
Dwi menarik tangan Jihan membuat mata Jihn berkaca karena takut Dwi akan melakukan hal buruk lagi terhadapnya. Saat Dwi mulai mendekat dan mendekat Jihan hanya bisa pasrah apapun yang akaj Dwi lakukan padanya.
"Cup" sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Jihan membuat Jihan bingung.
"Maaf kalau kamu takut dengan ku, maaf sudah menjadi monster yang menakutkan" ujar Dwi membuat Jihan membatu.
Jihan masih membatu dengan perlakuan tiba tiba Dwi itu, dia mencoba mencerna perlakuan Dwi sampai Dwi kembali menyatukan daging kenyal yang hangat itu.
Jihan hanya menatap ke dua bola mata Dwi yang terlihat begitu indah di matanya. Tanpa sadar Jihan mulai membalas perlakuan Dwi terhadapnya membuat Dwi tersenyum. Dwi terus memangsa Jihan dengan lembut sampai dia berpindah bermain di leher jenjang Jihan dengn wangi lemon kesukaannya membuat Jihan mengeliat.
"Au" ujar Jihan saat Dwi menggigit pangkat telinganya.
"Maaf" ujar Dwi langsung mundur dan turun dari ranjang.
"Gak papa kaget doang" ujar Jihan menahan senyuman malu malu.
"ya udah istirahatlah" ucap Dwi mengelus elus rambut Jihan membuat pipi Jihan merah.
Dwi langsung pergi begitu saja meninggalkan Jihan yang masih dalam dunia lain. Dwi pergi tanpa berkaca karena lipstik Jihan menempel di bibirnya saat ini meskipun hanya sedikit tapi itu sangat kentara membuat dia menjadi bahan ledekan.
"Kalau emang belum selesai lanjutin aja" ledek Randy.
"Masih puasa" ujar Dwi.
"Terus itu yakin gak tegang" ujar Randy menunjuk bibir Dwi
"Tegang lah masa gak" ledek Jovan.
"Diem deh lo Bang" ucap Dwi.
"Hahaha, itulah dimana laki laki di uji kesabarannya" ujar Papa.
"Iya pah" ucap Dwi sayu.
"Kalo remaja sekarang gak bisa ya nahan bentar" ujar tuan Jors yang masih di sana.
"Beda di zaman kita" ucap papa Seno.
"Iya lah dulu kan lebih parah" ucap Dwi membuat semua orang tertawa.
"Bukannya dulu Nona Jihan adalah pimpinan perusahaan ini kenapa sekarang ada di dia" tanya tuan Jors.
"Iya selama saya sekolah di luar negeri dia yang urus" ucap Dwi.
"Iya karena anda tau sendiri saya tidak ingin bekerja terlalu keras di usia saya yang mulai menua ini jadi saya meminta Jihan untuk menggantikannya" ujar Papa Seno.
"Atau dia anak perempuan kamu ya" tanya tuan Jors.
"Iya dia kan punya adek cewek ya" ucap Simon.
"Tapi seinget gue wajahnya gak gitu deh" ujar Refan.
"Tapi kalau dia emang adekmya masa iya seintim itu" ucap Jovan.
"Terus, masa iya tunangan gak ada canggung canggungnya gitu" ucap Refan.
"Kamu aja kalau sama cewek gitu, gak ada yang bener" ucap tuan Jors.
"Gue gini karena halal gue gak kayak lo suka yang haram" ucap Dwi.
"Halal" tanya tuan Jors.
"Iya tuan sebenarnya saya sudah menikahkan ke dua anak saya beberapa bulan yang lalu tapi mereka tidak ada waktu untuk melakukan resepsi tau mereka sibuk" ujar papa Seno.
"Kalian pikir kecelakaan ya kan, gue bahkan belum punya anak setelah beberapa bulan menikah" ucap Dwi.
__ADS_1
"Saya tunggu undangan resepsi pernikahan kalian" ujar Tuan Jors.
Semua langsung mengganti topik dengan membahas pekerjaan mereka. Sebenarnya Dwi ingin segera mengusir mereka semua dari sana karena dia ingin berduaan dengan Jihan.
