Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 190 Wanitaku


__ADS_3

"Anda sangat sopan nona" ucap Mentari


"Jangan panggil saya Nona" ujar Jihan.


"Lalu siapa" tanyanya.


"Panggil Jihan aja, atau setelah kamu tau siapa aku baru kamu bisa menentukan panggilan kepadaku" ucap Jihan.


"Oke" ucap Mentari.


Jihan di antar untuk menggunakan lif yang lain. Saat Jihan sudah berada di lif dia langsung membungkukkan badannya.


Namun seketika dia kembali membuka pintu lif saat melihat seseorang yang dia kenal berada di sana.


"Kenapa Kak Jihan, bolehkan memanggilmu seperti itu" ujar Mentari.


"Seperti mengenal seseorang, siapa laki laki di sana" ujar Jihan.


"Itu pak Kevin" ucap Mentari.


"Kevin" ujar Jihan.


"Ya pak Kevin katanya si asisten pribadi si big bos tapi gak pernah liat bosnya" ujar Mentari membuat Jihan keluar dari lif.


"Mati kali bosnya" ujar Jihan berjalan ke arah Kevin.


"Jangan mengatakan itu atau akan di penggal" ujar Mentari mengikuti langkah Jihan.


"Lalu apa yang mereka lakukan" tanya Jihan melihat beberapa kariawan berlari dan melihat kedatangan Kevin.


"Mereka mengidolakan sang atasan" ujar Mentari membuat Jihan mengikuti kerumunan.


"Apa yang kalian lakukan" tanya Jihan.


"Apa lagi kalau gak cuci mata" ucap salah satu kariawannya tanpa melihat Jihan.


"Apa taruhan kita masih berjalan" ujar salah satunya.


"Taruhan" ucap Jihan.


"Oh kariawan baru ya, gini siapapun yang bisa buat dia tersenyum maka dapat traktiran makan siang dari yang kalah" ucapnya.


"Boleh ku mencoba" ujar Jihan.


"Silahkan" ujarnya.


Dengan senyuman mengembang Jihan berjalan ke arah Kevin.


"Itu bos Jihan bukan si" ujar salah seorang yang mengenal Jihan.


"Mana yang itu lagi ke arah pak Kevin" ujar temannya.


"Iya itu kayak bos Jihan ya" ujar Ani sang Sekertaris.


"Masih tebar pesona dengan wajah dinginmu" ujar Jihan membuat Kevin menatap namun hanya sekilas.


"Jihan" ujar Kevin bergumam lalu kembali menatap Jihan.


"Hai, Vin" ujar Jihan melambaikan tangan.


"Ji" ujar Kevin langsung berlari ke arah Jihan degan senyuman dan memeluk Jihan erat.


"Erat banget" ucap Jihan membalas pelukan Kevin namun hanya satu tangan.


"Lepaskan dia" ujar Dwi menarik Jihan dari pelukan Kevin.


"Maaf bos" ujar Kevin menunduk.


"Tuh kan Bos Jihan" ujar Ani.


"Ngapa gak ngomong" ujar temannya menunduk.


"Udah lo gak percaya" ucap Ani.


"Udah udah, hei saya memenangkan taruhan" ujar Jihan tertawa membuat semua orang terbengong.


"Siapa kamu sebenarnya kak kenapa dengan mudahnya tuan Kevin tersenyum dan memelukmu" tanya Mentari.


"Kalian beri hormat dia Jihan Ayundia Prasaja CEO kita dia baru kembali" ujar Kevin membuat semua orang tercengang.


"Maafkan saya yang tidak mengenali anda" ujar Mentari.


"Gak papa" ucap Jihan.


Dwi langsung menarik Jihan dari kerumunan membuat Jihan hanya menatapnya dan mengikuti langkah Dwi.


"Bukankah ini kesan buruk saat sang bos di tarik gitu saja, bisakah marahnya nanti di ruangan" ujar Jihan membuat Dwi berhenti dan melepaskan tangannya.


"Lalu apa yang harus saya lakukan saat kamu di peluk asistenmu itu" tanya Dwi menatap Jihan dengan nada tegas.


"Yaya saya salah tapi ini kan di luar dugaan" ucap Jihan menunduk


"Tatap saya kamu wanitaku kamu milikku tidak ada yang boleh menyentuhmu" ujar Dwi penuh penekanan.


Dwi mendekatkan wajahnya membuat pipi Jihan memerah. Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dan menciumi bibir Jihan tepat di depan para kriawannya dan Kevin.


"Baik semuanya kembali bekerja" ujar Kevin membubarkan kerumunan.


