya di pelukan Hana. Sedangkn Dwi langsung keluar untuk mencari udara karena begitu gugup.


"Ji biasa aja kali Ji" ledek Randi.


"Eh kalian kapan rencanain ini semua" tanya Jihan kepada Hana.


"Kalau kita baru aja tadi oas kamu lagi pergi, kalau Abang sama temen temennya gue gak tau tapi yang jelas gue suka pas lo ngadepin ipar lo" ucap Hana.


"Kalian ngumpet dimana" tanya Jihan.


"Di luar" ucap Mona.


"Lo tau pas ipar lo dateng tu gue kira kalian bakal berantem fisik, ternyata nggak" ucap Hana.


"Tadinya mau gue gampar tuh bocah, tapi gak jadi dia juga gak buat gue keluar darah" ucap Jihan santai.


"Lo tau gak apa yang di ucapin ipar lo sebelum masuk" ucap Mona.


"Apa" tanya Jihan.


"Mah pah bisa gak ya takut salah jalan mah, di sana banyak cogan lagian kenapa harus gue juga yang kerjain kaka ipar, kalau gue di pukulin kalian bantu ya" ucap Mona.


"Haha, ternyata dia takut gue kerjain balik ah" ucap Jihan.


"Tapi Ji dia katanya atlet taekwondo" ucap Hana.


"Gak takut gue" ucap Jihan.


Jihan berdiri dan menghampiri Putri yang sedamg duduk dengan Dwi dan teman teman Dwi tepatnya para cogan. Jihan duduk dengan keras lalu merangkul pundak Putri membuat Putri tersentak dan tersenyum kaku.


"Kenapa" tanya Jihan santai.


"Enggak kak, kaka baik deh" ucap Putri menurunkan tangan Jihan.


"Siapa bilang gue baik, gue bad girl" ucap Jihan berbisik.


"What" ucap Putri kaget.


"Kenapa ha" tanya Jihan memandangnya remeh.


"Eh gak gak, maafin Putri kak Putri janji gak bakal gitu lagi sama kaka" ucap Putri dengan mata memerah.


"Gue gak mau maafin, tapi gue mau bales lo" ucap Jihan dengan tegas.


"Kaka please jangan" ucap Putri memohon.


Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya acuh dan berjalan cepat meninggalkan Putri yang ketakutan. Jihan tersenyum setelah selihat ekspresi sang adik ipar yang sangat ketakutan.


"Kak emang kaka Jihan bad Girl ya" tanya Putri kepada Dwi.


"Iya bisa di katakan begitu" ucap Dwi.


"Aduh mati gue" ucap Putri berlari ke arah Jihan dan memeluknya dari belakang.


Jihan tersentak lalu dengan cepat tau kalau itu Putri yang memeluknya. Jihan langsung membalikkan badan dan menatap Putri tajam membuat semua orang ikut iba dengan Putri.


"Apa yang lo kaluin ha" ucap Jihan penuh penekanan.


"Kaka maafin Putri kak" ucap Putri tulus.


"Lo pikir dengan lo peuk gue baikin gue gue bakal maafin lo gitu ngarep amat lo" ucap Jihan.


"Oke kalau pakai cara halus ini gak bisa gue pake cara ini" ucap Putri hendak memukul Jihan dengan tinjunya namun dengan cepat Jihan menangkisnya dan tersenyum sinis.


"Mau main" tanya Jihan.


"Boleh" ucap Putri menyerang Jihan dengan brutal namun bukan Jihan kalau dia tidak bisa menahan dan memblokir gerakan lawan.


Semua orang menjadi tegang dengan kejadian tersebut. Dwi bahkan ikut tercengang dengan adiknya yang menyerang Jihan, Dwi bingung namun Dwi tersenyum karena semua serangan dari Putri semua tidak ada yang menyentuh tuhuh Jihan padahal Putri sudah menyerang dengan cepat.


"Capek" ucap Putri.


