
"Kenapa kok kaget" ucap Dwi tersenyum.
"Lagian iseng banget si" ucap Jihan
"Sorry oh ya kamu punya baju buat kerja gue gak" tanya Dwi.
"Em, ada nanti gue cari setelah selesai masak" ucap Jihan.
Dwi masih memeluk Jihan dari belakang namun kali ini dia juga membenamkan kepalanya di tengkuk Jihan membuat Jihan tertawa geli.
"Geli tau" ucap Jihan.
"Gue gak gelitikin kali" ucap Dwi.
Jihan yang merasa tidak nyaman dengan berbagai gangguan dari Dwi langsung menyelesaikan masaknya dan membalikkan badannya.
"Minggir gue cariin baju seneng banget pakai handuk doang" ucap Jihan pergi namun Dwi menahannya.
"Kenapa lagi" ujar Jihan.
"Sekalian sama dasi kalau ada" ucap Dwi.
"Yaya" ucap Jihan pergi ke sebuah kamar lain di lantai atas Dwi yang penasaran langsung mengikutinya tanpa sepengetahuan Jihan.
Jihan memilih milih baju yang sekiranya pas dengan Dwi, sampai dia harus mengambil sebuah kotak dia rak paling tinggi dengan melompat lompat tapi dia malah terjatuh dengan kotak yang ikut terjatuh dia jatuh tepat di atas Dwi yang sedang membungkuk untuk mengambil sebuah design yang jatuh
"Au" ucap Dwi.
"Eh sorry sorry lagian ngapain si ikut ke sini" ucap Jihan bangun dan membereskan isi kotak yang berserakan.
"Kamu yang gak hati hati" ucap Dwi masih terduduk saat dia bangun ternyata handuk yang dia pakai terjatuh membut Jihan berteriak dengan cepat Dwi kembali melilitkan handuknya dan merampas pakaian yang ada di tangan Jihan (Jangan pikir aneh dulu ya Dwi udah pakai ****** *****).
Dwi pergi ke kamar untuk bersiap sedangkan Jihan masih menetralkan hatinya yang masih berdetak dengan kencang. Setelah semua di rasa baik baik saja Jihan kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Saat Jihan selesai menyiapkan makan di dapur dan hendak kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dia berpapasan dengan Dwi. Mereka berdua sama sama tediam sejenak sampai Jihan yang meninggalkan lebih dulu.
"Kenapa juga gue harus lihat kayak gitu pagi pagi jadi mood gue nano nano" ujar Jihan saat berada di dalam kamar sembari mencari baju ganti.
"Kenapa gue jadi canggung banget si" ucap Dwi pada dirinya sendiri saat sampai di dapur.
Tak lama Jihan datang dengan pakaian yang biasa dia pakai di ke kantor membuat Dwi menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki apa lagi dengan make up volwes yang Jihan kenakan membuatnya semakin mempesona sangat berbeda dengan dandanan Jihan sehari hari.
"Kenapa" ujar Jihan duduk di depan Dwi.
"Eh gak" ucap Dwi.
"Katanya kamu mau pulang pakai apa" tanya Dwi lagi.
"Pakai mobil lah masa jlan kaki, kenapa mau ikut" ucp Jihan.
"Gak cuma mau kasih ini buat keperluan kamu" ucap Dwi memberikan kartu ATM.
"Buat apa di sana jauh kali kalau mau ambil uang yang cas aja" ucao Jihan.
"Berapa" tanya Dwi.
"Se ikhlasnya" ucap Jihan
"Kamu bilang gitu kayak gue lagi beli apa gitu" ujar Dwi.
"Ya udah kamu punya berapa" tanya Jihan.
"Mas cuma punya dua ratus kamu tau kan kalau yang pegang uang cas si Rey" ucap Dwi sembari makan dengan lahap.
"Ya udah nanti Jihaan minta aja sama Kak Rey" ucap Jihan.
