Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
perjanjian 2


__ADS_3

"Iya, selama pernikahan kita berlangsung lo harus jadi istri sejati dan mendengarkan apa yang gue katakan, jika selama satu tahun di antara kita gak ada perasaan satu sama lain kita khiri pernikahan ini bagaimana" ucap Dwi.


"Dan selama pernikahan ini berlangsung lo juga harus jadi suami yang baik gak ada penghianatan dan gak ada rahasia satu sama lain" ucap Jihan.


"Oke, dan mulai sekarang lo gak boleh panggil gue dengan lo gue paham, ya se enggaknya di depan ke dua orang tua kita" ucap Dwi.


"Setuju dan lo juga gak boleh ada cewek lain di pernikahan kita termasuk Clarissa" ujar Jihan.


"Oke gue bakal bicara sama dia" ucap Dwi.


"Gue kasih waktu sampai besok malam kalau belum juga kalian berpisah gue bakal ceritain semua kebusukan lo di depan semua orang" ucap Jihan.


"Emang apa yang lo tau tentang gue" tanya Dwi.


"Banyak lah, gue selalu tuntas kalau mengusut sesuatu" ujar Jihan tersenyum sinis.


"Oke oke kita mulai perjanjian setelah melangkah dari sini deal" ucap Dwi mengulurkan tangannya.


"Deal, siapapun yang melanggar perjanjian akan berhak di perlakukan dengan sesuka hati" ucap Jihan menyambut tangan Dwi.


Setelah itu mereka kembali ke tempat di mana semua orang sedang berkumpul. Jihan duduk di samping Ridwan membuat Ridwan terperanjat pasalnya Jihan duduk dengan keras.


"Kenapa Dok" tanya Jihan tersenyum tanpa dosa.


"Lo duduk kayak orang jatuh dari lantai paling tinggi" ucap Ridwan.


"Hehe sorry" ujar Jihan.


"Gimana Ji" tanya Mama Sri.


"Beres mah, oh ya pah besok Jihan gak bisa langsung pulang Jihan ada meeting dulu boleh kan pah" ucap Jihan pada papa Suseno.


"Boleh, oh ya mana pak Prasaja" tanya Papa.


"Papa tau Jihan putri Prasaja" tanya Jihan penuh selidik.


"Tau lah, tapi papa bangga sama kamu yang gak pernah pakai nama besar keluarga kamu meskipun dalam keadaan yang sangat sulit dan sebenarnya papa baru tau akhir akhir ini" ucap Papa.


Jihan hanya menggaruk garuk tengkuknya tak lama Ridwan menyenggolnya dan menatap Jihan tajam.


"Hehe sorry Dok" ucap Jihan.


"Pantes aja perusahaan lo berkembang pesat, Prasaja sama Bramasta kerja sama dengan dorongan keluarga Suseno emang deh keluarga Prasaja IQ nya di atas rata rata" ucap Ridwan menggelengkan kepalanya.


"Udah di bilang itu Jihan bukan Prasaja yang kerja sama dengan keluarga Bramasta" ucap Jihan.


"Sama aja tapi dari mana lo bisa kerja sama dengan keluarga Bramasta maksudnya keluarga Bramasta kan sulit di dekati " tanya Ridwan.


"Gue pegang kartu AS" ucap Jihan.


"Boong lo" ucap Ridwan.


"Dia tuh deket sama putra mahkotanya, apa yang gak bisa kalau putra mahkota ada di tangan" ucap Dani.


"Putra mahkota, jadi Fero" ujar Ridwan tertahan.


"Ya, dia Putra mahkotanya" ucap Dani.


"Terus arti darai AYASTA pasti nama kalian berdua kan Ayundia dan Bramasta" tanya Ridwan.


"Tepat" ucap Jihan dan Dani bersama.


"Lebih tepatnya itu panggilan mereka berdua Jihan di panggil Ay dan Jihan panggil Fero Ata " ucap Dani.