"Capek giliran gue ya" ucap Jihan sinis.


"Gila kalau Jihan sampai layangin pukulan gak jamin gue si Putri bisa senyum" ucap Hana membuat semua orang makin tercengang.


"Lo bener yang terakhir aja kakinya patah tuh" ucap Mona membuat Dwi ketar ketir.


"Ji udah lah jangan gitu anggap aja salam perkenalan ya ya" ucap Dwi memohon.


"Kamu akan menjadi yang selanjutnya" ucap Jihan terlihat sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Kaka kaka cantik deh" ucap Putri memuji.


"Pasti kalau gak cantik mana mungkin Kaka lo suka sama gue" ucap Jihan santai.


"Iya Kaka juga baik deh" ucap Putri lagi.


"Kata siapa gue baik, lo belum tau gue kalau gue baik gak bakal gue nolak Kaka lo" ucap Jihan.


"Jadi Kaka di tolak sama Kak Jihan hahaha, baru kali ini ada orang yang gak kena pesona lo kak biasanya mereka yang kejar Kaka" ucap Putri.


"Pesona kaka lo kalah sama pesona gue" ucap Jihan.


"Narsis juga ternyata" ucap Putri.


"Gak narsis tapi nyata" ucap Jihan


"Terserah lo deh, pusing gue" ucap Putri.


"Siapa suruh mikir" ucap Jihan.


"Mending gue aja jangan Putri" ucap Dwi.


"Mau negosiasi" tanya Jihan.


"Yaya" ucap Dwi semangat.


"Tapi gue gak mau, lagian gak bakal gue apa apain lagi paling juga gak bisa bangun" ucap Jihan tersenyum sinis.


"What mending lo balas semua ke gue" ucap Dwi.


"Kenapa sayang banget lo, kenapa pas dia serang gue gak lo hentikan" tanya Jihan.


"Kenapa harus gue hentikan Putri, bisa nyentuh kamu juga gak" ucap Dwi.


"Ya udah minggir" ucap Dwi.


"Gak akan gue gak akan minggir" ucap Dwi berdiri di depan Putri.


"Oke" Jihan langsung menyerang Dwi dan Putri dengan gelitikan mautnya membuat Putri dan Dwi tertawa terbahak bahak.


"Lagi" tanya Jihan.


"No, please kak udah gue nyerah" ucap Putri yang sudah terkapar di lantai, sedangkan Dwi berhasil lolos dari Jihan.


"Oke udah puas gue, sekarang giliran lo" ucap Jihan berdiri dan melirik Dwi dengan tajam membuat Dwi berlari ke kamar dengan cepat Jihan lari menyusul Dwi.


"Kenapa takut" tanya Jihan.


"Gak, Ji kamu cantik deh" ucap Dwi.


"Pasti lah makanya kamu langsung nikahin gue, dan yang lebih parah gak minta izin dari gue lagi" ucap Jihan.


"Maaf karena aku gak mau kehilangan kamu" ucap Dwi menatap tajam Jihan.


"Oke oke udah gak usah di pikir udah berlalu lagi" ucap Jihan duduk di tepi ranjangm


"Ji maafin gue" ucap Dwi duduk di samping Jihan dan merengkuh Jihan.


"Udah di bilang berhenti minta maaf" ucap Jihan.


"Kamu gak mau tanya apa gitu" tanya Dwi.


"Tanya apa" ucap Jihan.


"Apapun lah, apa kamu gak ingin tau alasan di balik rencana ulang tahun lo ini" ucap Dwi.


"Gak, tapi kalau mau cerita juga boleh" ucap Jihan.


"Bilang ja iya gitu biar gue seneng" ucap Dwi memajukan bibirnya.


Jihan tertawa dengan keras membuat Dwi semakin memajukan bibirnya. Jihan merebahkan tubuhnya tepat di samping Dwi membuat Dwi membelalakkan matanya tak percaya.


"Kamu goda iman ku" ucap Dwi.