"Kenapa kamu kan istri gue, oh ya kamu pulang sama siapa bawa mobil mana jam berapa kemana dulu mau bawa buah tangan apa" tanya Dwi.
"Iya karena kamu gak punya uang, terus pulang sendiri bawa mobil Jihan sendiri tenang aja baru selesai servis kemarin nanti setelah meeting selesai ke kantor dulu bawa buah tangan design pesta" ucap Jihan.
__ADS_1
"Kamu bisa jawab semua pertanyaan dengan runtut" ujar Dwi.
"Bisa lah, IQ gue ada di atas rata rata" ujar Jihan.
"Percaya" ucap Dwi.
Mereka menyelesaikan sarapan pagi dengen terus bercerita dan saling bertanya. Jihan merasa lebih nyaman dan berbicara lebih hangat dari biasanya membuat Dwi sedikit lega dengan perubahan Jihan walaupun dia tidak tau sampai kapan itu akan berlangsung.
"Mas tunggu" ujar Jihan saat Dwi akan masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke kantor karena sudah di tunggu Rey.
"Ya kenapa" tanya Dwi membalikkan badannya.
"Nih, tadi lupa kasihnya" ucap Jihan memberikan dua buah dasi.
"Kenapa dua" tanya Dwi.
"Gak tau mana yang pas jadi Jihan bawa ke duanya, bentar" ucap Jihan memilih dasi yang pas untuk Dwi dan langsung memakaikannya membuat Dwi menahan nafasnya sedangkan Rey tersenyum senyum sembari mengabadikan momen tersebut dengan ponsel genggamnya.
"Udah beres" ucap Jihan.
"Oh oke thanks" ucap Dwi.
"Ya, Mas Jihan duluan ya" ucap Jihan sembari menyalami Dwi dan pergi dengan mobilnya.
"Bos gak mau berangkat" tanya Rey.
"Ya berangkat sekarang" ucap Dwi masuk ke dalam mobil sembari terus tersenyum.
"Ada yang lagi bahagian nih" ledek Rey.
"Diem lo" ucap Dwi membuat Rey hanya tersenyum tipis.
"Oh ya Rey, kamu bawa uang cas kan " tanya Dwi.
"Bawa kenapa bos tumben tanya" ujar Rey.
"Kamu bawa berapa" tanya Dwi.
"Jangan pakai uang itu kalau perlu di taruh di di tas kecil nanti atarkan saya kasih uang itu ke AYASTA GROUP" ucap Dwi pada Rey.
"Siap bos, jam berapa" tanya Rey.
"Kenapa apa gue ada janji" ujar Dwi.
"Lupa bos hari ini kan meeting bulanan bos sama semua staf" ucap Rey.
"Gue lupa Rey, bentar gue hubungi Jihan dulu" ucap Dwi.
"Eh Rey punya nomor Jihan" tanya Dwi.
Sebenarnya Dwi punya nomer Jihan tapi Dwi ingat kalau Jihan tidak membawa ponselnya tadi karena ponselnya tertinggal di mansion.
"Yang suami siapa gak punya nomor ponsel istrinya" gumam Rey.
"Gue masih denger kali Rey" ucap Dwi.
"Hehe sorry bos, kita hubungi Kevin aja bos soalnya Nona muda kalau lagi kerja gak pernah pegang ponsel" ucap Rey.
"Itu maksud gue Rey" ucap Dwi.
"Yaya terserah nih nomer nya" Ucap Rey memberikan kartu nama Kevin.
Dwi langsung menghubungi Kevin dengan ponselnya karena dia lupa tanya kepada Jihan kapn dia akan pergi dari kota karena Jihn hanya memberi tahu setelah selesai meeting dan entah kapan itu.
"Hallo dengan siapa" ucap Kevin sopan.
"Mana Jihan gue mau bicara" ucap Dwi ketus.