"Apaan si" ujar Jihan malu saat Dwi melepaskan tautannya lalu berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Dwi dan Kevin mengikuti Jihan masuk ke dalam lif. Saat lif akan tertutup Jihan kembali membungkukkan badannya di ikuti semua kariawannya.


"Masih marah" ujar Jihan yang melihat Dwi diam seribu bahasa.


"Maafkan saya bos yang terlalu bar bar" ujar Kevin.


"Hm" ujar Jihan.


"Saya tidak memaafkanmu" ucap Dwi dingin.


"Udah dong marah mulu" ucap Jihan.


Dwi masih diam sampai di ruangan Jihan dia masih diam membuat semua orang menatap aneh apalagi dengan Kevin yang terus menunduk di belakang mereka.


"Mommy lama dia udah sampai mommy kemana" tanya Justine justru memperburuk keadaan.


"Lagi nostalgia" ujar Dwi duduk keras di samping Jovan membuat Jovan bingung.


"Serah apa kata lo" ujar Jihan langsung duduk di meja kerjanya.


"Panggil Ani" ujar Jihan.


"Siap bos, sekali lagi saya minta maaf" ucap Kevin membungkukkan badannya.


"Sekali lagi lo bahas itu gue gampar sepatu" ujar Jihan


Tak lama Ani datang dengan setumpuk berkas di tangannya dan membawanya ke meja kerja Jihan.


"Anda memanggil saya Bos" tanya Ani.


"Hm, suruh setiap devisi memberikan laporan bulanannya saya tunggu satu jam lagi" ujar Jihan.


"Siap Bos, oh ya tuan Kevin sudah bilang atau belum kalau nanti jam makan siang ada pertemuan semua pemilik saham" ujar Ani.


"Di mana" tanya Jihan.


"Di FeJi cafe Bos" ujar Ani.


"Oke, kembalilah bekerja" ujar Jihan.


"Eh lo Vin, siapa suruh pergi tetap berdiri di sana" ujar Jihan membawa berkas ke arah anaknya.


"Boy siap bantuin Mommy" tanya Jihan.


"Siap Mom" ujar Justine.


"Sekarang baca semua ini dan buatlah rangkuman apa ada yang aneh di semua berkas itu" ucap Jihan.


"Siap Mom" ucap Justine semangat.


"Vin bantu saya" ujar Jihan di angguki Kevin.


"Saya selalu mengawasi perusahaan tapi kenapa dalam semalam terjun bebas" ujar Jihan.


"Maaf Bos saya akan mencari tau" ucap Kevin.


"Oke" ucap Jihan langsung memakai kaca mata miliknya dan berjibaku dengan komputernya.


"Ah" ujar Jihan menghela nafas panjang laku memijat pelipisnya karena dia tidak bisa mencari apapun di dalam komputernya walau berjam jam berlalu


"Bos ini laporan yang anda minta" ucap Ani membawa beberapa berkas lagi.


"Oke" ujar Jihan menerimanya.


"Mommy" ujar Justine.


"Ya" ujar Jihan.


Justine langsung mengutarakan semua yang dia pikirkan sembari membawa berkas itu ke depan Jihan. Jihan menyimak semua yang Justine ucapkan dan semuanya benar membuat Jihan tersenyum.


"Makasih boleh istirahat dulu, cari makan atau apa terserah kamu sama unty Ani di luar ya" ucap Jihan.


"Oke, tapi mom bisakah mom ganti baju" ujar Justine membuat Jihan menyerngitkan keningnya.


"Baju mommy terlalu ketat dan lagi rok mommy terlalu pendek" ucap Justine membuat Dwi tersenyum.


"Anak kecil aja tau" ujar Dwi tersenyum getir.


"Abang maksud kamu lain kan" ujar Jihan.


"Hehe mommy tau aja" ucap Justine.


"Oke mommy pesen dulu ya" ucap Jihan.


"Oke, boleh Abang bantu uncle itu" ujarnya.


"Boleh pakailah kaca mata" ucap Jihan di angguki sang anak.


"Ani datanglah ke ruangan saya" ujar Jihan memanggil Ani.


"Ada apa bos" tanya Ani.


"Carikan saya baju formal seperti yang biasa saya pake dulu di toko JiAy butique oke dan ukuran kamu cari aja yang terbesar seseorang protes saya memakai baju ini" ujar Jihan.


"Kenapa bos cantik gak seksi seksi amat" ujar Ani.


"Apa" ujar Justine galak.


"Tau jawabannya kan" ucap Jihan.

__ADS_1


"He iya Bos tapi bukankah baju yang anda pakai dulu lebih seksi dari yang anda pakai sekarang" ujar Ani.