"Gak lagian kalau kamu memang sayang gak akan merusak sebelum gue yang kasih" ucap Jihan santai.


"Kamu yakin, dengan ikatan kita yang sekarang" ucap Dwi.


"Hm... karena gue percaya sama kamu, kalau sampai kamu hianati gue gak bakal lagi gue percaya yang ke dua kali" ucap Jihan.


"Oke tapi gak salah kalau gue minta sedikit aja" ucap Dwi sembari menidurkan dirinya di samping Jihan.


"Gak, kamu belum jawab pertanyaan gue tadi" ucap Jihan.

__ADS_1


"Yang mana" tanya Dwi mengingat ingat.


"Lo anggap gue apa" tanya Jihan.


"Gue anggap lo, istri temen sahabat dan orang paling spesial yang akan aku lindungi walau nyawa taruhannya" ucap Dwi serius.


"Oke gue akan, bersikap seperti istri teman sahabat dan orang yang pantas kamu lindungi" ucap Jihan.


"Makasih" ucap Dwi memeluk Jihan.


"Stop minggir minggir jangan peluk peluk dong" ucap Jihan.


"Hehe sorry sorry khilaf" ucap Dwi.


"Kamu bisa gak si kalau jangan panggil lo gue" lanjut Dwi.


"Bisa kenapa" tanya Jihan.


"Em aku gak suka" ucap Dwi jujur.


"Jujur banget pak, hehe ya bakal aku usahain buat aku kamu ngomong ngomong aku boleh panggil kamu mas gak" tanya jihan.


"Dengan senang hati" ucap Dwi.


"Oke udah laper nih, mau makan gak" tanya Jihan.


"Mau, tapi makan kamu" ucap Dwi berbisik.


"Gak gak gak mau" ucap Jihan duduk.


"Hehe bercanda sayang, yuk makan aku juga lapar" ucap Dwi memeluk Jihan dari belakang.


"Jangan peluk peluk dong" ucap Jihan melepaskan pelukan Dwi.


"Kenapa nyaman tau" ucap Dwi masih mempertahankan pelukannya.


"Rasanya beku tau tubuh gue" ucap Jihan.


"Jujur banget ya gue lepas nih" ucap Dwi meremas payu***a Jihan membuat Jihan terperanjak.


"Gila lo" ucap Jihan sedangkan Dwi sudah lari dengan kencang ke ruang tamu.


Jihan keluar dari kamar menuju dapur untuk makan tapi semua makanan di bawa Mama Anggun ke ruang tamu. Jihan menghampiri mamanya dan bertanya kepada Mamanya.


"Mah makan di mana" tanya Jihan.


"Di depan sama semu orang" ucap Mama Anggun.


"Oh ada yang bisa Jihan bantu" ucap Jihan.


"Ada buatin minuman aja buat semuanya, Mama udah di bantu Mona sama Hana" ucap Mama Anggun.


"Oke" ucap Jihan.


Jihan membuat minuman untuk semuanya karena Jihan tidak tau dengan apa yang di sukai semua orang Jihan membuat beberapa minuman bahkan Jihan juga membuat sup buah dengan telaten Jihan membuatnya dan tidak butuh waktu lama bagi Jihan karena Jihan sudah terbisa membuatnya.


"Buat apa Ji" tanya Hana.


"Sup buah, tadinya mau buat satu buat gue aja tapi gue gak tega sama kalian" ucap Jihan tersenyum.


"Oke terima kasih sayang" ucap Mona tersenyum.


Jihan tidak mengindahkan omongan Mona, Jihan hanya menyelesaikan pekerjaannya kemudian membawa sup buah ke ruang tamu dan meletakkannya di meja di tengah.


"Silahkan" ucap Jihan membungkukkan badannya tetap dengan nada dinginnya.


"Ji" panggil seseorang yang sangat familiar di telinga Jihan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Siapa siapa siapa..


Penasaran yuk ikuti terus***.....


__ADS_2