
"Ya datang ke sini secepat mungkin mereka merindukanmu tapi tidak bisa menemuimu di sana" ujar Jovan.
"Pasti secepatnya, berikan alamat kalian" uca Dwi semangat menghapus air matanya.
"Bukankah di sana malam" tanya Jenifer.
"Iya udah hampir pagi di sini" ucap Dwi.
"kenapa belum tidur" tanya Jenifer lagi.
"Gak pernah bisa tidur, paling tidur kalau udah di kantor" ucap Dwi.
"Kenapa, apa penyakit insomnia bisa menular" ujar Jenifer.
"Maksudmu" tanya Dwi.
"Mommy juga susah tidur kalau malam, paling kalau lagi jaga toko dia baru tidur saat Jenifer sama Abang udah balik sekolah" ujar Jenifer.
"Benarkah, bolehkan Saya mendengar kalian memanggilku Daddy" ucap Dwi berbinar.
"Daddy" ujar Jenifer membuat Dwi menangis.
"Laki laki kok lemah" cibir Justine.
"Kamu menghinaku" ucap Dwi.
"Sayang, guys belum tidur" ujar Jihan menghampiri ke dua anaknya yang masih cengengesan.
"Lagi ngapain" tanya Jihan.
"Gak nih main sama Uncle, belum bisa tidur Jenifer ganggu" ucap Justine.
"Orang Abang yang masuk terakhir" ucap Jenifer.
"Sekarang tidurlah" ucap Jihan tidak sadar kalau ke dua anaknya sedang menghubungi Dwi.
"Kalau sepuluh menit lagi gak tidur mommy hukum, kalian harus main sama mommy" ucap Jihan.
"Mending tidur daripada main sama mommy" ucap Justine.
"Oke good night " ucap Jihan mencium ke dua anaknya membuat Dwi terenyuh dengan kehangatan yang dia rindukan itu.
Jihan berjalan pergi dari kamar kedua anaknya namun saat anaknya cengengesan dia langsung kembali membuat ke dua anaknya langsung lompat ke tempat tidurnya.
"Abang pergilah jangan ganggu mereka" ucap Jihan di angguki Jovan.
"Bye guys lanjut besok ya" ucap Jovan.
"Kalian rencanain apa" tanya Jihan.
"Gak ada" ucap Jovan mengedipkan matanya.
Jihan langsung menarik Jivan pergi dari kamar ke dua anaknya. Saat sudah di luar Jihan langsung oergi ke deoan komputernya dia melihat design yang baru saja di rancang Sandra agar Jihan yang membuatnya.
"Ji lo gak pengin gitu ketemu Dwi asuh anak anak bareng" ujar Jovan mendekati Jihan dengan ponsel masih menyambung pada Dwi.
"Bang jangan membicarakan hal yang gak masuk akal" ucap Jihan.
"Keajaiban pasti ada Ji" ujar Jovan.
"Kalau memang dia masih mengharap gue hidup gue yakin dia akan berusaha mencari Bang " ucap Jihan
"Bagaimana mencari kalau gak ada petunjuk" ujar Jovan.
"Gue belum siap, gue gak bisa biarin anak anak gue dalam bahaya karena keegoisan gue walaupun mereka sudah dewasa sebelum waktunya tapi mereka masih anak anak" ujar Jihan mulai meneteskan air matanya.
Dwi yang melihat dan mendengar itu dia ikut menangis dia langsung bersiap untuk pergi sembari menunggu helikopternya datang dia memasukkan benerapa baju ke dalam tas punggungnya.
Saat hellikopter yang dia minta datang dia langsung pergi begitu saja tidak bicara dengan siapapun termasuk istrinya yang tinggal di beda kamar.
Jihan terus bercerita kepada Jovan semua keluh kesahnya membuat air matanya terus mengalir sampai tak terasa kesadarannya mulai hilang dia jatuh pingsan.
"Ya elah Ji" ujar Jovan menggendong Jihan ke kamarnya dan menunggu sampai Jihan sadar.
"Lama bener tumben jangan jangan dia tidur nih" ucap Jovan mengecek detak jantung Jihan.
"Ji" ujar Jovan membuat Jihan mengerjapkan matanya.
"Bangun juga lo gue kira " ucap Jovan.
"Gue masih mau melihat anak anak bahagia, Abang nunggu di sini dari tadi" tanya Jihan.