"Hubungi pihak JiAy" ujar Jihan membuat Ani menghubunginya.


Jihan berbincang banyak dengan pengurus JiAy Boutique dan memutuskan beberapa pakaian dan sepatu yang akan dia kirim sesegera mungkin.


"Sudah boy, tapi apa yang kamu pikirkan dengan baju mommy" tanya Jihan mendekat.


"Mommy gak boleh kalah sama Aunty Klara" ujar Justine.


"Oke nanti kalau ada yang marah kamu tanggung jawab ya" ucap Jihan.


"Oke paling Daddy gantung mommy" ucap Justine.


"Sekarang aja Daddymu menggantung mommy gak tunggu nanti nanti" ucap Jihan.


"Hubungan kalian harus di perjelas" ujar papa Seno.


"Udah jelas kok pah" ucap Dwi.


"Ji" ujar papa Seno.


"Gak papa kok pah kan salah Jihan juga " ujar Jihan mendapat slentikan di kepalanya oleh Fero.


"Au sakit Ta" ucap Jihan.


"Lagian kamu mau aja ngalah" ucap Fero.


"Unty sama Daddy sebenarnya kalian punya hubungan apa kenapa Aunty panggil Daddy Ta sedangkan Daddy manggil Aunty Ay bukankah seharusnya Ji dan Fer" ujar Feri polos.


"Polos sekali" ucap Jihan.


"Kalian dulu pasangan kekasih" tanya Feri membuat Dwi dan Justine menatap Jihan.


"Bukan" ucap Fero.


"Lalu" tanya Feri.


"Dulu baik Aunty ataupun Daddymu gak ada yang suka di panggil Jihan ataupun Fero karena kita sahabat jadi cari nama lain untuk itu arti Ay bukan Ayang atau sayang tapi Ayundia sedangkan Ta artinya Bramasta" ucap Jihan.


"Bagaimana kalau itu panggilan sayangku untukmu Ji" ujar Fero


"Jangan meracuni pikiran mereka biar semua berlalu gue lagi menatap hidup baru Ta, gue lagi berjuang untuk bertahan" ujar Jihan.


"Gue dukung lo, tapi kalau gak kuat jangan paksa akan ada hidup lebih indah di luar sana" ucap Fero.


"Thanks Ta" ucap Jihan di angguki Fero yang mengusap kepala Jihan.


"Bantu gue Ta" ujar Jihan menurunkan tangan Fero lalu berjalan ke arah komputernya.


Jihan meminta Fero untuk membantu memecahkan teka teki untuk melihat siapa yang sudah masuk ke situs perusahaan semalam.


Jihan dan Fero sangat serius bahkan terlihat sangat romantis pasalnya Fero berada di belakang Jihan dan sesekali menggunakan keyboard yang sama membuatnya semakin romantis.


"Pah bisa jelaskan semua ini" ujar Jihan.


"Gak bisa" ujar Papa Seno membuat Jihan frustasi.


Lama mereka semua berjibaku dengan pekerjaan masing masing selain Dwi yang sibuk dengan ponselnya tak lama Ani datang membawa setelan baju untuk Jihan.


"Makasih ya An, udah bayar belum" tanya Jihan.


"Udah di kasih kartu sama tuan Putra Bos" ujar Ani.


"Oh makasih ya" ujar Jihan langsung membawa baju itu ke kamar yang ada di ruangn itu dan berganti pakaian.


Benar baju yang di maksud Justine adalah baju dengan atasan lumayan longgar namun dengan rok jauh di atas lutut nan ketat. Tak lupa dengan sepatu yang elegan membuat penampilan Jihan beda total dengan sebelumnya.


"Justine benarkah baju yang kamu maksud" tanya Jihan ke luar ruangan.


"Perfect" ucap Justine tersenyum sedangkan Dwi menatap tak henti.


"Vin kenapa harus ketemu di FeJi" tanya Jihan.


"Katanya mau liat bagaimana keadaan di bawah Ayasta bos" ujar Kevin.


"Oh" ucap Jihan langsung berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dan beberapa makanan ringan dan dia kasihkan ke Justine dan Feri.


Tok.... Tok.... Tok...


"Masuk" ucap Jihan.


"Kenapa lagi An" tanya Jihan.


"Ini ada kiriman makanan atas nama tuan Fero bos" ujar Ani.


"Ta tuh " ucap Jihan.


"Itu buat kamu kata Justine kamu belum sarapan, jus dari Putri juga gak lo abisin makan dulu jangan sampe sakit" ucap Fero.


"Uncle perhatian banget sama Mommy kenapa gak nikah aja sama Mommy dulu" ucap Justine membuat Jihan tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya...


__ADS_2