Lain di dalam kamar Itu Jihan masih belum bisa menerima perlakuan Dwi Karena sebelumnya perakuan Dwi mirip monster yang ingin memakannya hidup hidup sedangkan tadi terlalu manis.
"Apa sesederhana itu perasaannya dengan minta maaf" ujar Jihan
"Tapi apapun itu gue mau istirahat" ujar Jihan membaringkan badannya.
Jihan langsung meringkuk bersiap untuk tidur. Karena merasa sangat capek baik tubuh maupun hatinya dengan cepat dia terlelap. Sedangkan Dwi masih membahas pekerjaannya sampai sore hari. Satu persatu semua orang pergi kecuali Jovan yang masih duduk di sampai sampai malam hari dengan terus menatap Dwi.
"Kamu gak pulang Bang" tanya Dwi sembari menbereskan meja kerjanya
"Kamu mengusirku" tanya Jovan.
"Gak juga, tapi sepertinya gue bermalam di sini Jihan tidur" ujar Dwi saat melihat keberadaan Jihan.
"Apa yang kamu lakukan terhadap Jihan" tanya Jovan membuat Dwi bingung
"Maksud lo apa Bang" tanya Dwi.
"Tadi beberapa saat setelah lo masuk kamar Jihan minta tolong untuk urus keadaan disini dia bilang akan butuh waktu lama lo keluar, gak mungkin lo lakuin itu di saat puasa Jihan gak pernah minta bantuan gue sebelumnya dia juga bertanya apa suara kalian terdengar" ujar Jovan.
"Maaf Bang, sepertinya gue udah jadi monster" ujar Dwi.
"Apa yang buat kamu melakukan itu, kalau sampai perlakuanmu buat Jihan dalam bahaya maka gue gak akan biarin itu Jihan harus bahagia" ujar Jovan.
"Maaf Bang" ucap Dwi.
"Apa karena peelakuan dia ke lo" tanya Jovan di angguki Dwi.
Jovan tersenyum sinis. Dia merasa Dwi sangat bodoh atau Jihan yang terlalu egois.
"Lo janji buat dia bahagia sama gue makanya gue korbanin kebahagiaannya biar dia merasa lo yang paling berharga dan bisa dia percaya" ujar Jovan.
"Jika semudah yang kamu bayangkan maka kamu tidak akan tau bagaimana dirinya, kamu juga sudah tau konsekuensi yang harus lo hadapi saat lo memintanya sama gue" ucap Jovan.
"Bang" ujar Dwi mulai menangis.
"Apa yang kamu lakukan" tanya Jovan dengan nada mulai tak enak.
"Gue gue mencengkram dagu dan menarik rambutnya" ujar Dwi dengan air mata yang mengalir.
"Lo berani beraninya lo" ujar Jovan marah lalu memukul wajah Dwi beberapa kali membuat Dwi nyengir kesakitan namun tidak membalasnya.
"Gue aja yang Abangnya gak pernah sakitin dia bahkan mau marah aja gue mikir lagi, dan lo elo bahkan berbuat seperti itu hanya karena dia gak balas perasaan lo" ucap Jovan penuh amarah.
"Maaf Bang" ucap Dwi tanpa membalas perlakuan Jovan padanya.
"Kalau sampai lo buat dia sakit lagi maka gue bakal bawa Jihan pulang" ujar Jovan membuat Dwi membulatkan matanya.
"Camkan itu" ujar Jovan pergi.
Jovan pergi karena takut akan melukai Dwi lebih lagi. Jovan pergi dengan menutup pintu ruangn Dwi keras membuat Jihan tersentak dan bangun. setelah kepergian Jovan Dwi merapikan kembali rambutnya yang acak acakan.
"Mas" panggil Jihan membuat Dwi tersentak langsung saja mengusap air matanya cepat.
"Ya, bentar" ucap Dwi tanpa melihat arah Jihan.
Jihan berjalan ke arah Dwi dan membalikkan badan Dwi seketika Jihan terkejut dengan keadaan wajah Dwi yang babak belur itu.
"Sama siapa" tanya Jihan.
"Apanya" tanya Dwi seolah tak tau maksud Jihan.