"Iya, udah baikan Abang tidur dulu" ucap Jovan di angguki Jihan.
__ADS_1
Jovan merapikan selimut Jihan lalu keluar dari kamar Jihan dan menerima panggilan Dwi kalau dia sudah berada di negara yang Jovan maksud.
"Cepet bener lo" ujar Jovan menerima panggilan Dwi.
"Lo telfon gue langsung berangkat" ucap Dwi.
"Lo ke lokasi yang gue kirim aja itu tepat di atas gedung tempat tinggal Jihan" ucap Jovan.
"Siap" ucap Dwi melanjutkan perjalanannya.
Jovan langsung naik ke root proff apartemen Jihan. Dia menunggu Dwi datang dengan bermain ponsel dan tak lama sebuah hellykopter mendarat membuat Jovan tersenyum.
"Cepet juga" ucap Jovan saat Dwi sudah turun.
"Kekuatan cinta Bang" ujar Dwi.
"Ya udah yuk, tapi jangan buat suara apapun anak anak lo nanti bangun" ucap Jovan.
"Oke" ujar Dwi semangat.
Jovan mengajak Dwi ke sebuah apartemen yang lumayan nyaman demgan fasilitas komplit. Dwi menatap sekeliling sampai Jovan berhenti di sebuah pintu aprtemen.
"Masuklah" ujar Jovan membuat Dwi mengikuti dan dia di sambut dengan sebuah foto ke dua anaknya yang lumayan besar dengan foto Jihan di sampingnya membuat Dwi menangis.
"Temuilah mereka gue tidur di sini" ucap Jovan di angguki Dwi.
Dwi langsung menaruh tasnya di atas sofa dan berjalan ke arah kamar ke dua anaknya dengan langkah berat. Dia melihat dua orang anak sedang tidur pulas dia mendekat lalu menangis dia langsung mengusap dan mencium kening ke dua anaknya.
"Bang boleh lihat Jihan" ujar Dwi pada Jovan.
"Hm temui dia" ucap Jovan.
Dwi mulai membuka pintu kamar Jihan dengan sangat perlahan dan berjalan dengan langkah gontai karena air matanya yang mengalir deras membuat Jovan tak tega dan mengikutinya.
Dwi berjalan mendekati Jihan dia menatap wajah polos Jihan yang terlelap dia mendekat dan terduduk di lantai dia terduduk dengan tangis sesegukan membuat Jihan mengerjapkan matanya.
"Abang kenapa" tanya Jihan yang mendengar isakan seseoramg karena Jovan berada di ambang pintu.
"Bang" ujar Jihan.
"Kenapa" ucap Jovan tersenyum.
"Abang nangis" ujar Jihan langsung duduk bersandar.
"Siapa lo" ujar Jihan terperanjak membuat Jovan tertawa lalu dia menghidupkan lampu kamar Jihan membuat wajah dwi terlihat jeleas.
"Mas Dwi, mimpi gue apa karena abis ngomongin dia ya" ucap Jihan sembari mencubit tangannya sendiri.
"Tapi sakit" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Ngomongnya jangan keras keras nanti anak anak lo bangun" ujar Jovan langsung menutup pintu kamar Jihan dan pergi.
Setelah Jovan pergi Jihan kembali menatap Dwi membuat Dwi langsung memeluknya.
"Saya merindukanmu" ucap Dwi.
"Ini nyata" ujar Jihan tanpa membalas pelukan Dwi.
"Ya ini nyata, saya sangat merindukanmu" ucap Dwi membuat Jihan meneteskan air matanya.
"Lepaskan" ujar Jihan membuat Dwi melepaskannya dan menatap Jihan bingung.
"Kenapa kamu datang" ujar Jihan sembari bangun dan membasuh wajahnya.
"Kamu tidak menyukaiku, kamu sudah tidak mencintaiku" ujar Dwi mengikuti langkah Jihan.
"Apa itu penting sekarang apapun perasaan gue yang gue rasa sekarang gak ada artinya lagi kenapa kamu kesini" ujar Jihan.
"Darimana kamu tau tempat ini" ujar Jihan berbalik dan menatap penuh telisik.
"Abang" ujar Jihan langsung keluar daari kamar dan berjalan cepat ke tempat Abangnya.
