Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Tanggung Jawab


__ADS_3

"Sudah selesai tuan Putra yang terhormat seharusnya anda tidak perlu repot repot merobek kertas itu belum juga saya tanda tangani, Vin come on" ucap Jihan pergi.


"Siap bos" ujar Kevin yang tau maksud Jihan.


Jihan dan Kevin pergi dari restauran tersebut tanpa menyentuh makanan sedikitpun. Jihan meminta Kevin untuk mengantarnya ke AYASTA GROUP Kevin menyetujuinya namun sepanjang perjalanan Jihan hanya diam melihat luar jendela.


"Susah ya bos, nikah karena perjodohan" ucap Kevin memecah lamunan Jihan.


"Iya Vin, dan gue harap ada hikmah besar di balik ini semua" ucap Jihan.


"Iya bos, saya doakan semoga pernikahannya bertahan lama" ucap Kevin.


"Semakin lama pernikahan maka semakin lama juga gue harus menahan semua ini, dan stop panggil gue bos" ujar Jihan.


"Iya deh Ji, oh ya kamu dapat rekomendasi lulus tahun ini kan" ujar Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, gue udah ambil juga jadi jangan kaget lo gue susul' ucap Jihan.


"Aduh jadi satu angkatan deh, males gue sebenernya harus bersaing sama lo" ucap Kevin.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Karena kelemahan gue gak bisa biarin cewek cantik ada di belakang gue" ujar Kevin.


"Gaya lo ngomong gitu tapi sampai sekarang gak ada yang bisa susul lo jadi megister di usia muda" ucap Jihan.


"Itu karena mereka gak mau berusaha" ucap Kevin.


"Bukan gak mau berusaha, tapi usaha mereka yang sia sia" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Kevin.


"Mereka mengalah sebelum berperang saat lo tebar pesona" ucap Jihan.


"Ya tapi sayangnya gak semua kena pesona gue, kayak lo bukannya berhenti malah makin cepet lo gusur gue" ucap Kevin.


"Bukan kemauan gue tapi otak gue terlalu pintar" ucap Jihan.


"Serah deh" ucap Kevin


"Sudah sampai Bos, silahkan" lanjut Kevin membuka pintu mobil dan kembali menjadi asisten.


"Terima kasih, oh ya kamu bisa hubungin supir buat bawa mobil.gue ke sini bilang yang merah mau gue bawa kuliah nanti kamu pulang dulu oke" ucap Jihan.


"Siap bu bos" ujar Kevin.


Jihan lalu masuk ke dalam.perusahaan membuat semua orang menundukkan kepalanya saat mereka melihat Jihan. Jihan hanya berjalan tenang tanpa menghiraukan mereka Jihan masuk ke dalam ruangannya lalu menyelesaikan beberapa masalah yang menimpa perusahaannya. Sedangkan Kevin pergi ke ruangannya sendiri setelah menghubungi supir Jihan.


Senja datang banyak kariawan yang sudah pulang dan hanya tinggal beberapa orang saja. Kevin menghampiri Jihan untuk memberikan kunci mobil Jihan yang supirnya antar tadi. Kevin melihat Jihan begitu serius sampai tak menyadari kedatangannya.


"Ji, udahlah gue aja yang selesaikan kamu pergi ke kampus aja takut telat, udah jam sibuk nih" ucap Kevin.


"Eh lo Vin, dikit lagi selesai kok"Ucap Jihan.


"Oke gue tungguin lo sampai selesai" ucap Kevin menunggu Jihan di depan meja Jihan.


"Pulang aja lagi " ucap Jihan.


"Gak sebelum kamu juga pulang" ucap Kevin


"Oke, selesai gue berangkat dulu ya tolong beresin" ucap Jihan pergi namun beberapa saat Jihan melongokkan kepalanya ke ruangannya.


"Terima kasih" ucap Jihan membuat Kevin tersenyum dan menggelngkan kepalanya.