__ADS_1
"Gak" ujar Jihan pergi mengambil kotak obat yang ada di laci meja kerja Dwi.
Jihan membawa obat itu dan menaruhnya di depan Dwi. Sedangkan Dwi hanya menundukkan wajahnya tak berkata apapun. Jihan hanya menatap lalu pergi ke kamarnya dan mengambil ponsel yang ada di sana.
Jihan membeli makanan online karena dia merasa sangt lapar. Saat dia kembali ke ruangn dimana Dwi berada dia hanya duduk sedangkan Dwi masih dalam posisinya.
"Obati lukamu, sebelum luka itu bertambah" ujar Jihan
"Maksudmu" tanya Dwi
"beberapa bulan sudah berlalu dan perjanjian itu hanya tinggal beberapa bulan lagi tapi perjanjian terbaru tinggal beberapa hari apa yang akan kamu lakukan" tanya Jihan membuat Dwi menatapnya.
"Apa kamu benar benar ingin terlepas dariku" tanya Dwi.
"Entahlah akan banyak hati yang menangis" ucap Jihn sembari bermain ponsel.
"Apa sebegitu tidak baiknya gue di mata lo dan Abang lo" ujar Dwi mulai menatap Jihan.
"Abang dia yang lakuin ini ya" ujar Jihan santai.
"Apa sebegitu gak berartinya pernikahan ini buat lo" tanya Dwi.
"Apa pernikahan ini hanya sebatas berarti dan tidak, apapun yang kita rasakan di pernikahan ini apa itu murni" ujar Jihan .
"Apa kepulanganmu hanya untuk berdebat dengan saya hanya itu" ucap Dwi mulai emosi.
"Oke oke jujur gue pulamg karena gue terus mikirin kamu, tapi tau apa yang terjadi saat saya pulang berantem mulu terus gue harus gimana" ujar Jihan.
"Kamu memikirkan ku" tanya Dwi.
"Terus kamu pikir buat apa gue pulang pdahal masalah belum kelar, tapi entah saat melihat kamu kenapa hanya emosi yang keluar" ujar Jihan.
"Maka malam ini kamu akan menjadi mangsaku" ujar Dwi mendekati Jihan.
"Kamu benar benar akan melakukannya" ucap Jihan.
"Saya tau kamu berbohong untuk menunggu dua bulan lamanya, saya tau hanya butuh waktu empat puluh hari untuk kamu kembali bersih dan hari ini lebih dari empat puluh hari dan kamu sudah bersih saya tau kenpa kamu cepat cepat pergi ke desa untuk menghindarinya kan" ujar Dwi dengan tatapan membunuh.
"Tapi" ujar Jihan menghindar.
"Saya tidak akan melepaskanmu malam ini" ujar Dwi penuh nafsu.
"Haruskah dengan seperti ini" ucap Jihan.
"Mau bagaimana lagi saya harus mempertahankan kamu kalau saya gak bercocok taman di sana" ujar Dwi.
"Tapi gue" ucap Jihan terus mundur.
"Kamu harus mengandung anak saya" ujar Dwi menrik tangan Jihan dan mulai menciuminya membuat Jihan meronta.
Karena Dwi sedang di kuasai amarah membuat semua perlakuannya kasar. Jihan terus meronta karena Dwi menyakitinya.
"Haruskah kita melakukannya di sini" ujar Dwi sembari mengunci pintu otomatis.
"Mas" bentak Jihan bukannya Dwi pergi Dwi justru semakin merasa tertantang.
"Dwi menarik baju Jihan keras membuat dress yang Jihan pakai koyak dan menampilkan gunung kembarnya.
"Sadar, gue gak mau melakukan ini saat lo marah" ucap Jihan.
Bukannya berhenti Dwi justru menyerang Jihan dengan membabi buta melampiaskan keinginannya yang telah dia tahan selama beberapa hari ini. Dwi mendorong Jihan di atas sofa dan mengunci tubuh Jihan.
***Tau lh ya apa yang selanjutnya terjadi, suasana panas sepanjang malam🤭
Jangan lupa dukungannya ya say...
__ADS_1
Salam manis Author***...