Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 168


__ADS_3

Jihan sampai di kantor pusat milik ayahnya saat sampai banyak kariawan yang tidak mengenalinya. Jihan naik dengan lif kariawan dengan banyak berkas di tangannya.


"Hai kak papa ada" tanya Jihan pada sekertaris ayahnya.


"Nona muda selamat datang nona, tuan Prasaja sedang ada pertemuan silahkan masuk" ucapnya.


"Abang ada" tanya Jihan.


"Tuan Muda Jovan ada di ruangan nona tapi sedang ada tamu" ucapnya Sopan.


"Boleh masuk gak ya" ucao Jihan.


"Silahkan izin sendiri nona" ucapnya.


"Ye kamu sekertaris papa harusnya izinin, tapi biar saya sendiri soalnya kalau kamu yang minta izin gak di kasih" ucap Jihan tersenyum di balas senyuman hangat sang sekertaris.


Jihan berjalan ke ruangan Jovan sedangkan sang sekertaris dia hanya melihat karena tau tingkah Jihan yang sering main ke sana.


"Abang" ujar Jihan sembari membuka ruangan Jovan yang ternyata banyak tamu para tuan muda di sana.


"Maaf mengganggu" ucap Jihan membungkukkan badannya lalu berjalan ke arah Jovan dan menyalaminya.


Jovan mengangguk setelah itu Jihan berjalan ke meja kerja Abangnya dan mengotak atik komputer Abangnya. Dia melihat Jovan sedang menyusun proposal dengan nilai yang fantastis membuat Jihan membantunya.


"Kakak Nayla map dimana ya" tany Jihan saat pekerjaannya selesai.


"Ini Nona maaf belum sempat menaruhnya di sana" ujar Nayla sekertaris sang ayah.


"Gak papa biar Jihan aja yang bawa" ucap Jihan lalu mengambil sebuah kotak berisi sampul sampul map.


Jihan berjalan santai lalu mulai menata sampul map itu dengan santai tak menghiraukan rekan kerja Jovan yang beberapa kali mencuri curi pandang.


"Bang" ujar Jihan memberikan berkas yang baru dia selesaikan untuk meminta tanda tangannya.


"Kamu aja" ujar Jovan.


"Gak mau, CEO" ucap Jihan.


"Lo juga kan CEO Ji" ucap Jovan.


"Kan ke dua kalau Abang gak ada nah sekarang Abang ada" ucap Jihan.


"Yaya adik manis, oh ya kamu mau es cream apa" tany Jovan.


"Nanti aja pulang kerja makannya sama Abang" ucap Jihan mengambil berkas yang ada di tangan Jovan setelah Jovan menandatanganinya.


"Abang mau liat berkas kemarin gak" tanya Jihan.


"Nanti ya, Abang selesaikan ini dulu" ucap Jovan.


"Oke, silahkan di lanjutkan Abang ganteng" ucap Jihan kembali ke meja kerja Jovan membuat Jovan menggelengkan kepalanya.


"Maaf ya dia emang lagi aneh" ucap Jovan.


"Gak papa unik" ucap salah seorang klien Jovan.


"Tok.... Tok.... Tok....


"Masuk" ucap Jihan setelah menatap Jovan.


"Maaf tuan perwakilan dari Dj Company sudah datang" ucap Nayla membuat Jihan menatap Jovan.


"Suruh masuk, em kakak Nayla bisa beliin es cream coklat yang ada di toko X" tanya Jihan membuat Nayla bingung.


"Boleh nona Muda" ucap Nayla setelah melihat anggukan dari Jovan.


"Abang uang" ucap Jihan girang.


"Nih" ucap Jovan memberikan kartu kredit.


"Kalau orang kaya gini ya belinya escream satu yang bayar kartu" cibir Jihan membuat semua orang di sana tertawa


"Kakak beli jangan cuma satu sayang mesinnya" ucap Jihan tertawa.


"Siap nona Mudaa apa saya dapat bagian" tanya Nayla tersenyum.


"Beli apapun yang kamu mau, tapi kalau ada yang marah jangan bawa saya ya" ucap Jihan.


"Sama aja ngajak berenang tenggelam gak mau ikut" ucap Nayla pergi.


"Maaf tuan Jovan saya terlambat" ucap Dwi membungkukkan badannya dan kaget melihat Jihan di sana.


"Tidak masalah silahkan tuan Putra" ucap Jovan tersenyum.


"Adik manis mau buatin minum gak" tanya Jovan.


"Boleh tapi bayaran es cream gak ganti ya" ucap Jihan membuat Dwi menatap Jihan.


"Mas Dwi mau minum apa" tanya Jihan santai.


"Apapun yang kamu buat" ucap Dwi tersenyum.


"Kakak Rey" ucap Jihan.

__ADS_1


"Kamu menjual minuman sekarang" ledek Rey.


"Iya, jadi CEO di pecat mending jual minuman" ucap Jihan pergi.


Jihan pergi ke pantry untuk membuatkan minuman untuk Dwi dan Rey. Saat sudah kembali dengan minuman di tangannya Jihan langsung memberikannya pada Dwi dan Rey.


"Silahkan tuan" ucap Jihan langsung bangun dan kembali ke meja kerja Jovan.


Jihan membuka laptop yang dia bawa lalu memakai earphone dan mulai bekerja. Jihan memantau perkembangan Ayasta yang dia tinggal sangat lama dia juga melakukan meeting via zoom.


"Baiklah coba presentasikan satu persatu" ucap Jihan serius.


Jihan menyimak presentasi dari beberapa kariawannya juga mendengar presentasi dari Fero yang berada di tempat lain. Jihan mengangguk dan sesekali dia memberikan saran dan mendiskusikannya.


"Apa saya mengganggu kerja anda anda semua tuan" ucap Jihan.


"Tidak nona silahkan" ucap salah satunya membuat Dwi cemberut.


Sampai jam makan siang Jovan masih belum selesai sedangkan Jihan sudah asik main game di komputer Jovan.


"Tok.... Tok.... tok.....


Jihan langsung melihat ke arah pintu dan berjalan ke arahnya dengn earphone masih dia pakai.


"Lo kak Nay kok baru pulang" tanya Jihan.


"Antrinya tiga kali gerbong kereta maaf kalau saya menyia nyiakan waktu" ucap Nayla.


"Gak lah tapi makasih ya, tunggu bentar" ucap Jihan langsung berjalan ke arah Jovan untuk memberikan kartu kreditnya berganti ke arah Dwi untuk meminta uang kes.


Dwi memberikan dompetnya pada Jihan membuat Jihan langsung membukanya dan memberikan selembar uang merah pada Nayla membuat Nayla tersenyum senang.


"Ji bisa bantu Abang selesaikan ini" ucap Jovan di angguki Jihan.


Jihan berganti memimpin pertemuan itu menggantikan Jovan yang sedang menghubungi Ayahnya. Walau Jihan sedari tadi sibuk dengan kerjaannya namun dia bisa menghafal setiap detile yang Abangnya bicarakan dengan para rekannya.


"Anda sangat luar biasa nona" ucap seorang tuan muda dari keluarga Aditya yang seharusnya sudah dia temui di kantor cabang.


"Terima kasih tapi jangan puji saya atau saya terbang dan tidak bisa kembali" ucap Jihan.


"Tuan Jovan bagaimana kalau pertemuan ini kita melakukan kerja sama" ucap Tuan muda Aditya.


"Jadi maksudnya tuan Arka Aditya menyetujuinya" tanya Jovan terlihat senang.


"Abang boleh lihat itu" ucap Jihan menunjuk berkas di tangn Jovan membuat Jovan memberikannya dengan senang hati.


"Tuan Arka Aditya bukankah seharusnya anda melakukan kerja sama ini melalui kantor cabang di kota X" ujar Jihan.


"Tidak tapi anda memutuskan janji anda dengan alasan yang tidak masuk akal" ucap Jihan.


"Maksud anda Nona" tanyanya.


"Anda meminta kerja sama di kantor cabang tapi anda malah memilih datang langsung ke kantor pusat padahal saya sendiri yang sedang terjun langsung ke sana dan alasan anda lucu" ucap Jihan.


"Maaf nona saya tidak tau kalau tuan Prasaja mengirim anda dan maaf untuk alasan itu sebenarnya saya baru mulai di dinia bisnis" ucap Arka


"Saya mengerti tapi lain kali buat alasan yang lebih masuk akal" ucap Jihan.


"Ya nona terima kasih atas masukannya" ucapnya tersenyum.


"Saya juga gitu dulu cari berbagai alasan untuk menghindar tapi semua alasan saya bisa di terima" ucap Jihan.


"Baikalah sekarang kita selesaikan kerja sama besar ini" ucap Dwi di angguki semua.


Saat semua orang sudah tanda tangan tuan muda Aditya langsung menyerahkan berkas itu pada Jihan membuat Jihan bingung.


"Saya tidak perlu di sini sudah ada tuan Jovan" ucap Jihan sopan.


"Sebagai tanda permintaan maaf saya" ucapnya.


"Ya tapi tidak seperti ini" ucap Jihan.


"Ji" ucap Jovan membuat Jihan mengangguk.


"Ya Bang" ucap Jihan langsung mengambil berkas itu dan menandatanganinya.


Setelah kerja sama beberapa perusahaan terjalin mereka semua izin pergi. Jovan mengantar semua kliennya sedangkan Jihan masih duduk di sana begitupun Dwi.


"Sampai kapan" tanya Dwi.


"Apa" tanya Jihan.


"Sampai kota ini kapan" tanya Dwi lagi.


"Tadi pagi" ucap Jihan.


"Kenapa gak pulang" tanya Dwi.


"Pulang kemana juga" ucap Jihan.


"Ke tempat saya lah" ucap Dwi gemas.


"Gak tau kamunya dimana" ucap Jihan duduk bersandar.

__ADS_1


"Udah gak mual dekat saya" tanya Dwi.


"Gak kamu gak pake parfum itu lagi" ucap Jihan.


"Hidungmu tajem bener Ji" ucap Jovan.


"Harus" ucap Jihan.


"Ya kalian bicaralah dulu saya mau makan kalau belum selesai belum boleh makan" ucap Jovan.


"Kejam bener" ucap Jihan.


"Gak peduli, yuk Rey" ucap Jovan pergi dengan Rey.


"Gak kangen Ji" tanya Dwi saat Jihan bangun dan mengambil es cream dan menaruh sisanya ke kulkas.


"Mau" ucap Jihan dengan es cream di tangan.


"Boleh suapin" ucap Dwi.


Jihan membuka escreamnya dan mulai makan dengan lahap. Jihan hanya sesekali menyuapi Dwi membuat Dwi tersenyum.


"Boleh peluk" tanya Dwi tidak di jawab Jihan namun Jihan juga tidak menolak.


"Kangen tau Ji" ucap Dwi mencium pipi Jihan dan memeluknya dari samping.


"Gelepotan" ucap Dwi tersenyum.


"Udah" ucap Jihan mengelap bibirnya.


"Belum sini" ucap Dwi menarik tengkuk Jihan dan langsung ******* bibir ranum Jihan.


"Manis" ucap Dwi menyudahi.


"Cari kesempatan" ucap Jihan menghabiskan es cream nya.


"Gak ada yang mau kamu omongin Ji" tanya Dwi.


"Gak ada" ucap Jihan santai.


"Kamu masih marah" tanya Dwi.


"Gak, siapa yang marah cuma gak suka kamu gitu" ucap Jihan.


"Em cemburu" ucap Dwi menyenggol dagu Jihan.


"Jangan dong main colek aja di kira sambel" ucap Jihan.


"Ji" ucap Dwi menatap Jihan.


"Apa" tanya Jihan


"Kiss" ucap Dwi membuat pipi Jihan merona.


Dwi kembali menarik tengkuk Jihan dan mulai bermain dengan sangat lembut. Sedangkan Jihan masih belum membalas tapi tangannya sudah berpindah di leher Dwi.


Dwi terus bermain membuat Jihan terbuai dan perlahan mengimbangi permainannya. Mereka bahkan tidak sadar kalau Jovan sudah masuk dan kembali keluar dengan cepat.


"I love you" ucap Dwi setelah selesai.


"Apa kabar yang di sana" tanya Dwi mengusap perut Jihan yang terlihat mulai tidak rata


"Apaan si kamu belum ada siapa siapa di sana" ucap Jihan.


"Apa masih sering kram" tanya Dwi.


"Iya sering di jam kerja lagi" ucap Jihan.


"Hari ini udah" tanya Dwi.


"Tadi pas kamu mau datang itu lagi kram tapi Jihan tahan" ucap Jihan.


"Terus kok kamu biasa saja" tanya Dwi.


"Liat kamu terus ilang sakitnya" ucap Jihan.


"Jadi saya obat dong" ucap Dwi.


"GR bener" ucap Jihan.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya guys....

__ADS_1


__ADS_2