__ADS_1


"Gak perlu detail juga kali" ucap Jihan


"Sorry kelepasan" ucap Dani tersenyum.


Semua orang menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung dengan tingkat ke ingin tahuan Ridwan yang sangat besar tentang perusahaan Jihan. Namun Jihan tak berkomtar banyak justru Dani yang sangat antusias.


"Alasan lo sering bolos dan dapat nilai merah di sekolah apa" tanya Jovan.


"Karena Jihan gak butuh nilai di sana lagi bang, dan karena Jihan harus bolak balik kuliah jadi Jihan putusin jadi bad Girl dimana gak ada seorang pun sadar Jihan gak masuk karena kuliah yang mereka tau Jihan si tukang bolos" ucap Jihan.


"Tapi kenapa Fero lebih baik dan jadi primadona di sekolah" tanya Jovan.


"Iya lah dia kan masih S1 belum banyak tugas Bang, lagian dia bisa belajar jarak jauh kalau Jihan kan agak susah dan lagi dia cuma ambil Bisnis doang sedangkan bisnis kan udah di taman dari kecil sama papanya" ucap Jihan.


"Terus lo pura pura gak ngerti juga semua pelajaran di sana" tanya Jovan.


"Salah satu perjanjian yang Jihan buat sama pihak sekolah" ucap Jihan.


"Bagus ya kamu udah bohongin kita semua selama dua tahun" ucap Jovan.


"Siap yang bohong kalian aja gak percaya Jihan selesai sekolah satu tahun di SMA malah kirim Jihan ke desa, lagian kenapa kalian gak tanya alasan Jihan masuk sekolah gak pakai seragam gak rutin dan kenapa juga Abang gak pernah liat Jihan di kampus" ucap Jihan.


"Kamu satu kampus sama Abang" tanya Jovan.


"Iya dan sering juga Jihan satu kelas sama Abang" ucap Jihan.


"Emang kamu kelas apa" tanya Jovan.


"Ekonomi Managemen bisnis dan Teknologi" ucap Jihan.


"Tiga sekaligus" tanya Jovan dan Dwi bersama.


"Ya, gue butuh tiga tiganya Bang" ucap Jihan.


"Sayang ilmu Jihan kalau gak di dalami sekalian Bang, lagian kalau ada maslah sama perusahaan gue gak perlu panggil ahli teknologi Abang pikir meretas perusahaan gampang apa" ucap Jihan.


"Kamu pernah meretas perusahaan" tanya Mama Anggun tak percaya.


"Ya yang terbaru meretas perusahaan Suseno" ucap Jihan bangga.


"Perusahaan Suseno kamu bisa masuk" ucap Mama tak percaya.


"Bisa lah orang yang buat Virus keamanan situs web juga Jihan" ujar Jihan.


"Ternyata kamu anak istimewa Ji" ucap Mama.


"Istimewa lah orang gue lahir di sebuah masalah" ucap Jihan.


"Ji" ujar Dwi.


"Sorry" ucap Jihan bermain ponsel.


Setelah teguran dan tatapan tajam Dwi Jihan asik bermain ponsel sembari mendengarkan lagu lewat earphone dan menutup matanya. Dwi langsung duduk di samping Jihan menggeser Ridwan yang juga sedang asik berbicara.


Dwi memberikan kode kepada semua orang agar pergi dari tempat Jihan, Dwi mengajak semua orang untuk keluar dari apartemen Jihan dan berbicara.


"Kenapa Wi" tanya mama Sri.


"Iya kak baru aja sampai udah di suruh pergi" ujar Putri.


"Tolong biarin Jihan istirahat Dwi gak mau terjadi hal kayak tadi lagi iya kan Bang Jihan harus banyak istirahat" ucap Dwi kepada Ridwan.


"Iya" ucap Ridwan mantap.

__ADS_1


"Kenapa" tanya mama Anggun.