"Dia sedang ada meeting lagian kalau anda tidak memberikan identitas yang jelas saya tidak akan mempertemukan anda dan Nona Jihan" ucap Kevin dingin.
__ADS_1
"Gue Dwi masih berani lo" ucap Dwi tak kalah dingin.
"Oh tuan muda baiklah akan saya hubungi kembali saat nona Jihan berkenan berbicara dengan anda" ucap Kevin.
"Baiklah tapi apa kamu tau kapan Nona muda kamu akan pulang ke desa" ucap Dwi.
"Bukankah anda suaminya" ucap Kevin.
"Bisakah kamu menjawab tanpa bertanya" ucap Dwi.
"Gue pulang setelah makan siang kenapa bukannya tadi pagi udah tanya" ucap Jihan merebut ponsel Kevin.
"Loh Ji katanya lagi meeting kok angkat telfon si" ucap Dwi.
"Ya tadinya mau meeting cepet tapi gue telat datangnya ya d tunda nih baru mau mulai" ucap Jihan.
"Oh gitu, kan gak tau kamu pulang tepatnya jam berapa gak tau juga kapan selesai meeting makanya telfon maaf ganggu" ujar Dwi.
"Bos barusan minta maaf ternyata Jihan bawa banyk perubahan bahkan sekarang bos gampang minta maaf" ujar Rey dalam hati.
"Iya gak apa apa, temui gue saat jam makan siang kalau emang penting" ucap Jihan.
"Oke, mau makan apa biar nanti Rey beliin" ucap Dwi.
"Apa aja, terserah yang penting enak" ucap Jihan.
"Oke bye, see you" ucap Dwi penuh kelembutan membuat Jihan tersenyum.
"Udah bos" ucap Kevin.
"Eh udah nih makasih ya" ucap Jihan dengan senyum yang terus mengembang.
"Bhagia nih" ledek Kevin.
"Iya nih gak tau kenapa mood gue lagi baik" ucap Jihan berjlan lebih dulu menuju ruang meeting.
Kevin yang melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Jihan ikut senang dan berharap semoga saja dia selalu bahagia dengan pernikahannya.
"Eh Vin bilang sama resepsionis kalau ada orang dari DJ Putra Company suruh langsung ke ruangan gue ya" ucap Jihan.
"Siap bos" ujar Kevin langsung menghubungi resepsionis dan mengatakan apa yang di perintahkan oleh Jihan.
Jihan memimpin meeting dengan sangat berwibawa dan sangat serius mendengar semua presentasi dari stafnya. Sama halnya dengn Dwi yang juga sedang memimpin meeting namun dia terlihat begitu gelisah membuat Rey sebagai tangan kanannya yang menggantikannya memimpin meeting.
"*Kenapa gak selesai selesai si" ujar Dwi dalam hati.
"Haduh kacau nih bos, Jihn banyak bawa perubahan ada baiknya ada juga gak nya" ujar Rey dalam hati*.
Sampai waktu makan siang tiba Dwi baru saja selesai meeting sedangkan Jihan sudah menunggunya di ruangnnya dengan sangat sabar. Namun sudah lewat satu jam Jihn menunggu Dwi belum juga datang membuat Jihan pergi dari ruangannya dan pergi ke ruangan Kevin untuk membiarkan Kevin makan siang terlebih dahulu dan meminta Kevin untuk membawakannya makanan.
Kevin meng iyakan perintah Jihan namun saat tiba di loby Kevin bertemu dengan Rey dan Dwi yang baru saja masuk dengan segera Kevin menyuruh Dwi untuk pergi ke ruangan Jihan sedangkan dia dan Rey izin untuk makan di luar.
"Bisa kena marah gue" ujar Dwi langsung naik ke ruangan Jihan dan berlari agar sampai lebih cepat dengan makanan di tangannya.
"Maaf Tuan anda siapa" tanya Sekertaris Jihan.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like vote dan komentarnya ya....
__ADS_1
Dan jangan lupa juga jadikan favorit....