"Abang" ujar Jihan sembari memukul Jovan dengan bantal.
"Kenapa gue baru mau tidur ya" ujar Jovan.
"Lo kan yang bawa dia kesini" ta ya Jihan sembari terus memukuli Jovan membuat Jovan bangun.
"Bukan gue dia datang sendiri" ucap Jovan membuat Jihan mamyun.
"Mommy" ujar Jenifer dan Justine yang terbangun karena ulah Jihan.
"Ya sayang" ucap Jihan mendekati ke dua anaknya.
__ADS_1
"Kita yang suruh di datang Mom jadi jangan pernah memarahinya" ucap Jenifer.
"Ya lah gak bakal karena dia cinta pertama kamu kan" ucap Jihan di angguki jenifer.
"Huf, oke mommy gak marah tapi kamu jangan pernah kecewakan hatinya karena kamu cinta pertamanya" ujar Jihan menatap Dwi.
"Kenapa begitu Ji" tanya Jovan.
"Karena cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, sekali sang ayah menghianatinya maka dia tidak akan memiliki kepercayaan penuh kepada seseorang" ucap Jihan.
"Itu yang lo rasa" ujar Dwi menatap hangat.
"Ya lah kalau gak gak bakalan gue bicara gitu" ujar Jihan.
"Laper gue, guys mau makan gak" tanya Jihan.
"baru bangun mom" ujar Justine.
"Susu" ujar Jenifer.
"Eh badan udah segede gentong masih aja minum susu" ucap Justine.
"Eh biarin ya akan ada waktunya gue bakal secantik barbie" ujar Jenifer.
"Makan tuh barbie" ujar Justine dingin.
"Lanjut terus kenapa berhenti lanjutin cepet" ujar Jihan membuat ke dua anaknya menunduk.
"Sekali lagi kalin bertengkar karena jalan yang gak pernah sama gue kasih bongkar pasang lo" ujar Jihan langsung duduk dengan keras di samping Jovan dan memeluk Jovan.
"Maaf mom" ucap Justine langsung mendekati Jihan dan bersimpuh di depan Jihan.
"Siapa suruh kamu bersimpuh bangun" ujar Jihan langsung menarik ke dua kakinya ke atas sova membuat Justine terlihat sangat bersalah.
"Huf, jangan pernah buat kesalahan berlipat kalau emang salah lakukan semestinya paham" ujar Jihan menatap anak laki lakinya itu.
"Oke mom sorry" ujar Justine langsung memeluk Jihan.
"Je" ujar Justine.
"Sorry mom" ucap Jenifer langsung memeluk Jihan.
Jihan langsung tersenyum sedangkan Jovan berjalan ke kamar Jihan dia langsung menutup pintu kamar dan menguncinya sedangkan ke dua anaknya langsung pergi ke lamarnya lagi untuk melanjutkan tidurnya.
Tinggal Jihan dan Dwi berada dalam satu ruangan saling diam.
"Ji" ujar Dwi.
"Em" ujar Jihan menjawab.
"Apa saya harus berjuang dari awal lagi untuk mendapatkan kamu" tanya Dwi.
"Gak, gej perlu sekarang pergilah pulanglah ke tempat harusnya lo ada jangan pernah kecewain ank lo yang lain demi anak yang lainnya" ujar Jihan.
"Dia bukan anakku, saya hanya mengadopsinya" ucap Dwi.
"Gak peduli apapun, pergilah dan jangan ganggu hidup saya lagi" ucap Jihan dingin.
"Saya tau kamu marah, kamu juga tau kan kalau saya sudah menikah lagi apa kamu masih cemburu" ujar Dwi menggoda.
"Gue cemburu ama lo buat apa coba mending gue kerja hasilin uang kembangin usaha dan jadikan mereka anak anak paling beruntung" ucap Jihan makin sengit.
"Ji" ujar Dwi mendekat.
"Minggir gak lo" ucap Jihan.
"Kenapa" ucap Dwi tersenyum sembari duduk di samping Jihan.
"Apaan si" ucap Jihan langsung pergi salah tingkah.
Jihan berjalan ke dapur dia mengeluarkan semua isi kulkasnya yang ternyata tinggal sedikit.
"Tinggal ini doang masak apa ya" ujar Jihan berfikir namun Dwi datang dan langsung memeluknya dari belakang.
Deg.....
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys....