
"Kalian mau kemana" tanya Mama Sri.
"Nih mah Jihan mau ke apartemen" ucap Dwi.
"Kenapa gak suka ya di sini" ucap Mama.
"Bukan gitu mah, tapi ada acara hari ini dan semuanya keperluan ada di apartemen" ucap Jihan.
"Ih gitu ya udah, ati ati ya Dwi anterin kan" ucap papa.
"Gak pah, Jihan sendiri aja lagian mas Dwi mau ada acara sendiri juga" ucap Jihan.
"Gak apa apa lagi Dwi masih punya banyak waktu buat itu iya kan Wi" ucap Papa.
"Gak perlu pah, mah pah Jihan pamit dulu" ucap Jihan berpamitan dengan ke dua mertuanya namun saat dia akan mencium tangan ke dua mertuanya Dwi menahannya.
"Iya hati hati sayang" ucap Mama yang tau kalau Dwi tidak menginginkan tangan Jihan terlepas dari genggamannya.
Dwi mengantar Jihan ke mobilnya, saat Jihan sudah duduk di belakang kemudi dan menutup pintu mobil Dwi mengetu kaca membuat Jihan membukanya.
"Kenapa ada sesuatu yang terlupa" tanya Jihan.
"Iya" ucap Dwi.
"Apa" tanya Jihan polos.
Dwi langsung memcium pipi dan kening Jihan lama membuat Jihan menutup matanya merasakan kehangatan yang Dwi salurkan.
"Oke hati hati jangan ngebut" ucap Dwi.
Jihan hanya tersenyum tanpa membalas ciuman Dwi. Jihan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga besar Suseno.
Saat sampai di apartemennya terlihat Kevin yang sedang manyun nembuat Jihan tertawa.
"Tawa aja terus" ucap Kevin.
"Nih " ucap Kevin memberikan tas jingjing Jihan.
"Makasih ya" ucap Jihan.
"Iya kayaknya ada yang lagi bahagia nih" ledek Kevin.
"Sedikit tapi entahlah" ucap Jihan.
"Ya udah gue pulang dulu sampai ketemu nanti di kantor" ucap Kevin.
"Lo kalau mau libur juga gak apa apa " ucap Jihan.
"Kalau libur urusan lo sama semua orang gimana" ucap Kevin.
"Iya juga" ucap Jihan.
"Ya udah gue balik ya, nih kuncinya" ucap Kevin memberikan kunci mobil Jihan.
"Terus lo pulang pakai apa" tanya Jihan.
"Ada tuh" ucap Kevin menunjuk mobil pribadinya.
"Ya udah " ucap Jihan.
Kevin melajukan mobil pribadinya sedangkan Jihan sedang menurunkan beberapa barang yang dia bawa dari desa dan membawanya ke apartemen.
"Akhirnya" ujar Jihan saat sampai di apartemen nya.
Dia bergegas untuk mandi dan bersiap pergi ke kampus untuk acara wisudanya. Satu jam berlalu Jihan selesai lalu berangkat dengan mobil sport terbarunya membuatnya menjadi pusat perhatian saat tiba di kampus.
"Wih bintang kita hari ini guys" ucap Randy saat Jihan datang.
"Terima kasih" ucap Jihan membungkukkan badannya bagai seorang putri.
Dengan balutan busana khas seorang yang akan wisuda Jihan terlihat begitu cantik. Jovan yang menatapnya dari kejauhan mulai mendekat dan memeluknya membuat banyak orang mengira mereka adalah pasangan.
"Abang gak nyangka kamu bener bener tepatin janji" ucap Jovan.
"Iya Bang makasih" ucap Jihan meneteskan air matanya.
"Loh kok nangis si gak cantik kalau gini" ucap Jovan menghapus air mata Jihan.
"Iya Bang, akhirnya keinginan terbesar Jihan terwujud hari ini" ucap Jihan.
"Kamu memang hebat Ji, maaf Abang udah gak percaya sama kamu" ucap Jovan.
__ADS_1
"Jihan" ujar seseorang membuat Jihan berbalik dan tersenyum.
"Kalian" ucap Jihan menunjuk ke tiga sahabatnya Mona Hana Nisa yang datang di acara spesialnya.
"Iya, cantik banget" ucap Nisa.
"Terima kasih" ucap Jihan.
"Guys foto kuy" ujar Mona.
"Ayok, sekalian sama mereka semua" ucap Jihan menunjuk Randy Jovan dan Raka.
"Biar gue yang fotoin" ucap Dani.
"Oke" ucap Jihan.
"Biar Fero aja Kak, kakak ikut aja" ucap Fero yang baru datang.
"Oke makasih ya" ucap Dani bergabung dengan Jihan.
"Nis lo kesini buat Abang lo" tanya Jihan.
"Iya sama lo juga sekalian dan gue gak yangka lo ternyata satu angkatan sama Abang gue" ucap Nisa.
"Woy gue sembilan belas tahun gila lo Abang lo dua tahun lebih tua dari gue" ucap Jihan.
"Kalian mau ngerumpi apa foto nih" ucap Fero.
"Maaf" ucap Jihan dan Nisa tertawa.
Setelah sesi mengambil beberapa foto wisuda akan di mulai. Saat semua orang sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan keluarga besar Suseno sebagai donatur terbesar universitas yang Jihan tempati datang terutama Tuan besar Suseno Nyonya suseno dan Tuan muda Suseno.
Banyak orang menatap kehadiran orang paling istimewa di acara tersebut terutama kepada Dwi yang terlihat begitu berwibawa dan ganteng pastinya.
"Wah tuan mudanya guys" ujar seseorang.
"Iya udah nikah belum ya" jawab seseorang.
"Kalaupun udah nikah gue mau jadi yang ke dua atau ketiga deh gue ikhlas"
"Iya udah tampan pengusaha muda sukses tajir lagi"
Jihan dan Jovan menjadi pasangan serasi di atas panggung bahkan mereka di tempatkan di kursi yang berjajar dengan petinggi petinggi Universitas.
Sampai di penghujung acara semua mengambil foto bersama dengan petinggi Universitas. Lalu ber selfi ria dengan semua orang. Saat Jihan sedang bersama Jovan berfoto ria dengan teman temannya tiba tiba ada sebuah bucket bunga mawar di hadapannya.
"Happy graduation" ujar seseorang di belakang Jihan sembari memeluknya.
Jihan berterima kasih lalu mengambil bucket bunga tersebut tanpa melihat ke arah pemilik bunga tersebut karena Jihan tau kalau itu adalah Dwi.
"Happy Graduation Jihan" ucap Kevin dengan sebuah bucket tak kalah mempesona dari milik Dwi.
"Terima kasih kamu datang sebagai kak Kevin kan bukan asisten Kevin" ucap Jihan dengan senyuman licik.
"Iya kenapa" tanya Kevin gamang.
"Mana hadiahnya" ucap Jihan.
"Sorry, mau hadiah apa" tanya Kevin.
"High heel" ucap Jihan.
"Oke gue beli nanti" ucap Kevin.
"Asisten di ajak ngomong giliran gue suaminya di cuekin" cibir Dwi
"Harusnya lo bersukur dari tadi peluk adek gue gak kena pukul, lagian si Kevin datang sebagai teman bukan asiaten" ucap Jovan.
"Sama aja" ucap Dwi .
"Happy graduation Ay" ucap Fero dengan bucket coklat.
"oh ya thanks" ucap Jihan singkat.
"Guys kita makan makan yuk, kebetulan Zira punya menu baru" ucap Zian.
"Oke oke, mas kamu bawa mobil" ucap Jihan menggandeng tangan Dwi.
"Gak ke sini sama mama papa" ucap Dwi.
"Oke tepat satu mobil sama Jihan ya" ucap Jihan.
__ADS_1
"Oke" ucap Dwi melenggang pergi dengan Jihan.
Semua orang pergi dengan mobil masing masing begitupun sahabat sahabat Jihan. Saat sampai di restoran yang di tuju Jihan langsung masuk dan menemukan orang yang dia cari.
"Jihan, selamat ya maaf gak bisa datang" ucap Zira memeluk erat mantan musuhnya tersebut.
"Iya gak apa, kamu sibuk banget ya sampai pulang ke sini gak bilang gue dulu" ujar Jihan.
"Iya iya sorry kakak ipar" ucap Zira.
"Oke gue ada suprise buat lo" ujar Zira.
"Apaan" tanya Jihan.
"Ayok ikut aja" ucap Zira menuntun Jihan ke sebuah ruangan VVIP yang Zira siapkan.
Saat pintu terbuka Jihan tersenyum lebar namun seketika raut wajahnya berganti lesu tak lama dia menangis terisak.
"Hey cantik kenapa nangis maafin mama" ucap mama Anggun yang menunggunya.
"Gak mah, kenapa mamah sama papa jahat si " ucap Jihan.
"Maafin kita sayang maaf" ucap Papa Jihan.
"Tau gak gara gara kalian Jihan bisa mandiri gara gara kalian Jihan bisa bangun perusahaan gara gara kalian Jihan tau susahnya menggapai sesuatu dan gara gara kalian Jihan bisa wisuda sama Abang impian terbesar Jihan kaau aja kalian gak buat Jihan kayak sekarang semua itu gak akan bisa Jihan capai" ucap Jihan membuat mama papa tersenyum lalu memeluknya.
"Lupain kita aja terus" ucap Sonia Jane dan Gaby.
"Kalian, pantes aja gak datang dasar kalian ya awas kalian" ucap Jihan dalam pelukan ke dua orang tuanya.
"Tante om peluk aja terus Jihannya kita mau makan dengan tenang" ucap Gaby.
Mama papa Jihan justru melepaskan pelukannya dan membiarkan Jihan untuk mengejar sahabatnya.
"Woi udah laper nih" ucap Zian.
"Iya udah makan aja yuk biarin mereka" ucap Jovan mencari posisi nyaman.
Namun Jihan langsung duduk di antara ke dua pria tampan Abang dan suaminya. Dwi tersenyum lalu mencium puncak kepala Jihan dengan hangat hanya di balas senyuman tipis.
"Kalian dasar ya di cari cari taunya udah makan duluan" ucap Mama Dri yang baru saja datang.
"Sorry Mah" ucap Jihan.
"Yayaya" ucap mama Sri dan papa Suseno lalu bergabung dengan mama papa Jihan.
"Menu spesial buat kalian semua" ucap Zira membawa dua menu baru buatannya.
"Kayaknya enak tuh Ra, eh ra lo kok bisa masak si" tanya Jihan.
"Ya karena lo" ucap Zira.
"Maksudnya" tanya Jihan.
"Ya apa lagi kita musuh jadi gue cari banyak hal dari lo, dan ternyata lo tuh perfec pinter masak pinter design pinter bisnis dan banyak lagi deh sampai gue belajar itu semua" ucap Zira.
"Buat kalahin gue" ucap Jihan.
"Bener tapi kan cara gue sehat Ji, tapi Bang Dwi malah suka sama lo dan lo jadi ipar gue mau gak mau gue harus ilangin benci gue sama lo dan pas gue mau nyerah belajar semuanya Bang Zian bilang masakan gue enak kenapa gak buka resto aja gitu ya udah gue buka" ucap Zira.
"Wah jadi secara gak langsung lo idolain gue dong" ucap Jihan.
"Nyesel gue cerita narsis abis" ucap Zira.
Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya lalu makan dengan suapan dari Dwi dan Jovan. Karena semua ingin manyuapi Jihan membuat Jihan membuat antrian untuk menyuapinya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya kakak kakak Readers...
Maaf up lama ceritanya juga jalan jalan entah kemana mohon di maklumi...
__ADS_1