"Secara psikologis Jihan lumayan terganggu sebenarnya Jihan sedang menjalani terapi untuk memulihkan psikisnya" ucap Ridwan.


"Kenapa dengan anak saya" ucap Papa Jihan yang baru sampai.


"Pak Prasaja, senang bertemu dengan anda" ucap Ridwan.


"Ya apa yang sedang kalian bicarakan tentang anak saya" ucap papa Jihan tegas.


"Begini pak, sebenarnya Jihan menjadi salah seorang murid yang selalu di rundung di sekolahnya karena namanya dulu waktu SMP jadi dia bertekad untuk sekolah ke tempat dimana tidak ada satu orang pun yang mengenalnya sebagai Prasaja. Hal itu berhasil namun karena pengalamannya yang selalu di rundung dia menjadi arogan dan dia juga tidak kenal ampun saat melihat seseorang menyakiti orang lain meskipun itu yang salah" ucap Ridwan.


"Siapa yang berani merundung anak saya" ucap Papa


"Maaf pak Prasaja bukan cuma itu dia sangat tertekan saat dia di tuduh menjadi seorang simpanan om om, dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri namun dia bertekad untuk segera menyelesaikan sekolahnya karena tuntutan sekolah yang harusnya selesai tiga tahun menjadi satu tahun" ucap Ridwan.


"Dia selesai dalam waktu satu tahun lalu apa yang dia lakukan di desa sana" ucap Papa Jihan.


"Dia kecewa dengan keluarganya karena tidak mempercayai semua perjuangannya, bahkan psikisnya semakin memburuk saat dia di kirim ke desa karena aturan dan nuansa yang baru yang lebih memperburuk adalah karena dia hidup sendiri di sana hal yang sangat dia takutkan jadi dia mengkonsumsi obat pemenang saat dia merasa depresi dia mengalami insomnia dia meminum dengan dosis tinggi" ucap Ridwan.


"Kenapa Dokter tau banyak tentang hal mendetail seperti itu" ucap Jovan.


"Seperti yang saya katakan saya adalah psikiater Jihan, sebenarnya saya adalah dokter biasa tapi karena Jihan harus sering ke psikolog saat dia bertemu dengan saya di desa dia menganggap saya sebagai psikolognya" ucap Ridwan.


"Ternyata Putri saya mengalami banyak hal buruk dan itu karena saya sendiri" ucap Papa Jihan.


"Lalu apa alasan dia tinggal di apartemen sendiri" tanya Papa


"Dia ingin bertenang, sebenarnya dia tidak sendiri dia selalu membawa teman temannya untuk bermain di sini" ucap Ridwan.


"Jadi jangan pernah tinggalin dia sendirian" lanjut Ridwan.


Papa Jihan langsung masuk ke dalam apartemen Jihan dan dia melihat Jihan sedang menatap luar apartemen dengan air mata yang mulai menetes dan sesekali dia menyekanya. Papa memeluk Jihan dari samping dan meminta maaf membuat Jihan bingung.


"Papa kenapa" tanya Jihan.


"Papa salah selama ini sama kamu" ucap Papa.


"Udahlah pah semua sudah terjadi" ucap Jihan.


Sebenarnya Jihan mendengar semua ucapan yang mereka bicarakan, karena Jihan mencari semua orang dan mendapati semua orang di depan apartemen sedang membicarakannya. Jihan tau semuanya namun Jihan bersikap tidak tau apapun.


"Papa kapan ke sini" tanya Jihan.


"Baru aja, gimana pernikahan kamu baik baik aja kan" tanya papa.


"Baik kok pah cuma ada sedikit masalah kecil " ucap Jihan.


"Kenapa cerita aja sama papa" ucap papa.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....

__ADS_1


Buat yang bilang ini monoton dan bertele tele maaf buat cerita se nyata mungkin itu susah guys dan Author cuma buat cerita se nyambung mungkin jadi kalau kalian gak suka jangan baca....


__ADS_2