Jihan lalu melajukan mobilnya seorang diri menuju kampusnya, Jihan sampai di kampus tepat jam tujuh malam karena jalan yang sangat ramai. Jihan lalu menuju kelasnya yang ternyata baru saja di mulai Jihan mengambil jam malam dan ternyata banyak juga yang mengambil jam tersebut kerena mereka harus part time.

__ADS_1


Dosen menjelaskan dengan sangat jelas dan cepat karena kelas yang Jihan ambil adalah kelas tempat para orang genius karena mayoritas yang datang adalah orang di semester akhir dengan waktu penyelesaian paling singkat.


"Jihan lo datang ternyata gue kira kayak biasa gak datang" ucap salah seorang teman sekelas.


"Gue dateng kebetulan lagi ada waktu" ucap Jihan.


"Iya biasanya lo cuma gambar doang yang hadir" ucapnya lagi.


"Iya maaf ya " ucap Jihan.


"Rinduku terobati" ucap salah seorang yang baru datang.


"Ada yang rindu ternyata" ucap Jihan.


"Iya lah kita semua rindu kamu" ucapnya


"Haha maaf semua, janji deh minggu depan sering datang" ucap Jihan.


"Oke lagian minggu depan kan emang kita udah jadwal wisuda Ji" ucap teman Jihan.


"Iya juga lupa" ucap Jihan.


"Ya udah, lagi kumpul semua nih kita makan yuk" usul salah seorang teman.


"Kuy lah, gue juga laper dan kalian semua gue traktir jangan lupa satu kelas semua ya kalau yang gak bisa ikut makan bareng gak apa apa deh datang aja di bawa pulang" ucap Jihan.


"Gini kalau ada Jihan, temen paling tau kalau gue udah nikah pasti suami marah kalau pulang terlambat" ucap salah seorang teman mengingatkan Jihan akan Dwi namun Jihan menepis semua pikirannya karena memang alasan Jihan berkumpul dengan teman temannya untuk melupakan Dwi sejenak.


Mereka semua pergi ke restauran yang Jihan pilih, Jihan sengaja tidak memilih restauran yang terlalu mewah karena teman sekelasnya belum tau siapa Jihan.


Mereka senang sampai mereka pulang sudah setengah sebelas malam membuat Jihan juga harus pulang. Jihan melajukan mobilnya dengan cepat Jihan berjalan malas ke apartemen Dwi karena akan mengambil beberapa barangnya yang ketinggalan.


Saat sampai di depan pintu Jihan lalu membukanya dengan kartu yang Dwi berikan. Jihan masuk begitu saja namun seketika matanya membulat sempurna saat melihat banyak orang asing di apartemen Dwi.


"Gue salah apartemen atau gimana" gumam Jihan lalu melihat kartunya dan ternyata benar itu apartemen Dwi.


"Maaf cari siapa" tanya salah seorang yang sedari tadi menatapnya.


"Ganggu ya sorry, gue cuma mau ambil beberapa barang yang tertinggal silahkan di lanjut saya akan segera pergi" ucap Jihan datar.


"Kenapa buru buru, main dulu lah sebentar lagian kamu pasti mainan baru Putra kan jadi ayok gabung kita gak akan macam macam dengan milik Putra" ucap seseorang menghampiri Jihan.


Jihan tidak menghiraukan Jihan langsung berjalan ke arah kamar mamun saat membuka pintu kamar ternyata Dwi hanya memakai celana pendek tanpa baju dan seorang wanita sedang duduk santai di ranjang dengan pakaian super minim.


"Eh maaf, ganggu tapi saya harap kalian bisa sabar menunggu sebentar lagi karena saya hanya mengambil barang saya saja" ucap Jihan santai walau hatinya panas melihat itu.


"Cepatlah, karena gue gak akan bertahan lebih lama lagi" ucap Dwi.


Jihan tak mendengarkannya hanya serius mencari barang barangnya yang tertinggal setelah itu handak keluar kamar namun Jihan berbalik.


"Cepatlah ada yang ingin ku sampaikan, mainlah sebelum permainanmu itu di larang dan terimalah setiap buah dari yang kamu tanam tidak semua punya kesabaran tinggi" ucap Jihan lalu pergi dan menutup pintu dengan keras membuat semua yang sedang asik di ruang tengah terperanjat.


"Kaget, saya harap biasa saja" ucap Jihan.


"Menarik" ucap Seseorang mendekati Jihan.


"Sangat" ucap Jihan datar.


"Mari main jangan terburu buru" ucap Orang tersebut menyuruh Jihan untuk duduk.


"Saya tidak buru buru, baiklah saya akan bergabung sembari menunggu mereka selesai" ucap Jihan.


"Baguslah" ucapnya tersenyum sembari memberikan minuman kepada Jihan.


Jihan tersenyum lalu menenggak minuman yang di berikan padanya, setelah itu dia mengirimkan sebuah pesan kepada Kevin.

__ADS_1


"Vin datanglah ke apartemen Dwi dan tolong bawa aku pergi dari tempat ini karena gue gak akan mampu untuk pergi sendiri dan gue kasih lo waktu setengah jam dari pesan ini kamu baca"


Jihan menenggak beberapa minuman sampai dia setengah sadar tepatnya lima belas menit dari Jihan duduk Dwi keluar dengan rambut acak acakan dan tanpa kaos yang melekat.


Jihan tersenyum sinis saat melihat wanita yang berjalan di belakang Dwi, Jihan sadar yang dia lakukan akan membuat banyak orang marah namun dia juga ingin melupakan itu sejenak. Dwi menatap Jihan tajam sedangkan Jihan membalasnya dengan senyuman licik Dwi mendekati Jihan dan duduk di sampingnya.


"Kamu mabuk" tanya Dwi.


"Seperti yang kamu lihat" ucap Jihan santai.


"Bukankah kamu berjanji tidak akan melakukannya lagi" ucap Dwi masih lembut.


"Ada dorongan yang begitu besar sampai gue gak bisa menahannya," ucap Jihan.


"Kamu kenapa ke sini" tanya Dwi.


"Tadi udah bilang mau ambil barang yang ketinggalan sama nih mau kembaliin ini gue gak butuh, gue takut gue bakal gila lagi" ucap Jihan memberikan kartu kunci apartemen Dwi.


"Kenapa, berhentilah minum" ucap Dwi keras sembari melempar gelas yang hendak Jihan tenggak minumannya.


"Pecah, kenapa si di lempar gitu kasihan gelasnya, mau satu gelas lagi juga" ucap Jihan.


"Sayang dia siapa sih, bukannya dia klien kamu yang datang tadi siang ya" ucap Clarissa.


"Iya gue yang tadi siang muka gue masih sama ya" ujar Jihan membuat Clarissa manyun.


"Diam dan masuk kamar" ucap Dwi menunjuk Jihan.


"No, kamar itu menjijikan" ucap Jihan santai karena memang kesadarannya sudah hampir tak terkendali.


"Jaga bicara kamu, lagian sayang kenapa si kamu lembut banget sama dia" ujar Clarissa.


"Dia penentu perusahaan gue" ucap Dwi santai.


"Dengan lo baik ke gue gue juga gak bakal satuin lagi kertas yang lo robek, dan lagi gue bantu perusahaan lo dari maslah kemari karena gue gak mau saham yang gue punya di perusahaan lo hilang gitu aja" ucap Jihan kembali menenggak minumannya.


"Ji, sadar Ji kita pulang" ujar Kevin yang baru saja datang.


"Apaan lo pergi lo, dia urusan gue" ucap Dwi marah.


"Udahlah sayang jangan urusin dia biar dia pergi" ucap Clarissa.


"Lo dengerin omongan dia" ucap Kevin.


"Dia tanggung jawab gue" ucap Dwi keras.


"Kalau lo anggap dia tanggung jawab lo terus kenapa lo buat dia kayak gini ha, dia datang kesini baik baik mau bilang kalau dia mau pulang tapi apa yang lo perbuat udah bikin hatinya argh.." ujar Kevin marah.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komennya ya...

__ADS_1


Ikuti terus.... Happy readers....


__ADS_2